
Luna memandangi dirinya dalam pantulan cermin seraya tersenyum dan berputar-putar memainkan rok yang tidak terlalu mengembang dari gaun pengantinnya.
"Cantik, tidak terlalu mewah dan terlihat elegan. Aku suka ini," gumam Luna sembari membayangkan dirinya bersanding dengan pria impiannya.
Drrrrtttzz Drrrtttzzz
Ponsel Luna bergetar ada telepon masuk untuknya. Luna tidak segera mengangkat karena ponselnya berada di tas dan sedang di bawa oleh Azkha.
"Luna, handphone kamu getar terus nih," sahut Azkha
"Oh ya, aku lupa mengembalikan modenya," sahut Luna kemudian berbalik dan mengambil ponselnya.
Sebelum mengangkatnya, Luna membaca nama penelepon nya. Apakah kekasihnya, temannya atau nomor tak dikenal.
"Om Haris? Tumben telepon aku," gumam Luna
"Ya Halo om," sahut Luna tersenyum
Beberapa detik setelah mendengarkan apa yang Om Haris katakan raut wajah Luna berubah.
Dia terpaku, dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Apa?" tanya Luna lirih dengan suara bergetar
Setelah itu Luna menjatuhkan ponselnya dan menangis, lututnya lemas tak kuat berdiri. Arya dan Azkha saling memandang tanda tak mengerti dan langsung menghampiri Luna membantunya berdiri.
"Kita kerumah sakit sekarang, antar aku kerumah sakit Arya!" pinta Luna
"Kamu lepas gaun kamu dulu Lun," ucap Azkha
"Gak ada waktu Az... Papa aku kena serangan jantung dan kritis!! Ayo Arya," ucap Luna yang ingin meninggalkan lokasi butik
"Hemm maaf nona, gaun itu harus di bayar terlebih dahulu jika ingin membawanya keluar," ucap pelayan toko mencegah Luna.
Luna lalu memberikan kartu debit dan meminta Azkha untuk mengurusnya.
"Tolong urus ya Azkha, dan ini kunci mobil aku. Password seperti biasa. Makasih sebelumnya. Arya ayo kita harus bergegas sekarang," ucap Luna terburu-buru.
"Yaudah, hati-hati. Semoga Papa Jeno lekas membaik ya," ucap Azkha.
Begitu Luna dan Arya pergi, Azkha langsung ke kasir untuk membayar namun ia menginjak sesuatu yang pipih.
Ponsel IPhone 14 Pro Max milik Luna yang terjatuh, terinjak oleh Azkha.
"Astaghfirullah, untung ga pecah. Bisa jantungan nih nginjek barang 20 jeti hmm. Eh kalaupun pecah palingan dia gak tahu kan tadi yang jatuhin dia hehe," gumam Azkha
.
.
Selama perjalanan Luna menggenggam kedua tangannya yang dingin karena panik. Arya mengamati Luna kemudian meraih tangannya dan memberikan kehangatan.
"Jangan panik, berdoa saja semoga Allah memberikan kesembuhan untuk beliau," ucap Arya dengan tenang seraya tersenyum
"Iya makasih Arya," sahut Luna tetapi masih panik. Namun anehnya ada sedikit perasaan tenang dihatinya.
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit milik Jeno, Luna berlari masih mengenakan gaun pengantin. Dia langsung mencari ruang ICU.
Kedatangan Luna mengundang perhatian publik. Bisikan dan cibiran langsung berdatangan. Luna mendengar itu semua, dengan tajam Luna menatap karyawan yang kurang ajar tersebut.
"Saya dengar kalian bicara apa tadi, awas saja setelah ini semua yang bicara mengenai hal buruk tentang saya dan Papa, akan saya pecat. Kalau punya nyali silahkan taruh surat pengunduran diri kalian di meja Direktur!" Tegas Luna membuat beberapa semua perawat menunduk takut.
Luna lalu melanjutkan langkahnya yang beberapa langkah lagi sampai di ruang ICU. Terlihat didepan ruangan itu ada Haris dan Marten, sahabat baik Jeno sedari Kuliah.
"Om, gimana keadaan Papa," ucap Luna bertanya pada Haris. Dia lebih dekat dengan Haris karena sering kerumah.
"Didalam Lun, masih kritis,"
"Kenapa bisa, padahal Papa gak pernah ada tanda-tanda jantungan?" ucap Luna
"Sebenarnya akhir-akhir ini Dia sering mengeluh sakit, cuma dia meminta untuk merahasiakannya dari kamu. Dia anggap ini hanya sakit ringan,"
"Tapi semua tergantung kondisi Lun, sakitnya kumat lagi setelah mendengar sentilan yang tidak menyenangkan," ucap Marten
Marten ikut mengantarkan Jeno untuk mengurus pendaftaran ke KUA, namun dia hanya menunggu di luar rumah.
Terdengar ucapan tak menyenangkan yang terlontar dari Ibu RW. Semua yang di dengar Marten, diceritakan kepada Luna. Haris juga menceritakan bagaimana Tika menyebarkan foto dirinya dan Jeno hingga membuat kabar buruk tersiar.
"Luna punya kok buktinya. Rekaman Mama, yang bercerita mengenai Papa sebelum akhir hayatnya. Mama membuat video sebagai kado ulang tahun Luna ke 17," sahut Luna
"Seharusnya rekaman itu Luna tunjukkan juga pada Papa Jeno,"
"Mana terpikir kearah situ om, membuka rekaman videonya saja terus membuat Luna menangis," ungkap Luna, sementara Arya hanya berdiri mendengarkan
Luna tak menyangka ada saja orang jahat yang bermulut Julid. Luna juga geram dengan aksi Tika yang menfitnah Jeno. Di lihatnya keadaan Jeno dari luar ruangan ICU. Kemudian ia duduk di bangku tunggu.
"Terimakasih Om, Luna punya rekaman CCTV saat dia membawa Papa masuk ke rumah dengan bantuan beberapa pemuda komplek. Itu bisa dijadikan sangkal kan?" ucap Luna
"Bisa, itu bisa jadi bukti penguat kalau Tika berniat jahat," ungkap Marten
"Mana rekaman CCTV itu, aku coba sebarkan klarifikasi di web rumah sakit agar nama Papa kamu kembali," ucap Arya
Luna kemudian memberikan rekaman CCTV tersebut buang filenya masih ia simpan di ponsel.
"Loh hape aku mana?" ucap Luna baru ingat kalau ponselnya tidak terbawa.
"Kayaknya jatuh di butik," ucap Arya mengingat
Ia lalu menelepon Azkha dan benar saja, ponselnya ada pada Azkha. Urusan Klarifikasi nama baik Luna menyerahkannya pada Arya.
Sementara dirinya terus memandangi Jeno dari balik kaca. Sesekali ia duduk dan sesekali berdiri tak tenang, berharap kondisi Jeno membaik.
"Lun, kamu mending pulang dulu ganti baju, Masak sih pake gaun penganti kesini," ucap Haris
"Biarin Om, kalau pulang malah gak tenang," ucap Luna
Tak berapa lama dokter Anggi, dokter jantung yang lain memanggil keluarga pasien.
"Keluarga Dokter Jeno, apakah ada?" tanya Dokter Anggi
"Ya dok, saya keluarganya," ucap Luna
__ADS_1
"Saya juga," ucap Marten dan Haris berbarengan
"Silahkan masuk tapi jangan berisik ya. Pasien sudah sadar dan ingin bertemu keluarganya," Dokter Anggi mempersilahkan.
Sebelum memasuki ruangan ICU yang serba higienis, pengunjung harus memakai baju yang tersedia di ruangan, penutup kepala serta masker.
Luna masuk lebih dulu, disusul Haris dan Marten. Arya ikut masuk karena Luna mengajaknya.
Jeno melihat Luna yang sangat cantik dengan gaun pengantin.
"Pengantin ku," lirih Jeno tersenyum membuat Luna ikut tersenyum
"Saudaraku," panggil Jeno pelan melihat ke arah Marten dan Haris
"Sehat ya bro," ucap Haris, Jeno hanya tersenyum tak menjawab. Mulutnya dan hidungnya masih terpasang oksigen dengan cup yang menutup
Jeno meraih tangan Luna menggenggamnya, dan meminta maaf
"Maaf....Aku...tidak bisa menepati janjiku," ucap Jeno dengan jeda sedikit lama karena ia sembari mengatur napasnya.
Luna mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Maksud Papa?"
"Ada seseorang yang juga sangat mencintai kamu," Jeno mengulurkan tangannya meminta Arya mendekat dan meraih tangannya
"Kemarilah," ucap Jeno
Arya menurut, Jeno lantas menggenggam tangan Arya dan menaruhnya diatas tangan Luna
"Ba--hagia... kan Lu... na," ucap Jeno
Membuat semuanya terenyuh. Apakah itu pesan terakhirnya dengan ucapan sedikit terbata dan Jeno terlihat menahan tangis. Air matanya sudha menggenang di pelupuk matanya
"Apa maksud Papa," tanya Luna pelan lalu menitikkan air mata
"La.. ilaha illallah.... mu-hammadarrasulullah,"
Tiiiiiiiiiit
Ucapan terakhir Jeno yang sempat menyebut dua kalimat syahadat menjadi akhir dari hidupnya, di iringi bunyi monitor EKG tanda jika jantung Jeno sudah tak berdetak.
Luna berteriak seraya mengguncangkan tubuh Jeno agar bangun. Arya menahan Luna agar tenang.
Haris segera memanggil Dokter untuk melakukan tindakan kejut jantung dengan alat pacu
"Mohon yang lain menunggu diluar," ucap salah satu suster.
Dokter dan perawat segera bertindak menyalakan alat pacu jantung menempelkan dua alat tersebut kemudian memberikan kejutan di atas dada Jeno.
Tubuh Jeno tersentak terangkat. Dokter memberi aba-aba untuk sekali lagi melakukan kejut jantung. Namun hasilnya tetap sama.
Jeno meninggal untuk selamanya. Ia tak dapat memiliki Luna sesuai janjinya di awal saat bersama Marisa. Untuk menjaganya dan merawatnya bukan untuk memilikinya.
Selamat tinggal Dokter Jeno Alvaro
__ADS_1
The End