
Keesokan paginya, Luna mencuci pakaian kotornya sebelum berangkat ke sekolah. Tinggal menaruhnya dalam mesin cuci, sambil menunggu kering Luna bergegas mandi.
Setelah selesai mandi, Luna berpakaian seragam putih abu-abunya. Kemudian keluar kamar menuju halaman belakang untuk menjemur pakaiannya. Dulu halaman belakang itu tertutup. Kini Jeno merubahnya dan membuat halaman belakang terbuka untuk tempat jemur mereka.
Luna menaruh pakaian setengah keringnya kedalam keranjang dan mengangkatnya ke tempat jemur, lalu Jeno datang dan mengambil keranjang tersebut dan membawakannya untuk Luna.
"Biar Papa yang jemurin. Kamu makan dulu nasi gorengnya, kalau dingin gak enak," ucap Jeno
Luna terdiam sejenak melihat Jeno yang langsung membantunya tanpa Luna pinta. Entah kenapa dia merasa sangat di perhatikan. Padahal itu lumrah karena sedari dulu malah Jeno yang mencuci semua pakaiannya dan juga putrinya.
"Makasih Pa," ucap Luna yang sedikit sungkan
Perasaan sungkan dan merasa diperhatikan ini datang ketika ia tahu hubungan sebenarnya.
Setelah selesai menjemur, Jeno menghampiri Luna yang hampir selesai sarapan.
"Nambah lagi yang banyak, biar gemuk," ucap Jeno
"Ih Papa suka cewek gemuk ya kayak Tante Tika,"
Jeno duduk disamping Luna dan mengambil air minum di meja makan tersebut.
"Haha siapa yang suka sama Tante Tika, dia udah jahatin kamu kemarin dan Papa gak suka,"
"Tapi sempat suka kan? Buktinya kemarin Papa pernah bilang Tante Tika itu cantik," ucap Luna
"Semua perempuan pasti cantik lah, masak cakep? Kamu ini ada-ada aja. Udah belum, Papa langsung antar ke sekolah soalnya Papa juga ada rapat di rumah sakit," ucap Jeno
"Papa berangkat sendiri aja, Luna nanti dijemput sama Arya," ucap Luna
"Kamu sama Arya gak pacaran kan?" tanya Jeno
"Kalau pacaran kenapa?" Luna balik bertanya
"Ya gak boleh, masih SMA,"
"Berarti kalo lulus kuliah, Luna boleh dong,"
"Ya gak boleh juga," ucap Jeno
"Ihh kok gitu," protes Luna
Tin Tin
"Nah itu pasti Arya, Luna berangkat dulu ya Pa, Assalamualaikum," sahut Luna langsung mengambil tasnya, menyalami tangan Jeno dan mengecup pipinya sekilas.
Kenapa aku kesel sih liat Luna akrab sama cowok lain batin Jeno
Dia sampai mengikuti Luna hingga keluar rumah dan mengintip saat Luna duduk dibelakang motor Arya.
.
.
.
Sesampainya disekolah, Arya langsung memarkirkan motornya kemudian berjalan santai menuju kelas dengan Luna disampingnya.
"Kamu jadi jodohin Tante aku sama Papa kamu?" tanya Arya
__ADS_1
"Iya jadi, ya kenalan dulu lah. Urusan mereka sreg atau gak kan juga gak tahu. Nanti malam kita dinner di tempat yang aku share tadi. Tante Maya cantik dan baik makannya Luna mau jodohin sama Papa," ucap Luna yang kerap bertemu dengan tantenya Arya beberapa kali saat mereka kerja kelompok di rumah Arya
"Terserah kamu aja, tapi aku berharap sih kita yang berjodoh," ucap Arya.
"Eh buset, gak ah kita itu hanya bisa sahabatan. Gak lebih," ucap Luna setelah itu dia berjalan cepat meninggalkan Arya
Aku bakal kejar kamu terus Luna batin Arya
(Kalo Luna ga mau, sama reader aja Arya, cus pilih salah satu yang rajin komen hehe)
Malam harinya malam yang ditunggu Luna. Tanpa sepengetahuan Papa dan Tantenya Arya mereka berniat menjodohkannya.
Luna mengajak sang Papa makan di restoran Mevvah diambil dari kata mewah karena semua menunya berstandar mewah. Sementara Arya juga mengajak Tantenya makan di tempat tersebut.
"Loh, Luna kamu juga makan disini?" tanya Arya yang baru saja datang.
Mereka bersama seakan-akan tak sengaja bertemu di restoran tersebut
"Eh Arya, Tante Maya. Sini gabung sini aja masih ada meja kok," ajak Luna kemudian ia melirik Papanya dan bertanya, "Boleh kan Pa?"
"Iya boleh sini gabung aja, ayo silahkan duduk," ucap Jeno
Pada pandangan pertama, Maya terkesima dengan Jeno yang sangat tampan, sementara Jeno biasa saja.
"Terimakasih," ucap Maya sembari duduk, "Ini Papa Luna ya? Kenalin saya Maya, tantenya Arya,"
"Oh iya saya Jeno, Papanya Luna,"
"Pah, Tante Luna ke toilet sebentar ya," ucap Luna segera bergegas ke toilet
"Ayo dipesan mau makan apa, nanti biar saya yang traktir," sahut Jeno
"Wah terima kasih ya, jadi sungkan nih," sahut Maya basa-basi padahal saat melihat harga menunya ingin rasanya dia menjitak Arya. Mana punya uang kalau harganya selangit. Tapi beruntung jika Jeno langsung mengatakan akan mentraktir mereka
Setelah memesan makanan, Arya menunggu Luna meneleponnya, dengan begitu dia akan punya alasan untuk pergi mengangkat telepon.
Kring
Tak berapa lama telepon yang ditunggu berdering juga, Arya beranjak dan pamit ingin mengangkat telepon. Tinggal Jeno dan Maya berdua disana.
"Hemm ini anak-anak pada kemana ya, kok lama hehe," tanya Maya yang tidak enak karena Jeno tipe pendiam
"Wah kayaknya mereka sengaja ini hehe," sahut Jeno
Beberapa menit kemudian pesanan Maya dan Arya datang. Luna dan Arya tidak kunjung datang. Sementara Jeno dan Maya hanya berbincang seadanya.
"Duh nungguin di semak2 banyak nyamuk," sahut Luna
"Lagian kamu suruh disini, aku kan bilang di depan aja," ucap Arya
"Ya kalau disini kan bisa ngintip mereka," ucap Luna
Kemudian dia melihat perkembangan Jeno dan Maya yang tadinya hanya sedikit berbincang kemudian ia melihat keduanya tertawa. Sepertinya perjodohan berjalan lancar, tapi sisi lain hati Luna sedikit tercabik.
Aku pengen sih liat Papa deket sama cewek lain, punya pasangan hidup. Tapi kenapa aku jadi sakit ya liatnya, batin Luna.
"Kita masuk aja yuk Arya, gak betah ni nyamuk," ucap Luna
"Huft dasar katanya mau lihat sampe makanan mereka abis," gerutu Arya
__ADS_1
"Gak jadi, Aku datang duluan ya. Nanti kamu masuk lima menit lagi," ucap Luna yang langsung masuk kedalam
"Pah, Tante maaf ya lama hehe,"
"Kok lama? Kamu mules perutnya?" tanya Jeno
"Huum," ucap Luna berbohong
Kemudian Jeno menekan perut Luna, "Bagian mana yang sakit? Sini?" tanya Jeno seraya menunjuk tempat lambungnya
Luna menggelengkan kepala, Jeno memeriksa lagi sambil berkata, "Apa disini?"
"Bukan tapi di sini," Luna malah menyentuh tempat jantungnya yang sangat nyeri
"Kok jantung?" Jeno mengernyitkan tak paham, sementara Maya menangkap maksud Luna dan terkekeh kecil namun ia hanya membatin saja
Lima menit kemudian Arya datang, "Maaf ya Om, Luna tadi ada telepon dari temen tanya soal tugas,"
"Hemm temen apa temen," goda Maya
"Temen Tante," ucap Arya
"Yaudah habiskan makan kamu, tapi kayaknya Saya harus pulang ini. Kayaknya Luna kurang sehat." sahut Jeno memanggil pelayan untuk meminta bill
"Oh boleh, silahkan. Lekas sembuh ya Luna,"
"Terimakasih Tante,"
"Kamu sakit apa Lun? Kayaknya tadi baik-baik aja deh?" tanya Arya
"Mules liat kamu hehe," ujar Luna
Jeno telah membayar biaya makan malam mereka, semua bernilai 6 juta rupiah untuk sekali makan malam. Maya sampai shock dibuatnya.
Saat perjalanan pulang, Luna memulai pembicaraan.
"Pa...Tante Maya cantik ya," ucap Luna
"Hmm iya cantik,"
"Papa suka gak? Kalau suka deketin aja Pa, trus ajak nikah," ucap Luna
"Kamu tadi rencanain ini semua kan? Mau mencoba-coba menjodohkan Papa, hemm nakal kamu ya," ucap Jeno
"Hehe ya maaf Pa, Luna cuma mau Papa bahagia,"
"Papa cuma bahagia kalau kamu ada disamping Papa," ujar Jeno yang lantas membuat hati Luna salah tingkah.
"Tapi menurut Papa Tante Maya itu gimana?"
"Biasa aja," jawab Jeno
Misi Luna gagal tapi entah kenapa dia malah senang. Luna terus memandangi Jeno dan mengagumi ketampanan Papanya.
Kenapa dengan perasaanku, Dia Papa ku. Gak mungkin kan aku menyukainya lebih dari perasaan anak ke Papanya batin Luna
Jeno merasa jika Luna sedang memperhatikan dirinya, ia pun menoleh dan menangkap manik mata Luna yang juga sedang menatapnya. Kini keduanya saling berpandangan beberapa detik hingga tersadar dan keduanya menoleh ke arah lain dengan raut wajah memerah.
Keduanya memiliki perasaan lain yang tak bisa diungkapkan.
__ADS_1