Pesona Putri Sambungku

Pesona Putri Sambungku
Khawatir


__ADS_3

Luna terbangun mendengar bunyi alarm ponselnya. Matanya susah dibuka karena menangis semalam. Ia pun mengintip sekaligus melihat jam pada layar ponselnya.


Aku kesiangan, batin Luna yang kesiangan sholat subuh


Perlahan ia pun mengingat kejadian semalam. Sambil menggosok matanya hingga terbuka penuh. Ini semua akibat menangis semalaman. Luna membuka mata dan duduk di kasurnya beberapa menit sebelum beranjak berdiri.


"Dia orang asing, dan aku egois dengan tidak membiarkan dirinya menikah. Siapa aku? Aku cumalah beban," pikir Luna


Setelah itu ia bergegas ke mushola kecil dalam rumah dan menunaikan shalat subuhnya yang tertinggal setengah jam.


Usai melaksanakan shalatnya. Luna beranjak ke dapur untuk membuat sarapannya. Luna berencana akan berangkat sekolah lebih pagi agar tidak bertemu Papa.


Tetapi rupanya, Jeno tertidur pulas di meja makan. Dengan masih menggunakan sarung. Dia pulang sebelum subuh dan tidak tidur sampai adzan subuh berkumandang.


Luna segera membuat sarapannya omelet dan beberapa potong sosis. Meskipun Luna berulah di dapur, Jeno masih tertidur. Ia tidak terganggu dengan suara berisik dari dapur.


Setelah membungkus sarapannya, Luna bergegas mandi dan bersiap ke sekolah.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Luna membuka pintu rumahnya dengan pelan agar Papanya tidak terbangun. Serta dengan langkah mengendap sambil membawa sepatunya keluar.


Tapi usahanya sia-sia, Jeno sudah berada di depan teras menunggu Luna.


Luna dan Jeno saling berpandangan tanpa mengedipkan mata, satu detik, dua detik, tiga detik Luna kalah. Dia mengedipkan mata lalu menaruh sepatunya di bawah dan memakainya.


"Luna, ada yang ingin Papa bicarakan," ucap Jeno.


"Luna buru-buru Pa. Luna pergi, Assalamualaikum," ucap Luna dengan cepat setelah memakai sepatunya.


Biasanya saat berpamitan, Luna selalu mengecup punggung tangan Papanya, atau bahkan pipinya. Tetapi ini tak ada kecupan atau sekedar mencium punggung tangan.


"Naik motor sama Arya," Luna membuka pintu pagarnya yang tinggi dan terlihat Arya sudah berada di depan rumahnya.


Sungguh melihat Luna yang pergi dengan Arya temannya membuat Jeno sedikit cemburu. Bukan sedikit lagi. melainkan sangat cemburu.


"Gak, aku gak boleh mencintai Luna, Aku harus menghilangkan perasaan ini," gumam Jeno

__ADS_1


Tapi semakin lama, Jeno semakin khawatir. Berbagai pertanyaan bersarang dikepalanya.


Apakah mereka akan benar-benar pergi ke sekolah?


Atau mereka pergi ke tempat lain?


Apakah Arya bisa menjaga Luna selamat sampai di sekolahan.


Jeno sungguh tidak tenang. Ia pun mengunci pintu rumah dan menyusulnya dengan mengendarai mobil. Sayangnya Jeno tidak bisa berjalan cepat karena terjebak kemacetan.


Banyak pengendara motor yang saat itu juga berangkat kerja atau berangkat sekolah.


Jeno terus mencari sosok Luna dan Arya di sepanjang jalan. Namun tidak ketemu, sampai akhirnya ia sampai di sekolahan. Jeno langsung turun dari mobilnya dan masuk ke dalam sekolahan mencari keberadaan Luna.


Luna terlihat di parkiran motor.


Lega itulah yang Jeno rasakan. Khawatir sebagai Orang Tua atau sebagai laki-laki yang sedang jatuh cinta kepada gadis remaja yang tak lain Putri sambungnya sendiri. Setelah melihat Luna dari kejauhan, Jeno pulang.

__ADS_1


Rupanya Luna juga melihat Jeno yang baru saja meninggalkan sekolahnya.


"Sebegitu khawatirnya Papa atau dia tidak percaya padaku?" pikir Luna menggelengkan kepalanya tapi dari hati yang terdalam dia sebenarnya senang diperhatikan.


__ADS_2