Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • SEPULUH


__ADS_3

Baru saja Fania ingin memejamkan mata, ponselnya berdering. Saat ingin mematikan nama papa gula mengambang layar ponselnya. "Om Calvin," gumam Fania. Dengan cepat Fania langsung mengangkat panggilan dari papa gulanya.


"Halo Om," ucap Fania dengan antusias.


"Fan kamu ada jadwal kuliah gak? Kalau gak ada ke apartemen ya, aku capek butuh sentuhan darimu," ucap Calvin dari seberang teleponnya.


"Kebetulan banget sih, Om. Kebetulan aku juga gak kuliah. Oke aku segera meluncur kesana!" Saat itu juga Fania langsung mematikan sambungan telepon dan bersiap untuk pergi ke apartemen milik Calvin.


Janny yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mengernyit saat melihat Fania sedang mengobrak-abrik lemari miliknya. "Kamu nyari apa, Fan! Aku gak nyimpan duit disitu," ujar Janny.


"Siapa juga yang nyari duit? Duitku banyak, apalagi sekarang aku punya kartu hitam dari papa gulaku," celetuk Fania.


"Lah, terus kamu ngapain ngoblak-abrik baju aku, Fan?"


"Aku lagi nyari baju baru yang kamu simpan."


"Untuk apa?" Janny mengernyit.


"Ya mau dipakai lah. soalnya hari ini aku nggak jadi tidur, karena papa gulaku udah pulang dari luar kota dan sedang membutuhkan sentuhanku." Fania tertawa pelan.


"Gak usah berharap lebih! Paling-paling cuma disuruh mijitin Om Calvin, secara kamu sekarang kan pembantunya Om Calvin, bukan sugar baby-nya." Kini Janny pun ikut tertawa. Dari apa yang diceritakan oleh Fania, Janny sudah jika Calvin bukanlah pria hidung belang yang kurang akan sentuhan.


"Enggak apa-apa. Dikasih nyentuh dadanya aja aku udah bersyukur. Dah ah, aku berangkat ya!" seru Fania setelah mendapatkan baju baru Janny lagi.


Janny hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Selagi itu membuat hati Fania merasa senang, Janny hanya bisa pasrah ketika semua baju barunya dipakai oleh Fania.


"Dasar Om Calvin gak peka! Fania itu bukan butuh duit, tapi butuh sentuhan dan belaian, Om!" gerutu Janny saat Fania sudah menghilang dari kamarnya.


Disalah satu kamar hotel, seorang wanita masih terlelap tanpa dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Meskipun di sampingnya sudah tidak ada pria yang baru saja mengobrak-abrik daerahnya, tetapi wanita itu masih bisa menyunggingkan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Apakah aku terlalu kejam telah mengambil ayah dari sahabat sendiri?" gumam Lily yang sangat menyadari kesalahannya.


"Tapi bukan salahku juga. Salahkan saja pada istrinya yang tidak bisa memenuhi hasrat suaminya." Lily menepis rasa bersalahnya.


Pertemuan pertama Lily dengan Frans papanya di sebuah club membuat Lily terkejut. Awalnya Lily merasa ketakutan saat melihat papanya Fania yang tiba-tiba muncul di club malam. Namun, saat dia mendengar pria itu sedang membutuhkan seorang wanita penghibur, jantung Lily lebih kencang. Ternyata papa Fania tak seperti yang dia bayangkan. Karena saat ini Lily sedang tak terikat dengan siapapun, maka Mami Lie menyuruh Lily untuk melayani tamu barunya.


Pandangan pertama Frans pada Lily membuat pria itu menggeleng tak percaya, karena dia jelas tahu siapa wanita yang ada di hadapannya yang tak lain adalah sahabat dari putrinya sendiri.


"Kamu ngapain disini Li?" tanya Frans dengan penuh keterkejutan. "Jangan bilang kamu—"


"Iya Om. Aku tak punya pilihan lain lagi karena aku sedang membutuhkan biaya operasi untuk Steven," ucapnya dengan lirih.


Frans langsung mengusap kasar wajahnya dengan frustasi. "Sudah lama?"


Kepala Lily malu dengan pelan. "Susah dari semester dua, Om."


"Astaga Lily ...! Apakah Fania tahu tentang sisi gelapmu ini?"


"Tidak, Om. Tak ada satu pun yang tahu dengan pekerjaanku ini," ucap Lily dengan berbohong.


Dari malam itu, Frans melakukan hubungan terlarang dengan sahabat anaknya sendiri karena dirinya juga membutuhkan asupan nutrisi untuk juniornya karena sang istri yang sudah tak peduli lagi dengannya. Bahkan setiap Frans meminta jatahnya, istrinya selalu menolak dengan alasan capek dan lelah. Dari Lily, Frans bisa merasakan kembali surga dunia yang sudah hilang selama dua hampir satu tahun lamanya.


"Aku sangat sadar jika apa yang telah aku lakukan ini salah. Dan aku yakin Fania tidak akan pernah bisa memaafkanku. Tapi tidak masalah, karena saat ini Steven adalah suatu-satunya harapanku bertahan meskipun harus melawan badai ombak yang menerjang," ucap Lily sambil mengusap air matanya yang jatuh dengan sendirinya.


🌸🌸


Di satu sisi lain Fania yang telah sampai di apartemen milik Papa gulanya, langsung menuju ke kamar. Dilihatnya pria bertubuh kekar itu sedang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa melepas satupun perlengkapan yang dipakainya. Bahkan sepatunya pun masih menempel di kaki.


"Astaga ... Om Calvin!" seru Fania yang langsung menghampiri Calvin di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Om sakit?" tanya Fania dengan alis yang menaut.


"Gak! Cuma sedikit pusing aja. Berhubung kamu sudah datang, pijat dulu kepalaku. Karena setelah makan siang nanti aku ada rapat penting lagi," ucap Calvin dengan pelan.


Fania pun langsung menuruti perintah Calvin untuk memijat kepalanya. Benar ucapan Janny, saat ini posisi Fania hanya sebatas pembantu yang siap butuhkan kapan saja.


"Om, cuma kepalanya aja yang dipijat?"


"Iya. Karena cuma kepalaku yang pusing," ucap Calvin.


"Kepala yang bawah nggak pusing, Om?" tanya Fania sambil memejamkan matanya. Dia sadar jika pertanyaannya pasti akan membuat Calvin merasa kesal.


"Fania!" sentak Calvin. "Jangan berpikir yang macam-macam! Meskipun pusing, aku tidak butuh bantuan untuk memijatnya. Ternyata kamu tidak sepolos yang aku bayangkan, ya! Jangan-jangan sudah banyak pria yang kamu pijat kepala bawahnya," celetuk Calvin.


"Sembarangan kalau ngomong! Gini-gini aku masih segelan lho, Om. Tapi gak rugi lho, kalau Om Calvin membobol segelan punyaku. Masih original," goda Fania sambil menahan tawanya.


"Kamu jangan macam-macam, Fan! Meskipun kamu masih tersegel, aku tidak akan melepaskan perjakaku denganmu! Udah mijit yang bener!"


Mata Fania terbelalak saat mendengar Papa gulanya masih masih dalam keadaan perjaka. Apakah saat ini dirinya sedang tidak salah mendengar atau papa gulanya sedang membual? Mana mungkin seorang papa gula masih perjaka. Lalu apa yang dilakukan saat memiliki sugar baby? Apakah hanya sekeda—.


Fania langsung menepis pikirannya.


"Om, karena kita sama-sama masih tersegel, gimana kalau kita buka kesegelan kita. Gak bakalan rugi kok, Om. Aku jamin itu!" rayu Fania yang kini tangannya malah menelusup ke dada Calvin.


Sebagai pria normal, mendapatkan sebuah rangsangan membuat kepala di bawah sana langsung menegang. Calvin hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil menelan kasar salivanya saat tangan Fania mere.mas dadanya.


"Sial! Jangan sampai bocah ini merenggut perjakaku!" umpat Calvin dalam hati.


...🌸🌸...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2