
Menghabiskan waktu satu malam bersama dengan Calvin tak lantas membuat Fania kehilangan kesuciannya, karena Calvin sama sekali tak menyentuhnya. Bahkan tak ada acara toel-toel bibir, sehingga meskipun telah menghabiskan satu malam bersama dengan papa gulanya, Fiona masih ting-ting luar dalam.
Karena Fiona tak ingin Calvin tahu dimana Fiona tinggal, ia pun memilih diantar pulang ke kos-kosan Janny.
"Kamu yakin gak mau diantar pulang ke rumah?" Calvin bertanya lagi.
"Beneran, Om. Lagian kos-kosan Janny lebih dekat dari kampus. Nanti kalau Om antar aku pulang ke rumah susah nyari angkot," ujar Fania dengan berkilah.
"Oke."
Calvin pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena suasana pagi akan di depan dengan kemacetan.
"Om Calvin, kalau aku tiap malam tidur di tempat Om Calvin boleh enggak?" tanya Fania memecahkan suasana yang hening.
Calvin langsung menatap kearah Fania. "Ngapain harus tiap malam? Kan jatahnya cuma seminggu sekali, itupun pas malam Minggu. Gak boleh! Nanti kalau tiap malam kamu tidur di tempatku, kamu gak belajar. Gimana mau cepat lulus? Belajar yang bener, biar gak mengecewakan orang tua!"
"Tapi kos-kosanku itu sepi, Om. Kalau tidur di tempat Om Kelvin ya, itung-itung aku cuci muka gitu, Om," celetuk Fania dengan santai.
"Kamu pikir aku facial foam!"
"Anggap aja seperti itu."
Calvin hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Terserah kamu saja lah, Fan!"
__ADS_1
Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Calvin berhenti di depan kos-kosan khusus putri di mana Janny. tinggal. Saat Fania hendak turun, tangannya ditahan oleh Calvin.
"Fan, tunggu!"
Fania yang merasa tangannya dicekal oleh Calvin menggigit bibir bawahnya. Dengan dada yang berdebar, Fania menoleh kearah Calvin. Berharap kali Calvin akan mentoel-toel bibirnya.
"Kamu pegang aja ini kartu ini. Password tanggal lahir kamu," ucap Calvin sambil memberikan sebuah kartu berwarna hitam kepada Fania.
"Ini kan—?"
"Anggap aja itu adalah uang jajanmu."
"Seriusan Om? Apakah nggak terlalu berlebihan?"
Calvin menyunggingkan bibirnya kearah Fania. "Ini tidak seberapa. Sudah sana turun! Belajar yang bener biar lulus dengan nilai baik!" Tangan Calvin mengusap kepala Fania.
"Nyebelin banget sih!" batin Fania. Namun, baru saja Fania menurunkan satu kakinya untuk menyentuh aspal, tiba-tiba ia menarik kembali tubuhnya untuk masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanya Calvin dengan kedua alis yang menaut.
"Ada yang ketinggalan, Om," ujar Fania sambil menahan rasa gugupnya.
"Apa itu?" tanya Calvin merasa penasaran.
__ADS_1
Fania masih terdiam. Ia berusaha untuk tetap tenang sebelum mengambil apa yang tertinggal. Bahkan dadanya terus bergerumuh.
"Fan, apa yang tertinggal?" ulang Calvin.
Terlihat Fania sedang mengambil nafas secara dalam dan membuangnya secara perlahan. Kali ini dia benar-benar sangat nekat. Dengan gerakan cepat, Fania langsung menyosor pipi Calvin.
CUP
Kecu.pan sekilas berhasil mendarat di pipi Calvin. Setelah berhasil mencuri ciuman Fania langsung membisikkan sesuatu di telinga Calvin.
"Jangan marah, cuma dikit, kok." Detik kemudian Fania menarik tubuhnya untuk keluar dari mobil dan langsung berlari untuk masuk kedalam kos-kosan Janny.
Tubuh Calvin membeku untuk beberapa saat. Matanya masih mendelik menatap bayangan Fania yang sudah tenggelam sambil memegangi pipi yang baru saja di sosor oleh Fania.
"Tuh anak benar-benar menguji keimanan. Untung aku masih waras. Kalau enggak butuh jasanya, aku juga enggak mau ngambil baby sugar untuk menghiburku. Fania ... Fania. Imut menggemaskan, tapi sayangnya aku enggak bisa memperlakukanmu seperti para sugar baby sesungguhnya, karena aku hanya menginginkan kehadiranmu, agar aku tak merasa kesepian lagi," ucap Calvin yang masih memegangi pipinya. "Dasar Agresif!"
🌸🌸
Sesampainya di kamar Janny, Fania langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang tidaklah terlalu besar itu. Saat ini mood Fania sedang tidak baik, karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan dirinya hanya dianggap layaknya seorang pembantunya saja di apartemen Calvin.
"Jann, dulu waktu kamu baru pertama kali jadi sugar baby, apa yang kamu lakukan? Apakah langsung dibelai dan di manjakan lebih dulu?" tanya Fania dengan rasa penasaran.
"Maksud kamu gimana, Fan?"
__ADS_1
"Gak usah sok polos, Jann! Aku tahu jika posisi kalian saat ini adalah seorang selingkuhan," ucap Fania.
"Kamu kok tiba-tiba bahas masalah ini sih, Fan!? Apakah saat ini kamu sudah tidak perawan ini?" tanya Janny dengan tegang