
Satu hari bersama dengan Fania serasa satu Minggu. Padahal Calvin baru saja mengenalnya siang tadi. Sebenarnya Calvin tidak tertarik untuk memiliki sugar baby seperti Bara, tetapi tidak ada salahnya mencoba untuk memilikinya. Toh keduanya sama-sama saling membutuhkan dan sama-sama saling menguntungkan. Calvin bisa merasa ada yang menghibur, sementara Fania mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu tips bayaran untuk menyambung hidupnya.
Namun, karena Fania mengatakan tidak enak badan, Calvin pun menyuruh Fania untuk beristirahat di kamarnya, sementara dirinya masih menonton pertandingan sepak bola. Rasanya sudah setengah mengantuk, tetapi saat melihat satu gelas kopi yang berada di meja, membuat Calvin tetap semangat untuk menyaksikan pertandingan hingga usia.
Padahal dirinya tidak merencanakan akan menonton pertandingan sepak bola malam ini bersama dengan Fania. Namun, Calvin tidak bisa untuk memaksakan gadis itu untuk bergadang hingga larut, karena sedang tidak enak badan.
"Sebenarnya rugi, tapi mau gimana lagi. Demi rasa kemanusiaan," keluh Calvin saat dirinya hanya menonton bola seorang diri.
Rasa kantuk yang terus menyerang membuat Calvin merasa ingin menyerah. Ternyata kopi yang menjadi temannya untuk bergadang tidak mempan untuk mencegah rasa kantuknya. Dan pada akhirnya Calvin memilih mematikan televisinya dan masuk kedalam kamar, untuk menyusul Fania diatas tempat tidur
"Astaga ... baru ingat ada dia," ucap Calvin yang sudah terlanjur membuka bajunya. Sudah menjadi kebiasaan Calvin jika tidur ia tak menggunakan baju.
Karena Fania terlalu lelap dalam tidurnya, Calvin pun hanya bisa naik keatas tempat tidur dengan pelan. Tangannya pun langsung menarik selimut tebal untuk menutup tubuhnya dan juga tubuh Fania.
"Demi apa coba aku mengikuti ide gila dari Bara. Meskipun cantik tapi kalau gak bisa masak apa gunanya? Yang ada perut kelaparan. Rugi dong bayar mahal gak bisa diandalkan," kata Calvin sebelum memejamkan matanya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Malam ini Fania merasa tidurnya lebih nyenyak. Bahkan terasa lebih hangat dari biasanya hingga rasanya enggan untuk bangun. Namun, karena sebuah alarm di ponselnya, Fania harus bangun. Ia teringat harus kuliah. Matanya pun mengerjap dengan pelan. Aroma maskulin pun menusuk hidungnya. Bahkan tangannya terasa lebih nyaman saat memeluk sesuatu yang terasa hangat. Setelah membuka mata dengan sempurna, Fania langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Dia pun sangat terkejut, bahkan nyaris pingsan saat melihat Calvin tidur di sebelahnya. Bahkan saat ini kepalanya sedang tidur dengan beralaskan lengan Calvin. Saat dilihat kedalam selimut, Fania merasa lega karena semua pakaian yang ia pakai masih melekat ditubuhnya.
"Ternyata masih aman," lirihnya dengan pelan.
Matanya pun kembali mendongak untuk menatap wajah yang masih terlelap. Jangan ditanya lagi bagaimana keadaan jantung Fania saat ini, terlebih saat ini Fania bisa melihat dada Calvin yang terekspos di depan matanya.
"Oh, astaga ... dadanya seluas samudera apalagi ... " Fania tertawa pelan sambil mengelus dada Calvin dengan pelan. Namun, saat tangan Fania terus mengelus, tiba-tiba saja tangannya langsung di cekal oleh Calvin..
"Jangan nakal! Jangan sampai aku melakukan kekhilafan!" tegur Calvin yang ternyata sudah membuka matanya.
Fania pun langsung mendongak dan melihat Calvin sedang menatap dirinya.
"Cuci muka sana! Dasar bocah!"
"Galak amat sih, Om! Jangan galak-galak, nanti cepat tua. Eh ... bukannya Om Calvin udah tua ya." Fania langsung menutup mulutnya.
"Awas minggir! Sakit tanganku! Kamu pikir ini bantal!"
__ADS_1
Fania mengernyit. "Eh, sejak kapan tangan Om Calvin jadi bantal? Pantesan tidurku nyenyak, ternyata tangan Om Calvin yang menjadi bantal ku."
"Dasar bocah! Sana mandi!"
🌸🌸
Meskipun semua tak berjalan sesuai dengan keinginannya, tetapi setidaknya Fania merasa bahagia bisa tidur bersama dengan Calvin. Ya, meskipun tidak ada malam yang panas. Bahkan Fania sampai enggan untuk berganti pakaian meskipun sudah disiapkan oleh Calvin.
"Kok gak masih pakai baju itu? Kamu gak suka baju dariku?" tanya Calvin saat melihat Fania yang masih mengenakan bajunya kemarin.
"Aku suka kok baju dari Om Calvin. Bahkan ukuran juga sudah sesuai. Tetapi aku masih ingin menghirup aroma tubuh Om Calvin di baju ini," jawab Fania apa adanya.
Calvin hanya bisa mende.sah kasar sambil meletakkan roti ke piring Fania.
"Gak usah macam-macam, kuliah yang rajin!" Untuk kesekian kalinya Calvin memberi peringatan kepada Fania.
"Emang salah ya Om kalau aku mau menyimpan aroma tubuh Om Calvin?"
__ADS_1
"Jelas salah! Apakah kamu tidak membaca poin keenam dimana kita berdua tidak boleh jatuh cinta," ucap Fania.
"Om Calvin tenang saja karena semua peraturan dibuat untuk dilanggar." Fania tertawa dengan pelan.