
Satu Minggu setelah Fania menjadi simpanan pria dewasa, tetapi hidupnya masih saja kelabu karena dalam waktu satu minggu belakang ini papa gulanya sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Tidak hanya itu saja Fania juga harus merasakan kehambaran dalam keluarganya, karena sudah beberapa hari ini ia tak mendapati kedua orang tuanya duduk bersamaan dalam satu meja. Bahkan setiap pagi hanya dirinya yang duduk di meja makan untuk menikmati sarapannya.
Papanya yang selalu lebih awal berangkat ke kantor dan mamanya yang belum keluar dari kamar. Entah apa yang dilakukan oleh mamanya si dalam kamar, Fania tak ingin mengetahuinya.
"Pak Ujang," panggil Fania saat tak menemukan sopirnya di teras. "Kemana sih Pak Ujang?"
Fania pun memutuskan kembali lagi ke dalam untuk bertanya kepada Mbak Ijah Ke mana perginya Pak Ujang. Namun, saat ingin masuk kedalam rumah sosok Pak Ujang nongol dari balik pintu.
"Astaga ... Non Fania mengagetkan!" ujar Pak Ujang terkejut.
Bukan hanya Pak Ujang saja yang terkejut, tetapi Fania pun juga jantungan saat tubuhnya hampir menabrak tubuh Pak Ujang.
"Pak Ujang, tuh yang mengagetkan!" seru Fania. "Lagian darimana sih? Biasanya kan ngopi di teras."
"Maaf, Non. Bapak tadi setoran wajib dulu," kata Pak Ujang sambil tersenyum kearah Fania. "Apakah kita sudah akan berangkat?" tanya Pak Ujang.
"Iya, Pak. Tapi mampir ke kos-kosan Janny dulu ya! Soalnya Fan ada perlu sama Janny."
"Baiklah, ayo kita berangkat!"
Sebisa mungkin Fania mengusir rasa sesak dalam hatinya yang semakin hari semakin terasa sangat sesak. Seakan tak ada lagi kehidupan di dalam keluarganya dan saat ini adalah kondisi keluarganya seperti sedang berada di zona merah.
"Non Fan lagi ada masalah?" tanya Pak Ujang yang sekilas melirik Fania dari kaca spionnya.
__ADS_1
Helaan napas panjang terdengar begitu berat, bahkan Fania terlihat Fania hanya memejamkan matanya.
"Kalau ada masalah, cerita aja. Gak usah dipendam sendiri, Non. Apakah ini adalah hubungan dengan Bapak dan Ibu?"
"Sudahlah, Pak. Fania lagi malas untuk membahas mereka!"
Ternyata pertanyaan pak Ujang mampu membuat mood Fania rusak dan kini hanya memilih untuk diam tanpa kata sambil menatap keadaan luar jendela. Menyadari akan kesalahannya, Pak Ujang langsung meminta maaf pada Fania. Namun, sayangnya Fania sudah terlanjur untuk membisu.
"Sekali lagi Pak Ujang minta maaf, Non. Pak Ujang hanya tidak ingin Non Fania menanggung kesedihan seorang diri, karena ada Pak Ujang dan Mbak Ijah yang akan selalu ada untuk Non Fania," ucap Pak Ujang dengan pelan.
"Pak Ujang gak usah khawatir. Fania punya masih punya sahabat yang bisa menguatkan," ujar Fania.
"Sebaiknya-baiknya sahabat jangan terlalu memberikan kepercayaan lebih, Non. Takutnya suatu saat mereka yang kita percaya akan malah akan menjadi musuh terbesar. Hidup itu keras! Demi untuk bertahan hidup, apapun bisa dilakukan, Non. Pak Ujang hanya tidak mau Non Fania akan merasakan kecewa yang mendalam," jelas pak Ujang panjang lebar.
"Pak, nanti gak usah jemput Fan, ya! Soalnya Fan ada tugas kampus Kemungkinan juga Fan akan nginep di rumah Janny. Jikapun seandainya ada yang menanyakan Fan, katakan saja jika Fan menginap di tempat Janny. Tapi Fan gak yakin deh, ada yang mau menanyakan keberadaan Fan," ucap Fania sebelum turun dari mobil.
"Baik, Non. Jadi cuma diantar sampai sini atau mau ditunggu?"
Fania tersenyum kecil pada sopir yang telah mengabdi puluhan tahun lamanya pada keluarganya. Bahkan Pak Ujang yang bukan siapa-siapa bisa memberikan perhatian lebih padanya. Mungkin karena Pak Ujang yang juga memiliki anak perempuan seusia Fania, jadi dia bisa mengerti bagaimana perasaan Fania saat ini
"Pak Ujang pulang aja."
🌸🌸
__ADS_1
Karena hubungan Fania dan juga Janny sudah terjalin semenjak kedua duduk di bangku SMA dari mulai kelas 10, maka Fania lebih mempercayai Janny untuk berkeluh-kesah, meskipun Stefany dan juga Lily juga baik, tetapi Fania baru mengenal keduanya saat masuk di bangku kuliah, sehingga Fania tidak bisa bercerita terlalu dalam pada Stefany dan juga Lily, sekali pun mereka adalah orang baik.
"Kamu ngapain kesini sih, Fan? Aku mau menikmati waktu liburku, mumpung Om Danu lagi keluar kota," ujar Janny yang langsung menutup tubuhnya lagi dengan selimutnya.
"Jahat banget sih, kamu Jann! Aku lagi suntuk nih! Gimana kalau aku nyari papa gula yang sungguhan, yang bisa memberikan warna dan kebahagiaan dalam hidupku. Menjadi simpanan om Calvin gak enak banget! Masa aku hanya diperlakukan seperti seorang pembantu. Kalau yang dibutuhkan hanya pembantu kan bisa nyari pembantu ngapain nyari sugar baby yang kurang belaian seperti ini. Aku butuh belaian, Jann!" seru Fania dengan perasaan yang menggebu-gebu ingin disentuh oleh pria dewasa.
Janny yang awalnya ingin membungkus tubuhnya, akhirnya tertarik dengan ucapan Fania dan langsung menyingkirkan selimutnya.
"Kamu tuh satu-satunya wanita yang beruntung mendapatkan papa gula seperti Om Calvin. Selain tampan dan kaya, dia juga menjaga kehormatanmu. Mungkin Om Calvin sedang membutuhkan seseorang untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau karena batal nikah," ucap Janny sambil membuang napas beratnya.
"Batal nikah? Kok aku gak tahu ya?" Fania terkejut saat baru mengetahui jika papa gulanya ternyata gagal nikah. "Pasti nyesek banget tuh hatinya Ok Calvin. Tapi anehnya, dia tuh gak mau nyentuh aku, Jann! Aku kan pengen juga disentuh."
"Fan, kamu belum kotor! Jika kamu sudah kotor nanti kamu akan merasa menyesal mengapa kamu tidak bisa mempertahankan kehormatanmu. Terlebih akan sangat sulit untuk mendapatkan pria yang akan menerima kamu apa adanya. Jika bukan karena tuntutan hidup, aku tidak akan pernah mau untuk menjadi simpanan pria yang sudah beristri, Fan! Lagi-lagi kamu bersyukur saat mendapatkan papa gula yang belum menikah," ucap Janny dengan sendu. Siapa yang akan bangga menjadi simpanan pria beristri? Jika bukan untuk membiayai kuliah dan juga pengobatan ibunya, Janny tidak akan pernah mau untuk menjadi sugar baby pria beristri.
Saat itu juga Fania langsung memeluk tubuh Janny. "Kamu jangan bersedih, meskipun perbuatan kamu tidak benar, tetapi aku tidak bisa melarangmu karena aku tidak bisa membantumu, Jann."
"Aku sudah ikhlas konsekuensi apa yang akan aku terima nanti, Fan. Eh, ngomong-ngomong bagaimana kondisi keluarga kamu? Apakah sudah ada perubahan?" tanya Janny yang tiba-tiba mengingat kondisi keluarga Fania.
Fania pun langsung melepaskan pelukannya dengan wajah yang sedih. "Iya, kondisi keluarga aku memang sudah mengalami perubahan, tetapi perubahan yang sangat kacau karena akhir-akhir ini mereka tak lagi meluangkan waktunya sekedar sarapan bersama. Aku tidak tahu apakah kondisi mereka saat ini sudah berada di ujung tanduk. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah akan benar-benar hancur atau masih bisa diselamatkan."
"Kamu yang sabar ya, Fan. Aku tahu, badai pasti akan berlalu. Tapi saran aku, coba kamu cari waktu untuk liburan bersama gitu. Kali aja mereka bisa memperbaiki diri mereka," saran Janny.
Namun, Fania hanya mengulum senyum di bibirnya. "Itu mustahil, Jann! Aku sudah mencobanya, tetapi mereka tetap tidak mempunyai waktu untuk hal seperti itu."
__ADS_1
Sejenak Janny terdiam. Memang sangat rumit kondisi keluarga Fania. Memang benar kata pepatah, semakin berada dipuncak, semakin tinggi juga angin yang akan menerpa. Mungkin saat ini keluarga Fania sedang di uji, seberapa kuat mereka untuk tetap mempertahankan iman mereka.