
Fania meminta maaf kepada Lily jika dia tidak bisa menjenguk Steven karena harus segera menemui mamanya yang baru saja mengalami sebuah kecelakaan.
Mendengar berita yang baru saja didenger membuat tubuh Lily membeku untuk beberapa saat. Entah harus bahagia atau bersedih dengan kecelakaan yang menimpa mamanya Fania. Namun, sebisa mungkin Lily berusaha untuk menunjukkan wajah sedihnya.
"Maafkan aku juga, Fan karena aku tidak bisa ikut untuk melihat keadaan tante. Semoga tante baik-baik saja," ucapnya sebelum Fania meninggalkan dirinya.
"Enggak apa-apa kok. Aku juga ngerti bagaimana keadaanmu saat ini. Kalau begitu aku pergi dulu ya," pamit Fania.
Sebuah anggukan kepala menjadi jawaban Lily. Matanya terus menatap Fania hingga masuk kedalam mobil. Begitu juga dengan dua sahabatnya yang lebih memilih untuk ikut dengan Fania, ketimbang ikut dengan untuk melihat keadaan Steven.
"Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia. Tapi aku bisa mengambil kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan." Lily tersenyum smirk sambil melihat mobil yang ditumpangi Fania menghilangkan dari pandangan matanya.
"Anggap saja ini adalah sebuah keberuntungan untukku."
🌸🌸
Sepanjang perjalanan pikiran Fania sudah tidak tenang dan berharap kondisi Mamanya tidaklah parah. Kedua sahabat Fania terus memberikan dukungan agar Fania tetap kuat.
Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh pak Ujang telah sampai disebuah rumah sakit tempat mamanya Fania mendapatkan pertolongan. Setelah turun dari mobil, Fania langsung berlari untuk mencari keberadaan Mamanya.
"Tuhan ... mengapa ujian yang Engkau berikan untuk keluargaku tak kunjung berakhir. Baru juga hatiku sedang patah karena rencana perceraian mereka, kini Engkau mengirimkan ujian lagi pada keluargaku. Jikapun mereka memang bersalah, tolong berikan waktu untuk mereka bertaubat terlibat dahulu." Sambil berlari kecil, Fania memanjatkan doanya.
Sesampainya disebuah ruangan, Fania langsung masuk untuk melihat bagaimana keadaan Mamanya.
"Mama," ucap Fania dengan penuh kekhawatiran. Meskipun Fania mencoba untuk tidak menerima kenyataan, tetapi wanita yang dipanggil mama itu ada wanita yang telah melahirkan dirinya. Sampai kapanpun Fania akan tetap peduli dengannya, meskipun sang mama-lah penyebab awal hancur keluarganya.
__ADS_1
Napas lega bisa ditarik oleh Fania saat melihat keadaan sang mamanya yang tidak parah.
"Fania," balasnya dengan pelan.
"Mama enggak apa-apa, kan?"
Maria menggeleng pelan. Sebisa mungkin ia tetap menarik sudut bibirnya agar tak terlihat kacau.
"Syukurlah." Namun, detik berikutnya Fania melihat kaki mamanya yang telah dibalut dengan perban.
"Kaki Mama—"
Maria tidak mengizinkan Fania untuk melanjutkan ucapannya. Ia pun tetap tersenyum untuk melihat kearah sang anak. "Mama gak apa-apa. Itu hanya ada penggeseran tulang."
Dada Fania terasa semakin sesak. Tak terasa air matanya pun menetes begitu saja. Dengan cepat Maria menghapus air matanya Fania.
"Semua sudah terjadi, Ma. Tapi jika Fania bisa meminta, jahitkan kain yang telah terkoyak, Ma. Fania tidak ingin kalian berpisah."
Maria hanya tersenyum tipis. "Tidak bisa, Fan. Mungkin Mama bisa menjahit kain itu, tapi Mama tidak bisa menjahit luka yang sudah Mama torehkan. Biarkanlah semua mengalir seperti ini. Mama yang salah. Jika kamu mau membenci, bencilah Mama!"
Cukup lama Fania terdiam disamping Mamanya. Karena hari juga sudah sore, Fania menyuruh kedua sahabatnya untuk pulang. Namun, keduanya bersikeras untuk tetap ada disamping Fania.
"Stef, Jann, aku enggak apa-apa. Kalian pulanglah! Sudah dari kemarin kalian menemaniku. Aku tahu kalian punya tanggung jawab yang harus kalian kerjakan. Aku paham dan aku tidak apa-apa," ujar Fania yang tak ingin membenahi kedua sahabatnya.
"Tapi Fan—"
__ADS_1
"Jann, aku baik-baik saja."
Karena Fania bersikeras menyuruh Stefany dan juga Janny untuk pulang, keduanya pun akhirnya mengikuti saran Fania. Bukan tak ingin peduli, tetapi mereka hanya ingin menjaga perasaan Fania.
"Ya sudah aku pulang ya. Jika ada sesuatu segera telepon kami. Kangan lupa hubungi juga Om Calvin agar dia tidak mencemaskanmu," saran Stefany sebelum meninggalkan Fania.
"Kamu tenang saja, setelah ini aku akan menghubunginya."
Sebenarnya Janny merasa sangat berat untuk meninggalkan Fania, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum pergi, Janny memeluk Fania. "Aku tahu kamu adalah wanita yang kuat dan bisa melewati semuanya. Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan agar pintu hati kedua orang tuamu terbuka. Semoga saja ya, Fan," bisik Janny.
"Amin," balas Fania.
Setelah kepergian kedua sahabatnya ruangan terasa sangat sunyi karena saat ini memahaminya tidur. Rasanya di tempat sunyi seperti ini ia membutuhkan seseorang untuk menguburnya. Namun, Fania tidak ingin merepotkan orang-orang terdekat.
Termenung dalam kamu nanya, tiba-tiba ponsel hanya berdering. Siapa lagi yang akan menelepon dirinya jika bukan Calvin. Dengan cepat Fania mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, halo Om."
"Fan, bisakah kamu sekarang ke apartemen? Aku sedang membutuhkan bantuanmu."
"Maaf Om, bukan aku tidak mau. Tapi aku sedang ada di rumah sakit untuk menunggu mamaku yang baru saja kecelakaan."
"Apa? Mama kamu kecelakaan? Sekarang dirawat di rumah sakit mana aku ke sana."
Tak ada pilihan lainnya, Fania pun memberikan alamat rumah sakit tempat mamanya dirawat. Mungkin dengan kehadiran Calvin, dirinya tidak akan merasakan kesepian.
__ADS_1
"Oke, aku ke sana sekarang juga."