Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Tak ada sedikitpun rasa bersalah pada dua insan yang sedang bercumbu untuk mendapatkan kepuasan. Suara desa.han saling bersahutan. Kali ini Frans memompa tubuh Lily dengan kasar hingga membuat gadis itu tidak bisa merasakan nikmatnya bercinta. Hanya rasa perih yang dia rasakan selama permainan dengan ayah sahabatnya itu.


"Om, pe-lan," ucap Lily dengan terbata.


Frans tak peduli dengan ucapan Lily. Semakin lama semakin kuat, terlebih saat kenikmatan dunia hampir sampai pada puncaknya.


"Arrgg .... " Frans mede.sah dengan kuat saat semburan lahar telah menyembur ke liang kenikmatannya. Setelah memastikan bahwa lahar dinginnya sudah keluar semua ia pun langsung mencabut pusakanya dari liang kenikmatan yang baru saja dia jelajahi.


Lily hanya bisa meringis merasakan perih karena Frans bermain saat kasar. Milik yang masih rapat, tentu saja akan terasa perih jika pusaka yang menjelajahinya besar, terlebih jika bermain dengan kasar.


"Om Frans kenapa sih? Kok mainnya kasar banget? Sakit lho, Om!" gerutu Lily saat tubuh Frans sudah berbaring disampingnya. "Terus ini kenapa enggak pakai pengaman lagi? Aku enggak mau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Om!"


Frans masih dengan menetralkan deru napasnya sambil melihat kearah sahabat anaknya. "Kan sudah pernah aku katakan, kamu harus minum pil kontrasepsi agar tidak terjadi sesuatu kepadamu. Aku sudah biasa tidak pernah menggunakan pengaman saat berhubungan. Rasanya tidak puas. Jika pun kelak hamil, kamu harus menggugurkan karena aku tidak mau memiliki anak dari kamu," ujar Frans dengan santai.


Lily yang mendengar ucapan Frans merasa sangat kecewa, meksipun dia sadar apa yang telah dia lakukan itu salah. Keduanya melakukan hubungan bukan atas dasar cinta, melainkan karena kebutuhan untuk saling melengkapi. Mungkin itu adalah hal yang wajar jika Frans tidak menginginkan buah dari hubungan mereka, tetapi mengapa juga Frans tidak pernah memakai pengaman ketika berhubungan? Itu sama saja Frans telah menyumbangkan benih di rahimnya.


"Tapi setidaknya Om Frans juga harus berantisipasi, gimana kalau semburan itu berbuah. Aku juga gak mau hamil anak Om Frans, terlebih Om Frans adalah ayah dari sahabatku.


Tangan Frans langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang tak bercelana. "Sudahlah lupakan masalah itu. Aku yakin kamu tidak akan hamil selagi kamu meminum pil kontrasepsi dengan rutin."


"Tapi Om—"


"Sudahlah, kamu pulihkan dulu tenagamu karena malam ini aku tidak akan membiarkanmu tidur sampai pagi."


Disisi lain ...


Stefany yang merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Janny, akhirnya mengikutinya untuk masuk kembali ke dalam rumah Fania. Entah apa yang sedang diperdebatkan oleh Janny dan juga Mbak Ijah, tetapi Stefany bisa melihat jika saat ini Janny sedang memohon kepada mbak Ijah.


Dengan rasa barat akhirnya sebuah anggukan kecil membuat Janny tersenyum lebar dan segera menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Jann, kamu mau ngapain?"


"Udah gak usah banyak tanya. Ayo!" seru Janny pada Stefany yang hanya melihatnya heran.


Stefany yang tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Janny hanya mengikutinya naik ke lantai dua di mana kamar Fania berada.


"Kita mau apa, Jann?" tanya Stefany yang masih penasaran.


"Sstt ...! Diam aja. Fania ada di dalam," ucap Janny dengan lirih.


Stefany langsung menangkup bibirnya dengan penuh keterkejutan. Bahkan bola matanya yang mendelik seperti hendak terlepas dari tempatnya.


"Apa?!"


"Makanya diam jangan berisik!"


Stefany mengangguk pelan tanpa kata di samping Janny yang sedang mengetuk pintu kamar Fania.


Tokk ... tokk ... tokk


Janny berusaha mengetuk pintu kamar Fania tanpa memanggilnya, karena Janny tahu jika dia memanggil maka Fania tidak akan membukakan pintunya.


"Ada apa, Mbak?" sahut Fania dari dalam kamar.


Karena tidak ada jawaban dari sang pengetuk pintu, tanpa berpikir panjang Fania langsung membuka pintu. Betapa terkejut dirinya setelah pintu dibuka sosok dua orang sahabat lah yang muncul di hadapannya.


"Kalian," ucap Fania dengan terkejut. Karena Fania sedang tidak ingin diganggu oleh, Iya berusaha untuk menutup pintunya. Namun, terlambat karena Janny dan Stefany sudah berhasil masuk ke dalam kamar.


"Oh, jadi seperti ini ya kelakuanmu? enak-enakan makan seblak sendirian di dalam kamar sementara kami semua sedang mengkhawatirkanmu. Hebat kamu, Fan!" ujar Janny setelah berhasil masuk ke dalam kamar Fania.

__ADS_1


"Astaga Fania ... kamu jahat banget sih?! Kamu tahu nggak kita tuh benar-benar sangat khawatir karena nggak ada sedikitpun kabar dari kamu. Dan lihatlah kenyataannya, kamu malah enak-enakan rebahan di kamar seperti ini?" komentar Stefany.


Tak ada kata yang terucap dari bibir Fania. Gadis itu memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas sofa tanpa memperdulikan kedua sahabatnya sedang meromet dan mencecar berbagai pertanyaan kepada dirinya. Entah apa yang terjadi mengapa kedua sahabatnya bisa menemukan dirinya di dalam kamar. Padahal tadi Fania melihat jika keduanya sudah akan pulang.


"Fan, kamu kenapa sih? Apakah kamu sudah tidak menganggap kami sebagai sahabatmu lagi? Aku tahu kamu sedang ada masalah. Ayo, cerita atau aku akan memberitahu kepada Om Calvin jika sebenarnya kamu itu adalah anak orang kaya yang sedang kesepian!" ancaman Stefany.


"Gak boleh gitu, dong!"


"Kalau nggak boleh kayak gitu, kamu juga nggak boleh kayak gini dong! Pilih sekarang sebelum jariku khilaf!"


Fania mende.sah kasar sambil melihat kedua sahabatnya yang sudah duduk mengapit dirinya. Entah harus percaya kepada mereka atau tidak, tetapi setidaknya dengan kehadiran mereka saat ini Fania merasa masih ada yang memperhatikan, meskipun hanya seorang sahabat.


Tiba-tiba tangis Fania pecah membuat kedua orang sahabatnya saling melempar pandangan.


"Menangislah selagi menangis bisa membuat hatimu lebih tenang. Aku akan tetap di sini untuk mendengarkan tangisanmu," ucap Janny sambil mengelus bahu Fania.


Hiik ... Hikkk ... Hikk


Di depan kedua sahabatnya Fania menumpahkan tangisannya dan menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya. Bukan hanya Fania saja yang ikut menumpahkan air mata, tetapi kedua sahabatnya pun juga ikut berlinang air mata saat mendengar jika keluarga Fania sudah berada di ambang kehancuran. Terlebih saat mendengar jika Papanya memiliki wanita lain di luar sana.


"Kamu yang sabar ya, Fan. Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini dengan baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi kepada keluargamu selama ini, tapi aku bisa menilai jika mereka memang sudah tidak bisa bersatu lagi, terlebih mereka memilih orang ketiga daripada mempertahankan keluarga. Selama ini aku hanya diam karena aku tidak ingin membuatmu memikirkan masalah mereka terlalu dalam," ujar Janny.


Fania yang menangis langsung menyeka jejak air matanya dan menatap tajam kearah Janny. "Maksud kamu apa Jann? Apakah kamu juga akan mengatakan Mamaku memiliki pria lain?"


Kepala Janny mengangguk dengan pelan. "Kamu yang sabar ya, Fan! Kamu harus kuat untuk menghadapi kenyataan ini. Ada aku dan Stefany disini untuk menguatkanmu. Maafkan aku yang selama ini telah menutupi apa yang aku ketahui. Kamu harus kuat, Fan!"


Duarr ...


Hati Fania serasa di bom saat mendengar ucapan Janny jika mamanya juga memiliki pria lain.

__ADS_1


"Arrrgghh! Tidak mungkin! Kenapa tak ada satupun dari mereka yang memikirkan bagaimana perasaanku?" teriak Fania dengan hati yang hancur.


__ADS_2