Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • DUA BELAS


__ADS_3

Sebuah panggilan telepon membangunkan Fania dari tidurnya. Dilihat nomor tanpa nama mengambang di layar ponselnya. Karena nomor asing, Fania pun memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut. Namun, nyatanya sang penelepon tak menyerah dan terus menelepon hingga Fania mau mengangkat panggilannya.


"Siapa sih?" gerutu Fania dengan malas. Dengan kesal, ia pun langsung menekan tombol berwarna hijau yang mengambang di layar ponselnya.


"Halo," ucap Fania dengan malas.


"Kamu baru bangun?" Suara yang tak asing menembus gendang telinganya.


Ya, suara itu tak lain adalah suara Calvin, papa gulanya. Untuk memastikan lebih jelas Fania melihat kembali ke layar ponselnya. Namun, mengapa mengapa nomor telepon Calvin berubah menjadi tanpa nama?


"Ini siapa?" tanya Fania untuk memastikan lebih jelas lagi.


"Astaga ... Fan! Kebanyakan tidur jadi linglung ya! Memangnya ada pria lain yang mengetahui jika kamu sedang tidur di kamarku?"


"Ok Calvin?"


"Iya. Jadi siapa lagi. Apakah kamu punya Papa gula selain aku?"


"Bukan seperti itu, Om! Aku hanya penasaran dan heran saja, mengapa di ponsel yang muncul nomer tanpa nama. Apakah Om Calvin ganti nomer telepon?" Fania masih merasa bingung.


"Itu karena ponselnya baru, jadi belum tersimpan namaku di dalamnya. Habis ini kamu simpan ya biar nggak linglung!"


Seketika Fania mengernyit dan langsung memeriksa ponsel yang sedang berada di tangannya. Saat itu juga dia menyadari jika ponsel itu adalah ponsel baru. Bukan hanya baru dilihatnya tetapi juga ponsel keluaran terbaru yang berstatus limited edition. Mata Fania terbelalak dengan lebar ketika menyadari jika dia menerima panggilan telepon bukan di ponsel miliknya.


"Astaga ... ini ponsel siapa, Om? Mengapa bisa ada di sini? Apakah ini adalah ponsel Om Calvin yang tertinggal?" tanya Fania terheran.


"Oh, maaf. Aku belum sempat memberitahu kepadamu, karena kamu telah tertidur dengan pulas. Itu adalah ponsel untukmu. Jangan lupa baca note yang berada di atas nakas. Jangan sampai telat ya!"


Detik berikutnya panggilan telepon itu terputus. Karena penasaran dengan sebuah kertas yang berada di atas nakas, Fania langsung mengambil kertas yang telah disiapkan oleh Calvin.


"Dih, pakai surat-suratan segala kayak generasi old! Eh, dia kan emang udah old." Perlahan tangan Fania langsung membuka kertas dan membacanya dengan seksama.


"Astaga ... hanya menyuruhku untuk datang ke sebuah restoran saja harus mengatakan lewat surat. Apa salahnya langsung to the point aja! Dasar generasi old!" cibir Fania yang baru saja membaca note dari Calvin. Saat Fania hendak turun dari tempat tidur, matanya menangkap sebuah gaun yang sudah berada disampingnya. "Eh, udah disiapin gaun juga, ya. Beruntung saja belum sempet menelepon Janny."

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Fania terbuai dalam mimpinya, sehingga dia baru menyadari jika hari telah beranjak sore. Padahal saat Fania datang tadi masih sekitar pukul sembilan pagi dan saat ini sudah pukul lima sore. Itu Artinya hampir delapan jam Fania terbuai dalam mimpi indah siang bolongnya.


"Ya ampun ... pantas saja cacing di perut pada mendemo, ternyata aku belum makan siang. Ah, kenapa juga sih kalau aku tidur harus seperti kerbau yang gak bisa di bangunkan," gerutu Fania yang menyadari kelemahannya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Fania telah menyelesaikan guyur mengguyur tubuhnya untuk mendinginkan pikiran yang masih ambur adul karena memikirkan kondisi keluarganya yang benar-benar sudah sangat hambar.


"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada mereka, tetapi aku hanya menginginkan mereka bisa seperti dahulu lagi. Hidup rukun dan bahagia, meskipun tanpa harta. Untuk apa banyak harta jika pada akhirnya keluarga akan hancur," lirih Fania sambil memakai gaun yang telah disiapkan oleh Calvin.


Baru saja hendak mengoleskan bedak di pipinya, sebuah bel dipencet dari luar.


Ting ... Tong ... Ting ...Tong


Karena merasa nanggung, Fania memilih untuk mengabaikan bel untuk beberapa saat hingga riasan di wajahnya terlah sempurna. Suara bel terus-menerus ditekan membuat telinga Fania hampir peka.


"Dih, siapa sih kurang kerjaan? Orang lagi dandan, juga!" gerutu Fania yang sedang memoles bibirnya dengan lipglos. Beruntung saja dua benda itu tak pernah tertinggal dari dalam tasnya, jadi sewaktu-waktu diperlukan, Fania tidak kerepotan.


"Iya, bentar!" teriak Fania dengan keras.


"Kami diutus oleh Tuan Calvin untuk menjemput Anda, Nona. Apakah Anda sudah siap?" tanya pria yang ada dihadapannya.


Fania masih menscan pria itu dari atas hingga bawah dan kembali lagi dari bawah naik keatas. Pakaian serba hitam, membuat bergidik ngeri. Hanya giginya saja yang terlihat putih.


"Bohong! Kamu pasti penjahat dengan modus anak buat Om Calvin, kan? Hayo ngaku!" tuduh Fania.


"Saya tidak berbohong, Nona. Lihatlah, ini adalah kartu nama saya!" Pria itu menunjukan sebuah kartu pengenal yang menggantung di lehernya.


"Kartu seperti itu mah bisa dibuat sendiri! Pokoknya aku gak percaya kalau kamu diutus Om Calvin untuk menjemputku!"


"Jika Anda tidak percaya, silahkan hubungi saja Tuan Calvin."


Karena Fania memang tidak mempercayai pria yang berada di hadapannya saat ini, dia memilih untuk menghubungi papa gulanya untuk mendapat jawabannya yang vailed. Baru saja sambungan telepon diangkat oleh Calvin, pria itu langsung mengatakan jika Redana memanglah salah satu anak buah yang diutus untuk menjemputnya.


Lagi-lagi untuk memastikan pria yang ada dihadapannya bernama Redana, Fania pun menatap tanda pengenal pria asing dengan seksama seraya mengejanya. Setelah semua telah jelas, akhirnya Fania langsung mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Ya udah, ayo berangkat!" ujar Fania dengan ketus.


"Apakah Anda sudah percaya jika saya adalah anak buah Tuan Calvin?" tanya Redana.


"Gak usah banyak tanya kalau gak mau lihat aku naik taksi!"


"Baiklah, maafkan atas kelancangan saya."


Fania pun akhirnya memilih untuk berjalan dibelakang Redana dengan menjaga jarak. Bisa-bisanya papa gulanya mengirimkan pria seperti Redana untuk menjemputnya. "Gak bisa nyari yang lebih bening dikit apa gimana sih Om Calvin ini? Masa iya aku dijemput dengan pria seperti ini! Mana dari ujung kepala hingga ujung kaki hitam semau. Tinggal bola mata dan giginya saja yang di mencolok," gerutu Fania dengan pelan.


Mungkin bagi Fania, Redana adalah pria asing dan aneh, tetapi bagi Redana dia adalah pria yang paling tampan. Karena sesungguhnya ketampanan seseorang bukan hanya dilihat dari fisiknya saja, tetapi dari hati dan imannya.


Selama menikmati perjalanan menuju sebuah restoran, Fania memilih untuk membisu tanpa ingin bertanya-tanya pada Redana.


"Nona, sudah sampai," ucap Redana yang saat ini telah memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus.


"Iya. Makasih sudah menjemputku, ya!" ucap Fania sebelum turun dari mobilnya.


"Sama-sama, Nona," balas Redana dengan tegas.


Fania tidak tahu kejutan apa yang akan Calvin berikan kepadanya, hingga berinisiatif untuk mengajak dinner di restoran bintang sepuluh ini. Baru saja kakinya melangkah masuk kedalam restoran, Fania pun langsung disambut mewah oleh kedua pelayan yang ditugaskan untuk menjemput Fania untuk bertemu dengan Calvin.


Duh, kok jadi deg-degan gini, sih? Apakah Om Calvin sedang ingin melamarku dan mengajakku untuk menikah? batin Fania sambil menahan senyum di bibirnya.


Tidak butuh waktu lama, Fania telah sampai disebuah ruangan VIP khusus. Ternyata saat ini bukan hanya ada dirinya dan juga Calvin yang menghuni ruang tersebut.


"Ini acara apa, sih?" batin Fania yang merasa penasaran dengan beberapa orang yang sudah hadir di meja makan. Namun, saat matanya mulai menyapu beberapa pria yang hadir, ada satu pria yang sangat dikenali oleh Fania , siapa lagi jika bukan Frans— papanya Fania.


"Astaga ... itukan papa!" Fania langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena saking terkejut.


...🌸🌸...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2