
Tak ada sepatah kata yang terucap dari tiga orang yang berada dalam satu lift, hingga akhirnya lift telah berhenti di tempat tujuan. Yang membuat ketiga orang tersebut mengernyit adalah mereka sama-sama turun di lantai tersebut.
"Anda mendapatkan kamar disini, Tuan Frans?" tanya Calvin dengan alis yang menaut.
Frans hanya bisa menelan kasar salivanya saat ingin memberikan jawaban kepada Calvin. "Oh, iya Tuan Calvin. Saya mendapatkan kamar disini," ucapnya dengan bergemetar.
"Oh, sebuah kebetulan ya. Saya juga mendapatkan kamar dilantai ini. Kalau boleh tahu, Anda berada di kamar berapa ya?"
"34," ucap Frans dengan cepat.
"Nah, tuh kan ... sangat-sangat sebuah kebetulan yang tidak terduga. Kebetulan sekali saya berada di depan kamar anda. Saya menempati kamar 43. Senang sekali bisa mendapatkan kamar berhadapan dengan Tuan Frans." Calvin mengulum senyum di bibirnyanya.
Mendengar ucapan Calvin, tubuh Frans perlahan membeku di tempat sambil memberikan sebuah isyarat pada perempuan yang berjalan pelan di belakangnya. Mengerti jika saat ini situasi sedang tidak bersahabat, perempuan itu segera berbalik arah menuju ke arah lift kembali.
Keduanya pun mulai berjalan beriringan untuk menuju ke kamar mereka masing-masing. Namun, tiba-tiba langkah Calvin terhenti.
"Tunggu. Sepertinya tadi ada seorang perempuan yang satu lift dengan kita dan berjalan di belakang. Kok, tiba-tiba gak ada. Kemana ya?" Calvin bertanya sambil menautkan kedua.
Seketika Frans langsung gelagapan saat mendengar pertanyaan Calvin saat menyinggung soal perempuan yang dibelakangnya tadi.
"Ah, Anda terlalu jeli, Tuan Calvin. Mungkin saja wanita itu sudah masuk ka kamarnya."
"Ah, benar juga ya. Sudahlah tidak usah dipikirkan. Mari Tuan, Frans."
__ADS_1
Keduanya pun berjalan beriringan untuk menuju ke kamar mereka, karena sebuah kebetulan kamar mereka tepat berhadapan.
Sesampainya di dalam kamar, Calvin langsung mengecek menghampiri Fania yang sudah terlelap dalam buaian alam bawah sadarnya. Karena dirinya juga merrqea sangat lelah, akhirnya ia memilih untuk merebahkan tubuhnya disamping Fania.
Dibalik kelelahannya, Calvin masih menatap lekat wajah polos Fiona dalam dengkuran napas teraturnya. Bibirnya terangkat tipis saat menyadari perempuan yang sedang berbagi ranjang dengannya itu ternyata cantik. Mungkin karena perempuan dari kampung sehingga memiliki kecantikan alami.
"Fan, masa depan kamu itu masih panjang. Tak seharusnya kamu mengambil langkah seperti ini untuk mendapatkan uang. Aku hanya miris saja dengan keputusan yang kamu ambil. Jika aku tidak sedang membutuhkan partner untuk membuatku melupakan kepahitan hidup, mungkin kamu sudah jatuh pada pria yang akan merusakmu. Aku berharap jika suatu saat nanti hubungan ini berakhir, aku berharap kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak," lirih Calvin sambil membuang napas kasarnya.
Tak ingin larut dalam pemikirannya sendiri, Calvin pun langsung menarik selimut untuk menutup tubuhnya dan juga tubuh Fiona. Melewati gelapnya malam yang sunyi, berharap esok mentari menyambutnya dengan hari yang cerah.
Jika saat ini Fiona sedang terlelap dalam dekapan Calvin, berbeda dengan salah seorang tamu yang sedang berpacu dalam kegiatan yang sangat menguras keringatnya. Bahkan dinginya suhu AC yang dinyalakan tak mampu untuk memberikan hawa sejuk nan dingin, sekalipun tak ada kain yang melekat di tubuhnya.
Berpacu dalam irama khas membuat seseorang pria semakin menggebu-gebu diatas tubuh seorang perempuan yang mere.mas kain sprei sambil mengeluarkan de.sa.han kecil dari mulutnya.
Pria gagah yang haus akan belain istrinya terpaksa harus jajan diluar demi untuk memuaskan hasratnya sebagai pria normal. Dia tidak perduli dengan siapa dia mengasah juniornya, karena yang ia inginkan hanyalah hasratnya bisa tersalurkan, sekalipun dengan sahabat anaknya sendiri.
"Ah, Om .... " Suara rintihan membuat semua syaraf menegang.
Semakin cepat pria itu memacu, semakin luas juga suara de.sah.an yang menggema di seluruh ruangan, hingga pada akhirnya pria itu juga ikut mende.sah panjang saat cairan hangat telah keluar dari dalam pusakany.
Napasnya masih tersengal, tetapi pria itu belum mau mencabut pusaka miliknya dari goa kenikmatan yang terasa menggigit pusakanya.
Matanya menatap perempuan yang ada dibawahnya dengan dada naik turun untuk menikmati sisa-sisa permainan panasnya.
__ADS_1
Saat menyadari jika sebuah pusaka belum dicabut, perempuan itu menatap kearah pria yang masih berada di atas tubuhnya.
"Om enggak pakai pengaman?" tanyanya.
Pria itu menggeleng dengan pelan. "Tidak. Tidak enak menggunakan pengaman. Jika tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, kamu harus mencegah dengan minum pil kontrasepsi," ujarnya.
"Tapi Om—"
"Sttt. Selama kamu rutin mengkonsumsinya, kamu tidak akan hamil."
Sebuah anggukan kicil akhirnya menjadi jawaban kesepakatan, membuat pria yang masih berga.irah itu tersenyum puas.
"Kita lanjutkan lagi ya. Sepertinya dia sudah bangun lagi." Sebuah bisikin di daun telinga memuat desiran disekujur tubuh hingga ke ujung syarafnya.
"Om, aku merasa sangat bersalah telah mengkhianati kepercayaan Fania," ucap Lily disela-sela kenikmatan yang ia rasakan.
Frans yang tak lain adalah ayah dari Fania, sahabat Lily, seketika menghentikan pacuannya.
"Bisa tidak, jika sedang bermain seperti ini tidak membahas masalah lainnya." Tiba-tiba Frans langsung menyambut pusakanya dari goa kenikmatan. Saat itu juga mood untuk memanjakan sang pusaka telah sirna.
Sadar akan kesalahan yang telah dilakukan, Lily malah langsung menaiki tubuh Frans.
"Sorry, Om kalau aku telah membuat kesalahan. Baiklah, aku tidak akan mengulanginya." Kini Lily berusaha untuk membuat mood Sugar Daddy kembali seperti semula. Sentuhan sensasional, tak bisa ditolak oleh tubuh Frans, terlebih Lily sangat lincah dalam setiap gerakannya hingga mampu membuatnya hampir melayang dalam sebuah kenikmatan.
__ADS_1