Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • TUJUH BELAS


__ADS_3

Tangis Fania pecah saat papanya telah pergi meninggalkan rumah dan mamanya juga masuk kedalam kamar. Satu pun diantara mereka tidak ada yang peduli dengan dirinya. Bahkan sang papa yang tak mengucapkan sepatah kata saat ingin pergi.


Hatinya benar-benar sangat berdenyut. Rumah megah, harta melimpah, tetapi semuanya tak berarti apa-apa ketiga keluarganya pecah. Kebahagiaan yang diinginkan tidak pernah bisa terwujud lagi, terlebih saat ini ada wanita lain dalam pernikahan orang tuanya.


"Non, ada apa?" tanya Mbak Ijah yang sangat terkejut saat mendengar Fania. Bahkan pak Ujang yang sedang berada di teras belakang juga berlari untuk menghampiri Fania.


"Ada apa, Non?" tanyanya dengan penuh khawatir.


Karena tak ada jawaban dari Fania, mbak Ijah langsung membawa Fania kedalam pelukannya. Didalam pelukan mbak Ijah Fania terus menumpahkan air matanya hingga sesenggukan.


Hanya helaan napas panjang yang keluar dari mulut mbak Ijah. Wanita itu sudah bisa menebak jika semua ini ada sangkut pautnya dengan kondisi keluarga sang majikan yang sedang tidak sehat.


"Cerita sama Mbak Ijah, ada apa? Apa yang sudah terjadi, Non?" tanya Mbak Ijah sambil membelai rambut Fania.


"Mereka mau berpisah, Mbak," ujar Fania dengan sesenggukan.


Bola mata Mbak Ijah langsung membulat dengan lebar. "Apa?! Non Fania tahu darimana?"


"Fania denger semuanya, Mbak! Papa udah diusir sama Mama dan mereka akan bercerai."


Meskipun bukan siapa-siapa, tetapi saat mendengar ucapan Fania tubuh Pak Ujang langsung terasa lemas. Ia pun langsung mendudukkan tubuhnya di sofa depan Fania.


"Apakah terlalu berat cobaan yang sedang menguji rumah tangga Tuan dan Nyonya sehingga mereka memilih jalan buntu seperti ini. Apakah tidak bisa untuk dibenahi dan hidup tentram seperti dahulu," ucap Pak Ujang dengan lirih.


Mbak Ijah tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Sudah hampir 10 tahun terakhir dirinya mengabdi pada keluarga Fania. Sebenarnya kondisi tidak harmonis sudah terasa semenjak dua tahun lalu. Tetapi pasangan suami-istri itu masih bisa menutupi. Namun, entah mengapa beberapa minggu terakhir ini suasana semakin panas, dimana Tuannya selalu pulang pagi dan memilih untuk pisah ranjang.


Mbak Ijah yang merasakan keganjalan tidak berani untuk mengutarakan perasaannya kepada siapapun. Dia hanya memendam seorang diri. Namun, semakin lama bangkai tersimpan pasti akan tercium juga. Dan saat ini bangkai itu telah tercium.


"Non Fania yang sabar ya. Berdoalah agar hati Taun dan Nyonya bisa melunak dan sama-sama menyadari akan kesalahan mereka masing-masing," hibur Mbak Ijah dengan tulus.

__ADS_1


Fania yang masih berada di dalam dekapan mbak Ijah segera mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara yang kaki yang sedang beradu tangga.


Dilihatnya sang mama sedang menuruni tangga dengan membawa koper besar miliknya. Sedikitpun wanita itu tak menunjukkan raut wajah sedihnya.


"Fan, kamu sudah besar. Jangan cengeng!" ucap mamanya setelah sampai didepan sofa, dimana Fania sedang di sekap oleh mbak Ijah.


"Mama mau keluar negeri untuk beberapa saat. Kamu gak usah memikirkan hubungan mama dan papa. Kami berdua sudah tidak sejalan lagi. Percuma saja jika kami bertahan jika pada akhirnya akan ada hati yang terluka. Lebih baik berpisah dan merelakan agar bisa hidup bahagia. Mungkin jodoh mama dan papa hanya sampai di sini. Kamu jaga diri dengan baik," ucap Mamanya.


"Mbak Ijah, Pak Ujang aku titip Fania untuk beberapa waktu ke depan. Tolong jaga dia. Kalian tenang saja, aku akan memberikan bonus lebih untuk kalian berdua." Mama Fania meletakkan sebuah amplop berwarna coklat di atas meja.


"Itu adalah bonus kalian untuk menjaga Fania selama aku tidak ada, sisanya akan aku transfer nanti," lanjut Maria—mamanya Fania.


Tak ada kata-kata yang ingin Fania sampaikan kepada mamanya, karena saat ini dirinya benar-benar sangat hancur dan kecewa dengan keputusan mananya. Tak ada sedikit rasa pun untuk memahami bagaimana hancurnya hati seorang anak ketika harus menerima kenyataan terberat dalam hidupnya, yaitu saat menyaksikan kedua orang tuanya gagal untuk membina keluarga kecilnya. Fania tak sanggup untuk melihat sang mama yang kini sudah beranjak keluar.


"Mbak, apakah hati mama sudah membeku? Mengapa dia tak memikirkan bagaimana perasaanku? Mengapa mereka hanya memikirkan ego mereka masing-masing?"


"Non Fania yang sabar ya. Mungkin saat ini nyonya sedang ingin mendinginkan pikirannya. Mungkin setelah hati nyonya akan lunak dan membatalkan gugatannya pada Tuan. Berdoalah yang terbaik untuk mereka, Non!" saran mbak Ijah.


"Mbak, aku ke kamar dulu ya. Jika nanti ada yang mencariku, katakan saja aku sedang tidak ada di rumah dan tolong jangan mengatakan apapun tentang masalah ini kepada siapapun, sekalipun itu adalah sahabatku sendiri," ucap Fania sebelum meninggalkan mbak Ijah.


"Anda tenang saja Nona. Kami tidak akan membicarakan masalah ini kepada siapa. Jika Anda membutuhkan sesuatu, segera panggil saya, ya!"


Fania mengangguk dengan pelan.


"Iya."


🌸🌸🌸


Di kampus ...

__ADS_1


Tiga macan sahabat Fania masih menunggu kedatangan Fania yang belum menunjukkan batang hidungnya. Bahkan nomor telepon Fania pun juga tidak aktif. Padahal satu jam yang lalu Fania sudah menghubungi Janny jika untuk menunggunya di kos-kosan. Namun, karena lama tak juga datang, Janny memutuskan untuk berangkat ke kampus tanpa ingin menunggu Fania.


"Gimana, Jann?" tanya Stefany yang mulai gelisah karena Fania tak kunjung datang. Pikirannya hanya satu, mendapatkan kekerasan dari Calvin.


"Mungkin gak sih kalau Om Calvin telah menganiaya Fania. Aku kok jadi takut Fania di apa-apain sama Om Calvin," lanjut Stefany lagi.


"Gak usah berpikir macam-macam. Mungkin saja Fania sedang keasyikan menghibur Om Calvin," timpal Lily dengan mata yang fokus pada layar ponselnya.


"Bisa jadi sih. Aku juga gak yakin kalau Om Calvin mau menganiaya Fania.Yang ada Om Calvin yang dianiaya oleh Fania," sambung Stefany lagi.


"Semoga saja." timpal Janny, dengan sisa rasa khawatirnya.


Tidak ada kabar dari Fania membuat Janny terus merasa gelisah. Begitu juga dengan Stefany yang juga mengkhawatirkan keadaan Fania.


"Gimana kalau pulang kuliah kita ke rumahnya Fania aja. Kali aja tuh anak lagi ngeram di rumah," saran Stefany.


"Ide bagus tuh," sahut Janny.


"Eh, kayaknya aku gak bisa ikut deh. Soalnya aku udah ada janji siang ini sama Om Tama," sambung Lily.


Saat itu juga mata Janny dan juga Stefany saling bersitatap dengan heran. "Kamu gak lagi bohong kan Li?" tanya Stefany dengan tatapan mengintimidasi.


Lily menggeleng cepat. "Aku gak bohong. Apakah aku terlihat seperti seorang pembohong?"


"Tidak. Hanya heran aja sih Li. Bukannya Om Tama udah pindah keluar kota. Apakah Om Tama masih nekat untuk berhubungan denganmu. Aku dengar dari Om Bara jika perusahaan Om Tama akan diakuisisi oleh perusahaan Om Bara," jelas Stefany yang merasa ada sebuah kejanggalan.


Saat itu juga tubuh Lily membeku karena dia telah melupakan sesuatu tentang sugar daddy lamanya yang kini sudah pindah keluar kota.


"Apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari kami, Li?" Kini giliran Janny yang bertanya.

__ADS_1


Melihat dua sahabatnya seperti sedang menyudutkan dirinya, membaut Lily hampir tak berdaya. Tetapi Lily tetap berusaha untuk meyakinkan agar dua sahabatnya tidak mencurigai dirinya.


"Kalian terlalu berlebihan. Sudahlah ayo, masuk! Sebentar lagi kelas akan dimulai!"


__ADS_2