Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • DUA PULUH SATU


__ADS_3

Tubuh Fania masih membeku saat Calvin meminta alamat rumahnya. Tidak mungkin Fania memberikan alamat rumahnya kepada Calvin. Bisa-bisa indentitas Fania terbongkar dan Calvin akan meninggalkan dirinya karena dicap sebagai pembohong. Untuk saat ini Fania belum siap jika identitas asli dirinya terbongkar.


"Halo, Fan! Kamu masih dengar kan? Sekarang kirim alamat rumah kamu karena aku anak menjemputmu. Bukankah kamu bilang akan tidur disini?" Calvin dari seberang telepon mengulang kembali ucapnya.


"Iya, Om. Aku dengar. Sebelumnya aku minta maaf jika sudah membuat Om Calvin menghawatirkan keadaanku. Tapi untuk kali sedang aku lagi gak enak badan, jadi aku gak bisa menepati janjiku. Tapi percayalah, jika aku sudah sembuh, aku pasti akan langsung menepati janjiku," ucap Fania.


"Iya, makanya kamu kirim alamat rumah kamu biar aku datang kesana."


"Om Calvin, aku enggak apa-apa, jadi enggak usah paksa aku ya, Please. Saat ini aku hanya ingin sendiri."


Dari seberang telepon Calvin tidak bisa memaksakan keinginannya. Mungkin saat ini Fania memang sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Bahkan. Tapi jangan lama-lama menyendirinya. Disini aku juga menyendirinya. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku, ya!" pesan Calvin sebelum mengakhiri teleponnya.


Setelah menutup panggilan dari Calvin, Fania membuang napasnya dengan kasar. Namun, dalam hati Fania merasa sangat bersyukur karena Calvin percaya padanya. Apa jadinya jika Calvin tahu bahwa Fania adalah anak seorang dari seorang pengusaha yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Sudah dipastikan Calvin pasti akan sangat kecewa dan mungkin Calvin juga akan membenci dirinya karena telah berbohong.


"Fan, meskipun saat ini keadaan keluargamu sedang hancur, tetapi kamu tidak boleh larut untuk meratapinya. Lihatlah di luar sana masih ada orang yang menyayangimu, termasuk kita berdua. Untuk masalah kedua orang tuamu, biarlah mereka yang menyelesaikannya. Jika mereka tidak bisa bersatu lagi, mungkin takdir cinta mereka hanya sampai disitu. Percayalah dibalik semua ini, Tuhan punya rencana yang baik untukmu." Jannya memberikan nasehatnya.


Air mata yang sudah berusaha ditahan agar tidak jatuh, akhirnya lolos kembali. Fania sangat terharu dengan ucapan Janny. Ia pun memeluk tubuh sahabatnya kembali.


"Jann, makasih karena kamu selalu ada untukku," ucapnya sambil terisak.


"Kamu adalah sahabatku. Jadi sudah sepantasnya aku berada disampingmu dalam keadaan senang dan sedih."


Karena melihat kondisi Fania yang memprihatinkan, akhirnya dua orang sahabatnya memilih untuk menginap di Fania. Bahkan keduanya rela membatalkan janji yang telah dibuat kepada papa gula mereka, semua itu Fania, sahabatnya.


Dengan hadirnya dua orang sahabat, hati Fania mulai lebih tenang, terlebih saat mendengar setiap nasehat yang Janny berikan. Menurut Fania, Janny lebih cocok menjadi ibunya. Eh, tapi mana mungkin Fania mau memiliki ibu tiri yang berstatus sahabat. Apalagi usia mereka sama.

__ADS_1


"Eh, ngomong-ngomong Lily kemana? Tumben gak nempel sama kalian?" tanya Fania yang baru menyadari jika salah satu sahabatnya tidak terlihat.


"Gak tahu tuh anak kemana. Tapi kayaknya anak itu sedang menyembunyikan sesuatu. Buktinya sudah satu minggu lebih dia selalu menghindar dengan kita. Aku yakin Lily mempunyai papa gula baru yang lebih kaya, sehingga dia gak mau terbuka lagi sama kita," ucap Janny.


"Mungkin Lily hanya ingin menjaga privasi papa gulanya sehingga dia memilih untuk menyembunyikannya dari kita," celetuk Stefany.


"Tapi gak gitu juga konsepnya, Stef! Bukankah kita sudah berkomitmen untuk saling terbuka tentang papa gula kita? Apakah Lily takut papa gulanya kena tikung?" timpal Janny.


"Sudahlah, apapun yang sedang disembunyikan oleh Lily, semoga itu bukan hal yang buruk. Ya udah tidur aja yuk! Besok kan ada jadwal kuliah pagi!" ajak Fania yang kini sudah merebahkan tubuhnya ditengah-tengah sahabatnya.


Fania selamat bersyukur di saat dirinya sedang jatuh, sahabat datang untuk memberikan kekuatan. Saat ini hanya sahabat yang Fania milik untuk menghibur diri.


🌸🌸


Siang ini untuk membuat mood Fania kembali seperti sedia kala, Janny mengajaknya untuk menonton. Sudah lama juga mereka tidak menghabiskan waktu karena sibuk dengan papa gula mereka masing-masing. Stefany yang mendengar tak kalah heboh untuk ikut. Namun, berbeda dengan Lily yang memilih diam. Bahkan hari ini tiga macan itu tak mendengar kata yang terucap dari Lily.


"Em ... kayaknya gak bisa deh. Hari ini aku mau menjenguk Steven di rumah sakit," ucap Lily.


"Apakah Steven masuk rumah sakit lagi?" Kini giliran Fania yang bertanya.


"Iya, Fan. Sudah hampir satu Minggu ini Steven masuk rumah sakit lagi. Jadi aku minta maaf ya enggak bisa ikut ngumpul sama kalian."


Fania membuang napas beratnya sambil menggenggam erat tangan Lily. "Kamu kalau ada masalah, cerita sama kami. Jangan kamu pendam sendiri. Ya udah gimana kalau hari ini kita ke rumah sakit untuk Steven?" usul Fania.


Dengan cepat Lily menolak. "Enggak usah repot-repot. Steven udah mendingan kok. Mungkin hari terakhir dia di rawat. Kamu gak usah mikirin Steven, ya." Lily terlihat sangat gugup. Bahkan dahinya telah mengeluarkan keringat dingin.


"Kok gitu? Kita ini kan sahabat kamu. Senang dan sedih harus saling berbagi. Meskipun saat ini aku sedang menghadapi masalah, tidak ada salahnya aku juga menguatkan kamu kan, Li?"

__ADS_1


Tak ada pilihan lain. Lily akhirnya mengizinkan ketiga macan untuk ikut menjenguk Steven, adik Lily yang sedang dirawat di rumah sakit.


Berada satu mobil dengan Fania membaut Lily terus mengucurkan keringatnya. Sungguh hatinya sangat bergerumuh dengan rasa bersalah yang menggunung.


Fan, maafkan aku. Jika kamu tahu kenyataan yang sebenarnya, mungkin kamu selamanya akan membenciku dan tidak akan pernah menganggapku sebagai sahabat lagi. batin Lily dengan rasa sesak di dalam dadanya.


Raut wajah yang Lily pancarkan sejak tadi membuat Janny merasa jika saat ini Lily merasa tidak nyaman. Namun, Janny memilih diam karena tidak ingin berburuk sangka terhadap satu sahabatnya yang sudah mulai berubah.


Semoga itu hanya perasaanku saja. Mudah-mudahan Lily memang sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari kami. batin Janny.


Tak lama pun mobil yang dikendarai oleh pak Ujang telah sampai di sebuah rumah sakit di mana Steven dirawat. Namun, baru saja ndak turun dari mobil ponsel Fania berdering. Setelah melihat siapa yang meneleponnya, Fania langsung mengangkat.


"Halo, Ma," ucapannya.


Saat itu juga tubuh Fania membeku. Bahkan telepon yang berada di genggamannya pun jatuh ke tanah.


"Fan, kamu gak papa kan?" tanya Janny dengan panik.


"Fania, ada apa?" Kini Lily pun memberanikan diri untuk menanyakan apa yang telah terjadi. Namun, Fania hanya menggeleng pelan sambil memundurkan langkahnya ke belakang hingga terbentur badan mobil.


"Tidak mungkin!" ucap Fania dengan gelengan kepala.


...#BERSMABUNG#...


Selagi menunggu novel ini update kembali, ramaikan dulu yuk novel baru teh ijo. Judulnya CINTA UNTUK AISYAH Yang udah mampir, makasih banyak ya. Semoga kalian selalu dilimpahkan rejeki dan kesehatan yang melimpah. Amin 🤲


__ADS_1


__ADS_2