Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • DELAPAN


__ADS_3

Meskipun Fania tidak pulang tak akan ada yang mencari dan menanyakan kabar tentangnya, karena kedua orang tuanya hanya fokus pada kesibukan mereka masing-masing.


Karena pagi ini Fania pulang ke rumah Janny, maka ia pun meminjam pakaian milik sahabatnya untuk di pakai. Bukan tidak mau beli, tetapi Fania hanya malas ribet dan harus menunggu lagi, terlebih saat ini waktunya sudah mepet untuk berangkat kuliah.


"Fan, itu baju belum pernah aku pakai, lho!" proses Janny saat pilihan Fania tepat pada baju yang masih berbandrol itu.


"Nanti aku ganti sepuluh kalau perlu," ucap Fania santai.


"Daripada kamu ganti sepuluh, mending kamu ganti uang aja. Kan lumayan bisa tuh buat gendutin ATM ku."


"Dasar mata duitan!" cibir Fania.


Lima belas menit kemudian Fania dan Janny telah sampai di kampus. Bertepatan dengan itu, Fania berpapasan dengan mobil yang hampir menyerupai mobil papanya. Namun, Fania menepis karena orang yang mempunyai mobil seperti itu bukan hanya papanya saja. Karena perasaan mengganjal begitu kuat, akhirnya Fania mengambil gambar plat mobil, berharap itu bukanlah plat mobil milik papanya.


"Fan, ngapain bengong disini?" Tiba-tiba Lily menepuk bahu Fania. Seketika Fania tersadar dari lamunannya. "Ayo, masuk!"


Fania hanya mengangguk pelan. Karena fokus pada mobil yang mempunyai kemiripan dengan mobil milik papanya, ia tidak tahu Lily muncul dari sebelah mana.


"Kayaknya ada yang lagi berbunga, nih?" sindir Janny yang melihat Lily terus menebarkan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Ada apa? Apakah ada selingan Om Tama?" Stefany menimpali.


Lily masih tersipu malu. "Kalian kepo. Udahlah, ayo masuk!"


Akhirnya keempat macan alias manusia cantik itu langsung meluncur ke kelas untuk menunggu dosen mengisi materi hari ini.


Hidup di kota metropolitan memang harus kuat mental dan harus mengikuti style agar tak dibully oleh mereka yang memiliki kehidupan lebih tinggi. Bagi mereka kampus akan dijadikan tempat untuk menujukan seberapa kaya orang tua mereka. Namun, tidak dengan Fania yang malah bersembunyi dibalik tiga orang sahabatnya.


"Eh, Fan! Gimana hari pertama melayani papa gula? Meskipun sakit, bikin nagih kan?" tanya Stefany yang baru mengingat Fania yang telah menjadi simpanan om-om kaya.


"Sakitnya sampai ulu hati, Stef! Sampai-sampai aku gak mau lagi melayani om Calvin!" ucap Fania yang masih merasa kesal karena papa gulanya terlalu cuek dan sama sekali tidak tertarik akan tubuhnya. Dan yang lebih parah lagi, selama menjadi simpanan Calvin, tidak akan ada sentuhan layaknya suami-istri. Itu artinya Fania akan tetap tersegel selam menjadi simpanan Calvin.


Berbeda dengan Stefany, Janny hanya menahan tawa karena dia telah mengetahui kenyataan jika nasib Fania sangat beruntung bisa mendapatkan papa gula seperti Om Calvin yang tidak langsung merusak Fania. Jika bisa ditukar, Janny ingin menukar papa gulanya dengan papa gula milik Fania.


"Kamu kenapa, Jann? Ada yang lucu?" tanya Stefany dengan heran.


"Lumayan lucu sih kalau menurut aku."


"Apa itu? Apakah terlalu besar atau terlalu kecil? Fan, ayo dong cerita! Kamu buat aku penasaran aja!" tekan Stefany yang sudah tak sabar untuk menunggu cerita Fania setelah menghabiskan satu malam dengan Calvin.

__ADS_1


Mata Fania langsung menatap kearah Stefany dengan tajam. "Kamu jadi sahabat keterlaluan, Stef! Kamu ngomong apa sama om Bara sehingga Om Bara bisa ngomong sama Om Calvin Kalau aku ini gadis dari kampung yang sedang berjuang untuk mempertahankan hidup di kota metropolitan?" Fania langsung meminta penjelasan pada biang kerok, sehingga Fania dianggap sebagai gadis kampung.


"Sorry Fan, bukan maksud aku ingin merendahkanmu! Tidak mungkin juga aku katakan jika kamu adalah anak tunggal dari keluarga Atmaja yang sedang merasa kesepian, kan?" ujar Stefany dengan jujur.


Lily yang sejak tadi memilih diam, kini tiba-tiba tersedak dengan lidahnya sendiri sehingga membuat ketiga sahabatnya langsung menatapnya. "Kamu kenapa, Li?" tanya Janny yang merasakan jika hari ini ada sesuatu yang aneh pada Lily.


"Ah, gak papa. Aku hanya terkejut saat melihat berita salah satu produk skincare gulung tikar. Kalau udah gak produksi, aku pakai apa dong?" jawab Lily dengan gugup.


Melihat ekspresi Lily yang tidak meyakinkan hanya membuat Janny terdiam. Sudah tiga tahun persahabatan mereka dibentuk, dan Janny juga bisa memahami karakter dari ketiga sahabatnya. Tak heran jika rasa curiganya seringkali menjadi kenyataan, tetapi untuk menjaga keharmonisan persahabatan mereka, Janny hanya bisa memendam sendiri perasaannya.


"Oh, syukurlah," lirih Janny yang merasa tidak yakin.


"Eh, Fan! Ayo, dong cerita bagaimana malam pertamamu dengan om Calvin? Kalau dilihat dari postur tubuhnya, pasti senjata Om Calvin lebih besar dan lebih menggigit kan?" Stefany masih penasaran dengan cerita Fania yang sudah menghabiskan satu malamnya bersama dengan Calvin.


"Dasar otak messum! Sudahlah, aku malas untuk membahas pria sangat cuek itu! Mungkin saja om Calvin itu pria yang tidak normal. Masa dia sama sekali enggak tertarik dengan tubuhku. Apakah tubuhku kurang seksi? Perasaan dua semangka ini juga diatas rata-rata, lho! Tapi pria itu sama sekali enggak tertarik. Heran deh! Apa jangan-jangan yang dia suka itu terong?" gerutu Fania panjang lebar.


Mendengar penjelasan dari Fania, sahabat yang kurang beruntung dalam perasaan, Stefany hanya bisa mende.sah dengan berat. Ternyata menjadi sugar baby pun juga tidak mengubah warna dalam hidup Fania.


"Aku rasa kamu harus mandi kembang tujuh rupa dulu deh, Fan. Siapa tahu setelah itu kamu bisa mendapatkan warna yang indah dalam hidupmu. Nanti aku bantu untuk mencari bunga tujuh rupa itu," kata Stefany dengan antusias.

__ADS_1


__ADS_2