Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • SEBELAS


__ADS_3

"Fan!" sentak Calvin dengan mata yang masih memejam. Tujuannya utama mencari sugar baby bukan untuk memuaskan hasratnya, tetapi hanya untuk mengisi kekosongan hatinya agar tak terbayang-bayang pada wanita yang telah mencampakkan dirinya begitu saja. Semakin lama Calvin merenung seorang diri, makan bayangan Laura akan terus muncul didalam pikirannya.


"Kamu jangan macam-macam! Jangan agresif!" lanjut Calvin lagi.


Fania hanya menautkan kedua alisnya seraya mendengus dengan kasar. "Ya elah, Om. Galak amat sih!"


"Bukan masalah galak, Fan! Tapi tolong jaga sikap kamu!" sergah Calvin yang kini sudah memposisikan diri untuk duduk serta mengancingkan bajunya.


"Om Calvin aneh! Nyari sugar baby tapi cuma buat pajangan doang! Biar apa coba? Biar terlihat keren?" protes Fania.


Calvin mendengus dengan kasar. "Bukan gitu, Fan! Bukankah sejak kamu sudah tahu jika hubungan ini hanya untuk saling menguntungkan saja. Kamu butuh duit dan aku butuh pelayanan. Kata pelayanan bukan berarti kamu harus melayaniku di atas ranjang kan? Masih ada jenis melayani yang lainnya, seperti memijat kepalaku, menyiapkan makanan untukku, menemaniku menonton, dan masih banyak lagi jenis pelayanan lainnya yang pasti bukan pelayanan di atas tempat tidur. kamu paham kan, Fan. Bahkan sudah tertera dengan jelas dalam kontrak perjanjian kita bahwa di antara kita tidak boleh ada hubungan suami-istri. Masa kamu tahu apa maksudnya, sih!" Kini giliran Calvin yang memprotes Fania.


"Yah, itu sama aja Fania jadi asisten rumah tangga dong, Om."


"Sebenarnya memang seperti itu konsepnya. Kamu benar, kalau aku nyari assisten rumah tangga ada aturan yang gak bisa aku lakukan. Tapi kalau memiliki sugar baby, setidaknya aku bebas jika sewaktu-waktu aku membutuhkanmu," jelas Calvin dengan daftar.


"Sama aja, Om. Mending Om Calvin jadiin aku asisten rumah tangga aja, biar aku bisa nyari sugar daddy yang baru lagi."


Calvin langsung mendelik saat mendengar ucapan Fania. "Mana bisa seperti itu. Selama kamu menjadi sugar baby-ku, kamu gak boleh mencari sugar daddy lain. Apakah masih kurang uang yang aku berikan? Sebenarnya tidak, sih. Karena itu kartu tanpa batas yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Harusnya kamu bersyukur Fan, bisa mendapatkan kartu itu," ujar Calvin yang kini memilih bangkit dan menjauh dari Fania untuk menghilangkan sisa-sisa rangsangan yang diberikan oleh Fania.


Duh, Om Calvin! Andaikan kamu tahu jika aku juga punya kartu hitam seperti ini, pasti Om Calvin bakalan sangat terkejut. Aku tuh tidak butuh uang, Om. Tapi butuh perhatian dengan sedikit sentuhan! batin Fania.


"Dah ah, tambah pusing kepalaku! Mending aku tidur aja!" Tanpa rasa takut dan sungkan, Fania langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Calvin. Hari ini mood-nya sudah hancur tak beraturan. Ditambah lagi Calvin yang tidak bisa membuatnya merasa nyaman.


"Percuma saja Om Calvin ganteng tapi gak peka! Pantas aja ditinggalin pacarannya!" cibir Fania yang masih bisa terdengar oleh Calvin.


Saat itu juga kedua alis Calvin menaut. "Kamu ngomong apa, Fan! Aku masih bisa dengar, ya!"

__ADS_1


..


Seperti apa yang diucapkan oleh Calvin jika setelah makan siang dia akan melakukan rapat penting lagi. Namun, karena Fania sedang tidur, Calvin meletakkan sebuah surat berharap jika Fania bangun, gadis itu langsung membaca suratnya.


"Baru kali aku bertemu dengan bocah agresif seperti Fania. Bisa-bisanya bocah itu hampir merenggut perjakaku," batin Calvin sambil mengulum senyum di bibirnya.


Namun, lamunan Calvin tentang Fania harus pecah saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.


Tokk ... tokk ... tokk


"Tuan, Anda sudah ditunggu di ruang rapat," ujar Shela, sekretaris Calvin.


Tanpa sepatah kata, Calvin langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah untuk menuju ke ruang rapat. Sepanjang langkahnya bayangan Fania terus berputar di dalam kepalanya. Entah mengapa gadis itu terlihat sangat menggemaskan ketika sedang agresif.


Langkah tegap Calvin kini telah memasuki ruang rapat. Dilihatnya beberapa orang sudah menunggu kedatangannya. Namun, ternyata masih ada satu lagi yang ditunggu lagi selain dirinya.


"Sebentar lagi beliau datang, Tuan. Pihak Tuan Frans telah memberitahu jika mereka akan terlambat karena terjebak macet di jalan," terang Shela.


"Baiklah. Aku akan menunggu 10 menit. jika dalam waktu 10 menit Tuan Frans tidak juga sampai, maka dengan berat hati rapat hari ini dibubarkan," ucapkan Calvin dengan tegas.


Sebisa mungkin Shela langsung menghubungi pihak calon mitra bisnis mereka agar bisa sampai dalam waktu 10 menit ke depan. Jika tidak, maka Tuannya tidak mau bekerja sama dengan perasaan mereka.


Pucuk dicinta orang pun tiba. mungkin itulah kata pepatah yang tepat untuk menggambarkan kedatangan Frans dan Lucas, asisten pribadinya yang tiba sebelum waktu 10 menit.


"Maaf Tuan Calvin, Anda harus menunggu lama," ucap Frans sambil menyalami tangan Calvin.


"Tidak apa-apa. Silahkan duduk!"

__ADS_1


Calvin dan pihaknya mendengarkan dengan seksama persentase yang dilakukan oleh Lucas mengenai keunggulan properti dari perusahaan mereka. Sebenarnya bisa Calvin membahas masalah ini hanya berdua dengan Frans, tetapi karena kerjasama ini melibatkan beberapa investor yang menyumbang di perusahaannya, terpaksa Calvin harus melibatkan beberapa agar kerjasama terlihat transparan, tanpa ada yang tertutupi.


Hampir 15 menit Lucas menjelaskan fungsi atau keunggulan yang dimiliki oleh perusahaan dan menjelaskan beberapa keuntungan jika kerjasama mereka terjalin.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Lucas pada Calvin yang masih memainkan pena di tangannya.


"Tidak buruk juga. Bagaimana Tuan-Tuan sekalian?" Calvin pun bertanya pada beberapa orang yang hadir dalam rapat tersebut.


Terlihat beberapa orang sedang berdiskusi sebelum memberikan jawaban mereka. "Sepertinya begitu Tuan, Calvin. Ini tidak buruk asalkan semua berjalan dengan transparan. Tetapi apakah properti yang ditawarkan aman dan terjangkau. Karena sasaran kita adalah kalangan menengah ke bawah. Jadi jangan sampai kita salah langkah. Sekalipun ada harga ada kualitas, tetapi tidak ada salahnya jika murah tetapi bukan murahan atau hanya imitasi semata. kami hanya ingin kerja sama ini dilakukan secara transparan tanpa ada yang ditutupi!" tegas salah seorang yang menjadi juru bicara.


"Bagaimana Tuan Frans, apakah properti Anda bisa menjamin bahwa barang yang murah bukan berarti harus imitasi?" tekan Calvin.


Frans yang mendengar merasa sedikit geli, terlebih saat seseorang mengatakan jika yang murah bukan berarti murahan. Namun, Frans tidak mengambil hati, mungkin saja hanya sebuah kebetulan saja orang itu berkata demikian.


"Anda tenang saja Tuan Calvin. Saya bisa menjamin bahwa properti dari perusahaan kami benar-benar original. Kami bisa menjamin kualitas meskipun harganya murah," jelas Frans untuk memastikan Calvin.


Calvin hanya menautkan kedua alisnya seraya menatap ke arah para investor yang turut hadir dalam rapatnya.


"Baiklah, tidak ada masalah," ucap salah satu orang yang telah ditunjuk sebagai juru bicaranya tadi.


"Jika memang sudah tidak ada masalah, tidak ada salahnya jika kita menjalin sebuah kerjasama demi meningkatkan perusahaan kita masing-masing." Calvin pun akhirnya setuju untuk membubuhkan tanda tangan pada gambar yang telah tersedia.


"Semoga kerjasama ini saling menguntungkan," ucap Frans saat Calvin telah selesai mendatangani kontrak kerja mereka. Tak lupa keduanya pun juga bersalaman sebagai tanda sebuah kesepakatan kerjasama.


...🌸🌸...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


Cuma mau bilang makasih yang masih bertahan untuk membaca novel ini. Semoga rejeki kalian semua melimpah. Amin 🤲


__ADS_2