Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Dilema. Satu kata yang terus berputar di dalam pikiran Fania. Ternyata keputusan yang telah ia ambil bukanlah sebuah keputusan yang benar. Tanpa disadari dengan menjadi seorang simpanan ternyata dia sudah menghancurkan sebuah keluarga. Sakit yang begitu nyata ketika keluarga itu hancur, karena saat ini Fania berada dalam posisi tersebut. Keluarganya hancur karena ada pihak ketiga yang bisa berhasil membuat pasangan berpaling. Bahkan Fania tidak pernah mengetahui jika mamanya lah yang telah menyulutkan api terlebih dahulu, hingga pada akhirnya papanya juga ikut bermain api.


Dua perbedaan yang sudah tidak bisa disatukan, akhirnya pecah. Dan anaklah yang menjadi korban akan keegoisan orang tuanya. Lalu, salahkah jika Fania mengharapkan cinta dan kasih dari pria yang bisa memberikan dia kasih sayang?


Sebuah tangan menyentuh pundak Fania yang sedang terisak. Dengan cepat Fania mengusap jejak air matanya yang menetes.


"Fan, kamu gak papa kan?"


Fania langsung mendongak menatap wajah Calvin. Meskipun sudah tidak muda lagi, tetapi wajah Calvin masih terlihat menawan.


"Aku gak papa, Om."


Calvin pun langsung duduk disamping Fania. "Bagaimana keadaan mama kamu, Fan? Dia baik-baik saja kan? Kamu gak usah pikirkan masalah biaya rumah sakit karena aku akan membiayai pengobatan mamamu sampai sembuh," ucap Calvin.


Kening Fania langsung mengerut sambil menggeleng dengan pelan. "Mama hanya mengalami patah tulang kaki Om. Om Calvin gak usah repot-repot, aku bisa mengatasi di rumah sakit ini. Om, anda ingin yang aku bicarakan dengan Om Calvin, tetapi tidak di sini. Bisa kan?" tanya Fania dengan tegang.


"Tentu saja boleh. Bagaimana kalau di cafe depan?"

__ADS_1


Fania pun menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan Om. Mending di kantin aja. Takutnya nanti ada sesuatu dengan mama aku enggak tahu."


Tak ada pilihan lain, Calvin pun mengiyakan permintaan Fania. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh gadis agresifnya. Mungkin ada kaitannya dengan kondisi mamanya.


"Oke. Gak masalah. Ayo kita kesana. Tapi kamu cuci muka dulu sana biar terlihat fresh!" titah Calvin pada Fania yang terlihat sangat kusut.


Akhirnya Fania tersenyum tipis untuk menyadari penampilannya. "Baiklah, aku ke kamar mandi sebentar. Om Calvin tunggu jangan kemana-mana ya!"


Calvin hanya bisa mengangguk pelan sambil mengacungkan jempolnya. "Siap."


Setelah kepergian Fania ke kamar mandi, Calvin merasa penasaran bagaimana wajah mamanya Fania. Pasti jauh lebih cantik, karena Fania saja sangat cantik.


Calvin terus memperhatikan wajah pasien yang sedang berbaring di ranjangnya dengan seksama. Ia terus meneliti tanpa celah. Dalam diam Calvin seperti tidak asing dengan wanita yang sedang ada dihadapannya saat ini.


"Mungkin hanya mirip saja," batin Calvin yang masih menatap Mama Fania dengan seksama.


Tubuhnya masih terpaku ditempat hingga deheman seseorang dari belakang mengagetkan dirinya.

__ADS_1


"Heem ... Heem."


Sontak Calvin pun langsung menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya ketika Calvin melihat Frans yang telah berdeham.


"Ah, Tuan Frans. Anda mengagetkan saja," ujar Calvin yang memang terkejut.


Frans yang sengaja datang untuk melihat bagaimana kondisi Maria hanya tersenyum kecil saat melihat Calvin sedang berdiri di samping istrinya. Bahkan Frans langsung berpikir jika Calvin adalah pria yang menjadi simpanan istrinya.


"Ah, maaf jika kedatangan saya mengagetkan Anda. Tapi ngomong-ngomong mengapa Anda bisa berada disini?"


"Ah, itu ... saya sedang menunggu kekasih saya, Tuan. Anda sendiri ada urusan apa datang kesini?"


Rahang Frans mulai mengeras. Bahkan tangannya sudah mengepal dengan keras. Akhirnya tanpa disadari dia bisa bertemu langsung dengan pria yang menjadi perusak rumah tangganya. Tanpa berpikir panjang lagi Frans langsung melayangkan tinjuannya pada Calvin yang tidak tau apa.


BUGH ...


Satu pukulan keras mendarat di pipi Calvin hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Akhirnya aku menemukan pria yang menjadi biang kerok dalam rumah tangga kami," ujar Frans dengan mata yang menyala. Saat ingin melayangkan bogemannya lagi, terdengar suara Fania dari belakang.


"Papa ... jangan!" teriaknya.


__ADS_2