
Sesampainya didalam mobil keduanya hanya terdiam. Tak ada satu kata yang terucap dari bibir keduanya. Mata Calvin lurus ke depan sementara Fania hanya tertunduk lesu. Cukup lama keadaan seperti itu hingga Calvin merasa bosan.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Calvin. "Kenapa kamu bisa keluyuran ke tempat ini?" tanyanya.
"Bukan urusan Om Calvin," jawab Fania cepat.
Calvin langsung mengangkat kedua alisnya. "Memang benar bukan urusanku. Tapi aku gak rela kamu dimiliki orang lain, Fan!"
Fania berusaha memaksakan senyum di bibirnya. "Kenapa harus tidak rela. Om Calvin bukan siapa-siapaku."
Mata Calvin kini menatap kearah Fania yang masih menunduk. Dadanya bergerumuh saat melihat tubuh Fania yang terlihat semakin kurus. Bukan tidak tahu apa yang sedang dialami oleh Fania, tetapi Calvin terlalu malu untuk bertemu dengan Fania.
"Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Tetapi salah jika kamu ingin mencari ketenangan di tempat ini, Fan. Disini sarangnya buaya."
"Aku tidak peduli, Om!"
"Tapi aku peduli, Fan! Aku gak mau kamu rusak!" Calvin sedikit meninggikan intonasinya. Menyadari jika suaranya terlalu tinggi, Calvin lantas meminta maaf kepada Fania.
"Maaf Fan," ucapnya dengan nafas panjang.
Suasana hening tercipta kembali saat Calvin telah mengemudikan mobilnya untuk menuju apartemennya. Mungkin dengan membawa Fania pulang ke tempatnya, perempuan itu tidak akan merasakan kesepian lagi.
Melihat mobil tidak menuju jalan pulang ke rumahnya, Fania mendongak. "Om Calvin kita mau kemana?"
"Pulang."
"Tapi ini bukan jalan pulang ke rumahku."
"Siapa yang bilang mau pulang ke rumahmu. Kita akan pulang ke apartemen."
Jantung Fania berdetak dengan kuat saat Calvin akan membawanya pulang ke apartemen miliknya. "Tapi Om—"
"Sudah diam saja!"
__ADS_1
Fania pun langsung menutup rapat bibirnya. Kali ini dia berani untuk menatap kearah Calvin yang sedang menyetir. Wajah yang selama dua pekan dirindukan akhirnya bisa dilihatnya kembali.
Tuhan, jika seperti ini bagaimana aku bisa melupakan Om Calvin? Kenapa aku harus jatuh cinta padanya? Sementara dia sama sekali tidak mencintaiku. batin Fania.
Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Keheningan pun menyelimuti perjalanan mereka hingga sampai ditempat tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya, Calvin langsung bergegas turun untuk membuka pintu mobil Fania. Mendapatkan perlakuan manis semakin membuat jantung Fania tidak bisa diatur lagi. Bahkan Fania hanya pasrah saat Calvin menuntun tangannya untuk menuju ke kamar apartemen.
"Fan, berjanjilah untuk tidak mendatangi tempat hiburan malam lagi!" ujar Calvin setelah masuk kedalam kamar apartemennya. "Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Bukankah kita adalah partner? Dimana saling membutuhkan?"
Fania mendongak. "Bahkan hubungan kita telah berakhir?"
"Siapa yang bilang? Aku tidak merasa jika hubungan kita berakhir."
"Jadi Om Calvin tidak memutuskan status kontrak kita meskipun aku telah membohongi om Calvin?" tanya Fania dengan alis yang menaut.
Terselip rasa bersyukur saat Calvin tidak peduli dengan siapa Fania yang sebenarnya. Yang Calvin tahu Fania adalah partnernya selama 6 bulan ke depan.
"Om, sekali lagi aku minta maaf karena telah membohongi Om Calvin," ucap Fania dengan rasa bersalah.
Fania semakin mendelik saat mendengar ucapan Calvin. "Kok gitu, sih?"
"Karena aku telah memaafkan saat kamu pertama kali meminta maaf. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi masalah itu karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan malam ini," ujar Calvin.
"Tentang apa?"
"Tentang hubungan kita."
Dada Fania tak hentinya bergerumuh saat mata Calvin terus menatapnya dengan lekat. Ada rasa takut untuk menatap, tetapi Fania berusaha untuk tetap tenang.
"Fan, kita sudahi saja hubungan partner kita."
Tubuh Fania seketika membeku. Perasaan yang sempat berbunga kini langsung mati saat mendengar Calvin mengatakan ingin memutuskan hubungan mereka. Jika tujuan Calvin hanya untuk memutuskan hubungan mengapa harus menyanjung dirinya lebih awal.
"Kamu tidak memprotes?" tanya Calvin heran saat Fania terdiam.
__ADS_1
"Untuk apa? Apakah aku harus menangis dan memohon agar Om Calvin tidak memutuskan hubungan kita. Toh aku juga sudah pasrah saat itu. Jadi untuk apa aku memprotesnya."
"Kamu tidak bertanya apa alasanku?"
Kepala Fania menggeleng dengan pelan. "Tidak."
Helaan napas panjang terdengar begitu berat. "Mungkin aku salah menilai perasaanku padamu. Bahkan aku berharap jika kamu bisa membalas perasaanku. Tapi sudahlah, lupakan saja."
"Maksud Om Calvin apa, sih? Ngomong to the poin aja, gak usah berbelit-belit. Otakku gak sanggup untuk berpikir lagi," ujar Fania yang merasa penasaran.
Tangan Calvin kini menggenggam tangan Fania. Matanya pun menatap Fania dengan lekat. "Fan aku ingin mengakhiri hubungan partner kita karena aku ingin memulai hubungan yang baru denganmu. Jika aku katakan aku cinta kamu, apakah kamu akan menerimanya?"
Kini seolah Calvin termakan akan peraturan yang pernah dibuatnya sendiri. "Fan, berikan aku jawaban. Aku tidak apa-apa jika kamu menolak cintaku. Aku juga sadar jika aku terlalu tua untukmu, tapi setidaknya aku bisa lega jika kamu telah memberikan sebuah jawaban."
"Om Calvin nembak aku? Astaga, ini mimpi bukan sih?" Fania masih tidak percaya dengan ungkapan Calvin.
"Kamu tidak sedang mimpi, Fan. Aku serius. Bahkan aku telah berjanji pada diriku sendiri, jika kamu menerimaku, aku akan menjagamu seumur hidupku dan tidak akan sekalipun menyakitimu."
"Jika itu kemauan Om Calvin, mengapa aku harus menolaknya?"
Calvin langsung menautkan kedua alisnya. "Jadi kamu—"
"Iya. Aku bersedia. Bahkan jika detik ini juga Om Calvin nikahin aku, dengan senang hati aku akan menyerahkan seluruh tubuhku untuk Om Calvin."
Senyum indah terukir di bibir dua insan yang kini sudah saling mengakui perasaan. Cinta yang dimiliki oleh Fania akhirnya terbayar dengan pengakuan Calvin yang ternyata juga mencintai dirinya.
Luka di hati, kini terbalut dengan cinta yang diberikan Calvin untuk Fania. Bahkan Calvin berharap jika luka yang pernah dirasakan oleh Fania tidak akan terungit karena sudah terbalut dengan cintanya.
...Terima Kasih...
...SEKIAN ...
...❤️❤️❤️...
__ADS_1