
Fania berusaha menelepon Calvin untuk beratnya saat ini berada disebelah mana, karena Fania tidak ingin keberadaan dirinya diketahui oleh papanya.
"Halo! Om Calvin dimana?" tanya Fania yang sedang menelepon Calvin.
"Aku ada meja tengah. Lihatlah ke depan, aku akan melambaikan tanganku."
"Duh, Om. Bukan aku nggak mau ke sana, tapi tiba-tiba perutku sakit. Kayaknya aku gak bisa nemenin Om Calvin, deh," kilah Fania, berharap Calvin percaya padanya.
"Kamu sakit??"
"Aku gak saki, Om. Mungkin ini hanya efek tamu bulanan aja. Aku pulang ya!"
"Tunggu! Kamu tunggu disitu, aku akan kesana!"
Panggilan telepon pun terputus. Dengan cepat Calvin langsung berjalan untuk menghampiri dimana Fania berada. Jika Fania sedang sakit perut, itu artinya Fania tidak bisa menemaninya dalam acara dinner malam ini. Padahal dirinya sudah antusias untuk memperkenalkan Fania pada rekan bisnisnya, termasuk seseorang yang telah mencampakkan dirinya.
"Fan, kamu gak papa?" tanya Calvin setelah sampai di tempat Fania berdiri.
"Perut aku tiba-tiba kayak dililit gitu, Om. Aduh ..." Fania meringis seolah sedang merasakan sakit yang sesungguhnya.
"Ya udah gak papa. Aku antar kamu ke kamar aja. Ayo!" Dengan cekatan Calvin menggandeng tangan Fania untuk keluar dari restoran tersebut dan menuju ke sebuah hotel yang berada di samping restoran.
"Kamu masih bisa kan untuk jalan sendiri?" tanya Calvin lihat mengkhawatirkan keadaan Fania.
"Iya. Masih bisa kok, Om. Maaf ya , Om. Gara-gara aku, Om Calvin harus meninggalkan acara dinner malam ini."
"Udah, gak usah dipikirkan! Bukankah kesehatan itu lebih utama?"
Fania mengangguk dengan pelan. Dalam hati ia tertawa dengan puas karena telah berhasil mengelabui Calvin. Namun, satu sisi lain dia merasa kasihan karena Calvin harus absen dari acara tersebut. Apakah keputusan yang diambil oleh Fania terlalu berlebihan? Semoga saja tidak!
Setelah mendapatkan sebuah kamar di hotel tersebut, Calvin segera membantu Fania untuk naik keatas tempat tidur. Karena sejak tadi Calvin terus merasa khawatir, dirinya sampai tak sempat untuk memperhatikan penampilan Fania yang malam ini yang terlihat sangat cantik. Polesan bedak tipis serta bibir yang sedikit mengkilat, membaut Fania terlihat seperti wanita dewasa. Bahkan gaun yang telah ia sediakan juga sangat cocok di pakai oleh Fania.
"Astaga ... apa yang kamu pikirkan, Calvin!" rutuk Calvin dalam hati saat menyadari jika Fania terlihat sangat cantik dan menawan malam ini. Namun, sayangnya Calvin tak bisa memperkenalkan banyak kepada rekan kerjanya.
"Om!" Fania menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Calvin. "Malah bengong! Apakah Om Calvin sedang mengagumi kecantikanku?"
__ADS_1
Saat itu juga Fania langsung tersadar dari lamunan dan khayalannya. "Ah, iya Fan. Ada apa?"
"Tuh kan ...! Aku udah yakin kalau Om Calvin sedang mengagumi kecantikanku," lanjut Fania lagi.
Terdengar Calvin mendessah kasar saat mendengarkan penuturan Fania yang sangat terlalu pede, meksipun emang seperti kenyataannya. Jika ada yang mengatakan Fania itu tidak cantik, mungkin orang itu sudah rabun jauh sehingga tidak bisa melihat bidadari secantik Fania.
"Kamu nggak usah kegeeran! Lagian siapa yang sedang mengagumi kecantikanmu? Pede sekali kamu, Fan! padahal aku sedang memikirkan acara dini hari ini yang dihadiri oleh seorang pengusaha terkenal. Bahkan kami yang baru saja melakukan sebuah kerjasama. Tapi sudahlah yang penting saat ini adalah kesehatanmu. Aku tidak ingin gara-gara memaksakan diri untuk dinner, kamu jatuh sakit beneran. Kalau sudah sakit siapa yang akan repot? Pasti ujung-ujungnya aku yang repot, karena kamu di sini tidak punya siapa-siapa," ucap Calvin panjang lebar.
"Ih, Om Calvin masih sempat-sempatnya galak. Perut aku tuh sakit, Om!" Fania mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah, aku telepon Redana untuk mencarikan peredaran datang bulan," kata Calvin yang telah mengendorkan dasinya.
Dalam relung hati, Fania merasa sangat bersalah. Hanya demi menghindari papanya, dia harus membuat Calvin meninggalkan acara tersebut.
"Om, mending Om Calvin kembali lagi aja ke restoran itu. Aku gak papa di sini sendiri. Lagian ini udah hal biasa yang aku alami kok. Dibawa tidur nanti juga sembuh," ujar Fania dengan rasa bersalahnya.
Dua pilihan yang berat. Antara ingin tetap mengikuti acara dinner dan antara tidak tega untuk membiarkan Fania seorang diri menahan rasa sakitnya.
"Om Calvin gak usah pikiran aku. Aku tahu acara dinner malam ini adalah acara yang sangat penting untuk Om Calvin. Pergilah, aku enggak apa-apa." Fania berusaha untuk meyakinkan Calvin.
Fania mengangguk dengan pelan. "Iya. Aku enggak apa-apa. Percayalah! Aku sudah biasa seperti ini kok, Om."
Sambil membuang napas beratnya, Calvin pun mengambil keputusan untuk melanjutkan jamuan makan malam dengan partner barunya sekaligus peresmian kerjasama di antara keduanya.
"Baiklah, aku tinggal ya. Jika pada sesuatu segera hubungi aku!"
Lagi-lagi Fania hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Aman itu!"
🌸🌸
Acara dinner sudah dimulai meskipun tanpa kehadiran Calvin. Sebagian rekan kerja merasa kecewa karena Calvin tak ikut serta dalam acara dinner malam ini. Namun, mereka tetap menghargai keputusan Calvin yang secara mendadak harus pulang karena kekasihnya sedang sakit. Begitulah alasan yang diberikan oleh Emraan, asisten pribadi Calvin.
Acara yang begitu meriah sayang untuk dilewatkan, terlebih selain bisa menyantap hidangan gratis sepuasnya, karyawan cantik dari perusahaan Calvin pun menunjukkan pesona mereka dalam acara tersebut. Tak terkecuali dengan Yudha, keponakan Calvin yang baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri dan saat ini juga menjadi salah satu karyawan di perusahaan Omnya. Tentu saja dia tidak akan membuang kesempatan untuk bisa makan gratis sepuasnya.
"Kemana perginya perjaka tua itu, ya? Masa acara penting seperti ini dia tidak datang?" gumam Yudha yang baru saja mendengar penjelasan dari Emraan. "Ah, sudahlah! Yang penting aku bisa makan gratis! Jika bukan karena pengaduan perjaka tua itu aku tidak mungkin menjadi seorang karyawan dan semua fasilitasku dicabut oleh papa. Dasar perjaka tua, aku sumpahin gak laku selamanya!"
__ADS_1
"Siapa yang sedang kamu sumpahi?" Tiba-tiba suara dari belakang membuat Yudha melebarkan bola matanya sambil menelan kasar salivanya. Dia tahu siapa pemilik suara itu.
"Om Calvin," lirih Yudha saat sosok Calvin berjalan ke depannya.
"Apakah kamu sedang menyumpahiku? Jika kamu tidak suka dengan acara malam, silakan kamu tinggalkan tempat ini. Aku tidak merasa rugi tanpa kehadiranmu!" ucap Calvin dengan sinis.
"Mana bisa seperti itu, Om! Selain masih memiliki darah Mahera, aku juga karyawan dari perusahaan. Jadi aku berhak untuk ikut dalam dinner malam ini. Sudahlah, aku tidak mau berlama-lama menatap wajah Om Calvin karena hanya akan membuatku muak!" Yudha pun kemudian berlalu meninggalkan Calvin yang baru saja bergabung kembali dalam acaranya.
Baru saja ingin melangkah, seseorang menghentikan langkahnya. "Tuan Calvin, Anda kembali lagi? Tadi asisten Anda mengatakan kekasih Anda sakit. Apakah sekarang sudah baik-baik saja?"
Calvin tersenyum kepada lawan bicaranya. "Dia tidak apa-apa. Biasalah masalah wanita, yang datang setiap bulannya," ujar Calvin tanpa ingin menutupi apa yang sudah terjadi.
Frans tertawa pelan. "Anda luar biasa Tuan Calvin. Hanya masalah seperti itu, Anda rela meninggalkan sebuah acara penting. Saya salut dengan Anda. Pasti anda sangat mencintai kekasih Anda. Beruntung sekali wanita yang bisa memiliki Anda."
Calvin hanya tersenyum kecut. "Ya, begitulah Tuan Frans, meskipun terlihat sangat manja, tetapi sangat menggemaskan."
"Ah, sudahlah jangan dibahas lagi. Anda hanya membuatku iri aja. Mari kita masuk! Karena setelah makan malam selesai acara utama akan segera dimulai," ujar Frans dengan mengajak Calvin untuk masuk kedalam.
..
Acara peresmian kerjasama antara Calvin dan Frans berjalan dengan lancar meskipun sempat mengalami sedikit kendala, karena Calvin sempat meninggalkan acara makan malam sebelum dimulai. Namun, pada akhirnya Calvin kembali lagi untuk menyelesaikan acara yang sedang berlangsung.
Karena acara telah usai, Calvin pun langsung meninggalkan restoran karena kepalanya penuh dengan bayangan Fania yang sedang sakit perut. Meskipun Calvin tidak bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang sedang dialami oleh Fania, tetapi pria itu yakin jika sakit saat datang bulan itu melebihi rasa sakit saat melahirkan. Itu yang dia tahu dari Laura—mantan kekasihnya.
Saat baru saja masuk kedalam lift, Calvin merasa terkejut dengan sosok yang sudah berada di dalam lift. Dia tak lain adalah Frans, partner baru yang baru saja meresmikan kerja sama mereka.
"Lho, Tuan Frans. Anda menginap di hotel ini juga?" tanya Calvin terkejut.
Begitu juga dengan Frans yang tak kalah terkejut. Bahkan dengan sekejap tubuhnya merasa menegang.
"Oh, iya. Kebetulan malas untuk pulang ke rumah karena anak dan istri saya sedang menginap di rumah orang tuanya," kilah Frans.
Calvin hanya menarik tipis kedua garis sudut bibirnya. Namun, saat pintu lift hendak menutup tiba-tiba datang seorang perempuan yang menyerobot untuk masuk ke dalam. Dengan napas tersenggal perempuan itu hanya mengucap kata syukur.
...🌸🌸...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...