Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Bukan penyesalan jika tidak datangnya dibelakang. Namun, apapun yang terjadi terlambat untuk disesali. Bagaikan kaca yang sudah menjadi serpihan, tak akan mampu untuk dikembalikan seperti semula. Hati yang telah menutup pun terasa sulit untuk di buka.


Sebuah pengkhianat telah menghancurkan sebuah keluarga. Bukan pasangan saja yang terluka, tetapi ada anak yang menjadi korban dalam keegoisan mereka.


Setelah Maria sadar, dia tidak hanya meminta maaf kepada Fania saja melainkan kepada suaminya juga. Dengan penuh rasa bersalah Maria meminta maaf kepada suaminya karena telah bermain api di belakangnya, hingga api itu menjalar nggak menghanguskan penghuninya. Namun, terlambat! Meskipun Frans sudah memaafkan kekhilafan sang istri lantas tak membuatnya ingin mendadani serpihan kaca yang sudah hancur, karena saat ini Frans telah menemukan kepuasannya sendiri. Perceraian akan tetap berjalan, meskipun Maria telah meminta maaf seribu kali.


"Sejak kapan kamu menjadi simpanan pria ini?" tanya Frans datar.


"Untuk apa papa bertanya tentang hubunganku dengan Om Calvin? Aku masih single dan begitu juga dengan om Calvin. Jadi tolong jaga ucapan papa karena disini tidak ada yang disimpan maupun menyimpan," ujar Fania yang masih marasa kecewa dengan papanya.


"Sebelum saya minta maaf Tuan Frans karena tidak bisa mengenali jika Fania adalah putri Anda. Tapi percayalah, saya tidak pernah menyentuhnya berlebihan. Bisa dikatakan jika putri Anda belum ternoda," jelas Calvin.


Mata Frans masih memancarkan aura kekecewaan terhadap sang Putri yang telah menjual diri pada pria dewasa. Namun, tak perlu disalahkan karena semua terjadi karena ada sebabnya.


"Aku tidak peduli Fania sudah tersentuh atau belum. Jadi aku hanya ingin Anda menikahinya saja. Mungkin dengan begitu Fania bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang diinginkannya," ujar Frans.

__ADS_1


Fania yang mendengar ucapan papanya langsung mendelik dengan lebar. Bahkan dada Fania terus bergerumuh karena permintaan papanya. Begitu juga dengan Calvin yang terbelalak dengan lebar.


"Tidak! Anda jangan bercanda Tuan Frans! Saya tidak mungkin menikah dengan Fania. Lihatlah, perbedaan usia kami," tolak Calvin.


Mendadak dada Fania terasa sesak dengan jawaban Calvin yang tidak mau menikahi dirinya.


"Baiklah, jika tidak mau menikahi anakku, bersiap-siap saja jika akan muncul berita tentang skandal Anda!" ancam Frans.


Tentu saja Calvin merasa tidak terima dengan ancaman yang diberikan oleh Frans. Dengan senyum sinis Calvin berkata, "Scandal apa maksud Anda, Tuan Frnas? Saya dan juga Fania sama-sama singgel. Jadi itu bukan scandal. Kecuali jika saya telah memiliki pasangan dan saya menjalin hubungan dengan Fania, itu baru bisa dikatakan skandal. Anda tidak bisa membedakannya? saya harus memberi contoh skandalnya sesungguhnya kepada Anda?"


"Fan, ikut aku keluar!" Kini Calvin menatap ke arah Fania.


Dengan langkah pelan Fania mengikuti Calvin meninggalkan ruang rawat mamanya Fania. Dadanya sudah berkerumu dengan kuat. memang cepat atau lambat kebohongan akan terungkap, tetapi Fania tidak pernah menyangka jika kebohongannya akan terbongkar secepat ini.


'Mengapa takdir begitu jahat kepadaku sehingga tak pernah bisa mengizinkan aku untuk bahagia. Tuhan ... rencana apa yang sedang Engkau persiapan untukku. Aku sudah lelah untuk bertahan dan berpura-pura untuk tetap baik-baik saja.'

__ADS_1


Sesampainya di luar ruangan, Calvin langsung menyandarkan tubuhnya di dinding sambil kedua tangannya yang di depan dada. Dia menunggu langkah Fania untuk mendekat.


Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Calvin saat ini. Tentu saja sangat kecewa karena Fania telah berhasil membohongi dirinya.


"Om, sekali lagi maafkan Fania yang sudah membohongi Om Calvin," sesal Fania dengan wajah memelas.


Calvin hanya tersenyum tipis kearah Fania yang menundukkan kepalanya. "Selamat, kamu sudah berhasil membohongiku. Karena aku tidak menyukai kebohongan, maka mulai detik ini kontrak yang telah kita sepakati berakhir. Aku tidak mau menjalin hubungan dengan seorang pembohong!" tegas Calvin dengan rasa kecewanya.


"Karena Om Calvin yang berkuasa akan kontrak itu, aku tidak akan menuntut. Semoga Om Calvin bisa menemukan penggantiku. Sekali lagi aku minta maaf. Satu lagi ... kartu black card yang Om Calvin berikan ada di laci dapur. Sedikitpun aku tidak menggunakannya. Terima kasih karena Om Calvin telah memberikan perhatian untukku. Maaf jika aku sudah mengecewakan Om Calvin."


Karena merasa sudah tidak diharapkan lagi, Fania pun memilih untuk meninggalkan Calvin yang masih membisu. Saat ini tujaan Fania adalah mencari tempat yang nyaman, tetapi tidak ke tempat sahabatnya berada.


"Fania, kamu pasti kuat," hibur Fania seorang diri.


Namun, sepeninggal Fania, mendadak perasaan Calvin tidak enak. Bahkan dadanya begitu kuat saat berdetak. Rasa kecewa yang dimilikinya mendadak pudar menjadi rasa bersalah karena tidak bisa mendukung Fania dalam keadaannya saat ini.

__ADS_1


"Fania, maafkan aku!"


__ADS_2