Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • DUA PULUH ENAM


__ADS_3

Dua Minggu kini telah berlalu. Kini Fania semakin terpuruk karena kedua orang tuanya benar-benar memilih perpisahan daripada memperbaiki kesalahan mereka. Keluarga yang harmonis kini hanya tinggal kenangan saja. Bukan hanya sampai disitu saja, ternyata Maria, mamanya Fania memilih untuk kembali ke kota asalnya. Kini rumah yang besar terasa hambar tanpa adanya penghuni rumah, terlebih papanya sudah jarang untuk pulang.


"Fania, buka pintunya!" Suara yang begitu familiar menyentuh genderang telinga Fania yang mengurung diri di dalam kamar.


"Fan, buka!" ulangnya lagi.


"Kalian ngapain kesini? Pulanglah, aku tidak ingin bertemu dengan kalian!"


"Fan, kamu harus buka pintunya karena kami punya kabar untukmu dan ini penting," kata Jannya yang mencoba meyakinkan Fania untuk membukakan pintunya.


"Fan, ini tentang hubungan papamu dengan selingkuhannya," timpal Stefany.


Mendengar ada hubungan dengan papanya, Fania segera membukakan pintu untuk kedua sahabatnya.


Baru saja pintu dibuka kedua sahabatnya melotot akan penampilan Fania yang tidak karuan. Rambut yang acak-acakan serta wajah yang terlihat kucel.


"Astaga Fania ...." ucap Janny terkejut. "Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?"


"Jika kalian hanya ingin menertawakan hidupku mending kalian pulang saja!" Fania berusaha untuk menutup pintunya kembali. Namun, dengan cepat Stefany menahan dan menyerobot untuk masuk ke dalam.


"Aku tidak tahu sejak kapan seorang Fania menjadi manusia yang lemah dan bodoh. Menyesali sesuatu terlarut larut tanpa ingin berusaha untuk bangkit. Pantas saja seorang selingkuh serasa menjadi seseorang nyonya!"

__ADS_1


Fania langsung mendelik ke arah Stefany. "Maksud kamu apa, Stef?"


"Makanya jangan hanya menuruti ego sendiri! seharusnya kamu itu mencari tahu siapa selingkuhan papa kamu, bukan malah mengurung diri di kamar dan kayak orang gila seperti ini."


Fania tertunduk lemas saat mendapatkan ocehan dari kedua sahabatnya yang setiap hari menggedor pintu kamarnya, tetapi Fania sama sekali enggan untuk membukanya.


"Jika kalian hanya ingin menceramahiku, mending kalian pulang saja."


"Fania! Kamu beneran gak mau dengar siapa selingkuhan papamu?" Kini Janny bersuara.


"Katakan aja dengan cepat tanpa ceramah panjang lebar!" sahut Fania.


"Oke, aku kasih tahu sekarang juga. Tapi kamu jangan terkejut setelah tahu siapa selingkuhan papa kamu."


Janny dan Stefany hanya menggeleng dengan pelan. "Lily," ucap Stefany.


"Kenapa dengan Lily?" tanya Fania dengan malas.


"Astaga Fania ... " geram Stefany. "Lily adalah selingkuh papa kamu dan saat ini dia lagi bunting!"


Mendengar ucapan Stefany, Fania langsung terlonjak. Sungguh bagaikan disambar petir disiang hari. Bahkan tubuh Fania terasa kaku untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Ti—tidak mungkin."


"Fan, kamu yang sabar ya." Kini kedua sahabatnya langsung memeluk tubuh Fania, berharap bisa menguatkan hati Fania saat ini.


Memang kenyataannya yang sangat pahit adalah sebuah pengkhianatan dari orang terdekat. Orang yang sudah dianggap sebagai keluarga mampu untuk menusuknya dari belakang.


Air mata Fania menetes begitu saja. Lily yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri mampu menusuk hatinya. "Kenapa harus dia?" isaknya dalam dekapan Janny dan Stefany.


...


Sebuah kepercayaan seketika hilang tak berjejak dan hanya menyisahkan luka di hati. Fania yang sudah mengetahui tentang wanita yang mampu membuat Papanya berubah langsung mendatangi kontrakan milik Lily. Namun, sayangnya Lily sudah tidak tinggal di kontrakannya lagi.


"Sial! Pasti wanita pengkhianat itu telah berhasil merayu papa," ujar Fania dengan geram. "Pak jalan!"


Pak Ujang pun patuh dan menjalankan mobilnya kembali. Namun, karena tidak tahu akan pergi kemana lagi, akhirnya pak Ujang pun memilih jalan untuk pulang. Sadar akan jalan yang sedang dituju oleh pak Ujang, Fania pun langsung memprotesnya.


"Pak, kok jalan pulang, sih? Aku enggak mau pulang!"


"Jadi mau kemana, Non?"


Seketika Fania terdiam untuk sesaat karena tidak tahu ingin kemana, tetapi yang jelas tidak pulang ke rumah.

__ADS_1


"Antarkan aku ke rumah Janny!"


"Siap, Non." Pak Ujang pun putar arah untuk ke rumah salah satu sahabat anak majikannya. Sebenarnya Pak Ujang turut prihatin atas apa sedang menimpa keluarga majikannya. Sungguh tidak pernah dibayangkan jika keluarga yang dulunya adalah keluarga harmonis, kini pecah hingga menancapkan luka di hati anaknya. Luka yang tidak berdarah, tetapi sakitnya laur biasa.


__ADS_2