Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB β€’ DELAPAN BELAS


__ADS_3

Hampir satu harian Calvin merasakan ada yang kurang dalam harinya. Setelah ditinggal Fania begitu saja, kini bocah itu tak ada kabarnya. Padahal biasanya Fania akan mengirimkan pesan rayuan padanya. Namun, hari ini ponselnya sunyi tak ada notifikasi pesan dari Fania.


"Apakah Anda sakit, Tuan?" tanya Shela saat melihat Calvin termenung di ruang rapat.


"Sepertinya begitu, Shel. Dimana Redana?" tanya Calvin saat tak melihat asisten pribadinya berada di ruang rapat.


"Bukankah Anda mengutus Bang Re untuk ke kantor Tuan Frans?" Shela mengingatkan Calvin.


Saat itu juga Calvin baru menyadari jika dia baru saja menyuruh Redana ke kantor Frans untuk meninjau hari pertama kerjasama mereka beroperasi.


"Ah, iya aku lupa. Sudahlah lupakan saja. Karena Redana tidak ada, berarti tugas dia aku serahkan padamu," ucap Calvin.


Shela mengernyit. Ingin rasanya membantah, tetapi Shela tak berani. Dengan terpaksa Shela pun menerima amanat bosnya untuk menghandle pekerjaan Redana.


Beruntung saja gajinya besar, jika hanya pas-pasan mungkin aku sudah meminta bonus tambahan. Menghandle pekerjaan Bang Re itu berat. Salah sedikit saja biasa menghancurkan perusahaan. Semoga hari ini pekerjaan Bang Re enggak banyak, batin Shela yang kini sudah berada di meja Redana.


Jika Shela harus dipusingkan dengan pekerjaan Redana, berbeda dengan Calvin yang dipusingkan dengan Fania, gadis yang hampir membuat gila hari ini.


"Tuh anak kemana ya? Apa jangan-jangan dia beneran nyari sugar daddy baru? Tapi kan aku udah setuju kalau malam ini tuh anak tidur di apartemen. Apa jangan-jangan tuh anak sekarang udah ada di apartemen dan sengaja gak kasih kabar karena mau bikin kejutan?" Calvin berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Karena tidak Ingin berpikir berlebihan, Calvin memutuskan untuk melanjutkan lagi pekerjaannya agar bisa segera pulang untuk bertemu dengan Fania. Ternyata saat ini diam-diam Calvin sudah merasa candu dengan godaan dan rayuan Fania. Terbukti, tak ada kabar satu hari saja membuat Calvin merasa kelabakan.


🌸🌸


Setelah hampir satu hari berkutat di depan layar laptopnya, akhirnya Calvin bisa bernafas dengan legal ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Meskipun dirinya adalah pemilik dari perusahaan, tetapi tak membuat dirinya bekerja semaunya. Calvin tetap taat pada aturan yang berlaku di perusahaan untuk memberikan contoh pada semua karyawan.


Karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Fania, Calvin bergegas untuk segera pulang, karena dia yakin jika saat ini kami yang sudah menunggu dirinya di apartemen. Entah mengapa perasaan Calvin sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis agresif yang hampir membuatnya kehilangan perkajanya. Beruntung saja Calvin masih waras, tetapi dia tidak bisa menjamin kedepannya. Jika Fania terus-menerus mencoba untuk meruntuhkan benteng pertahanan, Calvin tidak bisa memastikan apakah dia akan khilaf atau tidak.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Calvin malah mengernyit saat tak mendapati keberadaan sugar babynya. Matanya telah menyapu keseluruhan, tetapi tak ada sosok apanya yang tertangkap matanya.


"Apakah di kamar?" tanya Calvin pada dirinya sendiri.


"Fan! Fania!" panggil Calvin sambil membuka pintu kamar. Namun, netranya tak menemukan keberadaan Fania di dalam kamar. Untuk memastikan lagi, Calvin mengecek kamar mandi. Mungkin saja sugar baby-nya sedang berada di kamar mandi. Namun, nyatanya Calvinharus menelan rasa kecewanya karena tak mendapati keberadaan Fania di dalamnya.


Dengan kening yang mengerut, Calvin memikirkan kemana perginya Fania satu hari ini yang tanpa sedikitpun kabar.


"Kemana Fania, ya?" batin Calvin yang kini sudah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Fania.


Lagi-lagi Calvin harus mende.sah kasar karena nomer Fania tak bisa dihubungi.


"Fan, kamu dimana?"


Bukan hanya Calvin saja yang merasa sangat kehilangan tanpa kehadiran Fania dalam satu hari ini. Kedua sahabatnya pun merasa jika Fania sedang tidak baik-baik saja, karena menghilang tanpa kabar.


"Kayak ada sesuatu yang sudah terjadi dengan Fania. Kita harus segera memecahkan, Stef!" ujar Janny yang masih merasa berat untuk meninggalkan halaman rumah Fania.


"Aku juga mikirnya gitu, Jann! Gak seperti biasanya tuh anak ngilang tanpa kabar kayak gini. Mungkin gak sih kalau Fania sedang menghabiskan waktu bersama dengan Om Calvin?"


"Sekalipun Fania sedang menghabiskan waktu bersama dengan om Calvin, dia pasti akan tetap memberikan kabar, apalagi jika tuh anak benar-benar udah pecah. Gak kebayang kan gimana hebohnya?" Janny menimpali.


"Benar juga sih. Eh, aku tanya Om Bara dulu," kata Stefany yang langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi papa gulanya


"Untuk apa?" tanya Janny dengan mengernyit.

__ADS_1


"Mau minta nomor Om Calvin. Aku gak tenang kalau belum mendengar kabar Fania. Aku akan merasa sangat bersalah kalau sampai terjadi sesuatu kepada Fania, karena aku yang telah merekomendasikan Fania untuk menjadi simpanan Om Calvin, sekalipun dia adalah dia single."


Setelah menghubungi papa gulanya dan Calvin, Stefany langsung menelepon pria yang menjadi papa gula sahabatnya. Pikiran benar-benar tidak tenang kita belum mendengar kabar tentang Fania.


Namun, setelah berhasil menghubungi Calvin, Stefany harus menelan kasar harapannya, karena Fania sedang tidak bersama dengannya dan Calvin pun malah kembali bertanya kepada Stefany ada apa dengan Fania.


"Gimana, Stef? tanya Janyy penasaran.


Kepala Fania menggeleng dengan pelan. "Fania gak ada disana," ucapannya.


"Terus Fania dimana, dong?"


"Om Calvin juga bertanya seperti itu, Jann. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kondisi keluarganya saat ini?" tebak Stefany.


"Mungkin juga, sih. Tapi setidaknya Fania cerita sama kita. Meskipun kita tidak bisa membantunya apa-apa, tetapi setidaknya dia bisa mengeluarkan segala uniknya pada kita. Awas aja tuh anak!" gerutu Janny dengan rasa kecewa dengan sikap Fania yang memilih untuk menyembunyikan perasaannya saat ini.


Dari kamar Fania, gadis itu bisa melihat dengan jelas dari jendela kamar jika kedua sahabatnya belum juga meninggalkan halaman rumahnya.


"Maafkan aku Jann. Untuk kali ini aku sedang ingin sendiri. Katakan aku sedang kecewa dan iri kepada kalian yang begitu mudah untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang, sekalipun hidup kalian tidak bergeming harta. Berbeda denganku, yang hidup bergelimang harta, tetapi tak bisa menempatkan kasih sayang dari orang tua Bahkan dari beberapa orang yang mendekatiku, mereka hanya hartaku saja. Tak ada sedikitpun ketulusan untuk mencintaiku," ucap Fania dengan pelan sambil menutup gorden jendelanya.


Dari bawah, tanpa disengaja mata Janny menangkap sebuah pergerakan dari kamar Fania. Hatinya langsung berkata jika saat Fania sedang ada di kamarnya.


"Jann, mau kemana?" teriak Stefany saat melihat Janny berlari untuk masuk kedalam rumah Fania.


🌸🌸

__ADS_1


Tes .. mana suaranya πŸ™„


__ADS_2