
"Papa ... jangan!" teriaknya.
Frans mengalihkan pandangannya kearah Fania yang muncul dari kamar mandi kemudian mengernyitkan dahinya.
"Fania?"
Fania yang melihat sudut bibir Calvin telah mengeluarkan darah, ia pun segera berlari kearah Calvin. "Om Calvin gak papa?" tanyanya.
Calvin menggeleng pelan sebagai tanda akan jawabannya. "Aku gak papa," ucapnya.
Tubuh papa Fania masih membeku untuk beberapa saat. Namun, tak lama ia pun tersadar dan langsung menarik lengan Fania saat tangannya mengusap sudut bibir Calvin.
"Fan, apa yang kamu lakukan?"
Dada Fania bergerumuh dengan kuat. Bahkan bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan papanya. Seketika tubuh Fania membeku dengan rasa panas dingin karena harus menjelaskan atas sikapnya pada Calvin.
Mata Frans silih berganti menatap Calvin dan Fania seakan mencari sebuah jawaban dari kebisuan sang Putri. Bahkan Frans menatap Calvin dengan tatapan sangat menusuk.
"Fan, jawab dengan jujur apakah kamu mengenal pria ini?" tanya papanya.
Fania menggigit bibirnya karena rasa ketakutan. Bukan takut sang papa akan marah, melainkan papa gulanya tahu jika sebenarnya dia adalah anak dari salah satu pengusaha ternama yang kini ada di hadapannya.
__ADS_1
"Fan." Kini giliran Calvin yang memanggil Fania sebagai isyarat agar Fania memberikan sebuah penjelasan. "Jelaskan mengapa kamu memanggil Tuan Frans dengan sebutan papa? Apakah dia adalah papamu atau dia adalah sugar daddy terbarumu?"
Fania tak mampu untuk membuka mulutnya bahkan ia semakin kuat menggigit bibir bawahnya karena merasa sangat gugup.
'Duh ... kok jadi seperti ini sih? Napa juga papa kesini? Kenapa juga mereka harus bertemu disaat yang tidak tepat. Mana papa main hajar Om Calvin lagi. Duh ... makin ribet urusannya,'
Frans yang mendengar kata sugar daddy langsung terbelalak lebar. Bahkan kini matanya beralih menatap tajam ke arah Fania.
"Fan, apa maksudnya ini?"
"Om Calvin, maafkan Fania. Fania bisa jelaskan semaunya." Fania berusaha memberanikan diri untuk menatap Calvin.
"Dia papa aku, Om," terangnya dengan halaan nafas panjang.
"Iya, Om. Maafkan jika selama ini aku sudah membohongi Om Calvin," sesal Fania.
Calvin masih tidak percaya dengan sebuah kebenaran dimana Fania adalah anak orang terpandang. Lalu mengapa Fania memilih untuk menjadi sugar baby. Jika bukan karena uang, lalu karena apa?
"Fania, jelaskan sekarang juga mengapa kamu bisa mengenal pria ini?" ulang papanya yang sangat merasa penasaran.
Fania hanya tersenyum getir saat melihat papanya. "Kenapa papa ingin tahu? Bukankah selama ini papa tidak pernah peduli dengan Fania. Bahkan sekalipun Fania mempunyai orang tua yang ada di depan mata, tetapi rasanya tak berarti. Keduanya hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan hanya sekedar menyapa saja tak memiliki waktu. Lalu untuk apa papa mengetahui dia siapa. Mending papa keluar dari sini dan urus sana simpanan papa. Aku rasa mama juga tidak menginginkan kehadiran papa disini," ujar Fania panjang lebar.
__ADS_1
Dada Frans sudah naik turun. Ini adalah kali pertama Fania melawan dirinya. Namun, saat menatap lagi kearah Calvin, Frans merasa jika Calvin bukan pria simpanan istrinya. Ada sepenggal sesal sudah melayangkan sebuah pukulan, tetapi Frans berusaha untuk tetap tenang.
Mengapa aku malah berpikir jika Fania memiliki hubungan dengan Tuan Calvin? Apakah mungkin mereka berpacaran? Ah, tidak mungkin! Di luar sana masih banyak pria muda yang lebih tampan, tidak mungkin Fania akan tertarik pada pria tua seperti ini, Batin Frans.
Calvin yang merasa dibohongi segera menyuruh Fania untuk memberikan sebuah penjelasan agar tak ada salah paham antara dirinya dengan Frans.
"Om Calvin, sekali lagi aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membohongi Om Calvin. Aku tahu ini adalah cara yang salah untuk membahagiakan diriku sendiri. Aku terlalu egois ingin merasakan apa itu sebuah kebahagiaan yang didapat dari yang perhatian dan kasih sayang bukan hanya sekedar tentang uang. Aku memang terlahir dari keluarga yang berada, miliki seorang papa dan mama yang masih sehat wal afiat. Mereka juga selalu ada di depan mataku. Namun, meskipun begitu tak ada perhatian dan kasih sayang yang aku dapatkan dari mereka. Semakin lama aku semakin bosan dengan kondisi yang menyedihkan ini. Aku sudah berusaha untuk mencairkan suasana. namun nyatanya tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Mereka lebih menomorsatukan urusan mereka daripada nomor satukan anaknya sendiri. Dan aku mulai sadar aku butuh seseorang untuk membahagiakanku," jelas Fania dengan panjang.
Saat itu juga tubuh Frans dan juga Calvin membeku untuk sesaat. Keduanya larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Frans baru menyadari jika selama ini putrinya sudah berusaha mencairkan dinginnya kondisi keluarga, tetapi dia tidak peka. Dan yang lebih parahnya dia malah mencari kepuasan demi mencairkan hatinya.
"Fania .... " Suara sang mama menyentuh telinganya.
Saat dilihat, ternyata mama Fania sudah sadar. Air mata juga sudah membasahi pipinya.
"Mama," seru Fania yang langsung menghampiri mamanya.
Mama Fania semakin terisak saat tubuh Fania telah memeluknya.
"Fan, maafkan Mama.. Semua ini salah mama. Jika mama tidak berulah, keluarga kita tidak akan hancur seperti ini. Mama bodoh, Fan." Mama Fania semakin menumpahkan tangisannya dalam pelukan Fania.
__ADS_1
πΏπΏ
Halo semuanya. Sudah menunggu novel ini terlalu lama. Sebenarnya author ingin hiatus untuk beberapa waktu dari aplikasi ini, tapi masih punya tanggung jawab harus diselesaikan terlebih dahulu. Terima kasih atas support yang telah kalian berikan untuk author. Meskipun Author tidak pernah disayang oleh sistem, setidaknya ada satu dua diantara kalian yang sayang sama Author. Lope-lope untuk kalian semua π