Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • LIMA BELAS


__ADS_3

Suara alarm membuat Fania menggeliat pelan. Ia sengaja menyetel alarm pukul 6 karena harus kembali pulang ke kontrakan Janny. Namun, saat mengerjap matanya menangkap sosok yang ia kagumi masih terlelap disampingnya. Bahkan tanpa disadari tangannya pun melingkar di perutnya. Menyadari akan hal itu, tentu saja membuat jantung Fania berdegup sangat kencang.


"Astaga ... tidur aja terlihat ganteng, Om." batin Fania sambil membelai pipi Calvin.


Namun, siapa yang menyangka jika tangan Fania langsung dicekal oleh Calvin, meskipun matanya masih tertutup.


"Mau apa?" tanyanya dengan suara serak.


"Mau nyentuh pipi Om Calvin. Penasaran aja sama pipinya yang terlihat mulus kayak jalan tol gak ada bekas jerawatnya. Kan biasanya kalau laki-laki tuh pipinya kasar kayak jalan di kampung-kampung gitu, Om," goda Fania.


"Jadi kamu nyamain pipiku sama jalan?" Calvin mengernyit.


"Enggak, Om. Hanya mengibaratkan saja."


Baru saja membuka mata, keduanya sudah beradu mulut. Fania yang sudah terpesona akan ketampanan Calvin tak jera untuk melemparkan godaannya. Bahkan perempuan itu tak segan untuk mendaratkan ciumannya di pipi Calvin.


Ini adalah kali kedua Fania menyosor Calvin secara tiba-tiba, bahkan hampir membuat Calvin merasakan jantungan lagi. Dengan dada yang berdegup kencang, Calvin hanya bisa memegangi pipinya yang baru saja disosor oleh Fania.


"Astaga ... setiap hari kemampuannya semakin bertambah. Bahkan dia tak mempunyai rasa malu untuk mencium seorang pria dewasa. Munafik jika dia masih tersegel. Lagian mana ada sugar baby masih segel. Calvin ... Calvin! Mau saja dikadalin sama bocah ingusan!" rutuk Calvin sambil menggelengkan kepalanya.


Fania yang saat ini melarikan diri ke kamar mandi masih berusaha untuk menetralkan jantungnya yang hampir terlepas. Entah mendapatkan keberanian darimana sehingga dirinya sangat berani untuk menyosor pipi Calvin lagi.

__ADS_1


"Dasar ...! Nih, bibir kenapa bawaannya mau nyosor aja, sih?" Fania menampar pelan bibirnya. Meskipun belum pernah menyosor daging utama, tetap saja bibirnya Fania telah ternoda lagi, karena ulah sendiri.


"Apakah didalam tubuhku banyak setan yang bersarang sehingga begitu mudah membisikkan sesuatu yang buruk?" batin Fania dengan tangan yang masih memegangi dadanya.


Belum juga menyentuh air, suara ketukan pintu membuat dada Fania berdetak lebih kencang lagi.


"Fan! Buka pintunya! Aku kebelet, nih!" teriak Calvin dari luar.


Karena Fania masih berusaha untuk menetralkan jantungnya, ia pun segara membuka pintu kamar mandi dan langsung keluar.


"Kamu belum mandi?" tanya Calvin saat melihat Fania keluar tanpa ada perubahan.


"Belum. Tadi aku masih nabung. Kalau Om Calvin mau nabung juga jangan lama-lama ya. Soalnya aku juga harus bersiap untuk pergi kuliah," ujar Fania.


"Ah, gak mau! Masa aku nungguin Om Calvin nabung. Kan bau, Om!" protes Fania.


"Kamu belum merasakan aroma tabunganku, kan? Kalau dah kecium pasti langsung klepek-klepek."


"Ah, sudah sana buruan masuk untuk setoran!" Fania langsung mendorong tubuh Calvin agar segera masuk ke kamar mandi.


Fania harus lebih ekstra bersabar untuk menghadapi Calvin yang acuh dan terlalu cuek padanya. Namun, Fania sangat tertantang untuk menaklukkan kecuekan Calvin. Ia pun berusaha untuk mencari tahu tentang Calvin di Mbah Google. Dari sana Fania baru mengetahui jika Calvin ternyata hampir saja menikah Namun, entah apa yang terjadi di pernikahan mereka gagak. Fania pun bisa melihat dengan jelas seperti apa perempuan yang telah gagal menikah dengan Calvin.

__ADS_1


"Cantik juga, ya," gumam Fania saat melihat gambar Laura, mantan kekasihnya Calvin. "Cantik begini aja gagal, apalagi aku yang pas-pasan?"


Jiwa penasaran yang tinggi ternyata membuat Fania semakin ingin tahu seperti apa Laura. Namun, saat matanya terfokus pada layar ponsel, tiba-tiba ia merasakan ada air yang menetesi layar ponselnya.


"Astaga ... " Fania terkejut.


Calvin segera merampas ponselnya milik Fania yang sedang memperlihatkan foto Laura.


"Sana mandi atau yang akan mandikan!" ujarnya.


Bukan merasa takut, Fania malah menarik tersenyum lebar saat mendapatkan ancaman dari Calvin.


"Dengan senang hati, aku mau dimandiin sama Om Calvin. Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo, Om!"


Calvin hanya mendelik saat Fania tak merasa takut dengan ancamannya dan malah menantang dirinya. Sungguh gadis luar biasa yang pernah ia temui. Jika pada umumnya perempuannya yang masih tersegel akan langsung ketakutan, tetapi tidak dengan Fania yang benar-benar berbeda.


Karena tak ingin dirinya melakukan kekhilafan, Calvin memilih untuk keluar dari kamar. Baru saja ingin duduk di sofa, sebuah bel pintu berbunyi. Calvin menebak yang datang adalah kurir pengantar makanan, karena 10 menit yang lalu Calvin memesan sebuah makanan dari restoran sebelah.


Tak salah lagi, saat pintu dibuka seorang pria berseragam orange tersenyum ramah untuk memberikan pesanan milik Calvin. Namun, pandangan Calvin bukan tertuju pada kang kurir, melainkan pada penghuni depan kamarnya. Dimana orang yang baru saja menjalani kerjasama dengan dirinya diam-diam menyelundupkan barang ilegal kedalam kamarnya. Bahkan, meskipun hanya sekali melihat, Calvin sudah bisa menandainya.


"Tuan, silahkan tanda tangan!" ujar kang kurir.

__ADS_1


Calvin pun langsung menandatangani kertas yang disodorkan oleh kang kurir. Setelah selesai, mata Calvin menatap ke depan lagi, tetapi terlambat karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi.


"Ckckck. Harta adalah godaan terbesar untuk manusia. Semakin dikelilingi harta, semakin banyak juga godaannya, termasuk godaan dari pesona wanita cantik. Dan saat ini aku yakin jika Tuan Frans saat ini tidak kuat dengan godaan wanita luar," batin Calvin sambil mendengus dengan kasar.


__ADS_2