
Tak pernah terbayangkan dalam hidup Fania akan kehancuran keluarganya. Seberapapun Fania berdoa dan berharap jika keluarganya baik-baik saja, tetap tidak akan mengubah kenyataan jika karena kedua orang tuanya telah memilih jalan mereka masing-masing. Bahkan Fania tak percaya jika mamanya lah yang memulai untuk menciptakan kehancuran. Selama ini Fania tak pernah tahu jika ternyata mamanya diam-diam memiliki pria lain.
"Mengapa kamu tak pernah menceritakan semua ini kepadaku, Jann? Jika kamu mengatakan lebih awal, mungkin kehancuran ini bisa di tangani. Apakah kamu memang menginginkan keluargaku hancur?" tekan Fania dengan sisa tangisannya.
Janny hanya tertunduk dengan mata yang terasa panas. "Fan, maafkan aku. Sedikitpun aku tak berpikir sejauh itu. Aku takut untuk mengatakan kebenaran itu padamu, karena aku tak ingin menambah lukamu, Fan. Maafkan aku, Fan," sesal Janny untuk kesekian kalinya. Namun, terlambat sudah. Semua telah menjadi bubur. Harapan dan keinginan hanya tinggal sebuah angan, karena kedua orang tua Fania telah memilih jalan mereka masing-masing, tanpa ingin membenahi keretakan yang telah tercipta. Mungkin seperti itu yang sedang dirasakan oleh keluarganya dari papa gula yang dimiliki oleh sahabatnya. Keluarga mereka akan hancur karena wanita yang telah masuk ke celah pernikahan.
Cukup lama Fania terdiam untuk merenungi apa yang telah terjadi. Bahkan detik itu juga Fania meminta pada kedua sahabatnya untuk berhenti menjadi simpanan pria beristri. Fania tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya keluarga para pria yang sudah mereka rampas kebahagiaannya.
"Stef, Janny. Untuk kali ini tolong dengarkan aku! Tinggalkan papa gula kalian. aku tidak masalah jika kalian ingin menjadi menjadi simpanan pria dewasa, tetapi tolong jangan cari pria yang telah beristri, terlebih yang telah memiliki anak. Kalian sebagai seorang perempuan apakah kalian tidak pernah memikirkan sedikitpun bagaimana perasaan istri dari papa gula yang kalian miliki? Rasanya sakit dan hancur jika mengetahui suami mereka memiliki wanita dalam hubungan pernikahan mereka. jika kalian ingin melihat bagaimana hancurnya keluarga papa gula yang kalian miliki, lihatlah aku dan lihatlah bagaimana keluargaku hancur. Beginilah yang akan dirasakan oleh keluarga papa gula yang kalian miliki," jelas Fania panjang lebar.
Untuk kali ini Stefany dan juga Janny tertampar akan ucapan Fania yang sedang hancur. Saat ini posisi Fania sangat menggambarkan kondisi keluarga dari sugar Daddy yang mereka miliki. Ada rasa bersalah yang bersarang di dada Janny dan juga Stefany.
"Fan, aku tahu saat ini kamu sedang hancur. Tetapi, jikapun kami melepaskan sugar daddy yang kami miliki, mereka tetap akan mencari pengganti kami, gak ada bedanya dan enggak berpengaruh apa-apa, Fan!" Tanggapan Stefany.
"Tapi setidaknya kamu tidak merusak keluarga orang lain, Stef! Lihatlah aku! Keluarga mereka itu seperti aku, Sfef! Hancur." Fania kembali menumpahkan air matanya yang sempat mengering beberapa detik.
__ADS_1
"Tapi aku sudah terlanjur mencintai Om Bara, Fan! Aku tidak mungkin bisa melepaskan Om Bara begitu saja. Bukan hanya uang yang aku dapatkan, tapi kenyamanan pun aku dapatkan darinya," lanjut Stefany lagi.
"Tapi itu salah, Stef! Jika kamu memang masih membutuhkan uang dan kasih sayang, mengapa kamu tak mencari pria single yang bisa kamu plorotin dengan sepuasnya tanpa merusak keluarganya. Itu lebih bagus daripada kamu menjadi simpanan pria beristri," tekan Fania.
Janny yang bisa merasakan bagaimana kesedihan dan kekecewaan itu bercampur menjadi satu dalam tubuh Fania hanya bisa bungkam tanpa kata, terlebih ucapannya benar dan berhasil menusuk hatinya. Dimana apa yang telah dilakukan bersama dengan papa gulanya adalah sebuah kesalahan terbesar.
"Kamu benar Fan! Tapi semua sudah terlambat."
Stefany yang keras kepala hanya membuat Fania merasa sangat kesal. Awalnya dia juga ingin mencari pria yang bisa memberikan kehangatan, tetapi setelah merasakan keluarganya hancur, Fania memutuskan untuk mundur dari keinginan yang menggebu-gebunya. Fania tidak mau apa yang dia rasakan juga dirasakan oleh keluarga papa gulanya. Eh, tapi papa gula Fania kan single ya?
Nama Calvin mengambang di layar ponselnya, membuat Fania yang bisa melihat dengan jelas hanya bisa menatap Stefany dengan tajam.
Stefany yang mendapatkan tatapan tajam dari Fania hanya bisa menelan kasar salivanya. Meskipun tidak ada hubungan apa-apa dengan Calvin, tetap saja Stefany merasa sangat gugup saat hendak mengangkat telepon dari Calvin.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Fania dengan ketus.
__ADS_1
"I-Ini juga mau diangkat," balas Stefany.
Dengan tangan yang bergemetar, Stefany langsung mengangkat panggilan teleponnya. Baru saja diangkat, Stefany hanya bisa menggigit bibir seraya menatap kearah Fania. Stefany ragu untuk memberikan jawaban pada Calvin jika saat ini dirinya telah bersama dengan Fania, tetapi melihat tatapan membunuh dari Fania membuat Stefany tidak punya pilihan lain.
"Iya Om. Aku sudah bertemu dengan Fania. Dia hanya kurang enak badan," ucap Stefany sambil melirik kearah Fania. Tak Stefany pun menyerahkan ponselnya pada Fania.
"Om Calvin mau bicara," ucapnya lagi.
Fania yang sejak tadi sengaja mematikan ponselnya dan tak memberikan kabar kepada Calvin, ternyata membuat pria itu sangat khawatir. Baru saja menempelkan ponselnya di telinga, Fania sudah ditodong dengan berbagi pernyataan hingga Fania bingung ingin menjawab dari sebelah mana.
Ekor matanya menatap kearah Stefany. Ternyata pemikirannya salah. Dia sempat berpikir jika diam-diam Stefany menusuknya, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Calvin, Fania menjadi merasa bersalah pada Stefany.
"Fan, kamu baik-baik saja, kan?" suara Calvin dari seberang telepon.
"Iya, Om Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Sekarang kirim alamat rumah kamu, aku akan kesana sekarang juga!"