Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • ENAM BELAS


__ADS_3

Ternyata meskipun terlihat cuek, tetapi Calvin masih memperhatikan Fania, gadis agresif yang terus-menerus membuatnya hampir khilaf. Namun, Calvin masih kuat dengan benteng pertahanan. Akan tetapi, Calvin tidak bisa menjamin ke depannya bagaimana jika Fania terus-menerus mencoba untuk meruntuhkan benteng pertahanannya. Sebagai pria normal tentu saja wanita adalah godaan terbesarnya.


"Om, nanti malam aku tidur di apartemen Om Calvin ya," pinta Fania dengan kedua mata yang mengedip, seraya merayu Calvin.


"Gak boleh!" tolak Calvin dengan cepat.


"Kenapa? Besok aku libur kuliah kok."


"Tapi aku gak libur kerja, Fan!" tegas Calvin.


"Ya udahlah kalau gak boleh gak papa. Aku mau cari papa gula lainnya aja di club," ucap Fania dengan bibir yabg mengerucut.


Mata Calvin langsung membulat dengan lebar. "Gak boleh!" ucapannya dengan tegas.


"Kenapa gak boleh?"


"Karena kamu sudah menjadi sugar babyku, Fan! Itu artinya kamu gak boleh kelayapan mencari pria hidung belang diluar! Oke, nanti malam kamu boleh tidur di apartemenku."


"Serius, Om?"


Calvin hanya mengangguk pelan seperti jawaban atas pertanyaan Fania. Jangan ditanya lagi bagaimana reaksi Fania saat permintaannya dikabulkan oleh Calvin. Padahal Fania hanya sekedar mengancamnya saja.


***


Baru saja ingin masuk kedalam lift, Calvin baru menyadari jika ada sesuatu miliknya yang tertinggal di dalam kamar. "Fan, kamu tunggu di sini juga. Aku akan mengambil sesuatu yang tertinggal dulu!" pesan Calvin pada Fania.


Dengan mengangguk pelan Fania berkata, "Oke, Om."


Sesuai dengan pesan Calvin, Fania berdiri di samping lift sambil memainkan ponselnya. Namun, karena ada tangan yang memencet tombol lift, Fania langsung menoleh ke samping. Dia berpikir itu adalah tangan Calvin.

__ADS_1


"Papa," ucapnya dengan lirih.


Pria yang berdiri di samping Fania terbelalak dengan lebar. Dirinya sangat terkejut saat mendapati anaknya berada di hotel sepagi ini.


"Fania," ujarnya. "Kamu ngapain di sini?"


Fania yang ditanya merasa sangat gugup dan gelagapan. Bahkan dirinya tidak menyangka jika akan bertemu dengan papanya di tempat itu.


"Fania—" Sungguh sangat sulit untuk menjawab pertanyaan dari papanya. Fania hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena takut apa yang dia lakukan akan diketahui oleh papanya.


"Jangan bilang kamu baru saja melayani pria hidung belang!" teduh Frans dengan mata yang menyala.


Saat itu juga mata Fania langsung membuat dengan lebar. Dengan cepat Fania menggelengkan kepalanya.


"Papa keterlaluan sudah menuduh Fania seperti itu. Papa sendiri ngapain di sini?" Kini giliran ke Fania yang menanyakan mengapa Papanya bisa berada di hotel.


Sama seperti ekspresi Fania sebelumnya. Wajah Frans terlihat sangat menegang.


"Tadi malam Fania nemenin Janny mengisi acara di cafe sebelah. Dan acaranya sampai malam banget. Karena kami takut untuk pulang, kami memutuskan untuk mengingat di sini," kilah Fania dengan berat.


Mendengar alasan Fania, Frans merasa sangat lega. Namun, detik berikutnya matanya celingukan untuk mencari keberadaan Janny yang tak terlihat. "Dimana Janny?" tanyanya.


"Oh ... Janny sudah pergi duluan karena ada kepentingan keluarga. Papa kan tahu bagaimana kondisi keluarga Janny yang. Janny itu tulang punggung keluarga."


"Iya Papa tahu. Maafkan Papa sudah berburuk sangka kepadamu. Kalau begitu ayo pulang!"


Fania mengangguk pelan dan mengikuti langkah papanya masuk kedalam lift. Karena tidak ingin membuat Calvin khawatir Fania menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepada Calvin jika dirinya sudah berangkat ke kampus sendirian.


***

__ADS_1


Baru saja melangkah untuk masuk ke dalam rumah, Fania merasa sangat terkejut ketika mamanya melempar sebuah koper besar di hadapannya. Jantungnya berdegup dengan kencang, bahkan seluruh tubuhnya sudah bergetar dengan kuat. Dirinya sangat takut jika sang mama telah mengusirnya, karena saat ini dia telah menjadi wanita simpanan.


"Akhirnya pulang juga kamu, Pa!" bentak Maria, mamanya Fania pada suaminya.


Fania hanya menautkan kedua alisnya saat sang mama sedang murka dengan papanya.


"Ini apa maksudnya, Ma?" tanya Frans yang merasa terkejut dengan kemarahan sang istri.


Mata Maria menyala dengan merah seakan ingin menyambar apa saja yang ada di hadapannya.


"Masih pura-pura tidak tahu apa yang telah. Dasar pria baji*ngan!" umpat Maria dengan penuh amarah.


"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku selama ini, Pa? Diam-diam kamu mempunyai wanita simpanan untuk memuaskan sesuatu kan?!" bentak Maria lagi.


"Jadi kamu sudah tahu semuanya. Syukurlah kalau begitu," ucap Frans tanpa rasa bersalah.


Maria tersenyum kecut dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya. "Oh, jadi sekarang kamu sudah merasa puas dengan pelayanan wanita itu? Pantas saja akhir-akhir ini kamu tidak pernah pulang ke rumah, ternyata kamu sedang mendapatkan pelayanan dari jala*ng di luar sana? Bagus sekali perbuatannu!" bentak Maria.


"Seharusnya kamu bisa berintrospeksi diri mengapa aku mencari pelayanan di luar sana. Selama ini aku sudah sabar menghadapi semua tingkahmu yang tak sedikitpun mau melayaniku sebagai seorang suami. Aku pria normal yang sudah menikah. Wajar saja aku menginginkan pelayanan dari istriku, tapi apa nyatanya, istriku sama sekali tak ingin ku sentuh. Lalu apakah aku harus tetap memendam hasratku sebagai seorang pria normal?" Kini giliran Frans yang menyudutkan Maria.


Mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, tubuh Fania kian bergemetar, hingga rasanya tak sanggup untuk berdiri. Fania pun memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya di sofa sambil terus mendengarkan perdebatan yang masih berlanjut. Bahkan Fania tidak pernah berpikir jika Papanya akan sanggup untuk mencari kepuasan di luar dengan wanita lain.


"Apakah itu artinya tadi malam Papa baru saja menghabiskan waktunya bersama dengan wanita jala*ng itu?" batin Fania.


"Oh, jadi itu alasanmu mencari kepuasan di luar? Baiklah, tidak masalah. Aku tunggu pertemuan kita di pengadilan! Jangan berharap kamu bisa mendapatkan apa yang saat ini kamu genggaman, karena semua itu adalah milik keluargaku. Sekarang kamu pergi dari rumahku!" usir Maria tanpa rasa iba.


Seketika tubuh Frans menegang mendengarkan ucapan Maria. Perusahaan yang selama beberapa tahun dikelolanya dengan baik, tidak mungkin ditinggalkan begitu saja, terlebih saat ini perusahaan mereka sedang berada dipuncak.


"Kenapa masih diam saja? Pergi sana!" usir Maris dengan lantang.

__ADS_1


"Oke, aku akan pergi. Tapi kamu harus ingat sekalipun itu adalah perusahaan milik keluargamu, tetapi karena aku perusahaan itu bangkit kembali dan saat ini berada di atas. Aku tidak akan melepaskan perusahaan begitu saja, karena aku memiliki andil untuk perusahaan itu!" ucap Frans dengan jelas.


Fania yang duduk di sofa hanya bisa menutup telinganya, terlebih saat sang mama mengusir papanya dari rumah. Hatinya saat ini benar-benar sangat hancur.


__ADS_2