Pesona Sugar Daddy

Pesona Sugar Daddy
BAB • DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Sesampainya di kontrakan milik Janny, Fania langsung menyuruh pak Ujang untuk pulang karena dia ingin menginap di Janny.


"Pak Ujang pulang saja, aku akan menginap di sini."


"Baik, Non. Kalau ada apa-apa segera hubungi pak Ujang ya."


Fania mengangguk dengan pelan sambil tersenyum kearah pak Ujang. "Siap. Pak Ujang tenang saja aku akan baik-baik saja di sini."


Setelah mobil yang dikemudikan oleh pak Ujang pergi, Fania tidak langsung masuk ke kontrakan Janny, tetapi malah memesan sebuah taksi online untuk mengantarnya ke suatu tempat. Kali ini Fania ingin menenangkan hati dan pikirannya seorang diri.


"Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus Lily yang menjadi selingkuhan papa? Kenapa?" Fania masih kecewa dengan takdir sedang mengguncang hidupnya. Jikapun papanya bermain wanita, mengapa harus dengan Lily sahabatnya.


Ketika jalan pikiran sudah buntu, maka hanya ada satu tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman tanpa ada yang tahu bagaimana perasaannya saat ini, yaitu sebuah tempat hiburan malam. Ditempat itu Fania menumpahkan semua isi hatinya, tanpa ingin memperdulikan pengunjung lainnya.


Dentuman irama musik DJ membaut Fania terjun dalam kerumunan beberapa orang yang berjoget ria. Dengan cara seperti itu Fania bisa mengeluarkan semua rasa penat di dalam. Dia tertawa sepuasnya tanpa ada yang menganggap gila. Bahkan berjoget tanpa semaunya tanpa ada yang melarang.


Namun, siapa yang menyangka sosok Fania menjadi pusat perhatian sekolompok pria yang sedang duduk dalam satu meja. Tentu saja mereka sangat tertarik dengan sosok Fania yang sedang ikut berjoget lepas.


"Lihatlah, aku merasa jika wanita itu sedang frustasi."

__ADS_1


"Apakah kamu ingin bermain dengannya?"


"Tidak. Meskipun dia cantik, tetapi wanitanku lebih cantik dan menggairahkan."


Siapa yang menyangka jika satu meja itu adalah kerumunan Bara dan juga teman-temannya, termasuk juga dengan Calvin yang sejak tadi hanya memperhatikan Fania tanpa kata.


"Bagaimana pendapatmu, Cal?" tanya Bara pada Calvin. "Aku dengar kamu baru saja putus hubungan dengan wanitamu."


"Biasa saja," ucap Calvin malas.


"Biasa saja untukmu, tetapi luar biasa untukku. Aku akan memilikinya malam ini," ujar Denta.


Mata Calvin langsung menatap Denta yang sudah ingin berhenti, tetapi dengan cepat Calvin mencegahnya.


Ucapan Calvin sontak membuat para temanya menatapnya dengan aneh. "Kenapa?" tanya Denta yang penasaran.


"Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya, kecuali aku!"


Gelak tawa pun kini terdengar. "Jadi kamu juga ingin memilikinya? Baiklah, ayo bersaing denganku!" ujar Denta.

__ADS_1


Karena Calvin tidak ingin Fania jatuh ke tangan pria hidung belang, dia pun segera turun ke kerumunan untuk menarik Fania untuk keluar dari kerumunan. Fania yang sedang berjoget pun merasa sangat terkejut. Bola matanya hampir keluar saat menyadari siapa yang menyeretnya.


"Om Calvin." Mulut Fania masih ternganga dengan sosok Calvin yang ada dihadapannya saat ini.


"Apa yang kamu lakukan disini, hah?!" Calvin sedikit membentak karena merasa tidak terima dengan Fania yang mendatangi tempat hiburan seperti ini.


"Terserah aku. Ini hidupku!"


"Ikut aku pulang!" Calvin memaksa Fania untuk meninggalkan tempat yang seharusnya tidak didatanginya.


"Enggak mau!" protes Fania.


Denta yang melihat Calvin berseteru dengan wanita yang diincarnya segera menghampiri keduanya. "Jangan memaksa wanita jika tidak mau."


"Bukan urusanmu!" ketus Calvin.


"Tentu saja urusanku. Kita harus main sportif, Cal! Aku tahu kamu tampan, tapi jangan main paksa seperti ini. Iya kan cantik?" Tangan Denta hampir mencolek dagu Fania, tetapi dengan cepat Calvin menepisnya.


"Aku bilang jangan sentuh dia. Dia milikku," ucap Calvin.

__ADS_1


Denta hanya melongo saat mendengarkan pengakuan Calvin. "Gak salah? Lalu kenapa nyasar sampai sini? Apakah dia tidak puas dengan pelayananmu sehingga dia sampai sini?" tanya Denta.


"Tutup mulutmu! Fan, ayo pulang!" Kini Calvin menarik paksa tangan Fania untuk keluar.


__ADS_2