
“Oh kami sedang melakukan siara tentang Tiara yang di lukai Angel itu loh," jelas anggota OSIS.
“Kan aku sebagai ketua OSIS disini kan?jadi selama aku tidak setujuh kalian tidak boleh menempel masalah ini di majalah dinding."ketus Revan sambil menatap tajam dan membaca isi kertas.
“Apa-apaan semua ini ... ini semua sampah! membuat aku yang membacanya sakit mata buang ini sekarang." Revan menghempaskan kertas yang berisi gosip tentang Angel Tersebut.
Semua anggota OSIS dan klub penyiar itu kaget dan ketakutan kerna pertama kali melihat Revan sangat kasar seperti ini.
“Kenapa semuanya diam?! apa kalian semua budek!kalau aku bilang buang ya buang kenapa hanya diam!"kata Revan dengan nada sedikit teriak dan memukul mejanya.
Semua pun mengumpulkan kertas yang di lempar Revan dan mau segera membuang nya tapi ketua klub penyiar sekolah itu tidak terima dan membantah Revan.
“Kenapa harus di buang? bukanya ini berita bagus? dan kalian semua apa-apa kalian menuruti merintah dia itu emang dia siapa sampai harus di takuti seperti itu palingan satu kali tampar langsung pingsan." Ketua klub penyiar itu tertawa dan berjalan mendekat ke arah Aldy.
“Hoam..."balas Aldy sambil membuang pandangannya.
“Lagian ga mungkin tangan selembek dia berani melukai orang, kelahi aja ga pernah dia kan banci mentang-mentang jadi ketua osis sesuka hati dia apa membatalkan berita tersebut dan mentang-mentang punya wajah tampa dan pintar jadi bukan sesuka hati dia dong memmerintah kita," ucap ketua klub penyiar itu sambil tertawa kecil.
“Punya mulut kok bacot terus ... mau ku tinju."Revan menatap sinis ke arah ketua klub penyiar tersebut.
“Dengar ya jangan ikut campur masalah pribadi seseorang, kalian hanya mendengar penjelasannya dari satu pihak saja bukan dari Angel nya langsung jadi jangan bertingkah kekanak kanakan seperti ini lagi ... ini benar-benar membuat ku muak!"ketus Revan.
“Kau itu cuman modal tampan jadi ga usah sok keras dan sok heb---"belum selesai ketua klub itu berbicara dia langsung di tinju oleh Revan.
“Cih dasar makluk ga berguna ... bisanya bicara omong kosong bikin teliga dan mata ku sakit aja, oh iya aku permisi dulu mau menyobek kertas yang ada di majalah dinding tersebut," ucap Revan sambil berjalan keluar ruangan.
“Dan untuk siapa pun yang berani menghalangi langkahku maka badan dia yang akan ku robek dan ku gantung badanya yang robek itu di majalah dinding!"ketus Revan sambil menatap sinis semua orang disana.
Revan pun pergi menuju ke koridor sekolah dan mendekat ke majalah dinding sekolah, disana Revan langsung membuka nya dan merobek robekkan kertas yang berisi artikel tentang Angel.
Disaat Revan merobek kertasnya orang hanya diam dan ada siswa cowok yang bertanya kepada Revan.
__ADS_1
“Kenapa di robek?" tanya siswa cowok.
“Kerna isinya belum tentu fakta, kita ini sekolah kelas atas harusnya apa yang di tempel di mejalan dinding ini harus yang fakta jangan ada yang ga jelas sama sekali," jelas Revan.
“Oh iya bisa minta tolong ga?" tanya Revan ke siswa cowok itu.
“Iya kenapa?" tanya siswa cowok.
“Tolong buang sampah ini sekalian balikin kunci ini ke ruang OSIS ya aku uda benar²lapar jadi tolong," jelas Revan sambil tersenyum dan memberikan kunci ke siswa cowok itu.
Belum sempat siswa cowok, itu menerima atau menolak nya, Revan malah langsung pergi dari tempat itu dan tampa melirik ke belakang.
Revan pun sekarang langsung menuju ke kantin sambil memainkan hp nya yang disana ada pesan chat dari Ryo dan Angga kalau mereka sedang menunggu Revan di kantin.
Saat Revan sedang menuju ke kantin dia mendengar percakapan Rani dan beberapa siswa cewek dan mereka membicarakan tentang kejadian Tiara dan Angel.
“Eh jadi orang tuanya Tiara ga minta tanggung jawab gitu sama Angel atau pastinya ga mungkin terima aja kalau anak mereka di gituin oleh rakyat rendahan!" ketus siswa cewek.
“Tapi memanfaatkan dan membiarkan kejadian seperti itu benar² bukan sifat nya Tiara biasanya kan dia selalu membalas 2x lipat malahan," jawab siswa itu sambil merendahkan volume suaranya.
“Apa-apaan ini! jadi maksud kau, Tiara itu ga punya sisi baiknya ya, aku teman nya Tiara bukan kau jadi jangan sok tau tentang hidup dia,"bentak Rani sambil mendorong siswa yang barusan berkata seperti itu tentang Tiara.
“Bukan ... beg---begitu,"jawab gugup Siswa cewek itu.
“Huhh ... berbicara bersama kalian benar-benar bikin orang emosi aja, sudahlah lebih baik aku pergi dulu." Rani mencoba meninggalkan tempat itu dan tangannya langsung di tarik Revan.
“Pemisi ... nona Rani yang begitu cantik," sapa Revan sambil tersenyum manis ke arah Rani.
Rani tidak berkata apa-apa dan hanya memerah kerna di buat Revan seperti itu, maka siapapun akan meleleh kerna ke tampanan Revan.
“Bolehkah aku meminjam sedikit waktumu Rani?" tanya Revan sambil tersenyum.
__ADS_1
“Baiklah," jawab Rani yang sedikit malu²
Revan pun membawa Rani ke kantin dan mengajaknya makan siang bersama,, mereka pun duduk di tengah-tengah kantin dan mereka memesan makanan.
Setelah makannya datang Revan pun memakan makanannya sambil melirik ke arah Rani dan Revan pun berkata dengan spontan kerna mereka duduk di tengah-tengah keramaian orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing jadi tidak mungkin orang lain mendengar perkataan mereka berdua.
Revan pun langsung membuka percakapan dan berbicara spontan.
“Apakah kau bisa berhenti menyebar tentang masalah Tiara dan Angel, lagian apa yang kau katakan juga belum tentu benar kan," ucap Revan sambil memakan makanannya.
“Apa yang senior maksud?, saya menyebarkan nya kerena biar semua siswa tau tentang sifat aslinya Angel dan yang saya ceritakan itu fakta kok habisnya jadi juga ada di kejadian tersebut," jelas Rani dengan santai sambil memakan makanannya.
“Apakah benar itu semua fakta?, aku tau kok kau berada disana dan juga pasti menyaksikan kejadian tersebut tapi lagian kan belum tentu yang kau katakan semua benar,"ucap Revan sambil melirik Rani dan tersenyum.
“Senior pandai sekali bersilat lidah ternyata dan apalagi langsung bergerak saat masalah itu menyangkut-pautkan Angel," jawab Rani sambil menatap Revan dengan senyuman.
“Hehehe ... kau memujiku atau menyindirku, lagian kan aku cuman mencari keadilan untuk Angel saja," ucap Revan dengan santai.
“Kalau menurut senior itu hanya untuk mencari keadilan saja, orang lain yang mendengar perkataan senior akan salah paham akan hal ini dan mengira kalau senior menyukai Angel," senyum licik Rani.
“Benarkah?, Kalau begitu itu bukan sebuah masalah kan intinya aku kasih peringatan ke kau untuk berhati-hati dalam perkataan sebelumku potong kau punya lidah ya sayangku," Revan menggenggam kuat tangan Rani sambil tersenyum.
Rani pun membalas nya dengan senyuman dan masih bersikap santay saat menghadapi keadaan seperti ini.
“Baiklah, aku sudah kenyang dan kebetulan sekali ingin balik ke kelas, kalau begitu saya permisi duluya dan terima kasih atas perhatiannya dan ancaman nya kalau begitu permisi," ucap Rani sambil berjalan menjauhi meja tempat Revan.
“Hihihi." Revan tertawa kecil sambil memakan makanannya.
“Lumayan menarik permainan nya jadi pengen tau endingnya,"kata Revan sambil memakan makanannya.
Saat Revan selesai memakan makanannya.
__ADS_1