Posessive Mafia

Posessive Mafia
part 10


__ADS_3

Update.


"Bagaimana? "


"Belum ada kabar. Gw udah coba cari tapi nggak ketemu. Apa jimin bohong? "


Yap. Saat ini lebih tepatnya dirumah milik jungkook bangtan minus jimin sedang mencari informasi tentang pernikahan lisa. Namun, sayangnya tak ada titik yang mereka temukan. Jungkook sudah linglung sendiri. Seharian ia selalu menangis. Air matanya tak kunjung berhenti, ia sudah melakukan segalanya,namjn hasilnya tetap nihil.


"Jung, ada paket buat lu. "Ucap jhope yang berjalan mendekat.


Jungkook yang tengah melamun terkesiap. Ia menatap jhope dengan Pandangan kosong. Matanya turun menatap paket yang tertulis untuknya.


Jhope menyerahkan nya. Jungkook mengambilnya dengan tangan bergetar. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat, ia takut ucapan jimin pada hari itu.


"Paket apaan tuh? "Tanya namjoon.


Jhope menaikkan bahunya tanda tak tahu.


Sedangkan jungkook membuka pembungkus paket itu dengan tangan bergetar. Setelahnya ia kembali menangis kencang. Melihat paket itu yang berisi undangan pernikahan. Tertulis nama sang pujaan hatinya  disana dengan sampul foto lalisa dan lelaki bernama taeyong.



Jungkook ambruk. Ia meremas undangan itu. Para hyung mereka mencoba untuk menguatkan jungkook yang tengah bersimpuh dengan air mata yang terus lirih.


"Kamu jahat lalisa. Kenapa kamu tega giniin aku. Aku tau aku salah, tapi kenapa harus kaya gini. Kenapa kamu harus nikah sama dia hikss... "


Jungkook tak bisa menyembunyikan tangisannya lagi. Ia telah hancur.


Taehyung dan seokjin mengelus bahu jungkook. Berusaha membuat adik bungsunya tenang, meski mereka tau itu sulit.


"Hyung lisa bakal nikah hyung.. Hiks.. "Jungkook mengadu.


"Iya,hyung tau."ucap seokjin.


"Lisa ninggalin jungkook hyung...hiks..."


"Nggak kook,lisa nggak bakal ninggalin lu.lisa sayang sama lu."ucap taehyung.


Jungkook menangis sesenggukan.


Hingga dering handphone mengalihkan atensi mereka.


Jhope mengambil handphone milik jungkook. Ia membulatkan matanya.


"Dari siapa? "Tanya namjoon.


"Lisa... "


Tangisan jungkook terhenti. Ia langsung mengambil handphone miliknya. Dan benar terdapat nama lisa dilayar benda pipih itu. Tanpa buang waktu jungkook langsung mengangkatnya.


"Halo.... "Suara lembut dari sebrang sana membuat senyum jungkook terbit.


"Lis, ini kamu kan. "


"Ya, ini gue. Gimana lu udah dapet surat undangan gue kan. Jangan lupa dateng ya. "


Hati jungkook tertusuk. Cairan bening itu kembali luruh. Nafasnya mulai tak beraturan lagi. Awalnya ia mengira lisa menelponnya untuk memberi tahu bahwa semuanya kebohongan, tapi nyatanya salah ini nyata.


"Kamu tega sama aku, lis. Aku sayang sama kamu, tapi kenapa kamu kaya gini sama aku. Siapa taeyong ? Kamu nikah sama dia sedang kamu Cinta sama aku. "Ucap jungkook dengan amarah.


"Gue tega. Ngaca dong siapa yang selingkuh dengan banyak ****** diluar sana. Lu bahkan nampar gue cuman gara-gara gue nyebut selingkuh lu ******. Lebih tega mana lu sama gue, dan taeyong, lu nggak perlu tau siapa dia. Dan satu lagi gue nggak Cinta sama lu. "


Sambung handphone langsung terputus. Membuat jungkook berteriak marah, ia membanting handphone miliknya. Lalu jatuh kelantai.


"Hikss... Maaf, lisa. Maaf.. Kembali sayang.. Hikss... "


Bangtan langsung memeluk jungkook erat. Mereka berusaha untuk menguatkan adik kecil mereka.


"Lisa mianhae. "


--------------------------


"Bi itu taro disitu aja. Terus yang itu ditaro disana. "


Saat ini rose tengah berada didapur dengan beberapa maid. Ia sedang berencana membuat cake untuk jimin. Meski sempat dilarang keras, akhirnya rose mendapatkan ijin dengan cara ia berpura-pura menangis. Membuat jimin tak tega dan berakhir mengijinkan nya.


"Noona ingin buat cake apa? "Tanya mina sambil mengambil tiga butir telur.


" baekseolgi. "Ucap rose.


Mina mengangguk. Ia memecahkan telur dengan memisahkan putih telur dan kuning telur. Sedangkan rose tengah memotong topping kue.


"Noona membuatnya untuk sendiri? "


"Ani.. Aku membuatnya untuk jimin oppa. "


Mina terdiam. Ia meremas pisau yang tengah ia genggam.


Rose menoleh kearah mina. Ia mengernyit bingung.


"Kau kenapa? "Mina terkesiap saat rose menyentuh pundaknya.

__ADS_1


"A-hh.. Tidak noona, saya tidak papa. "Ucap mina dengan senyum paksanya.


Rose tersenyum kecil. "Aku berharap jimin oppa suka. Kalo dia suka aku akan memberikan mu hadiah karena kau telah membantu ku. Atau mungkin aku akan memberi tahu jimin oppa kalau kau yang membuatnya. Agar kau dimaafkan untuk kejadian dihari itu. "Ucap rose dengan senyum yang mengembang.


Mina yang mendengarnya lun kegirangan "baik noona. Saya akan berusaha untuk membuat cake yang enak untuk tuan. "Dengan penuh semangat mina melakukan pekerjaannya dengan teliti. Membuat rose terkekeh.


"Mungkin ini adalah cara ku untuk membuat tuan jimin tertarik. "Gumam mina dalam hati.


Satu jam berlalu, cake buatan mina dan rose telah matang. Rose memotong kue itu seperti balok-balok kecil dengan hiasan keju berserta daun mint.


"Yey.. Selesai. "Ucap rose senang. Mina pun ikut semang, ia sudah tak sabar melihat reaksi tuan mudanya.


"Aku akan memanggil jimin oppa. Mima kau letakan semuanya dimeja ya. "Mina mengangguk paham.


Rose telah pergi menuju ruang kerja jimin. Mina menata cake itu dengan sangat hati-hati. Ia juga menahan selai strawberry dibawahnya dengan bentuk love. Menaburkan gula halus di atasnya.


Tak lama setelahnya. Terlihat tuan muda dan noona muda nya tengah menuju meja makan. Mata mina sempat memanas saat melihat jimin mencuri mengecup dibibir rose. Bahkan dengan tidak tahu malunya lagi jimin ******* bibir rose lama.


Mina menunduk saat jimin telah duduk dimeja makan. Ia menatap mina tajam tapi setelahnya melembut  saat menatap rose.


"Ayo oppa dimakan. "


Jimin mengacak-acak rambut rose. Membuat sang gadis cemberut. Adegan itu tak luput dari mata mina. Membuat mina mengepalkan kedua tangannya.


Jimin mengambil sendok, memasukan cake itu kedalam mulutnya.


"Bagimana oppa? Enak kan? "


Jimin menoleh. Lalu mengangguk .membuat rose senang dan tentu nya juga mina.


"Itu buatan mina. "


Pergerakan jimin berhenti. Ia menatap benci kue yang ada di sendoknya. Menaruh sendok itu dengan kasar. Membuat rose bingung.


"Loh kenapa oppa. "


"Rasanya tak enak, menjijikkan. Sama seperti orang yang membuatnya. "Ucap jimin dingin.


Ucapan jimin sontak mematahkan hati mina.


Tanpa kata jimin meninggalkan meja makan. Berjalan menuju kamarnya. Rose ikut bangkit.rose menoleh kearah mina yang tengah menunduk.


"Maaf ucapan jimin oppa. Tak perlu sedih. Jimin oppa suka kok, mungkin dia lagi kesel aja. "Ucap rose mencoba menenangkan. Mina hanya dapat tersenyum tipis kearah rose.


Rose mengelus bahu mina. Lalu setelahnya ia beranjak pergi menyusul jimin.


"Jika ini gagal. Maka cara selanjutnya adalah membuat tuan muda tergoda dan menghamili saya. "Ucap mina dengan smirk diwajahnya.


Malam...


Ia dengan pakaiannya kurang bahannya mengendap-endap  menuju kamar jimin.


Ia berencana menggoda jimin dan saat jimin terbangun ia akan membangunkan rose agar rose melihat adegannya nanti.


Semuanya sudah dirancang secara matang dikepala mina.


Namun, apa yang mina dengar saat ini membuat amarahnya memuncak. Saat sampai dikamar milik jimin, ia dapat mendengar suara aneh dari dalam, suara dua manusia yang saling bercumbu dengan penuh gairah.


Air mata mina luruh. Ia menekan gagang pintu kuat. Ia tak percaya ini. Mina membukanya sedikit, memberi celah. Dan benar, dapay ia lihat noona mudanya tengah mendongakkan kepalanya, karena jimin menghisap tengkuk rose.


Mina berjalan mundur. Ia menjauh dari  sana. Kembali menuju kamarnya dan menangis kencang. Ia tak percaya ini, ia kira tuan muda dan nona mudanya belum melakukannya. Namun yang ia lihat tadi membuat harapan nya hancur lebur.


"Akhhh... Sialan. Aku akan menyingkirkan mu rose. Aku akan menyingkirkan mu. Dan membunuh mu tentunya. "Ucap mina dengan menghancurkan vas bunga.


-------


"Jennie.. Ayo, ini sudah hampir tutup. "


"Sebentar jisoo eonnie. "


Kedua wanita itu. Jisoo dan jennie seorang pegawai supermarket tengah membereskan rak-rak supermarket.


"Ini sudah sangat larut jennie. Eonnie takut haruto dan taehyun menunggu. "


"Selesai. "Ucap jennie.


Jennie mengangkat keranjang yang ia gunakan barusan. Menaruh nya disamping meja kasir.


"Ayo pulang eonni. "


Jisoo dan jennie keluar dari supermarket. Menarik penutup dan menguncinya.


"Sepertinya bus tidak akan muncul jam segini. Apa naik taksi saja? "Tanya jennie saat melihat jam di layar handphone miliknya.


"Jalan kaki saja, tidak terlalu jauh. "Ucap jisoo.


"Tapi eonni, aku takut. "


"Sudah tak apa, ada eonni. "Ucap jisoo.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki. Saat sampai disebuah halte. Mereka dihadang oleh dua orang bertatto.

__ADS_1


"Hai manis... "Ucap salah satu dari mereka.


Jisoo dan jennie berjalan mundur.


"Jangan takut. Kami tidak gigit kok, tapi mungkin sedikit bersenang-senang. "Ucap temannya sambil tertawa.


Salah satu dari mereka menarik tangan jennie. Membuat jennie menjerit dan memberontak.


"Lepaskan.. "


Jisoo yang melihatnya pun tak ingin tinggal diam. Ia ingin menyelamatkan jennie namun tangannya ikut ditarik oleh teman lelaki bertatto itu.


"Lepaskan brengsek.. "Berontak jisoo.


"Tentang manis...kami akan bermain lembut.. "Ucap mereka dengan tawa.


Jisoo dan jennie menggeleng-gelengkan kepala mereka. Cairan bening mereka jatuh.


Salah satu dari mereka hendak mencium jennie. Namun dari arah lain seorang pria berjaket gucci menendang kepala lelaki itu hingga tersungkur. Teman preman itu hendak menghajar lelaki yang menyelamatkan jennie. Namun ia malah tertembak oleh lelaki dari arah belakang.


Preman itu membulatkan matanya saat melihat temannya sudah tergeletak tak bernyawa. Ia akhirnya lari meninggalkan mereka semua. Jisoo menghampiri jennie yang tengah menangis, memeluknya.


Lelaki berjaket gucci itu berdecih. Teman dari lelaki itu mendekat.


"Taehyung kau tak papa? "


"Aku tak papa jin hyung. "


Yap. Mereka adalah seokjin dan juga taehyung. Sebelum mereka baru saja pulang dari club lalu lalu melihat dua orang wanita hendak diperkosa oleh dua preman sialan itu.


Taehyung dan seokjin menoleh kearah dua wanita yang tengah berpelukan itu.


"Kalian tak papa? "Tanya seokjin.


"Iya kami tak pa--"


Dunia seakan terhenti. Jisoo menghentikan ucapannya saat melihat lelaki yang menanyai keadaan nya.  Seokjin membeku. Ia tak tau harus berucap apa, ada rasa senang dihatinya saat melihat wanita yang selama ini ia cari.


Taehyung pun ikut membeku saat melihat wanita yang dipeluk oleh kekasih hyung nya. Sama pula dengan jennie.


"Sooyaa... "Gumam seokjin.


Jisoo menggenggam tangan jennie. Setelahnya jisoo menarik tangan jennie untuk ikut berlari menjauh.


Tentu saja seokjin dan taehyung tak tinggal diam, ia ikut mengejar jisoo dan jennie yang tengah berlari menjauh.


"Sooyaa... Berhenti. "Teriak seokjin.


"Jennie dengarkan aku... "Teriak taehyung.


Jisoo dan jennie tak menggubris. Mereka berusaha cepat untuk berlari menjauh.


"Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. "Gumam jisoo.


Saat sampai ditikungan jalan. Langkah jisoo dan jennie terhenti melihat haruto dan taehyun dihadapan mereka.


"Bunda.. Kenapa lari-lari? "Tanya taehyun pada ibunya.


Jennie memeluk taehyun. "Kamu kenapa jam segini diluar. "


"Aku sama haruto mau nyamperin bunda, takut bunda kenapa-napa. "


"Jennie... "


"Sooyaa... "


Panggil dua lelaki itu mengalihkan atensi ibu dan anak yang tengah berpelukan itu.


Taehyung dan seokjin  terdiam melihat wanita mereka memeluk seorang bocah yang berusia sama.


Jisoo dan jennie terkesiap. Mereka menyembunyikan haruto dan taehyun dibelakang mereka.


"Haruto kamu pulang sekarang. "Ucap jisoo dengan menatap lurus seokjin.


"Nggak bun, aku bakalan pulang kalo bunda ikutan pulang. "Ucap haruto.


Disana seokjin membeku mendengar anak bernama haruto itu memanggil jisoo dengan sebutan bunda. Dan itu artinya haruto adalah anaknya.


"H-haruto. "Ucap seokjin.


Haruto melirik kearah seokjin. Dahinya berkerut.


"Sooyaa... Jelaskan apa haruto ---"


"Tidak! "Teriak jisoo.


"Jenn... "Panggil taehyung lirih. Air matanya luruh melihat taehyun anaknya dibelakang punggung jennie. Anaknya telah tumbuh menjadi lelaki baik yang melindungi ibunya.


Jennie menatap taehyung lurus. Taehyung dapat menangkap tatapan kebencian dari mata jennie.


"Haruto ini ayah.. "Ucap seokjin.

__ADS_1


"Taehyun ini ayah nak... "


BERSAMBUNG.....


__ADS_2