
Update...
"Haruto dan taehyun bersekolah di jeon school. Sekolah milik tuan jungkook. "
Laporan dari sekretaris pribadi taehyung membuat taehyung beserta seokjin tersenyum tipis.
"Apa mereka satu kelas? "Tanya seokjin.
Sekertaris han mengangguk mengiyakan.
"Tuan haruto adalah anak dari kelas dance sedangkan tuan taehyun berasal dari kelas drama ia juga adalah ketua osis sekolah, lain hal dengan tuan haruto ia adalah kapten basket disekolah ."ucap sekertaris han lagi.
"Tuan haruto dan tuan taehyun juga memiliki kekasih. "Lanjut sekertaris han.
Sesaat taehyung dan seokjin terdiam. Mereka tak menyangka putra mereka akan tubuh dengan sangat cepat, dada mereka kembali merasakan sesak yang amat sangat saat mendengarkan informasi dari sekertaris han. Mendengarkan bagaimana putranya tubuh membuat mereka dirundung rasa bersalah yang teramat sangat.
Mereka gagal menjadi sosok ayah.
"Kalau begitu terimakasih. "Ucap seokjin.
Sekertaris han membungkuk. Ia berjalan mundur sebanyak dua langkah. Lalu setelahnya berbalik undur diri.
Ruangan kerja taehyung menjadi sepi setelah perginya sekertaris han. Mereka fokus dengan pikiran mereka masing-masing. Mengingat kesalahan mereka dimasa lalu. Membuat luka mereka terbuka semakin lebar.
"Aku akan mengawasi taehyun dari jauh hyung. "Taehyung angkat bicara.
Seokjin menoleh "ya, lakukanlah...jangan lupakan awasi juga haruto. "
Keadaan kembali hening. Taehyung yang sibuk menelepon mata-mata miliknya dan seokjin yang sibuk memikirkan cara agar dekat dengan anaknya.
Tetapi hitungan menit berikutnya pintu ruang kerja taehyung terbuka secara kasar, taehyung dan seokjin sampai terkejut dibuatnya. Menatap tajam sekertaris han yang tengah menetralkan deru nafasnya.
"Ada apa lagi? Kenapa membuka pintu tanpa mengetuk. "Ucap seokjin.
"Maaf.. Tuan ada hal yang saya lupakan. "
"Apa?"
"Noona jennie, ia... "
Taehyung langsung bangkit saat mendengar wanitanya keluar dari mulut sekertaris han.
"Ada apa dengan jennie. "
"Noona jennie mengidap penyakit kanker hati stadium lanjut. Ia tengah berada dirumah sakit saat ini karena penyakitnya kambuh lagi. "
Dada taehyung berdebar dengan sangat kencang. Fakta ini membuat jantung nya tertusuk. Wanitanya tengah berjuang melawan penyakit tanpa ia disisinya.
"Dimana rumah sakit tempat jennie dirawat. "
"Seoul hospital. "
Tanpa pikir panjang lagi taehyung langsung menyambar kunci mobil. Tak lupa ia membawa jaket, topi berserta masker. Seokjin tentu saja ikut bangkit, ia mengejar taehyung yang tengah memasuki mobil.
"Aku ikut. "
Taehyung mengangguk singkat. Ia memasuki mobil dan mengendarai nya dengan kecepatan tinggi.
"Tenang tae. "Ucap seokjin berusaha menenangkan.
"Aku tak tenang hyung, jennie tengah sakit dan aku tak berada disisinya. "Ucap taehyung lirih.
Ingin sekali ia menangis saat ini. Tak ada yang bisa membuat taehyung menangis selain jennie. Dulu saat masih bersama taehyung lah yang selalu menemani jennie jika jennie sakit, taehyung bahkan tak masuk kuliah saat mendengar jennie kecelakaan. Ia tak pernah absen untuk menjaga wanitanya.
Mobil milik taehyung berhenti didepan rumah sakit tempat jennie dirawat. Taehyung memakai jaketnya. Memasang masker berserta topi yang ia bawa.
"Jennie sedang sendiri sekarang. Taehyun dan haruto masih disekolah. Sedang sooyaa tengah pergi kekantin untuk makan.bergeraklah dengan cepat tae."Seokjin sedikit lirih saat menyebut nama jisoo.
Taehyung mengiyakan. Ia segera turun dari mobil meninggalkan seokjin yang tetap diam didalam.
Taehyung memasuki gedung rumah sakit itu. Bertanya pada resepsionis rumah sakit. Sekarang ia telah berada diruang inap milik jennie. Taehyung menunduk sebentar, ia sedikit ragu. Taehyung berusaha memantapkan hatinya lagi. Menghembuskan nafas pelan, membuka pintu dengan pelan menutupnya.
Taehyung berjalan pelan kearah ranjang rumah sakit yang diisi oleh wanitanya.jennie tertidur lelap dengan selang infus ditangannya dan yang lebih membuat taehyung sedih adalah melihat alat bantu jennie untuk bernafas.
Taehyung menarik kursi disisi jennie. Mendudukkan dirinya disana. Meraih tangan hangat jennie untuk ia genggam.
"Hei... Nini. "Sapa taehyung sendu.
Taehyung mengecup punggung tangan jennie. Ia tak bisa menahannya, cairan bening itu tetap luruh dari mata hitamnya.
"Apa sudah mendingan. Maaf kalau tae tak menemanimu dari awal kau sakit. jangankan untuk menemani mu, menemui mu saja sudah membuat tae takut jen. Aku takut kamu menjauh lagi. Aku takut jen. "Isak kecil tak mampu taehyung bendung lagi. Ia menangis dengan menggenggam tangan jennie.
"Aku takut kau akan benar-benar pergi lagi. Aku tak bisa membayangkan nya, itu terlalu mengerikan untuk ku ingat lagi. "
Taehyung mendongak. Ia mendekatkan wajahnya, berakhir dengan mengecup dahi jennie lembut.
"Cepatlah sembuh nini . Kalau nini sembuh tae akan mengirimkan eskrim untuk nini. Seperti yang sering nini minta. "
Taehyung kembali mengecup tangan jennie. Melepaskan tangan hangat itu dengan berat hati. Taehyung berjalan menjauh, berhenti sejenak untuk melihat jennie lagi. Lalu ia benar-benar pergi dari sana.
Tanpa taehyung tau jennie telah membuka matanya. Menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Jennie menangis kecil.
"Nini juga merindukan tae. "
-----------
Jimin menggeram singkat. Ia tengah dilanda rasa cemas melihat rose yang tengah bolak-balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perut nya.
Jimin tak bisa mendekati rose karena rose akan menjauh. Alasannya adalah karena aroma tubuh imin yang membuat rose mual.
"Sayang.. "
Jimin berniat untuk mendekat.
"Jangan mendekat oppa. Aroma tubuh oppa benar-benar membuat ku mual. "Rose menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Ia melarang jimin mendekat.
Jimin sedikit tak menggubris. Ia maju satu langkah namun setelahnya rose kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Keluar dengan wajah pucat membuat jimin semakin panik.
"Oppa..."
__ADS_1
Rose mendekati jimin. Ia memeluk tubuh jimin erat, sungguh aneh baru 2 menit yang lalu rose menyuruhnya untuk menjaga jarak namun rose sendiri yang mendekatinya dan memeluk tubuhnya.
"Kenapa sayang? Jangan menangis, oppa tak sanggup melihatnya. "Jimin mengusap sisa air mata rose dengan ibu jarinya.
"Perutku sakit. Rasanya menyiksa. "Adu rose.
"Kita ke dokter ya. "
Tanpa aba-aba jimin langsung menggendong tubuh rose seperti ayah yang tengah menggendong anaknya. Dada mereka saling bertubrukan. Rose menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher jimin.
Hal itu tentu saja tak lepas dari pandangan beberapa penghuni mansion. Salah satunya seorang wanita yang tengah mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tak bisa tinggal diam sekarang. Aku harus bertindak lebih cepat. "
Kini jimin tengah berada diruangan milik rose diperiksa. Sendari tadi ia terus jalan bolak-balik saking khawatirnya.jimin langsung mendatangi dokter saat melihat pintu terbuka.
"Apa anda suaminya? "
"Iya dok saya suaminya. "Ucap jimin sedikit dusta, toh dia juga bakal nikah sama rose.
"Dokter itu tersenyum "selamat istri anda tengah mengandung. Usia nya masih 1 minggu. "
Dunia jimin seakan terhenti. Senyuman lebar serta rasa senang tak bisa ia bendung lagi. Jimin langsung memeluk sang dokter sambil mengucapkan terimakasih. Lalu ia segera masuk menemui rose yang menatap jimin bingung.
"Aku kenapa oppa? Kenapa wajah oppa terlihat sangat senang. "
Jimin langsung memeluk rose erat. Rose semakin dibuat bingung saat jimin menangis, rose mengelus-elus punggung jimin. Untuk menenangkan nya.
Jimin melepaskan pelukannya. Ia mengecup seluruh permukaan wajah rose. Berakhir lama dibibir candu rose.
"Kamu tau sekarang ada malaikat kecil yang bakal tubuh ditubuh mu sayang. "
Rose terdiam sejenak. Mencoba mencerna ucapan jimin. Seketika mata rose melebar, ia menatap jimin seolah meminta untuk membenarkan apa isi kepalanya.
Jimin yang paham pun menggangguk. Membuat rose menangis haru. Jimin kembali menarik rose kedalam pelukannya.
"Makasih oppa. "Ucap rose dengan isaknya.
"Ani.. Harusnya oppa yang berterimakasih padamu, terimakasih sayang. Aku mencintaimu. "
"Nado oppa. "
Saat itu juga jimin menelepon sekertaris pribadinya untuk mengadakan perayaan dimension nya. Ia juga menyuruh sekertaris unruk menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga rose. Tak lupa ia juga menyuruh para maid untuk memasak makanan yang sehat.
"Sekarang kita pulang. Aku tak ingin kau kelelahan. "
Rose mengangguk.jimin langsung mengendong rose ala bridal style. Ia bahkan tak memperdulikan orang-orang yang melihatnya. Toh.. Ia melakukan hal ini agar rose tidak kelelahan.
Sedangkan di mansion jimin. Para maid tengah bolak-balik menyiapkan banyak hal seperti perintah sekertaris tuan mudanya.
Mina yang baru keluar dari kamarnya dibuat bingung saat semua maid begitu keras dan bersemangat mengerjakan pekerjaan mereka. Ada karangan bunga Mawar khas pernikahan ada disana.
"Bi.. Ada apa ini? Kenapa bibi dan maid lain tampak senang? "Tanya mina.
"Ya tuhan mina, kau tidak tahu kalau noona rose tengah mengandung. "
Mina membeku.
"Hei... Sekarang waktunya bekerja. Kita harus menyiapkan banyak hal untuk noona rose. Ini adalah anugrah. "Ucap maid itu sembari melanjutkan pekerjaannya.
Mina masuk kembali kedalam kamarnya. Ia mengunci pintu lalu membanting apapun yang ada disekitarnya.
"Akhhh.... Sialan, anak sialan.kau dan ibumu sama saja, kalian menggagalkan rencana yang sudah ku susun sedemikian rupa kau hancurkan. "
Mina ingin sekali mengutuk anak dalam kandungan rose karena telah menggagalkan rencananya.
Rencana mina adalah ia ingin memasukkan ****** milik jimin kerahimnya. Walau mereka tak melalukan nya sekalipun. Namun semuanya gagal hanya karena rose diberitakan mengandung.
Mina ambruk ia menangis meraung-raung karena sakit dihatinya.
"Jika bermain bersembunyi tetap gagal. Maka aku akan bermain secara terang-terangan. "Ucap mina dengan tangan terkepal.
Seluruh maid membungkuk hormat saat melihat jimin berjalan masuk dengan rose yang berada digendongannya. Semua hal itu pun tak lepas dari tatapan mina. Di hanya dapat menampilkan senyum paksanya.
"Apa makanan sudah siap? "
"Sudah tuan. "Ucap kepala maid.
"Bawakan kemarku. Siapkan juga buah-buahan untuk wanita-ku dan calon anakku. "Ucap jimin datar.
Setelahnya jimin memasuki lift untuk menuju kamarnya dan rose.
Semua maid langsung melakukan apa yang jimin perintahkan. Awalnya maid bernama risa lah yang hendak menghantarkan makanan namun mina lebih dulu menghalangi nya dan bersedia mengantarkan makanan itu. Risa pun memberikan makanan itu pada mina.
Mina tersenyum miring. Ia menaiki anak tangga, karena lift hanya dapat digunakan oleh rose dan juga jimin. Dalam perjalanan mina berhenti sejenak. Ia mengambil botol kecil yang berisi cairan. Memasukkan nya kedalam sup ayam yang akan dikonsumsi oleh rose.
"Kalian berdua akan mati, noona rose dan anak sialan.dan saat kalian pergi akulah yang akan menjadi nyonya disini ."
Setelah itu mina kembali melanjutkan jalannya. Mina mengetuk pintu kamar jimin. Memasuki kamar saat suara jimin menyuruh nya untuk masuk. Mina sedikit mengeram saat melihat jimin yang berada diatas rose.
"Ini makanan untuk anda noona. "Ucap mina ramah.
"Taruh disini."mina menurut. Ia menaruhnya diatas nakas.
"Kau boleh pergi. "Ucap rose.
Mina hendak berbalik. Namun jimin menghalaunya.
"Kau diam disini. Tunggu rose selesai makan. "Ucap jimin datar.
Mina kembali menurut ia berdiri disamping nakas. Mina melihat semuanya, dimana jimin mengambil nasi goreng dan menyuapi rose dengan telaten. Hatinya dibuat memanas lagi.
Saat itu pula jimin menarik sup ayam. Mina bersmirk ia akan melihat jelas bagaimana rose keracunan dan tewas.
Namun harapannya pupus.
"Oppa aku tak suka sup ayam. Aku ingin buah-buahan saja. "
Shitt...
Mina mengumpat dalam hati. Ia sungguh marah, kenapa rencananya selalu gagal.
__ADS_1
Dan saat rose tengah memakan buah-buahan.mina langsung maju dan menampar pipi rose.
PLAKK....
"sialan. Kau selalu menghancurkan rencanaku. Harusnya kau mati saat ini. "Ucap mina dengan amarah.
Disana rose memegang pipinya yang terasa sedikit panas. Tapi rose tak meringis, ia malah ber smirk.
Mina hendak menampar rose lagi namun dengan cepat jimin mencekik leher mina.
"Dasar maid tak tau diri. "Ucap jimin.
Mina menggengam tangan jimin yang tengah mencekiknya.
"Aku seperti ini karena aku mencintaimu tuan. Kau harusnya bersamaku, tidak bersama ****** sialan itu. "Dengan nafas tersegel mina masih berani mengucapkan kata-kata itu.
"Kau menyebut wanitaku ******. Kau bahkan lebih ****** dari wanitaku sialan. "
Jimin membanting tubuh mina. Mina memekik keras saat tubuhnya menghantam lantai, rasanya sangat sakit tulang nya seakan patah.
Mina menangis isak. Ia menyeret kakinya mendekati jimin. Memegang kaki jimin.
"Kumohon nikahi aku. Aku mencintaimu jimin, aku rela menjadi yang kedua. "
Mina kembali memekik saat jimin menendang wajah nya.
"Kau benar-benar tak tau diri. "
Jimin hendak menampar mina. Namun terhalangi oleh ucapan rose.
"Hentikan oppa. "
Rose berjalan mendekat. Ia menatap mina. Mina sempat berfikir bahwa rose akan merasa iba padanya, dan suka rela menyerahkan jimin padanya.nyatanya salah, harapan mina kembali pupus saat tiba-tiba rose melempar nya dengan sangat keras.
PLAKKK...
"ini tamparan untukmu karena kau telah menamparku. "
PLAKK..
"Ini tamparan untuk mu karena telah berniat meracuni ku dan anakku. "
PLAKKK...
"Ini tamparan karena kau berniat merebut jimin dari ku. "
PLAKK..
"Dan ini tamparan untuk yang tidak tau diri. "
Terakhir rose menendang kepala mina hingga membentur tembok.
"Kurasa kebaikan ku padamu dianggap angin lalu. Aku tak sepolos yang kau lihat mina. Aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga. "
"Awalnya aku ingin bermain-main dengan membuatmu semakin tergila-gila kepada jimin. Tapi sepertinya tak jadi, aku harus segera membunuh mu. "
Rose mengambil sup ayam yang berisi racun ia. Ia menyeramkan nya kepada mina.
Mina meringis merasa panas ditubuhnya.
"Ini balasan untuk mu yang telah membuat kakiku melepuh. "
Rose mengambil sesuatu dibalim bajunya. Mina dibuat terkejut saat rose ber smirk dengan menatap benda api itu.
"Kau tau ini. Ini adalah benda kesayangan ku. Aku bisa menggunakan nya untuk membunuh siapapun yang berani mengambil jimin dariku. Dan kau mungkin akan menjadi salah satunya. "Ucap rose.
Disana mina sudah menangis ketakutan. Ia hendak meminta tolong kepada jimin. Namun tak dihiraukan. Jimin malah anteng duduk diatas ranjang melihat rose yang tengah menyiksa mina.
"Maafkan aku noona. Maafkan aku, aku janji tidak akan melakukan nya lagi. "
Tak ada yang bisa mina lakukan sekarang. Ia hanya dapat memohon untuk tetap bisa hidup.
"Kau pikiran aku baik. Aku tak akan melepaskan mu. Kau harus mati, ******. "
Rose menempatkan pistol kesayangan dikepala mina.
"Ada kata-kata terakhir hmm? "
Dan lagi. Tanpa tahu dirinya lagi mina menatap rose tajam.
"Aku tidak takut padamu. Aku akan merebut jim----akhhhhh... "
Dorr...
Kepala mina pecah dengan darah yang keluar hingga mengenai rose.
"Menyebalkan. "Ucap rose.
Rose membuat pistol itu. Ia berjalan kearah jimin.
"Lihat oppa dia menodai bajuku. Darahnya begitu kotor seperti orangnya. "Ucap rose dengan cemberut.
Jimin terkekeh "sini sayang. "
Rose menurut ia duduk dipangkuan jimin.
"Harus ku apakan mayat wanita itu? "
"Bakar. "
Jimin kembali terkekeh.
"Oke, aku akan menyuruh bodyguard untuk membakar mayat itu. Sekarang kita keluar. "
"Kemana? "
Jimin mendekatkan wajahnya "ketempat yang spesial untuk mu. "
Wajah rose merona. Ia mengangguk setuju.
Jimin kembali menggendong tubuh rose. Ia berhenti sejenak didepan mayat mina.
__ADS_1
"Selamat tersiksa dineraka,******."
BERSAMBUNG...