
Update...
Suara decitan brankar rumah sakit menjadi saksi jatuhnya puluhan air mata dari mata seulgi. Ia bahkan tak memperdulikan sekujur tubuhnya yang kini dipenuhi oleh bekas luka. Seulgi benar-benar tak mempedulikan nya, yang ia pikiran sekarang adalah keselamatan rose.
Brankar itu memasuki ruangan UGD membuat seulgi dan jaehyun harus berhenti karena dilarang masuk.
"Kumohon selamat dia dan juga anaknya. "Ucap seulgi berderai air mata.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. "
Pintu ruang UGD tertutup rapat. Seulgi berusaha mengintip dari keca kecil disana. Namun sayang nya ia tak dapat melihat apapun.
"Rose pasti akan selamat dan juga bayinya. "Jaehyun mengelus bahu seulgi.
Seulgi mendudukan dirinya dibangku tunggu. Ia menutup mulutnya, tangisnya kembali pecah. Hingga dari arah lain, suaminya chen datang.
"Yatuhan seulgi. "
Chen berlari kearah seulgi.
"Kenapa kau terluka. Kau sudah berjanji bukan. "Ucap chen marah.
Seulgi terdiam. Ia malah semakin terisak hebat, membuat chen menarik tubuh wanita itu agar berada di dekapannya.
"Jangan menangis. "
Chen menghapus air mata seulgi dengan ibu jarinya.
"Sekarang kita obati luka mu, oke. "Seulgi mengangguk.
Ia memerintahkan jaehyun agar menunggu rose. Jaehyun pun hanya mengiyakan, karena tanpa disuruh sekalipun jaehyun akan tetap melakukannya.
Disini lah seulgi dan chen berada diruang pengobatan ringan. Chen dengan hati-hati mengoles alkohol di luka seulgi. Membuat seulgi meringis kesakitan.
"Kau melanggar janjimu. "
Seulgi terdiam. Chen berbicara dengan nada datar padanya. Tapi, lelaki itu tetap mengobati lukanya dengan telaten.
"Sudah ku bilang. Kita bisa menyelamatkan rose dengan cara lain. Dan kau lihat sekarang kau terluka dna rose juga terluka. "Chen membereskan obat-obatan itu. Menaruhnya lagi kedalam kotak P3K.
"Kau tau. "Seulgi akhirnya angkat bicara.
"Jika saja aku tak melakukan hal tadi. Jimin akan benar-benar membuat rose kehilangan ingatan nya. "
Kali ini chen yang terdiam.
"Maksudmu? "
"Aku mengetahui satu hal. Didalam makan rose, jimin mencampurkan obat penghilang ingatan. Bahkan disusu ibu hamil pun jimin menambahkan nya. Beruntungnya, rose tak pernah menyentuh makanannya. "Jelas seulgi.
"Dari mana kau tau? "
"Karena aku memasang alat penyadap dikamar rose maupun diruang kerja jimin. "
Chen membelalak kan matanya. Ia sungguh tak percaya seulgi melakukan semuanya dengan matang.
"Jika aku tak datang tadi. Mungkin saja sekarang rose tak akan ada dikorea. Karena jimin akan membawa rose ke paris. "Ucap seulgi lagi.
Chen menghembus nafas lega. Meski ia sedikit marah karena seulgi begitu nekat melakukan semuanya.
"Jadi langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya? "
__ADS_1
"Aku belum tahu oppa. Tapi aku berencana untuk membuat ingat rose kembali. Kalau tidak kita bawa rose ke new zealand. "
"Rose pasti akan keberatan sayang. "Ucap chen.
"Rose tidak akan keberatan jika ia mengetahui bahwa dirinya memiliki keluarga lain. "Ucap seulgi.
"Kau ingin membongkar nya sekarang? "
Seulgi mengangguk.
"Aku sudah cukup lelah berpura-pura tidak mengenal rose oppa. Ada aku juga ingin segera bertemu wandy, aku merindukan nya. "
"Baiklah jika itu kemauan mu. "
"Tapi ada satu hal yang mengganjal dihatiku sayang. "
"Apa? "
"Rose tengah mengandung. Kita akan berdosa jika memisahkan ayah dan anaknya. Apalagi jimin memang mencintai rose. "
Ya, sekejam apapun jimin. Bagi chen jimin tetap manusia biasa yang pasti akan terluka jika berpisah dengan anaknya dan wanitanya. Chen tak setega itu.
"Bagiamana jika anak rose menganggap jaehyun adalah ayahnya. "Lanjut chen.
"Itu lebih baik oppa. Setidaknya jaehyun dapat menembus semua kesalahan nya. Meski ia harus merasakan sakit karena tak dapat memiliki rose. "
--------------
Botol wine dimana-mana. Putung rokok berserakan memenuhi lantai itu. Lelaki itu mengerang dengan tangisan. Bahkan ada beberapa nod adalah yang berceceran dilantai.
Jimin benar-benar hancur.
"Aku tidak melakukannya. Aku tidak menyakiti wanitaku. "Jimin terkekeh sembari meminum botol wine, tapi setelahnya ia malah menangis meraung-raung.
"Hiks.. Rose maafkan aku."
Ya, begitulah keadaannya.
Jika kalian bertanya apa jimin mencari rose. Mungkin jawaban yang tepat adalah tidak. Karena jimin beranggapan bahwa rose akan pulang dengan sendirinya. Iya, jimin percaya bahwa rosenya akan pulang.
"Bedebah... Kau seulgi aku akan membunuh. "Ucap jimin dengan meninjau lantai.
Kekehan jimin datang lagi. Jimin mengambil rokok nya lagi menghidupkan korek api. Dan menghisap rokoknya.
"Rose ku akan pulang. Dia tidak mungkin betah meninggalkan ku. "Ucap jimin dengan senyuman kosong.
Ia benar-benar gila sekarang.
Jimin tak bergeming saat pintu kamarnya terbuka. Disana nampak nanar lisa dna juga suaminya jungkook.
"Astaga.. Oppa. "
Lisa berlari kecil menghampiri jimin yang terduduk dilantai dengan pandangan kosong. Kekehan demi kekehan keluar dari mulut jimin.
"Oppa kau kenapa? Ada apa ini? Dimana rose? "
Bukannya mendapatkan jawaban dari jimin. Lisa malah dibuat terkejut karena jimin memeluknya dengan menangis pedih.
"Aku melukainya lisa hiks... Aku melukainya. "
Lisa membalas pelukan jimin, mengelus bahu itu naik turun. Jungkook yang berada dibelakang hanya dapat menghentak-hentakan kakinya dengan wajah ditekuk.
__ADS_1
"Jelaskan apa yang terjadi oppa. "
Lagi-lagi tak ada jawaban dari lelaki park itu. Jimin masih menangis pilu di dekapan lalisa.
"Lebih baik aku tanya pada maid saja. "
Niatnya lisa kesini untuk menyampaikan kabar bahagianya, bahwa dirinya kini tengah mengandung. Tapi, melihat kondisi jimin sekarang membuat lisa mengurungkan niatnya.
"Oppa pindah ke kasur saja. Lebih baik oppa tidur. "
Jungkook dan lisa membantu jimin untuk bangun. Berniat memindahkan jimin keatas ranjang.
Lisa menarik selimut sebatas leher itu. Mengelus pipi sepupunya.
"Kookie.. "
"Ya. "
"Tolong perintahkan anak buah oppa untuk mencari rose. Aku rasa ada kejadian buruk dirumah ini. "Ucap lisa dengan penuh keseriusan.
"Oke siap bunda. "Jungkook menaruh tanganya dikening. Memberikan hormat kepada lalisa.
Lisa hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.
----
"Bagiamana keadaan rose dok? "
Baru saja dokter keluar dari ruang UGD. seulgi sudah langsung menghujami dokter itu dengan banyak pertanyaan.
"Sabar sayang. "Ucap chen.
"Syukurlah Noona rose baik-baik saja. Janinya sungguh kuat padahal darah dari air ketuban hampir pecah. Tapi janinnya dapat bertahan. "Ucap dokter itu.
Seulgi menghela nafas lega. Ia tersenyum senang. Dokter itu pamit undur diri.
"Syukurlah rose baik-baik saja. "Ucap jaehyun.
"Ya, rose adalah wanita yang kuat. "Ucap chen tak kalah senang.
"Jaehyun tolong siapkan jet pribadi menuju new zealand. "Ucap seulgi.
Dahi jaehyun mengkerut, ia kebingungan dengan ucapan seulgi "untuk apa? "
"Kita akan membawa rose pergi dari korea. "
"Apa! "
"Pelan kan suaramu bodoh. "Ucap chen.
Jaehyun mengangguk "apa noona akan membawa rose ke new zealand? "
Seulgi mengangguk.
"Siapkan saja semuanya. Jangan banyak bertanya. "
Seulgi membuka pintu UGD meninggal jaehyun yang kini ingin menghujaminya dengan banyak pertanyaan.
"Oma pasti akan senang bertemu dengan rose. "
Bersambung....
__ADS_1