
Update.
Sudah lebih dari 3 hari rose dikurung dalam kamar dengan tangan dan kaki yang dirantai. Selama 3 hari ini rose melupakan segalanya. Pikirannya kosong, mata sembab karena terus menangis tanpa henti.
Rantai ditangan dan kakinya hanya akan dilepas ketika ia hendak ke kamar mandi saja. Itu pun ia harus siapa dengan beberapa orang yang mengawasi menggunakan senjata.
Berjaga-jaga agar rose tak kabur.
3 hari itu rose tak pernah menyentuh makanannya sedikitpun. Membuat jimin resah karena kesehatan rose yang mulai menurun. Ia begitu menghawatirkan wanitanya dan juga anaknya.
Kini jimin datang lagi ke kamar dimana rose di kurung.mambawa nampan berisi makan, berniat untuk membujuk wanita itu agar makan. Hatinya kembali sesak melihat bagaimana rose yang terdiam melamun. Seperti manusia tanpa jiwa.
Suara dentingan tak membuat lamunan rose buyar. Rose bahkan tak menolak ataupun menoleh saat jimin menyentuh pipinya.
"Baby, ayo makan. "
Tak ada jawaban dari sang empu.
Jimin menunduk dalam. Rasa sesak kembali menghampiri dirinya saat melihat air mata rose yang kembali jatuh. Dari mata hitamnya. Bibirnya pucat pasi karena tak merasakan segarnya air.
"Rose. "Panggil jimin lemah.
Masih tak ada jawaban. Jimin tersenyum miris, ia menggapai tangan rose yang terikat oleh rantai. Mengelus tangan dingin itu. Mengecupnya singkat.
"Aku tau kau kecewa.jika tak ingin berbicara padaku atau melihat ku tak apa. Tapi setidaknya kamu harus makan. Kasian baby park, dia pasti kelaparan. "
Hening. Rose tak menjawabnya lagi. Membuat jimin dibuat sedih olehnya. Jimin mendekatkan wajahnya, sekedar mengecup kening rose. Rose masih terdiam tak bergeming.
Jimin menghela nafas pasrah. Ia bangkit dari duduknya dan pergi dari kamar itu. Meninggal rose yang menatap lurus ke depan.
"Tak dipungkiri jika sekarang hanya ada rasa benci di hatiku. Mungkin aku akan berhenti mencintai mu. "Gumam rose.
•
•
•
"Oppa,kumohon ijinkan aku."
"Tidak sayang,aku tak mungkin rela menjadikan mu umpan untuk menyelamatkan rose. "
Wajah seulgi cemberut. Ia benar-benar memohon kepada suaminya, chen. Untuk membantu membebaskan rose dengan cara ia yang menjadi umpannya.
Seulgi terus membujuk chen suaminya dengan segala janji.
"Aku bilang tidak ya tidak. Kau tahu kan kalo sekarang kita menjadi buronan jimin. "Chen memegang bahu seulgi.
Seulgi menghela nafas kecil "aku tau, tapi ini salah satu cara yang ampuh untuk menyelamatkan rose, oppa. A-aku hanya ingin membalas Budi pada keluarga rose. "Ucap seulgi lirih.
Chen mengelus bahu istrinya.
"Aku tau, keluarga rose memang sudah baik pada keluargamu. Tapi, menjadikan mu umpan untuk menyelamatkan rose itu salah, sayang. Kau tau kan seperti apa jimin. "Ucap chen.
"Oppa kali ini saja. Aku sudah memiliki rencana. "Ucap seulgi.
"Apa? "
"Jaehyun. "
Dahi chen mengernyit "jaehyun? "
Seulgi mengangguk "jaehyun adalah teman masa kecil ku dan rose dan jaehyun juga. Jaehyun sangat menyayangi rose sejak kami duduk di bangku SD. Hingga jaehyun harus pergi ke Spanyol karena keluarganya tugas disana. Dan terakhir aku meninggal rose karena aku harus ikut dengan nenek ku. "Jelas seulgi.
"Jaehyun akan membantu untuk membawa rose pergi. Dia mencintai rose. "Lanjut seulgi.
Chen dibuat bingung.ia sungguh takut dengan kemungkinan yang terjadi, sudah 3 hari ini dirinya dan seulgi dicari-cari oleh anak buah jimin.
"Aku akan baik-baik saja. "Yakin seulgi.
Dengan berat hari chen mengangguk.
"Baiklah. Tapi, kau harus berjanji tidak akan terluka sama sekali. "
"Aku berjanji. "Ucap seulgi dengan senyum manis. Chen dengan senang hati membalas senyuman dari sang istri.
"Aku pergi ya. "
Sebelum seulgi pergi. Chen sempat menarik tangan seulgi untuk mengecup bibir wanita itu singkat. Setelahnya mengecup lembut kening sang istri.
Seulgi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia akhirnya pergi dari rumah dengan rasa bersalah.
"Maaf jika aku tak bisa menepati janjiku untuk pulang tanpa luka. Jimin tak akan mungkin untuk tidak melukai orang yang membuat nya kesal. Aku mungkin akan menerima puluhan cambukan darinya. "Batin seulgi dalam hati.
Seulgi tentu tau bahwa monster seperti jimin tak akan membiarkan mangsanya bahagia tanpa luka. Cara terbaik bagi jimin ada mencambuk mangsanya ratusan kali. Lalu setelahnya jimin akan menggores luka cambuk itu dengan belati yang berkarat dan yang terakhir adalah menembak mangsanya tepat di kepala.
Bagaimana seulgi bisa tau? Tentu saja dari wendy andik nya. Sewaktu menjadi budak sex jimin. Wendy sering sekali mendapatkan cambukan hanya kerena kesalahan kecil. Wendy sering sekali mendapatkan goresan ditubuhnya hanya karena salah mengerjakan tugas dari jimin.
Wendy terlalu bodoh karena masih bertahan. Padahal ia tahu bahwa jimin hanya menganggap nya budak sex. Tak lebih.
------
Jimin kini tengah berada di ruangan kerja miliknya. Kepalanya ia sandarkan kepada kepala kursi. Begitu banyak yang ia pikirkan sekarang, salah satunya adalah bagaimana meminta maaf pada wanitanya, rose .
Saat tengah memikirkan nya. Tiba-tiba saja salah satu anak buah jimin membuka pintu tanpa mengetuk. Membuat jimin kesal setelah mati.
__ADS_1
"Mau mati kau. "Desis jimin.
Anak buah jimin menunduk takut.
"Maafkan saya tuan. Tapi ini kabar penting. Wanita yang sedang anda cari kini berada didepan mansion. "
Jimin seketika bangkit dari kursi besarnya. Dengan langkah besar ia keluar dari ruangan diikut oleh anak buahnya itu.
Senyum evil terbit di wajah jimin saat melihat seulgi yang tengah terduduk dilantai dengan tangan yang di ikat.
Jimin mendekati seulgi.
PLAKK...
Tamparan itu menjadi suara terkeras diruang tamu mansion jimin. Keadaan sunyi karena maid dan anak buah jimin menutup mulut mereka rapat-rapat.
Seulgi terjatuh kelantai. Pipinya sobek dan mengeluarkan darah. Tamparan jimin tak main-main.
"Wow.. Kang seulgi, kau benar-benar sudah pasrah rupanya. Dengan suka rela kau datang ke mansion ku untuk menyerahkan nyawamu. Bagus-bagus aku tak perlu mencari mu. "
"Dan mungkin aku tak perlu suami mu itu. Ah.. Lebih Bagus lagi aku akan menghadiahkan mayat mu pada suamimu. "Lanjut jimin dengan tawa menggelegar.
Seulgi sama sekali tak gentar. Ia malah menyinggung senyum remeh.
"Kau tau park jimin. Aku tidak takut mati sama sekali, aku bahkan tidak takut padamu. "
Rahang jimin mengeras mendengar nada remeh wanita itu.
"Berikan cambuk ku. "Perintah jimin tanpa mengalihkan tatapannya dari seulgi.
Anak buah jimin memberikan cambukan itu. Jimin dengan senang hati menerimanya.
"Kurasa, aku tak akan membunuhmu di ruangan bawah tanah. Sepertinya penyiksaan secara live sangat menyenangkan. "Ucap jimin dnegan menatap cambuknya.
"Ingin berapa cambukan 100 atau 200?"
Seulgi tersenyum sinis "seribu cambukan pun aku terima. Dan setelahnya aku yakin rose akan benar-benar membencimu. "
Ctarrrr...
Satu cambukan keras melayang tepat ke tangan kanan seulgi. Seulgi meringis perih. Kulit nya terasa terbakar.
Tanpa orang bawah sadari. Lelaki berpakaian serba hitam berada di atas. Dan tepat berada kamar rose.
Lelaki itu membuka pintu kamar rose dnegan hati-hati. Bola mata lelaki itu memanas melihat teman masa kecilnya terikat oleh rantai.
Lelaki itu mendekat. Menepuk pipi rose sekilas.
Rose menengok. Dahinya mengerut.
"Aku jaehyun. "

"Jaehyun? "Beo rose.
Jaehyun mengangguk.
"Untuk saat ini simpan pertanyaan mu dulu. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini. "Ucap jaehyun dengan melepaskan rantai pada tubuh rose.
Rose hendak bangkit namun tubuhnya terasa lemas luar biasa.
Tanpa babibu jaehyun langsung mengangkat tubuh rose ala bridal style. Membawa rose keluar dari kamar itu.
Saat diluar rose dapat mendengar sayup-sayup wanita yang meringis kesakitan. Ia seperti mengenali suara itu.
"Siapa yang meringis kesakitan ?"tanya rose.
Jaehyun mencoba menajamkan pendengarannya. Matanya seketika membulat.
"Ya tuhan seulgi. "
Mata rose ikut membulat. Jadi, seulgi datang kemari untuk mengalihkan perhatian jimin.
"Turunkan aku.aku harus melindungi seulgi. "Ucap rose.
"Tidak, aku harus selamat. Soal seulgi aku yang akan mengurusnya. "Tolak jaehyun.
"Kau tidak tau seperti apa jimin. Seulgi bisa mati, aku tak mungkin membiarkan orang yang sudah berkorban untuk ku pergi. "
Dengan pemberontak kan nya. Rose berhasil lepas dari jaehyun. Ia berlari menuju lift. Jaehyun tentu saja tak tinggal diam, ia mengejar rose. Namun terlambat karena pintu lift yang sudah tertutup. Mengharuskan ia menuruni tangga 4 tingkat itu.
Tubuh seulgi sudah dipenuhi dengan garis merah yang mengeluarkan darah. Mata seulgi memerah menahan tangis, sungguh rasanya menyakitkan.
Disana jimin tersenyum senang. Membuang cambuk miliknya.
"Bagiamana? Apa kurang? "
"Bagaimana jika aku tambahan goresan pisau di wajahmu itu. Agar terlihat semakin cantik. "
Jimin berjalan kearah anak buahnya yang telah menyiapkan pisau berkarat. Jimin menatap pisau itu.
"Ini menyerah noona? "
Seulgi menatap jimin tajam.
__ADS_1
"Kau tau tuan park. Aku tak akan menyerah, lakukan saja. Aku tak takut. "
Jimin semakin dibuat geram. Ia menghampiri seulgi. Berniat menyayat leher wanita itu.
"HENTIKAN... "
Semua mata menoleh kearah lift termasuk seulgi dan juga jimin.
Disana rose menutup mulutnya tak percaya. Ia menatap sendu seulgi, seulgi telah berkorban demi dirinya. Tapi, setelahnya rose menatap tajam jimin.
Seulgi ikut terkejut melihat rose. Bagaimana bisa rose berada disini. Harusnya rose sudah kabur dengan jaehyun.
"Rose pergi. Kenapa kau masih berada disini, go away rose. "Teriak seulgi.
Rose menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berlari hendak menolong seulgi. Namun, tangannya langsung ditarik paksa oleh jimin.
"Jangan dekati dia. "Ucap jimin.
"Lepaskan aku ********. "Rose menepis tangan jimin kasar. Rose benar-benar semakin membenci lelaki dihadapan nya itu.
"Aku menyesal mengenalmu. "
Jimin membeku.
Rose kembali hendak menolong seulgi. Tapi lagi-lagi jimin menarik tangannya, kali ini lebih kasar.
"Sudah ku bilang jangan dekati dia. "Bentak jimin.
Rose lagi-lagi menepis tangan jimin. Membuat jimin semakin geram. Rose tak memperdulikan nya. Ia benar-benar membenci jimin.
Jimin kembali menarik tangan rose ketika rose mendekati seulgi. Tubuh rose terhempas karena tarikan kuat jimin. Membuatnya jatuh dengan keras menabrak tanah.
"ROSEEE... "Teriak seulgi.
Seulgi sekuat tenaga mencoba melepaskan ikatan di tangannya. Saat berhasil seulgi langsung menghampiri rose yang tergeletak di lantai.
"Tidak... Rose bertahan, bertahan rose. "Ucap seulgi dengan menepuk pipi rose.
"Eonnie perutku sakit sekali. "Ucap rose.
Seulgi menatap perut rose. Matanya membelalak saat saat melihat darah di kaki rose.
"Tidak.. Tidak. "
"Eonnie aku lelah, Aku ingin tidur. Ini sakit sekali. "Ucap rose dengan wajah pucatnya.
Seulgi menggeleng.
"Jangan tutup matamu rose. Berjanji padaku, berjanji padaku jika kau tidak akan meninggalkan ku. Berjanji padaku. "Ucap seulgi.
"Eonnie ak--" mata rose terpejam. Tubuh rose melemas seketika.
Seulgi berteriak kencang. Ia menggoyang kan tubuh rose.
Setelah seulgi menatap kearah jimin yang terdiam membeku.
"Sialan, kau ********. Aku akan membunuh mu park jimin. "
Seulgi mengambil cambuk yang tergeletak di lantai. Mengarahkan cambuk itu pada jimin. Hingga mengenai wajah lelaki itu.
"********,kau telah melukai rose. Kau tak pantas hidup. "Ucap seulgi.
"ASTAGA ROSE. "
Dari arah tangga jaehyun berlari kencang kearah rose yang sudah tergeletak.
"Rose bangun. "Jaehyun menepuk-nepuk pipi rose.
"Rose bangun.. "Teriak jaehyun.
Seulgi membuang cambuk itu. Menghampiri jaehyun.
"Jaehyun ayo cepat kita harus kerumah sakit. "Ucap seulgi dengan tangsinya.
Jaehyun dengan cepat menggendong tubuh rose. Berlari keluar dari mansion jimin.
Disana jimin masih terdiam membeku. Ia menatap tangan kirinya sendiri. Ia tak percaya bahwa dirinya melukai rose berserta anaknya.
Mata jimin memanas saat melihat darah milik rose di lantai mansionnya.
"Tidak... Aku tidka mungkin melukai wanitaku. Tidak.. Itu bukan aku, rose. "
Jimin langsung berlari keluar mengejar jaehyun dan seulgi yang membawa rosenya pergi.
Tapi terlambat. Mobil jaehyun sudah lebih dulu melaju kencang meninggalkan mansion jimin.
Jimin terjatuh bersimpuh. Ia menangis keras mengingat bagaimana wajah sakit Rose, melihat darah yang keluar dari kewanitaan wanita nya.
Jimin masih tak percaya bahwa ia yang melukai wanita nya.
"Itu bukan aku. Aku tidak mungkin melukai roseku. Benar bukan itu bukan aku. "Ucap jimin dengan kekehnya. Tapi setelahnya ia malah menangis meraung-raung dengan meninju tanah. Membuat tangannya tergores oleh kerikil tajam.
"Maafkan aku rose hiks... "
BERSAMBUNG...
__ADS_1