
Update...
Derap langkah kaki menjadi saksi bagaimana sunyi nya tempat itu. Lelaki dengan pakaian serba hitam berjalan mengendap-endap memasuki ruangan khusus sang pujaan hati.
Ya. Jimin dengan hati-hati mencoba menerobos keamanan mansion milik lisa. Tempat dimana rose berada.
Memang setelah lisa menemukan rose,lisa tak membawa rose kehadiran jimin. Lisa memiliki alasan kuat untuk itu. Mengingat rose yang telah pulih dari amnesia nya. Membuat lisa yakin rose tak akan mungkin menerima jimin semudah itu. Apalagi dengan kejadian beberapa hari yang lalu, dimana rose disekap dengan tubuh yang dirantai.
"Aku datang sayang. "
Jimin adalah mafia yang egois, tentu saja ia akan merebut apapun yang sudah menjadi miliknya. Jimin bahkan tak berfikir kelakuan nya saat ini akan mengakibatkan dampak buruk dimasa yang akan datang.
Sedangkan di ruangan tersembunyi. Rose tengah tersenyum hangat sembari mengelus-elus perutnya yang kini semakin membesar. Lisa begitu memperhatikan nya, memberi apapun kebutuhan nya. Bahkan dengan sukarela lisa dan jungkook membuatkan sepetak lahan di balkon kamar agar rose dapat menanam bunga Mawar.
"Hey sayang, sekarang waktunya mendengarkan lagu. "
Rose mengambil handphone yang lisa berikan padanya. Menyalakan salah satu lagu favorit nya.
'Promise '
Menempelkan handphone itu di atas perutnya. Rose memejamkan mata, mengikuti alunan musik yang melantun indah ditelinga nya.
Rose tak sadar, bahwa di depan pintu sana seorang dengan pakaian serba hitam mengawasinya dengan smirk yang tercetak mengerikan di bibirnya.
Rose membuka matanya saat merasakan bahwa dirinya tengah diawasi. Ia menatap kesekeliling kamar. Memastikan bahwa dugaannya benar.
Tapi sayangnya rose tak melihat apapun. Hingga ia kembali memejamkan matanya. Berusaha untuk berfikir positif.
Namun yang terjadi selanjutnya membuat rose menjerit takut. Ia melihat sosok yang sangat ia hindari datang dengan pakaian serba hitamnya, dan jangan lupakan smirk yang tercetak jelas di bibirnya.
"Aku datang sayang. "
Rose menggelengkan kepalanya. Ia yakin bahwa ia hanya berhalusinasi.tapi sayang nya sosok itu tak pernah hilang dari penglihatan nya.
"Pergi... "
Jimin tak mendengarkan nya, ia terus berjalan mendekat.
"Kumohon pergi. "
Rose melempar jimin menggunakan ponsel. Tapi tak mengenai lelaki itu.
"Kau begitu membenciku? Bukankah kau sangat mencintai ku rose. "
Rose menutup telinganya. Ia benar-benar tak ingin mendengar suara lelaki itu, bayangan dimana ia membunuh mina dan juga ****** yang pernah menyentuh jimin berputar di kepalanya.
"Aku tidak mencintai mu. "Rose berteriak.
Di sana jimin mengeram marah. Sifat beringas nya bangkit begitu saja, padahal sifat buruknya itu sudah terpendam rapat.
Dengan kuat jimin menarik tangan rose yang hampir jatuh dari ranjang karena beringsut mundur.
Rose memberontak tarikan jimin begitu Kuat tangannya terasa sakit.
"Lepaskan aku brengsek."
"Jaga ucapan mu kim roseana. "
Rose memejamkan matanya saat jimin berucap dengan nada tinggi.
"Saatnya pulang sayang. "
Rose menggeleng, ia benar-benar tak ingin pulang ke mansion jimin. Mansion jimin seperti neraka baginya .kesadaran rose berangsur-angsur meredup saat jimin menyuntikkan obat tidur padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku. "
Jimin segera membopong tubuh rose.bergegas pergi dari sana. Jimin yakin lisa pasti memasang banyak alat untuk mencegah nya membawa rose pergi.
Sesampainya di mansion jimin segera menuju kamar miliknya. Merebahkan tubuh rose di atas ranjang. Jimin mengacak-acak rambutnya saat merasakan gairahnya bangkit. Sungguh jimin tak bisa menahan saat melihat tubuh rose yang hanya dibungkus oleh baju tidur transparan yang begitu memperlihatkan tubuh Indah nya secara cuma-cuma.
"Mungkin nanti. Setelah kau sadar kita akan melakukan nya. Baby park pasti merindukan diriku. "
Selang beberapa saat rose terbangun dari pingsan nya. Ia menatap ke sekeliling, ini bukan kamar nya di mension lisa.
"Sudah sadar sayang. "
Rose menoleh. Matanya membulat sempurna saat melihat jimin tengah bermain dengan rantai ditangan nya. Jadi apa yang ia alami tadi bukanlah mimpi. Tapi kenyataan.
Rose terkesiap. Saat jimin bangkit dari kursinya. Berjalan mendekat.
"Jangan mendekat. "
Jimin tak menggubris.
"Ku bilang jangan mendekat. "
Plakk
Wajah rose menyamping. Pipinya terasa panas, ia sudah tak percaya bahwa jimin baru saja menamparnya.
"Jangan melewati batas mu rose. "
Rose terisak.
"Kau harus mendapatkan hukuman. "
Rose berteriak saat jimin kembali merantai tubuhnya. Isak nya semakin kencang saat baju milik nya dibuka secara paksa.
Tak ada yang bisa rose lakukan saat ini. Ia hanya dapat menangis dengan desahan saat jimin menyatukan tubuh mereka dengan sekali hentak. Meringis kecil saat jimin menghentakkan nya dengan begitu kasar.
"Lepaskan hiks.. "
"No sayang, berhenti menangis. Atau aku akan lebih kasar dari ini, uhh... "
Rose kembali terisak. Sungguh tubuhnya terasa hancur akibat ke beringas jimin. Mata rose meredup, ia jatuh pingsan.
Jimin yang tengah menikmati sesi itu pun membelalakkan matanya. Hentakan itu berhenti, jimin menepuk pipi rose.
"Ro--rose... "
Rose tak bergeming.
"Rose bangun.. Sayang. "
Jimin menggeleng kan kepala nya. Jimin dibuat terkejut saat melihat kewanitaan rose mengeluarkan darah. Apa yang telah ia lakukan.
"Tidak.. Itu bukan aku. "
Jimin tak percaya bahwa ia yang telah melakukan itu semua. Jimin menepukĀ pipi rose lagi.
"Rose bangun, rose! "
Sayangnya tak ada pergerakan dari tubuh rose. Membuat jimin mengutuk dirinya sendiri.
"Kumohon jangan pergi. "
----------
__ADS_1
Diruang tunggu rumah sakit haruto kini tengah menangis pilu. Sudah 2 jam lamanya ayahnya berada didalam. Bertahan antara hidup dan mati.
Penyesalan begitu menghantui haruto. Ia begitu jahat memperlakukan ayahnya dengan begitu kejam. Mengabaikan setiap ucapan manis dari sang ayah, mencaci maki sang ayah dengan kata-kata pedasnya.
Haruto begitu menyesalinya.
Taehyun dan taehyung yang berada di samping haruto. Mencoba menenangkan nya.
Derap langkah kaki membuat taehyung menoleh. Dapat ia lihat jisoo dan juga jennie yang berjalan mendekat.
"Haru ayo kita pulang. "
Tanpa aba-aba jisoo menarik tangan haruto. Namun,haruto tak bergeming. Ia tetap pada posisinya.
"Tidak bunda,aku ingin menunggu ayah disini. "
Jisoo dibuat terkejut saat mendengar haruto memanggil seokjin dengan sebutan ayah.
"Apa kau sadar apa yang telah kau ucapan haru. "
Haruto menatap wajah ibunya " Ya. Haruto sadar, harusnya sejak lama harus memanggilnya dengan sebutan ayah. "
"Dia bukan ayahmu. Ayah mu telah mati ditelan bumi, ayah mu sekarang adalah kim suho. "Jisoo mencengkram bahu haruto.
Amarah yang ia tahan bertahun-tahun membara lagi. Luka di hatinya begitu dalam. Tatapan sendu penuh amarah begitu menguasai dirinya.
"Dia bukan ayahku. Dia hanya lelaki brengsek yang hendak membunuhku. "
Plak...
Dunia seakan terhenti bagi haruto. Ia begitu tak menyangka bahwa ibunya sendiri menamparnya.
Taehyung, taehyun dan juga jennie menutup mulutnya tak percaya.
Nafas jisoo memburu.
"Bunda menamparku. "
Jisoo berjalan mundur. Ia menatap tangannya sendiri. Apa yang telah ia lakukan.
"Bunda menamparku hanya karena aku mengatakan bahwa dia adalah lelaki brengsek yang hendak membunuh anakmu ini. "Haruto berucap lirih.
"Selama ini aku salah menganggap dia adalah orang baik, lelaki terbaik. Dia tak lebih dari seorang iblis yang penuh akan ambisi. APA BUNDA TAU ITU. "
Haruto berucap dengan suara tinggi.
"Aku begitu merasa berdosa karena telah mengucapkan kata-kata pedas untuk ayahku. Memukul ayahku, bahkan tak mengakui nya sebagai ayahku. "
Kepala jisoo tertunduk. Hatinya tersayat. Luka hatinya terbuka kembali.
"Ayah mengorbankan dirinya demi diriku. Ia rela tertembak hanya untuk menolongku. Disana, disana ia tengah berjuang antara hidup dan mati. Apa bunda tak paham akan hal itu. "
Jisoo menatap haruto sendu. Ia sadar di sini bukan hanya dirinya yang terluka tapi anaknya juga terluka.
Haruto mencengkram dadanya. Sesak memenuhi hatinya.
"Aku begitu berdosa padanya. "
Tubuh haruto ambruk. Lutut menjadi penopang dirinya. Haruto berlutut dihadapan jisoo.
"Aku bersumpah bunda. Jika ayah tak selamat, aku akan membunuh diriku sendiri. "
BERSAMBUNG....
__ADS_1