Posessive Mafia

Posessive Mafia
part 11


__ADS_3

Update.


"Haruto ini ayah... "


"Taehyun ini ayah nak.. "


Taehyun dan haruto membeku ditempat mereka. Mereka menatap lamat kedua manusia yang mengucapkan kata 'ayah dari mulutnya.


Disisi lain jisoo dan jennie dibuat terkejut dengan pengakuan seokjin dan juga taehyung. Kenapa mereka mengucapkan kata-kata itu setelah menelantarkan buah hati mereka.


Taehyung dan seokjin tersenyum kecil saat melihat taehyun dan haruto mendekati mereka. Mengabaikan gelengan sang ibu.


Namun nyatanya mereka salah. Harapan mereka pupus, saat tiba-tiba taehyun dan haruto melayangkan bogeman mentah kewajah mereka. Bayangan pelukan dan kata ayah sirna. Hati taehyung dan seokjin tersayat ribuan belati.


"Huhhuh... "


Nafas taehyun dan haruto tersegel. Mereka mundur beberapa langkah. Menatap benci sosok taehyung dan juga seokjin.


"Hoh.. Jadi ini pria brengsek yang bermain dibelakang ibuku. "Ucap haruto dengan tangan terkepal.


"Jika kau berharap aku akan memelukmu atau berucap kata 'ayah' kau salah tuan kim. Aku bahkan tak sudi menyebut dirimu ayahku. "Haruto berdecih. Meremukkan jiwa seokjin.


"Dan kau tuan kim taehyung. Kau berencana melenyapkan ku bukan. Kau ingin membunuhku bukan, tapi dengan tegarnya ibuku mempertahankan ku di rahim nya. Tidak seperti mu yang bejat, aku bahkan malu mengakui bahwa kau adalah ayahku. "Ucap taehyun dengan nafas memburu.


"Nak... "Jisoo dan jennie berusaha menenangkan anak mereka. Namun, haruto dan taehyun mengangkat tangan mereka. Menyuruh ibu mereka untuk tidak ikut campur. Membuat jennie dan jisoo mundur.


Taehyun menarik kerah baju taehyung.


"Kau bukan ayahku. Ayahku telah mati dan tersiksa dineraka. Aku tak memiliki ayah, aku hanya memiliki satu malaikat yang itu ibuku. Kau bukan siapa-siapa. "Ucap taehyun.


Taehyung menatap sendu anaknya. Lukanya terbuka semakin lebar. Lengkap dengan rasa bersalah yang makin memuncak. Taehyun mendorong tubuh taehyung hingga tersungkur diaspal.


Haruto mendekati seokjin.


"Dan kau. Lupakan ibuku, dia akan menikah dengan lelaki baik. Tidak seperti dirimu,brengsek. "Ucap haruto.


Taehyun dan haruto mendekati ibu mereka. Mengulas senyum manis dihadapan ibunya.


"Ayo bunda kita pulang. Aku sudah tak sabar bertemu ayah suho. "Ucap haruto dengan senyum mengembang.


Disana seokjin meremas dadanya yang terasa nyeri. Anaknya sangat membencinya, ditambah dengan jisoo yang akan menikah dengan lelaki yang bernama suho. Bahkan haruto terlihat senang memanggil suho dengan sebutan 'ayah'.


"Bunda ayo, taehyun sudah lapar. Bunda pulangnya lama sih. "Taehyun mengerucut kan bibirnya. Kedua remaja itu seakan tak melakukan apa-apa pada kedua lelaki dewasa yang kini menatap mereka sendu.


Tanpa aba-aba taehyun dan haruto menggandeng tangan ibunya. Pergi dari sana, meninggalkan sosok taehyung dan seokjin yang telah hancur.


Taehyung dan seokjin memandang pedih tubuh gadisnya dan anaknya yang telah hilang ditelan kejauhan. Cairan bening mereka keluar begitu deras.


Apakah masih ada harapan untuk mereka kembali membawa sang gadis dan anak ke pangkuan mereka lagi?


Jika ada tolong beritahu mereka caranya?

__ADS_1


------------


Nafas keduanya memburu. Mata sayu penuh gairah itu bertabrakan. Sesekali melempar senyuman menawan saat ucapan Cinta kembali keluar dari mulut masing-masing.


Sang wanita menoleh kearah pintu yang sedikit memberi celah. Setelahnya ia tersenyum miring.


"Ada yang mengintip tadi. "Ucap rose dengan mengelus rahang tegas jimin.


Jimin ikut melakukannya, mengelus-elus surai wanitanya.


"Ya, aku tau. Wanita ular itu mengintip kita lalu pergi. "Ucap jimin.


"Oppa menyukai wanita itu? "Tanya rose seraya menatap lekat mata hitam jimin.


"Tentu tidak sayang. Oppa hanya menyukaimu. "Rose tersenyum senang.


"Dia menatap oppa dengan penuh Cinta. Itu membuat ku kesal dan ingin melenyapkannya. "Ucap rose dengan bibir mengerucut .


Hoel... Jika selama ini kalian menganggap rose polos dan baik, kalian salah besar. Setelah kehilangan ingatannya rose menjadi wanita yang sangat cerdik dan dewasa. Selama tinggal di mansion jimin ia juga belajar banyak senjata, terutama pistol. Ia sangat menyukai benda api itu.


"Lenyapkan saja sayang. Gunakan benda kesayangan mu itu. "Jimin mengecup bibir rose.


"Mungkin bukan saatnya. Aku ingin melihat sampai mana ia ingin merebutmu dariku. Aku berikan kebaikan padanya dia malah berbuat jahat padaku, menyebalkan. "


Jimin terkekeh.


"Apa perlu kita membuatnya tersiksa secara perlahan. "Ucap jimin.


"Ayo lakukan. "Ucap rose.


Jimin tertawa singkat, ia mengelus-elus pipi sang wanita.


"Tapi kau harus tetap mempertahankan sikap polosmu itu, baby. "


"Tentu. Aku akan lebih menyiksanya dengan tampang polos ku oppa. "Rose mengalungkan tangannya dileher jimin.


"Ingin melanjutkannya. Sampai pagi mungkin. "Jimin tersenyum miring.


Rose terkekeh "oke... Coba nanti kita lihat aku bisa berjalan atau tidak. "


Jimin tertawa. Akhirnya mereka melanjutkannya, melepaskan hasrat membara ditubuh mereka.


Pagi hari.....


Suasana mansion jimin sedang tenang. Para maid mulai mengerjakan tugas mereka sama halnya dengan mina. Ia tengah membersihkan kolam berenang.


Matanya menghitam karena banyak menangis tadi malam. Tangannya menggenggam kuat kayu, amarahnya kembali memuncak mengingat hal yang ia liat tadi malam.


Sampai seseorang mengagetkan pekerjaannya.


"Apa sudah selesai? "

__ADS_1


Mina menoleh. Ia dibuat terkejut dengan keberadaan jimin disampingnya. Ia mundur beberapa langkah dengan kepala tertunduk.


"Ada apa tuan? "Jimin menatap mina intens.


"Apa sudah selesai membersihkan kolam berenang? "


Mina mengangguk kaku. Tanpa diduga jimin melepaskan bathrobe hingga hanya menyisakan celana pendek selutut.


Jimin menceburkan dirinya kedalam kolam. Sesekali menyelam kedalam. Pandangan itu tentu tak luput dari penglihatan mina. Mina bahkan secara terang-terangan menatap kagum tubuh jimin didalam air.


Diotaknya ia sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Seperti jimin yang mengajaknya untuk berenang bersama dan melakukan hal gila didalam kolam renang.


"Hei.. "


Hayalan mina buyar saat jimin meneriakinya.


"Iya tuan. "


"Bawakan saya minuman dan beberapa cemilan. "


Mina mengangguk paham. Ia segera menuju dapur untuk membuat minuman. Namun sebuah ide gila hinggap di kepalanya.


Ia mengambil botol pil yang tersimpan di kantung bajunya. Ia bersmirk.


"Tambahan obat perangsang mungkin akan membuat kedinginan menjadi panas. "


Mina memasukan pil itu kedalam minuman. Ia tersenyum senang melihatnya. Ia menarik napas dan berjalan dengan gaya menggoda menuju kolam berenang.


Ia melatakan napan diatas meja kecil yang tersedia.


"Ini minumannya tuan. "Ucap mina dnegan senyum manis.


"Berikan padaku. "


Mina mengambil minuman itu. Jimin berenang mendekat. Membuat senyum mina semakin mengembangkan. Ia yakin kali ini rencananya akan berhasil.


Jimin sudah menangkap minumannya. Hendak meminumnya membuat mina kembali memamerkan smirk nya .


Namun, dari arah belakang rose berlari menuju kolam berenang. Ia menceburkan dirinya membuat gelas yang berada ditangan jimin tumpah. Membuat mina menggeram.


"Oppa ini dingin. "Ucap rose dengan riang didalam air.


Jimin terkekeh. Ia mengambil gelas itu. Meletakan nya disampaikan kolam renang.


"Kau pergi. "Ucap jimin pada mina.


Mina mengangguk patuh. Ia beranjak pergi dari sana dengan perasaan kesal dan penuh amarah.


"Sialan.. Kesabaran sudah habis. Aku akan benar-benar membunuh mu noona rose. "Gumam mina dengan tangan terkepal.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2