Pria Yang Tak Terlihat Kaya

Pria Yang Tak Terlihat Kaya
Bab 1


__ADS_3

Jam dinding di asrama putra


menunjukkan pukul sembilan malam


ketika tiba-tiba terdengar teriakan, "


Gerald, tolong turun ke lantai satu di


asrama 101 dan ambilkan laptopku!"


Seorang pria berambut pirang penghuni


asrama sebelah membuka pintu kamar


Gerald secara tiba-tiba, melempar uang


satu dolar ke lantai lalu berbalik pergi.


"Oh, iya, satu lagi, belikan aku air


mineral di supermarket"


Pria berambut pirang itu kembali lagi dan


melempar tiga dolar ke lantai. Dua dolar


untuk membeli air mineral, satu dolar


untuk upah Gerald.


"Hei, Blondie! Kenapa semua orang di


asramamu selalu menyuruh Gerald


melakukan iní-itu? Kenapa kalian


sedemikian menyebalkan?"


Teman satu asrama Gerald bertanya


dengan sikap dingin karena mereka


sudah tidak tahan lagi melihat Gerald


tertindas.


"Kau tinggal satu asrama dengan Gerald,


tapi kau masih tidak mengerti? Hei,


dengar! jika kau memberinya satu dolar,


dia bahkan akan bersedia memakan


kotoran jika kau suruh!" Blondie tertawa


puas lalu meninggalkan mereka.


Gerald hanya mampu menyembunyikan


malu dan berusaha tidak mendengar


perkataan Blondie. Dia lalu memunguti


lembaran dolar yang terserak di lantai


lalu berkata dalam hati, "dengan dua


dolar ini sudah cukup untuk membeli tiga


roti kukus dan sekantong acar. Aku tidak


akan kelaparan lagi."


"Gerald. jangan pergi! Kalau kau tidak


punya cukup uang kami bisa


meminjamimu, kau bahkan tidak perlu


mengembalikannya," ujar ketua asrama


yang juga tidak tega nmelihat kondisi


Gerald menggelengkan kepala sambil


tersenyum dan berkata, "terima kasih,


tapi aku tidak apa-apa.."


Setelahnya, Gerald segera meninggalkan


asrama untuk melaksanakan tugas dari


Blondie. Teman-tenman asramanya hanya


bisa memandangnya dengan rasa iba. 1


Tentu Gerald sebenarnya tidak mau


menjadi budak orang lain dan ingin


menjalani kehidupan kampus seperti


mahasiswa normal. Akan sangat


menyenangkan jika dapat bebas belajar


tanpa perlu mengkhawatirkan apapun,


pikirnya.


Sayangnya, Gerald bukan orang kaya.


Meskipun teman-teman sekamarnya


memperlakukannya dengan baik, tapi dia


tidak ingin dikasihani. Gerald hanya


khawatir mereka akan malas berteman


dengannya. Hanya mereka teman yang


dia miliki di kampus. Dia segera keluar


untuk melaks anakan perintah Blondie.


Hei, Geraiu, taur Diunuie vnamg nad


akan ke bawah, ya?"


Kali ini, seorang pria berpakaian rapi


keluar dari asrama sebelah. Namanya


Danny Xanders, ketua asrama Si Blondie.


Tak hanya kaya, wajahnya juga tampan.


Tak heran kalau ia menjadi idola para


mahasiswi di kampus.


Sayangnya, tidak jauh beda dengan Si


Blondie, Danny juga selalu memandang


rendah Gerald. Gerald heran kenapa


Danny memanggilnya, dia menjawab, "


ya, aku memang akan ke bawah".


Danny tersenyum kecil lalu memberinya


sekotak barang, "seorang temanku akan


menunggu di hutan timur. Berikan kotak


ini padanya, dan ini sepuluh dolar


untukmu." Danny adalah seorang


playboy dan semua orang tahu dia


seringkali mengajak gadis yang berbeda


untuk bertemu di hutan dekat kampus.


Gerald tak mau ambil pusing tentang hal


itu karena toh dia sudah terbiasa


menerima perintah dari penghuni


asrama.


Dia menerima kotak dan sepuluh dolar


yang diserahkan Danny lalu menuju


tangga. Saat membalikkan badan, Gerald


sempat mendengar suara tawa Danny di


belakang.


Gerald sampai di lantai satu, mengambil


laptop, lalu membeli air mineral sebelum


kemudian akan mengantar kotak titipan


Danny. Hutan kecil di luar kampus itu


memang sudah biasa menjadi tempat


pasangan-pasangan muda berjumpa di


malam hari.


Gerald pun tiba di tempat yang


disebutkan Danny. Dia melihat sepasang


pria-wanita duduk diantara pepohonan,


mereka berbincang dan tertawa akrab.


Betapa terkejutnya Gerald ketika melihat


wajah mereka di bawah temaram cahaya


bulan.


Gerald tercengang


Itu Xavia!

__ADS_1


Matanya memanas dan kotak yang


dipegangnya jatuh ke tanah.


Xavia adalah mantan pacar Gerald dan


mereka baru putus tiga hari yang lalu.


Tentu saja, Kavia yang mengakhiri


hubungan mereka.


Ketika Xavia memutuskan hubungan


dengan Gerald, ia beralasan bahwa ingin


sendiri dulu. Tetapi kenyataannya, baru


tiga hari dan sekarang dia bersama pria


lain di hutan!


Pasangan itu lalu menyadari kehadiran


Gerald dan ekspresi wajah mereka


seketika berubah. "Gerald.untuk apa


kamu disini? Kamu..kamu jangan salah


paham, aku disini bersama Yuri


karena..." Xavia mulai panik dan malu.


Dia menundukkan kepala dan tidak mau


memandang Gerald.


anak orang kaya keturunan kedua. la


memandang kotak yang dijatuhkan


Gerald dan tiba-tiba tertawa lepas.


"Ahahahhaa sial! Danny benar-benar


tahu bagaimana membodohi orang. Aku


memintanya untuk mengantar kotak ini


dan tidak menyangka ternyata dia justru


mengirimmu. Ah ini sungguh


menyenangkan. Benar-benar


menyenangkan!"


Gerald tahu bahwa Yuri adalah teman


dekat Danny. Keluarganya memiliki


beberapa restoran dan ia terbiasa


membawa BMW seri 3 nya ke kampus.


Gerald hanya bisa mengepalkan


tangannya mendengar perkataan Yuri. la


tahu sekarang, Danny sengaja melakukan


ini. Ditambah, dia makin curiga bahwa


Danny ada dibalik alasan putusnya


hubungannya dengan Xavia. Jika tidak,


bagaimana bisa Xavia bersama Yuri


hanya beberapa hari setelah mereka


"Xavia, aku tahu kamu tidak lagi


mencintaiku, tapi kamu tidak seharusnya


bersama pria macam dia setelah kita


putus. Kamu tahu berapa banyak wanita


yang dia kencani sebelum inil!?" Gerald


tidak bisa menahan teriakannya.


Gerald sangat mencintai Xavia. Sangat.


Xavia merasa sangat cemas dan kesal


setelah mendengar kata-kata Gerald. "


Gerald, kamu pikir kamu siapa?! Kamu


tidak punya hak untuk mengajariku,


mengatur hidupku, atau menentukan aku


harus apa. Kita sudah putus dan aku


bebas menentukan untuk bersama


dengan siapapun yang aku mau!"


menatap Gerald tajam, "apa kamu


datang ke sini hanya untuk membuat aku


jijik? Pergi kamu!"


Plak!


Xavia mendaratkan tamparan keras ke


pipi Gerald.


Yuri tertawa semakin puas, "Hahaha!


Xavia Sayang, kenapa kamu menyuruh


dia pergi. Harusnya kamu biarkan saja


dia di sini dan melihat kita!"


Wajah Xavia memerah, "Yuri, moodku


sudah berantakan melihat dia di sini,


mungkin lain kali saja.." Xavia lalu


melepaskan rangkulan Yuri.


Gerald tidak tahu lagi harus melakukan


apa, dia berjalan menjauh dari hutan itu.


Pikirannya benar-benar berantakan.


Semua ini karena uang. Dia ditindas


hanya karena dia miskin!


Hahaha!"


Sesampai di koridor asrama, Gerald


disambut dengan tawa menyebalkan


teman-teman sekelasnya. Danny tentu


saja juga di sana dengan memegang


perut menahan tawa. Ya, Danny


memberitahu teman sekelas tentang


Hahaha! Hei, Gerald, apa yang kau


temukan tadi ketika mengantar kotak


titipan Danny?" Blondie bertanya dengan


senyum mencemooh.


"Ah, tentu saja! Xavia memang benar-


benar gadis yang sempurna," timpal


Danny dengan menyeringai.


Gerald mengepalkan tinjunya dengan


erat dan matanya sudah sangat merah


saat ini. Dia benar-benar ingin


membunuh Danny!


"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini


padaku?" Gerald mendesis menahan


amarah.


Danny nmasih tertawa dan menjawab, "


Hei, sini lihat aku. Aku sama sekali tidak


takut!


Dari semua kaum miskin di kelas kita,


kaulah yang paling hina. Xavia itu gadis


sempurna dan hanya buang-buang


waktu kalau dia harus bersamamu. Ya,


tentu akan jauh lebih baik kalau dia


bersenang-senang dengan saudaraku


paling tidak untuk beberapa hari."


"Dan ngomong-ngomong, Gerald.


Tahukah kau kalau Yuri berhasil


menjemput Xavia kurang dari setengah


jam setelah dia mengiriminya pesan,

__ADS_1


sementara kau butuh waktu lebih dari


setahun sampai akhirnya dia mau jadi


pacarmu?"


Semua orang tertawa dan tidak


mempedulikan harga diri Gerald.


Kurang ajar! Rasakan ini!"


Gerald berusaha menghajar Danny, tapi


dia diserang balik oleh teman-teman


Danny. Untungnya beberapa saat


kemudian teman-teman Gerald segera


datang dan membawanya kembalike


Di kamar, Gerald menutupi wajahnya


dengan selimut dan terus terisak di atas


tempat tidur.


"Kenapa mereka sedemikian kejam dan


menginjak-injak harga diriku? Kenapa?


Apa mereka pikir aku tidak berperasaan


hanya karena aku miskin? Apa aku bukan


manusia di hadapan mereka?"


Gerald masih berusaha menenangkan


dirinya sementara airmata di pipinya


masih terus mengalir. Dia benar-benar


tidak bisa melupakan semua yang


disaksikannya malam ini. Dia tidak tahu


berapa lama dia meringkuk di bawah


selimut sampai akhirnya dia terlelap.


mungkin karena saat itu malam sedang


sangat gelap dan sunyi, Gerald tertidur


nyenyak malam itu.


Ketika terbangun keesokan paginya,


Gerald tidak menemukan seorangpun di


asrama. Gerald tahu pasti ketua asrama


sengaja tidak membangunkannya,


membiarkannya istirahat di asrama


setelah kejadian semalam. Ketika Gerald


membuka ponselnya, dia menemukan


banyak pesan masuk dan panggilan tak


terjawab disana. Dan yang mengejutkan,


semua adalah nomor asing.


Gerald juga menemukan satu pesan


mengatakan bahwa seseorang telah


mentransfer sejumlah uang ke


rekeningnya!


"[Bank Daxtonville]. Saldo rekening anda


dengan nomor XXXXXXX107 adalah


sejumlah USD 1,500,000.00."


Gerald terkejut melihat jumlah rentetan


angka di layar ponselnya. Hah!! Satu juta


lima ratus ribu dolar? Siapa yang


mengiriminya uang sebanyak itu? Gerald


buru-buru menghubungi pihak bank


untuk memastikan dan semakin bingung


setelah menerima konfirmasi dari


mereka.


Sesaat kemudian ponselnya berdering.


Sebuah nomor asing dengan kode negara


yang berbeda. Gerald segera


mengangkatnya.


"Gerald, kau sudah menerima uang yang


aku transfer? Ini aku, kakak


perempuanmu!" terdengar sebuah suara


yang tidak asing dari seberang sana.


"Kak, ada apa ini? Apa yang terjadi?


Bukankah kau dan ayah ibu berjuang


keras untuk mencari uang di sana?


Darimana kau dapatkan uang sebanyak


itu?"


Gerald masih tidak bisa menahan rasa


terkejutnya.


"Eumm.. Ayah sebenarnya berniat


menyembunyikan kenyataan yang


sebenarnya padamu sampai dua tahun ke


depan. Tapi aku tidak tega karena tahu


kau di sana dirundung karena miskin.


Karena itu aku memberitahumu lebih


awal. Keluarga kita sebenarnya sangat


kaya. Keluarga Crawford punya industri


bisnis yang sangat besar dan tersebar di


berbagai negara. Kau tahu, delapan puluh


persen tambang emas, mineral, dan


minyak bumi di Afrika dimiliki keluarga


kita..."


dan itu belum termasuk industri di


Daxtonville dan negara lain"


Apa?


Gerald menelan ludah. Jika satu setengah


juta dolar belum ada di rekeningnya saat


ini mungkin dia tidak akan percaya.


Kakaknya pasti benar-benar sedang


mengigau!


"Aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi kau


harus mencoba menerima kenyataan ini,


Gerald. Awalnya aku juga dibesarkan di


lingkungan yang serba kekurangan tapi


perlahan kemudian aku mulai terbiasa


dengan gaya hidup mewah. Oh iya, aku


juga mengirimimu sesuatu. Seharusnya


kurir sudah mengantarnya ke asramamu


pagi ini. Sekarang kau tidak perlu pusing


lagi soal uang."


"Aku tidak tahu banyak soal biaya hidup


di Daxtonville saat ini, tapi kau tak perlua


khawatir. Gunakan saja satu setengah


juta dolar yang kukirimkan. Aku akan


menghubungimu lagi bulan depan."


Setelah menutup telpon, Gerald masih


tercengang tak percaya.


Dia selalu hidup sebagai orang miskin


selama ini. Tapi...


Benarkah dia memang anak orang kaya?

__ADS_1


__ADS_2