
Sayangnya, yang baru saja masuk bukan
Gerald.
"Danny! Mau apa kamu ke sini?"
Ekspresi wajah Naomi berubah ketika dia
melihat Danny. Mereka memang satu
kelas dan lumayan akrab. Sampai
kemudian Naomi tahu bahwa Danny
mempermalukan Gerald. Naomi benar-
benar kesal padanya.
Sayangnya, Danny tidak peduli dan dia
tetap masuk meski Naomi menunjukkan
sikap tidak suka.
"Naomi, kau masih marah? Aku hanya
bercanda saja dengan Gerald malam itu.
Mana aku tahu ternyata dia
mengantarkan kotak itu ke Yuri?" Danny
menjawab dengan senyum ceria,
mencoba meyakinkan Naomi.
Terlihat beberapa undangan mulai
berdatangan dengan membawa kado. Ya,
Naomi memang berasal dari keluarga
Naom nmenianng veradar uarTneua54
kaya dan beberapa kali menawarkan
bantuan ke Gerald ketika dia dalam
kondisi sulit, tapi selalu ditolak.
Sementara Danny sudah mengenal
Naomi sejak bangku SMA.
"Naomi, apakah ini Gerald yang mau kau
kenalkan padaku? Apa yang terjadi?"
tanya Alice saat menghampiri mereka.
Saat melihat Alice, mata Danny langsung
berbinar. Pasalnya, Danny sudah lama
mengincarnya. Alice adalah mahasiswi
tercantik yang pernah Danny lihat di
Fakultas Media dan Broadcasting.
Alasannya datang ke pesta Naomi dan
berusaha minta maaf padanya adalah
karena dia tahu Alice juga pasti ada
disana.
Mendengar sapaan Alice, Danny
menjawab, "Hai, Alice yang cantik, aku
bukan Gerald. Dia adalah teman
sekelasku dan hanya gembel yang
kemarin malam kubodohi. Hahahaa!"
Fakultas Media dan Broadcasting
Alasannya datang ke pesta Naomi dan
NaOnmoejan De
Kembali Danny ingat kejadian malam itu
ketika ia meminta Gerald mengantarkan
kotak barang ke hutan, dan menemukan
mantan pacarnya bersama pria lain
disana. Ah, malam yang sungguh
NaU oyan arngauOMA.
menghibur!
"Diam! Naomi semakin kesal. Alice yang
berada di antara mereka menjadi
bingung. Apa benar-benar ada
kesenjangan antara mahasiswa miskin
dan kaya di sini?
Teman-teman satu asrama Gerald yang
sedari tadi melihat perilaku Danny juga
turut kesal, tapi mereka tidak mau
membuat keributan di pesta Naomi.
"Okay, aku tidak akan berkata apa-apa
lagi" Danny lalu tersenyum kecil dan
melanjutkan, "Oh, ya Naomi, lihat apa
yang kubawakan untukmu!"
Belum sempat Danny memberikan
kadonya, pintu restoran kembali terbuka.
Terlihat Gerald memasuki ruangan
dengan menjinjing kantong kresek
merah di tangannya.
"Gerald, akhirnya kau datang!" Naomi
berteriak bahagia. Gerald mengangguk
berteriak Dauagid. uerau mengangEuk
pelan, lalu menyadari ada Danny di sana
yang memandangnya dengan ekspresi
merendahkan, seperti biasa.
Alice kemudian beralih memandang
Gerald, orang yang akan dikenalkan
Naomi padanya. Ya, dia memang sedang
mencari pacar dan terlihat jelas Gerald
bukan dari keluarga berada. Alice
sebenarnya tidak masalah berpacaran
dengan orang biasa selama dia tampan
dan menarik. Sayangnya, meski
sebenarnya Gerald memiliki wajah yang
tampan, Alice melihat penampilan Gerald
masih belum pantas, dia bahkan bisa
menilai yang dipakai Gerald dari ujung
kaki hingga kepala seharga tidak lebih
dari lima puluh dolar.
Gerald sungguh terlalu biasa!
Ketika dia ingat yang dikatakan Danny
sebelumnya, kesannya terhadap Gerald
jadi ikut turun. Alice benar-benar kecewa.
jadi ikt turin. ATICe Deal-venal Kecewa.
"Gerald, ini Alice. Dan Alice, inilah Gerald
yang kumaksud." kata Naomi
memperkenalkan mereka berdua.
Gerald mengangguk pelan, "Hai, aku
Gerald. Senang bertemu denganmu,
Alice." Gerald mengulurkan tangan
kanannya dengan sopan.
Tetapi secara mengejutkan, Alice tidak
__ADS_1
menghiraukannya. Dia berbalik menuju
meja dan meminum jusnya kembali.
Tangan Gerald menggantung di udara
beberapa detik hingga kemudian dia
menariknya dengan perasaan kecewa.
Naomi paham sahabatnya memang biasa
bersikap demikian. Jika tertarik dengan
seorang pria, dia akan banyak bicara. Jika
tidak, dia akan mengabaikan sama sekali
Gerald terdiam seribu bahasa. Dia lalu
berjalan mendekati salah satu meja. Di
detik itu, Danny kemudian
memperhatikan kantong kresek merah
mempernatlkarn nanrtong NITth imcai
yang dibawa Gerald, "Hei, Gerald! ini
ulang tahun Naomi. Kado apa yang kau
bawa untuknya? Kenapa tidak kau
tunjukkan pada kami?"
Ketua asrama Gerald yang sedari tadi
memperhatikan mereka sudah tidak
tahan lagi, "Danny! Kenapa sih kau selalu
bersikap menjengkelkan dan
mengintimidasi Gerald?" Danny hanya
tertawa, sangat menyenangkan baginya
melihat orang lain terlihat bodoh. Tapi
dia sedang tidak berhasrat menanggapi
perkataan ketua asrama Gerald.
Dengan tetap memandang Gerald dengan
tatapan dingin, Danny lalu mengeluarkan
hadiah yang dia siapkan untuk Naomni.
Ternyata Danny membelikan tas mewah
berwarna hitam. "Naomi, aku
membelikannya untukmu. Tas Hermes
yang mewah. Pasti akan sangat cocok kau
pakai."
Melihat Danny mengeluarkan tas Hermes
VIennatDanhy menBean ao ee
-nya, Alice dan gadis-gadis di sana tidak
bisa menahan diri untuk memperhatikan
lebih dekat.
"Sebuah tas Hermes? Harga pasarannya
mulai dari delapan ribu dolar, kan?"
terdengar kasak-kusuk di antara mereka.
Seketika mereka terkesan dengan Danny.
Dia benar-benar pria dermawan dan
murah hati. Alice yang biasanya bersikap
dingin pada orang lain, kali ini tidak bisa
menahan diri memperhatikan Danny
lekat.
"Ini bukan barang mahal untukku,
ayahku mengenal manajer tokonya
dengan sangat baik. Jadi aku
mendapatkannya hanya dengan tujuh
ribu sembilan ratus dolar saja," kata
menikmati tatapan kagum orang-orang
di sekelilingnya.
Meski Naomi masih jengkel pada Danny,
dia mau menerima tas itu tanpa
Meski Naoi iasn Jengrerpaud Danny,
dia mau menerima tas itu tanpa
mengatakan apapun.
Tas Hermes Rumble ini adalah keluaran
terbaru. Sangat popular di Macau, Hong
Kong dan Taiwan. Disana bahkan
dibanderol seharga dua belas ribu dolar!"
lanjut Danny bersemangat.
Alice semakin terkagum mendengar
perkataan Danny. Danny yang menyadari
ketertarikan Alice lalu berkata padanya, "
Alice, bagaimana menurutmu tentang tas
ini? Apa kau juga mengikuti tren barang-
barang mewah?" Alice menatap Danny
dengan senyum tipis dan berkata, "Ya,
aku sudah lama mengidamkan tas itu
tapi harganya terlalu mahal untukku."
"Alice Sayang, jangan khawatir, aku juga
akan membelikannya untukmu di hari
ulang tahunmu nanti. Delapan atau
sembilan ribu dolar bukan masalah besar
untukku. Lagipula, aku mengenal semua
orang yang bekerja di toko Hermes di
seberang kampus kita," jawab Danny
orang yang bekerja di toko Hermes di
seberang kampus kita," jawab Danny
dengan nada bangga. Alice tidak berkata
apapun selain melempar senyum pada
Danny. Meski tidak mengenal Danny
secara pribadi, tapi dia sudah mendengar
soal Danny bahwa dia adalah playboy.
Yang Alice baru tahu, ternyata Danny
Juga seorang yang berani dan tidak pelit.
Alice mulai tertarik padanya.
Setelahnya, ketua asrama Gerald dan
undangan lain bergantian memberikan
kado yang mereka siapkan untuk Naomi.
Kado-kado dari mereka memang tidak
semahal milik Danny, tapi masih
termasuk pantas dengan kisaran nilai
tiga sampai empat ratus dolar.
Gerald tidak ingin mengganggu mereka
an berniat memberikan kadonya kepada
Naomi setelah semua orang selesai.
Tetapi kemudian Danny memperhatikaan
kantong kresek merahnya dengan
senyum sinis, "Ayo Gerald! Tunjukkan
__ADS_1
pada kami apa yang kau siapkan untuk
Naomi. Kalau dilihat dari kantong kresek
yang kau bawa, pasti isinya adalah
sesuatu yang menarik."
Danny!! Tidak bisakah kau menutup
mulutmu yang menyebalkan itu? Aku
akan menerima dengan senang hati
apapun yang Gerald berikan untukku,"
kembali Naomi memperingatkan Danny.
Naomi memandang Gerald dengan
tatapan iba dan penuh harap. Gerald
sempat menyesal kenapa tadi dia tidak
menunggu saja pegawai toko mengemas
tasnya agar terlihat lebih pantas. Gerald
hanya tidak ingin terlambat datang ke
pesta Naomi hanya karena harus
menunggu pegawai toko mengemas
tasnya selama setengah jam. Dia pikir ini
hanya pesta kecil dengan beberapa
undangan saja. Gerald tidak menyangka
si brengsek Danny juga ada di sana!
"Naomi, aku juga membeikanmu sebuah
tas," kata Gerald sambil mnengeluarkan
benda dari kantong kreseknya. Sebuah
tas mewah mengkilat diserahkannya
pada Naomi.
Hahh!! Kali ini Alice benar-benar
terbelalak mengetahui benda apa yang
dikeluarkan Gerald. Dia adalah pria
miskin! Ini benar-benar tidak bisa
dipercaya
"Wow!" teriak Danny seketika. "Lihat!
rupanya Gerald juga membelikan tas
mewah untuk Naomi! Gerald, bisa kau
beritahu kami di mana kau mendapatkan
tas ini? Apa ini barang yang murah?" Kata
-kata Danny membuat para gadis tertawa.
Alice menggelengkan kepalanya pelan.
Dia berpikir meskipun Gerald miskin,
tapi dia berharap Gerald adalah teman
yang baik.
"Ini adalah tas Hermes edisi terbatas
yang dikeluarkan saat perayaan hari jadi
Hermes ke-200. Hanya diproduksi dua
ratus buah dan harga satuannya adalah
lima puluh lima ribu dolar!"
Alice tahu betul tas yang dimaksud.
Tapi sayangnya, banyak juga produk
tiruannya yang dijual bebas di internet
dengan harga kurang dari seratus dolar!
Seberapapun orang ingin tampil pantas,
akan sangat memalukan jika membeli
barang palsu dari merk ternama!" Alice
menatap Gerald dengan penuh benci. Pria
ini benar-benar membuatnya muak!
Naomi masih tidak percaya. Dia
sebenarnya berharap Gerald memberinya
kado biasa saja. Bukan barang mewah,
tapi palsu. Naomi memandang Gerald
dan masih berusaha tersenyum, "Terima
kasih, Gerald. Aku bersyukur dan senang
dengan apapun yang kau berikan. Tapi
kau tidak perlu menghabiskan banyak
uang untuk membelikanku kado. Seratus
dolar adalah jumlah yang besar
untukmu, kan?"
Gerald ingin menjelaskan
kesalahpahaman ini dan memberitahu
bahwa itu adalah tas Hermes asli. Tetapi
dia melihat sekelilingnya, menyadari
Alice dan yang lain menatapnya dengan
pandangan menghina. Dia lalu
mengurungkan niat karena berpikir tidak
akan ada seorangpun yang percaya dan
justru akan semakin memperburuk
keadaan.
Alice lalu berkata pada Naomi, "Naomi,
kenapa kau mau berteman dengan orang
yang tidak bisa dipercaya seperti dia?"
Naomi tidak ingin semakin memojokkan
Gerald. Jadi dia memutuskan untuk tidak
menanggapi perkataan Naomi dengan
mengalihkan perhatian para tamu.
"Baiklah, Semuanya! Ini adalah hari
ulang tahunku dan aku sangat senang
kalian semua datang untuk ikut
merayakan. Ayo, mari kita bersulang!"
Alice dan teman-temannya masih
menatap Gerald dengan kesal, Danny pun
masih menunjukkan cibiran padanya,
sementara para pria lain tidak terlalu
menghiraukan yang sudah terjadi.
Gerald tidak ingin menempatkan Naomi
di posisi sulit dengan berada diantara dia
dan teman-temannya yang lain. Sejurus
kemudian Gerald berdiri dan berpamitan,
Selamat ulang tahun, Naomi. Aku baru
ingat aku harus mengerjakan sesuatu di
asrama. Jadi aku harus pamit dulu.
Semoga pestamu menyenangkan!",
katanya dengan senyum getir dan suara
bergetar.
Gerald merasa tidak ada gunanya dia
disana. Dia lalu bergegas meninggalkan
pesta.
__ADS_1
"Gerald!