
Gerald menggaruk-garuk kepalanya yang
tidak gatal.
Padahal dia sudah berusaha menghindari
Naomi dan teman- temannya, terutama
Alice, yang terlihat tidak suka sejak awal
mereka bertemu. Karena itu dia juga
tidak mau membuang banyak waktu
mencoba akrab dengannya.
"Danny yang punya ide untuk pergi ke
Emperor Karaoke di Mayberry
Commercial Street ini. Jika kau masih
berusaha kabur lagi kali ini. Kau bukan
lagi temanku!" ancam Naomi. Dia
memang tipikal gadis yang suka blak-
blakan dan terbuka, bahkan seringkali
tidak memperhatikan situasi. Karenanya
dia tidak bisa memahami bahwa Gerald
bukan dari strata yang sama dengan
mereka. Ya, tentu saja sebenarnya
sekarang sudah tidak lagi.
Melihat Gerald yang hanya mematung
tanpa berkata apapun, Naomi kemudian
melanjutkan, "Okey, ayo pergi
bersamaku dan ikut bersenang-senang
Aku tahu kau pasti takut Danny akan
menyulitkanmu lagi kan. Kau tidak perlu
khawatir. Jika dia berani berulah macam-
macam lagi, aku bersumpah akan
memberinya pelajaran!"
Gerald hanya tersenyum mendengar
perkataan Naomi. Dia tahu jika dia
menolak ajakan Naomi lagi kali ini, gadis
ini akan benar-benar marah. Baiklah,
mungkin memang sebaiknya dia ikut.
Naomi segera menarik Gerald
mengikutinya menuju Karaoke Emperor.
Ketika Gerald melihat papan nama besar
di atas bangunan karaoke itu, dia ingat
bahwa ini adalah salah satu tempat yang
terdaftar atas namanya. Selama ini
Gerald tidak pernah punya kesempatan,
tapi kali ini dia bahkan akan sanggup
mentraktir teman-temannya.
"Oh. Tuan Crawford ada disini uga
rupanya? Apa kau tahu jalan sekitaran
sini? Apa kau tahu cara bersenang-
senang di sini? Ayo, mari kutunjukkan
padamu." Danny menyambut Gerald
dengan nada menghina segera setelah
tahu Naomi mengajaknya.
"Danny, cukup! Harus berapa kali aku
memperingatkanmu soal ini!" Naomi
sudah tidak tahan lagi.
Dengan senyum menjengkelkan, Danny
menjawab, "Okay, baiklah. Aku hanya
berusaha bersikap baik padanya.
Lagipula, Mayberry Commercial Street
adalah tempat khusus orang-orang kaya.
Kalau Gerald mau melihat-lihat, tentu
aku akan dengan senang hati
menunjukkan padanya."
Alice menatap Gerald. Memalukan sekali
rasanya ada bersama pria ini di tempat
umum. Dia lalu berkata, "Ya, sudah,
bagaimana kalau kita masuk saja? Danny,
kau sudah memesan ruang kan untuk
bagaimana kalau kita masuk saja? Danny,
kau sudah memesan ruang kan untuk
kita?"
Ya, sudah kupesankan. Aku minta
temanku untuk membantu. Biasanyya
seluruh ruangan sudah habis dipesan di
waktu-waktu seperti sekarang. Ayo, ikuti
aku!" Danny lalu memimpin teman-
temannya memasuki tempat karaoke.
Ini adalah kali pertama Gerald memasuki
tempat karaoke dan tempat itu cukup
megah untuknya. Terlebih, ruang VIP
__ADS_1
yang disewa Danny sangat luas dan
mewah. Ada akuarium besar dengan ikan
-ikan Arwana emas mengkilat
didalamnya.
Setelah memasuki ruangan, para gadis
mengambil tempat di pojokan sementara
Gerald memilih bersama teman-teman
asramanya di pojokan yang lain. Mereka
mulai bergantian menyanyikan lagu dan
suasana jadi semakin hidup!
Para gadis asik mengobrol. Terlihat Alice
yang berada di antara mereka dengan
kaki di atas sofa, memperlihatkan
kakinya yang jenjang dan putih.
Ini ikan Arwana?" Gerald
memperhatikan akuarium besar di
ruangan itu dengan rasa ingin tahu. Dia
pernah membaca tentang ikan Arwana
yang alanggap bisa membawa
keberuntungan dan nasib baik. Tetapi dia
merasa ikan yang ada di sana berbeda
dengan yang dia lihat di buku waktu itu.
Gerald lalu memutuskan bertanya pada
Harper
Harper mengangguk lalu menjawab, "Ya,
yang kau lihat ini memang ikan Arwana.
Tapi mereka sedikit berbeda karena
diimpor langsung dari Malaysia. Ikan
ikan ini termasuk jenis yang langka dan
harganya sangat mahal. Hanya orang
orang kaya yang bisa mendapatkannya."
Danny secara tidak sengaja mendengar
perbincangan Gerald dan Harper. Tentu
saja dia tidak bisa untuk tidak ikut
campur.
"Oh, Tuhaan. Gerald, kau tahu tas
Hermes, tapi kau tidak tahu soal ikan
Arwana?"
Dari tempat duduknya, Alice yang
mendengar kata 'Hermes' kembali
berada di samping Danny tertawa, "
Hahaha! Sayang sekali tidak ada ikan
versi imitasi! Jika ada pasti Gerald sudah
membelinya!"
"Ikan Arwana jenis ini dianggap bisa
membawa keberuntungan dan nasib baik
untuk pemiliknya," kata Alice tiba-tiba. "
Ah Alice! Kau memang benar-benar
punya wawasan yang luas!" Danny
memberinya acungan dua jempol. "Tentu
saja, Alice adalah gadis yang pintar.
Tidak seperti si miskin ini," kata teman-
teman Alice menyahut.
"Ruangan ini pasti mahal. Apa kau
sangat dekat dengan teman yang kau
sebut tadi, Danny?" tanya Alice.
Sebenarnya Alice mulai terkesan dengan
Danny. Jika Danny bisa bersikap sedikit
lebih dewasa, akan lebih besar
kesempatan Danny nmenjadi pacarnya.
"Ah, tenang saja. Ruang VIP ini harganya
hanya empat ribu dolar permalam."
Danny menjawab dengan nada bangga.
Dia lalu menepuk jidatnya sendiri seperti
baru mengingat sesuatu. "Astaga! untung
saja kau menyebutnya. Aku benar-benar
lupa bahwa aku sudah berjanji akan
menghubungi temanku jika sampai di
sini," Danny lalu melangkah minggir dan
mengeluarkan ponsel dari saku
celananya.
Gerald dan teman-temannya masih asik
berbincang di pojok ruangan.
Awalnya Naomi hanya berniat
merayakan hari ulang tahunnya dengan
teman-temannya dan teman-teman
Gerald. Tetapi sepertinya teman
temannya lebih tertarik dengan
__ADS_1
rombongan Danny. Faktanya memang
Danny dan Blondie lebih bisa bergaul dan
membaur dengan teman-teman asrama
Alice.
Sesaat kemudian pintu ruangan terbuka.
Seorang pria mengenakan jas hitam rapi
dan sepasang sepatu kulit masuk ke
dalam ruangan. Pria itu sangat tinggi dan
memiliki kulit cerah. Dia terlihat seperti
orang yang temperamental pada kesan
pertama.
"Hai, Nigel, akhirnya kau datang!
Danny segera berdiri dan menyambutnya.
"Danny, apa kabar? Bagaimana, kau puas
dengan fasilitas di ruangan ini?"
Tentu saja! Terima kasih sudah
menyediakannya untukku," Danny
menjawab dengan nada ceria.
Blondie dan teman-teman Danny yang
lain turut menyambut Nigel.
"Sudah, jangan bicara terus. Hei, kenapa
kau tidak mengenalkanku pada teman-
temanmu?" Nigel melihat teman-teman
Danny yang cantik dan pandangannya
berhenti pada Alice, gadis itu memang
sungguh menawan.
Ah iya aku hampir lupa! Semuanya,
perkenalkan ini temanku, Nigel Fisher.
Dia dan keluarganya memiliki bisnis di
bidang makanan dan katering. Dia adalah
pemilik Restoran Grand Marshall di
Mayberry Commercial Street dengan
keuntungan puluhan juta dolar setiap
tahunnya! Karena dia lah kita dapat
Laliunlnya. Kdluna ura rarr rcar uapa
mendapatkan ruangan ini malam ini,"
Danny memperkenalkan temannya
dengan bangga.
Restoran Grand Marshall? Wow! Orang-
orang yang bisa membuka restoran di
Mayberry Commercial Street pastilah
sangat kaya. Alice menatap Nigel dengan
pandangan berbinar.
"Hahhahaa.. jangan dengarkan Danny,
dia terlalu berlebihan. Bisnis keluargaku
masih sangat kecil. Kenapa aku bisa
dengan mudah memesan ruangan di
Emperor Karaoke Bar ini, karena
manajernya adalah teman dekat ayahku.
Jadi jika di waktu ke depan kalian mau
memesan ruangan, jangan ragu untuk
menghubungiku." Nigel tersenyum dan
mencoba merendah.
"Hai, Nigel, apakah kau sudah punya
pacar?" Gadis di samping Alice tiba-tiba
bertanya. Sontak seisi ruangan tertawa
karenanya.
Nigel hanya tersenyum dan
menggelengkan kepala. Dia malah
menoleh pada Alice dan berkata, "Hai,
Cantik. Senang bertemu denganmu."
Halo!" jawab Alice dengan senyum tipis.
Danny lalu memperkenalkan Nigel pada
temannya satu-persatu. Setelah
mengenalkannya pada semua orang.
Pandangan Danny lalu tertuju pada
Gerald yang berada di pojok ruangan, Dia
mengarahkan jari telunjuk padanya.
"Nigel, yang di sana itu namanya
Gerald!
Nigel mengulurkan tangan hendak
menyalami Gerald sebelum kemudian
mengernyitkan mata, ia teringat sesuatu
saat mendengar nama Gerald.
"Apa? Apakah yang kau maksud ini
adalah Gerald yang baru diputuskan
pacarnya lalu memberikan hadiah pada
Yuri dan Xavia di hutan dekat kampus
__ADS_1
tempo hari?"