Pria Yang Tak Terlihat Kaya

Pria Yang Tak Terlihat Kaya
Bab 2


__ADS_3

Ternyata selama ini orangtua dan kakak


Gerald berbohong perihal mereka yang


bekerja di luar negeri.


Gerald segera menghubungi


orangtuanya. Tentu saja mereka marah


setelah mengetahui kakak Gerald


membocorkan rahasia kekayaan mereka


tanpa izin, tetapi mereka menyadari


merekalah yang seharusnya meminta


maaf pada Gerald. Ayah Gerald berkata


bahwa dia tidak punya pilihan lain, dia


ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi


yang rendah hati. Ta lalu menjelaskan


semuanya pada Gerald.


Setelah menutup telpon, Gerald menuju


bank terdekat untuk mengambil seratus


ribu dolar dari akunnya dan berencana


menggunakannya untuk berbelanja


dengan beberapa kartu kredit hitam yang


dikirimkan kakaknya. Sebenarnya


sampai detik ini Gerald belumn


sepenuhnya percaya. Apakah ini mimpi?


Tetapi di sisi lain dia sangat bahagia.


Ah, Xavia, seandainya kita belum putus,


aku akan membelikan apapun yang kau


mau."


Yuri dan Danny, kalian selalu


mempermalukanku dan merendahkan


aku selama ini di kampus. Aku penasaran


akan seperti apa reaksi kalian jika tahu


semua ini." Gerald tersenyum kecut.


Hampir tengah hari ketika Gerald keluar


dari bank dan sejurus kemudian


ponselnya berdering. Ketua asrama


menghubunginya.


"Halo!"


"Gerald kau tidak apa -apa? Kenapa kau


tidak ada di asrama?"


"Oh, iya aku keluar untuk jalan-jalan


sebentar."


"Kami sungguh mengkhawatirkanmu


Hari ini ulang tahun Naomi. Katanya dia


Halo!


"Kami sungguh mengkhawatirkanmu.


Hari ini ulang tahun Naomi. Katanya dia


tidak bisa menghubungimu, jadi dia


berpesan apa kau bisa datang ke pestanya


malam ini. Dia sudah mengundangmnu


beberapa hari yang lalu, kan?"


Gerald lalu segera mengecek ponselnya


dan melihat daftar panggilan tak


terjawab. Benar saja, ada beberapa


panggilan dari Naomi.


Naomi adalah teman sekelas Gerald yang


cantik dan mereka sangat akrab. Satu-


satunya teman wanita Gerald. Selain


Xavia, tentu saja. Sebenarnya Gerald


ingat kalau beberapa hari lalu Naomi


mengundangnya ke pesta. Tetapi dia


tidak memberi respons apapun saat itu


mengingat kondisi keuangannya masih


sangat sulit. Sekarang tentu saja dia bisa


bersikap layaknya orang normal dan


berbaur dengan teman-temannya. Tidak


ada alasan untuk tidak datang ke pesta


Naomi, kan?


"Ah, iya, tentu saja. Aku akan


membawakan hadiah untuknya."


sekeliling lalu matanya tertuju pada toko


Hermes. Sebuah merk terkenal dengaan


barang-barang mewah dan mahal di


dalamnya. Meski harga barang-barang di


sana sangat mahal, banyak anak-anak


kaya yang berbelanja di sana demi


gengsi, tentu saja.


Gerald awalnya tidak berniat masuk ke


sana. Namun dia ingat kartu belanja yang


dikirimkan kakaknya pagi ini. Hmm. dia


jadi merasa penasaran.


Selama ini Gerald sangat hemat


membelanjakan uangnya. Tetapi kartu


dari kakaknya membuat rasa ragunya


perlahan surut. Setelah menghela napas


panjang, Gerald mendekati toko Hermes


yang megah itu.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa


kami bantu?" Salah seorang karyawan


toko yang cantik menyapa Gerald dengan


Setelah mnenutup telpon, Gerald melihat


sangat sopan.


Meskipun dengan pandangan yang


sedikit meremehkan karena melihat


penampilan Gerald. Wanita itu tetap


berusaha untuk sopan. Sebenarnya dia


sudah terbiasa dengan pengunjung yang


hanya melihat-lihat saja, tapi masih


tidak habis pikir orang dengan


penampilan lusuh seperti Gerald berani


masuk ke tokonya.


"Aku mau lihat-lihat dulu," jawab


Gerald. Ini kali pertama dia masuk ke

__ADS_1


toko yang sedemikian mewah jadi dia


belum tahu apa yang harus dibeli.


Karyawan itu memandang Gerald dengan


tatapan dingin.


Tiba-tiba...


"Yuri, kamu mau membelikanku tas?"


Gerald mendengar suara yang tidak asing


di telinganya. Sesaat kemudian dia


melihat seorang wanita cantik memasuki


toko dengan menggandeng mesra


seorang pria. Ekspresi wajah Gerald


seketika berubah ketika mengetahui


siapa yang masuk ke dalam toko. Ya,


siapa lagi kalau bukan Yuri dan Xavia.


Karyawan toko meninggalkan Gerald dan


menyambut mereka.


"Selamat datang, Tuan Lowell. Wah ini


pacar Anda? Cantik sekali!" Segera si


karyawan toko tadi melihat Yuri, ekspresi


wajahnya berubah 180 derajat. Ia


menyambut Yuri dengan hangat dan


senyum sumringah.


Semua orang tahu siapa Yuri dan


memang dia selalu menarik perhatian


dimanapun dia berada. Itulah kenapa si


karyawan toko buru-buru


menghampirinya.


"Hai Rachel. Ya ini pacarku, Xavia. Aku


membawanya kesini untuk melihat-


lihat, aku mau membelikan tas


untuknya", Xavia tersipu mendengar


perkataan Yuri, ia memang benar-benar


pandai menambil hati wanita.


Beberapa saat kemudian, Xavia


menunjuk sebuah tas yang menarik


perhatiannya, "Yuri, aku mau tas ini."


Tas yang dimaksud ditempatkan di


sebuah lemari kaca. Sebuah tas yang


mewah dan berkelas.


Rachel tersenyum dan menjawab, "Tas


ini adalah edisi khusus kolektor yang


diperkenalkan saat perayaan hari jadi


Hermes ke-200. Jumlahnya sangat


terbatas, hanya diproduksi 20o buah dan


dibanderol dengan harga lima puluh lima


ribu dolar."


"Apa?" Xavia terkejut mendengar


penjelasan Rachel.


Yuri juga sedikit kaget lalu kemudian


tersenyum dan menambahkan, "Dan


kalau tidak salah, tas ini buatan tangan


tahun lalu dan masuk dalam sepuluh


daftar item terbaik dunia. Benar, kan?"


Rachel berdecak kagum, "Wah, Anda


sepertinya tahu banyak soal tas, Tuan."


Yuri mengangguk dan menjawab, "ya aku


suka mencari tahu soal barang-barang


mewah, tapi tas ini memang terlalu


mahal".


Yuri beralih ke Xavia dan dan berkata, "


Sayang, kamu punya selera yang sangat


bagus, tapi lebih baik kita cari tas lain


saja yang seharga lima atau enam dolar."


Lima puluh lima ribu dolar hanya untuk


sebuah tas? Yang benar saja! Pikirnya.


Xavia kesal dan menjawab, "Apa? Pacar


Alice membelikan tas untuknya bahkan


dengan harga lebih dari delapan ribu


dolar!"


Baiklah, kalau begitu tunggu sampai


aku dapat kiriman uang bulan depan."


Beberapa pengunjung yang tadi


mendengar penjelasan Rachelke Yuri


kini mulai menghampiri lemari kaca


berisi tas tersebut. Ketika Yuri


menambahkan penjelasan, dia terlihat


tahu banyak dan orang terkesan


dengannya.


Sementara di tempat Gerald, sejak


karyawan toko meninggalkannya sendiri,


dia sudah tidak berminat lagi dan tidak


ingin Xavia melihatnya di sana. Lalu tiba-


tiba seorang karyawan toko yang lebih


muda menghampirinya, "Maaf, Tuan.


Apa yang.. apa yang bisa saya bantu?"


Kalau dilihat dari gugup dan


canggungnya, sepertinya dia karyawan


baru.


Gerald justru merasa iba karena


kesopanannya.


"Oh, aku sedang mencari hadiah ulang


tahun untuk seseorang", jawabnya.


"Apakah Anda punya kartu pelanggan,


Tuan? Jika iya, Anda bisa mendapatkan


potongan harga." Meski mungkin Gerald


adalah pelanggan pertamanya, gadis ini


tidak menilai Gerald dari tampilan


luarnya. Malah dia melayani Gerald


dengan penuh profesionalitas.


"Oh iya, mungkin kau bisa lihat ini."


Gerald mengeluarkan kartu pelanggan

__ADS_1


eksklusif yang diberikan kakaknya.


Karyawan itu sedikit terkejut melihat


kartu yang diberikan Gerald.


"Ini...ini kartu black-gold Tuan?"


Gadis itu kembali memandangi Gerald


dengan terheran. Pria muda ini


berpenampilan seperti mahasiswa biasa


dan sama sekali tidak terlihat seperti


orang kaya. Bagaimana bisa dia memiliki


kartu eksklusif ini? Pikirnya.


Gerald bingung lalu bertanya, "Apa itu


kartu black-gold?"


"Ini adalah kartu kredit eksklusif, Tuan.


Anda dapat menggunakan sampai


dengan tiga ratus ribu dolar dengan kartu


dengan tiga ratus ribu dolar dengan kartu


ini, sementara jumlah minimal


transaksinya adalah lima puluh ribu


Gerald jadi semakin bingung. Oke dia


sudah tahu bahwa keluarganya adalah


orang kaya, tapi tidak menyangka kalau


se-kaya ini!


Tuan, dari barang yang kami miliki di


toko ini, untuk mencapai jumlah


transaksi minimal anda tidak dapat


menggunakannya untuk item reguler.


Tapi mungkin anda dapat


menggunakannya untuk barang di edisi


khusus. Saya akan mengambilkannya


untuk Anda.", karyawan muda itu


membungkuk sekilas lalu meninggalkan


Gerald yang masih dalam kebingungan.


Di sisi lain toko, Yuri dan Xavia masih


berkeliling melihat barang-barang di


sana dengan decak kagum.


Sikaryawan muda membuka kunci


lemari kaca dan mengeluarkan tas edisi


khusus.


Rachel terheran lalu bergegas


menghampirinya, "Hei, Wendy! apa yang


kau lakukan?"


Wendy membalikkan badan dan berkata,


aku mau menunjukkan tas ini ke


seorang pengunjung."


"Apa kau pikir tas ini bisa ditunjukkan


kepada sembarang pengunjung? Siapa


orangnya?"


Rachel mulai kesal pada Wendy.


Wendy menunjuk ke tempat Gerald, "


Seorang pria di sebelah sana."


Yuri dan Xavia yang mendengar jawaban


Wendy mengarahkan pandangan mereka


ke orang yang dimaksud. Seketika


mereka tertawa lepas. 1


Hahahal"


Yuri benar-benar tidak bisa menahan


"Hahaha!"


tawanya ketika melihat Gerald.


Hei! Apa yang kau bicarakan? Pria itu


mau melihat tas edisi khusus?" tanya


Yuri sambil tangannya menunjuk Gerald


dengan congkak. Ini pasti hanya lelucon!


Yuri memandang Gerald dengan tatapan


merendahkan, Gerald merasa malu


karena pengunjung lain juga


memperhatikannya. Rachel pun juga


tidak bisa menyembunyikan rasa


kesalnya, "Wendy! Apa kau benar-benar


yakin pria itu akan mampu membeli


barang di toko ini? Ayolah jangan


bercanda!"


Aku tidak sedang bercanda, Rachel. Dia


memiliki kartu black-gold. Dia


pengunjung VIP."


"Hahaha!" Sekali lagi Yuri tertawa keras.


"Pengunjung VIP kau bilang!? Hei,


dengar, dia cuma seorang gembel di


kampus kami!"


Yuri sambil tangannya menunjuk Gerald


dengan congkak. Ini pasti hanya lelucon!


"Hahaha!" Sekali lagi Yuri tertawa keras.


"Pengunjung VIP kau bilang! ? Hei,


Xavia memannaaing Terara dengan


tatapan jijik dan berkata, "Gerald,


tidakkah kau malu pada dirimu sendiri?


Kenapa kau tidak segera pergi saja dari


Sini?


Pengunjung lain turut menertawakan


Gerald. Kejadian di toko ini sungguh


hiburan bagi mereka.


Wendy merasa berada di posisi yang sulit


karena Rachel juga tidak membelanya.


Gerald melihat sekeliling, orang-orang


masih tertawa dan memandangnya hina.


Ia lalu memutuskan menuju kasir dan


mengeluarkan kartu black-gold dari


kantong celana.


"Aku beli tas edisi khususnya!


Xavia memandang Gerald dengan


tatapan jijik dan berkata, "Gerald,


sini?

__ADS_1


__ADS_2