
Xavia terpana melihat lembaran-
lembaran uang yang bertebaran di tanah.
Xavia benar-benar merasa bingung.
Dia tidak menyangka bahwa kantong
plastik sampah berwarna hitam yang
dibawa Gerald berisi uang sebanyak itu!
Apa? Ini semua uang..."
Xavia benar-benar tidak bisa berpikir lagi.
"Gerald, dari mana kamu dapatkan uang
sebanyak ini?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Xavia,
Gerald tidak peduli dan langsung
beriongkok memunguti seratus ribu dolar
No text has been found on this screen in the
Normal Mode of Universal Copy. Please try
again or use the Scanner Mode.
Apa pecumu aatamu aku m uuak
berarti buatmu karena aku hanyalah
seorang lelaki miskin?"
"Apa pedulimu? Katamu aku ini tidak
Setelah berkata demikian, Gerald
berbalik untuk pergi.
Kali ini Xavia sudah benar-benar tidak
bisa mengontrol dirinya lagi.
Kalau Gerald benar-benar miskin dan dia
benar-benar membeli tas itu
menggunakan one-time shopper's card,
Kavia tidak akan pernah menyesali
putusnya hubungan mereka.
Dia tidak akan pernah menyesalinya!
Namun, ternyata sekarang Gerald punya
uang tunai sebanyak seratus ribu dolar.
"Gerald, berhenti! Sebaiknya kamu
ceritakan apa adanya kepadaku. Kalau
tidak, aku akan berteriak!"
Xavia berteriak dan didorong oleh emosi
yang meluap-luap sambil melompat ke
arah Gerald.
Dia sudah bertekad kali ini dia harus
mengetahui kebenaranya.
Gerald tidak peduli lagi pada Xavia.
Xavia mendadak merasa takut. Jangan-
jangan Gerald benar-benar telah menjadi
seorang kaya raya!
Teriak?
Hahaha.
Gerald tersenyum sinis dan berkata,"
Xavia, silakan saja lakukan apapun yang
kamu mau."
"Ahh! Tolong! Tolong! Ada orang mau
perkosa aku!" Xavia berteriak sekeras-
kerasnya.
Meskipun malam telah larut, tapi masih
banyak pasangan yang sedang
menghabiskan waktu berduaan disekitar
situ.
Demi mendengar teriakan Xavia, mereka
segera berlari menuju ke arah danau.
"Sialan!"
Gerald tidak menyangka bahwa Kavia
akan benar-benar berteriak minta tolong
dan berbuat seolah--olah dia akan
memperkosanya!
"Xavia, apa yang sedang kamu lakukan?
Okay, sekarang kamu menang dan aku
kalah."
"Gerald, aku hanya ingin kamu jujur
kepadaku dari mana kamu dapatkan
uang seratus ribu dolar itu! Tolong
katakan kebenarannya sekarang!" Xavia
berkata sambil mengerutkan keningnya.
Gerald benar-benar merasa putus asa
dengan perempuan ini.
Gerald benar-benar tidak ingin
berhubungan lagi dengan Xavia.
Itu sebabnya Gerald memutuskan untuk
terus berbohong dan berharap Xavia
membenci dirinya sepenuhnya.
"Oh, aku harus mengembalikan seratus
ribu dolat ini kepada seseorang. Aku, kan
tadi cerita tentang seorang anak
perempuan yang aku tolong beberapa
hari lalu? Nah, selain memberiku shopper
's card, mereka juga memberiku sepuluh
ribu dolar sebagai tambahan hadiah.
Tanpa mereka sadari, mereka memberiku
seratus ribu dolar. Oleh sebab itu aku
bermaksud mengembalikan yang
sembilan puluh ribu dolar!" Gerald
mencoba bercerita dengan nada tulus.
Xavia berusaha keras untuk mencerna
semuanya.
Pertama, Xavia tahu bahwa Gerald
bukanlah seorang yang pandai
berbohong.
Kedua, jika Gerald benar-benar telah
menjadi kaya raya, kenapa penampilanya
tetap biasa saja?
Gerald sama sekali tidak terlihat seperti
layaknya seorang kaya raya.
Setelah mendengarkan seluruh
penjelasan Gerald, Xavia benar-benar
merasa lega sekarang.
Semuanya terasa masuk akal sekarang.
"Sekarang aku paham. Singkat kata,
selain 10 ribu dolar tunai ini, kamu sudah
tidak punya apa-apa lagi!"
Xavia menarik napas panjang dan dia
merasa keputusanya untuk membiarkan
Gerald meninggalkanya sudah tepat dan
Kavia yakin dia tidak akan pernah
__ADS_1
menyesali keputusannya ini.
"Kalau kamu sudah puas, sekarang aku
mau pergi."
Selanjutnya Gerald berlalu dengan
membawa seratus ribu dolar tunai
ditangannya.
Seorang lelaki miskin selamanya akan
tetap miskin! Kalau begitu aku akan
kembali kepada Yuri!'"
Xavia buru-buru pergi setelah beberapa
jenak memandang punggung Gerald
dengan tatapan jijik
Gerald merasa sangat tertekan setelah
menyetor uangnya melalui mesin ATM.
Kavia sudah benar-benar berubah, sama
sekali berbeda dengan Xavia yang pernah
dikenalnya.
Xavia, Xavia.
Andai saja Xavia bisa melupakan soal tas
Hermes dan mau menerima dirinya
meskipun ketika dia tidak punya uang,
Gerald tidak akan keberatan untuk
kembali bersamanya.
Nyatanya, Gerald tidak hanya memiliki
sepuluh ribu dolar, dia bahkan kelipatan
sepuluh ribu dolar yang tak terhitung
jumlahnya!
Ahh!
Gerald menghela napas dan mulai
berjalan pulang ke asrama.
Tiba-tiba, poselnya berdering.
Sebuah panggilan telepon dari Naomi.
"Gerald, maukah kamu mencicipi kue
buatanku? Kalau mau, datanglah ke
asrama putri, nanti aku bawakan kuenya
ke sana!"
Seperti biasanya Naomi selalu perhatian
dan ingat dengan Gerald.
Selama ini, keduanya berhubungan baik
dan Naonmi selalu merasa senang dan
damai kapanpun ketika Gerald
bersamanya.
Naomi juga merasa nyaman untuk
bercerita apapun kepada Gerald.
Berbeda dengan penghuni asrama
lainya, Gerald tidak memiliki niat
terselubung dalam berteman. Naomi
dapat merasakan bahwa Gerald tulus
bersahabat denganya, sama sekali tidak
bertujuan untuk mengajaknya ketempat
tidur seperti yang lainya.
Hmm
Hmm!
"Kue? Baiklah, aku sendiri sudah bosan
banget makan cake..."
Gerald tertawa. Dia benar-benar bisa
persahabatanya dengan Naomi, bisa
dibilang Naomi adalah satu-satunya
sahabat perempuan yang dia miliki.
"Okay, baiklah. Gerald, apapun yang
terjadi denganmu malam ini, ingatkah
bahwa kamu akan selalu menjadi sahabat
terbaiku! Aku sangat like tas yang kamu
belikan untukku!
Mereka masih terus berbincang melalui
sambungan telpon sampai beberapa
waktu kemudian sebelum akhirnya
Naomi menutup percakapan.
Sementara itu, teman-teman Naomi di
asrama sudah tidak sabar untuk terus
menunggu.
Naomi, kenapa sih kamu selalu baik
dengan seorang laki-laki seperti Gerald?"
"Naomi, kenapa sih kamu selalu baik
dengan seorang laki-laki seperti Gerald?"
Alice, aku tahu bahwa kamu
meremehkan Gerald, tapi kamu harus
percaya padaku! Dia bukanlah seperti
yang kamu pikirkan! Gerald itu orangnya
sangat otentik dan seorang yang sangat
baik kalau kamu sudah kenal lebih dekat."
Alice juga sedang berada di kamar Naomi.
Alice merasa sangat tertekan malam itu.
Suatu hari Alice berkeinginan untuk
bertemu pria baik yang bisa dia
pertimbangkan untuk diajak kencan,
tetapi orang pertama yang dia temui
adalah Gerald. Lalu Alice memiliki
perasaan terhadap Nigel, seseorang yang
membuat dia kehilangan segalanya
dalam semalam.
Alice masih ingat betapa dia merasa
sangat kesal saking malunya ketika
mereka sudah menunggu diluar Wayfair
Mountain Entertainment tapi kemudian
tidak bisa masuk.
Itu benar-benar pengalaman yang tidak
menyenangkan!
Alice merasa bahwa kesialannya dimulai
sejak dia bertemu dengan Gerald.
Itulah sebabnya Alice sangat membenci
Gerald.
"Aku tidak bisa percaya bahwa dia
memberimu sebuah tas Hermes palsu.
Menurutku ini sangat keterlaluan dan
menjijikan!"
Alice merasa sangat kecewa ketika
melihat Naomi memperlakukan tas
pemberian Gerald dengan perlakuan
yang sangat istimewa.
Alice meraih tas itu dari Naomi dan
__ADS_1
membuangnya ke tempat sampah.
Naomi buru-buru berjalan ke tempat
sampah dan bermaksud mengambil tas
itu kembali.
"Selamat Ulang Tahun, Naomi!"
Belum sempat Naomi melakukanya,
sahabat- sahabatnya sesama penghuni
asrama memasuki kamarnya dengan
membawa kue ulang tahun.
Ah, ternyata kalian semua di sini!"
Naomi buru-buru menuju pintu dan
menyapa teman-temanya.
Lalu Felicity dan Xavia menuju kamar
Naomi.
Meskipun Naomi sudah sangat jarang
berbicara dengan Xavia karena Gerald,
tapi Naomi tetap menyapa Xavia dengan
sebentuk senyum manis di bibirnya.
Wow! Naomi, kamu pasti menerima
banyak hadiah keren! Sampai-sampai
kamu membuang tas cantik itu ke tempat
sampah? Oh, my God, padahal ini tas
Hermes lho!" Felicity mengatakan itu
sambil bercanda demi melihat tas
Hermes di tempat sampah.
Felicity Nelson benar-benar seperti
boneka saking cantiknya. Felicity dan
Alice, bisa dibilang keduanya adalah
gadis tercantik di seantero asrama.
Alice memandang Felicity dan menyadari
bahwa mereka berdua sama-sama cantik
dan elegan, tidak dapat dipungkiri Alice
merasa sedikit tersaingi.
"Hmm! Jadi, kalau ini Hermes? Pastilah
ini tas Hermes palsu karena yang beli
adalah seorang lelaki miskin!" Alis
berkata demikian sambil mengernyitkan
kening.
Xavia berdiri tepat disebelah Felicity dan
seketika wajahnya berubah demi meliat
tas Hermes yang sedang mereka
bicarakan.
Xavia langsung menyadari bahwa itu
adalah tas Hermes yang dibeli oleh
Gerald seharga limapuluh lima ribu dolar
pagi tadi!
Xavia merasa tidak nyaman setelah
melihat tas itu.
"Palsu?"
Felicity mengambil tas dari tempat
sampah dan mengamatinya dengan teliti.
Setelah beberapa saat, mata Felicity
membelalak karena terkejut sambil terus
memandang dan memutar tas yang ada
"Ini...Aku pikir ini bukan tas Hermes
palsu. Aku pikir ini benar-benar produk
asli!"
"Asli?" Semua gadis asrama itu terkejut.
"Bagaimana mungkin? Gerald itu miskin
banget. Bagaimana bisa dia membelikan
Naomi sebuah tas Hermes asli?"
Tas ini adalah edisi khusus "collector's
item" dan dijual dengan harga diatas
limapuluh ribu dolar!" Alice berkata sinis.
Alice bisa merasakan bahwa jantungnya
berdetak lebih kencang demi mendengar
Felicity mengatakan bahwa tas Hermes
itu adalah produk asli.
Tidak, aku jamin ini asli. Aku pernah
menyentuh tas Hermes asli di Hermes
Boutique Store and rasanya ini benar-
benar persis. Rasanya tidak mungkin tas
Hermes palsu bisa punya tekstur yang
sama persis dengan aslinya. Aku punya
kontak manajer Hermes Boutique Store
yang terletak di seberang kampus kita
dan aku bisa menelpon untuk bertanya
apakah seseorang telah membeli collector
s item dari tokonya. Kita semua akan
tahu kebenarannya!"
Felicity memegang tas Hermas ditangan
dan mempelakukanya selayaknya sebuah
benda yang sangat berharga.
Ucapannya membuat para gadis seketika
terkesiap.
Lalu Felicity mengambil telepon
genggamnya dan mulai mencari nomer
telpon nmanager dari Hermes Boutique
Store.
"Kamu tidak perlu menelpon.."
Mendadak Xavia membuka suara. Xavia
tidak ingin Felicity melanjutkan
teleponnya. Xavia masih tidak rela
menerima kenyataan bahwa Gerald
membelikan tas mahal senilai limapuluh
lima ribu dolar untuk diberikan kepada
perempuan lain.
Namun Felicity memutuskan untuk tidak
meneruskan panggilan telepon, dia
memutuskan untuk menyampaikan
kebenaranya secara langsung.
Tas Hermes ini beneran asli. Ketika
Gerald membelinya pagi tadi, Yuri dan
aku...kamijuga sedang berada di Hermes
Boutique Store. Gerald membayar
limapuluh lima ribu dolar untuk membeli
tas itu!
"Apa?"
Bam!
Semua yang ada di ruangan itu
mematung.
__ADS_1