
"Gerald, kenapa kau harus berpura-pura
punya uang?" ejek Xavia.
Sementara Rachel masih terkejut melihat
kartu black-gold yang diletakkan Gerald
di meja kasir. Pasalnya, kartu Universal
Global Supreme Shopper hanya
dikeluarkan untuk keluarga-keluarga
kaya dan berkedudukan tinggi di dunia.
Jadi tidak diragukan lagi kalau pemilik
kartu itu pastilah orang yang sangat
berada.
Dari sisi yang lain, Wendy bergegas
mengambil kartu itu dan
memasukkannya ke alat pembaca. Lalu
Gerald mengetikkan tanggal lahirnya
sebagai pin dan transaksi berhasil!
"Oh, ya, Tuhan!" Semua orang terkesiap.
"Pria ini baru saja membeli Hermes edisi
khusus seharga lima puluh lima ribu
dolar? Dia benar-benar orang kaya!"
"Sungguh rendah hati sekali"
Para pengunjung memandangi Gerald
penuh takjub.
Dari tempatnya berdiri, Yuri sungguh
tidak percaya dengan yang baru saja
disaksikannya. Bagaimana bisa si miskin
ini tiba-tiba menjadi kaya? Ada rasa
sesak di dadanya. Beberapa saat lalu dia
menunjukkan wawasan luasınya soal
barang-barang mewah, sekarang Yuri
tidak lebih dari seorang badut. Hal yang
sama juga dirasakan Xavia.
"Kau.kauu.. darimana kau dapatkan
kartu itu, Gerald?"
Bagaimana bisa dia membeli tas mewah
edisi khusus seharga lima puluh lima ribu
dolar semaunya? Xavia lebih tidak
percaya karena Gerald membelinya
Supreme Shopper! Bahkan kartunya saja
menggunakan kartu Universal Global
Supreme Shopper! Bahkan kartunya saja
sudah bernilai tinggi.
Apa sungguh dia sendiri yang
membelinya? Apa ini nyata?
Gerald memandang Xavia tanpa berkata
sepatah katapun. Dia masih bisa
merasakan sakit hatinya atas kejadian
malam lalu. Saat ini yang ada di
kepalanya adalah, 'kakakku memberiku
kartu ini dan aku bisa membeli apapun
sampai tiga ratus ribu dolar'.
Tuan, saya akan segera mengemas tas
ini untuk Anda. Mohon menunggu sekitar
tiga puluh menit. Karena ini adalah
barang yang sangat eksklusif, jadi kami
harus memastikan mengemasnya dengan
baik".
penawaran Wendy dan mengambil tas itu
lalu bermaksud segera meninggalkan
Gerald merasa gugup menyadari semua
orang di toko masih memperhatikannya.
Akhirnya dia memutuskan menolak
penawaran Wendy dan mengambil tas itu
lalu bermaksud segera meninggalkan
toko.
"Berhenti! Tunggu!" Dengan pandangan
masih menghina, Yuri menghentikan
langkah Gerald dan menghalanginya
pergi.
"Apa lagi yang kau inginkan?" jawab
Gerald dingin.
Yuri mendengus kesal dan menunjuk
kartu black-gold di tangan Gerald, "Aku
curiga kau pasti mencuri kartu itu dari
pemilik aslinya kan? Lagipula apa
susahnya juga mendapatkan password di
zaman yang canggih seperti sekarang!"
Yuri lalu beralih ke Rachel, "Rachel, lebih
baik kau laporkan ini pada manajermu.
Jika kartu ini memang benar hasil curian,
tentu akan menjadi reputasi buruk bagi
toko kalian jika publik tahu."
Xavia sependapat dengan Yuri, "Benar,
Rachel, lagipula lihat saja
penampilannya, bagaimana mungkin
gembel macam dia bisa memiliki kartu
eksklusif dan membeli tas mahal?"
Rachel merasa apa yang dikatakan Yuri
dan Xavia masuk akal juga. Dia
memandang Gerald dan berkata, "Tuan,
mohon tunggu sebentar. Manajer kami
akan segera datang."
Pengunjung lain dengan sigap
menghalangi jalan Gerald agar dia tidak
bisa menuju pintu keluar.
Gerald tidak menyangka urusan membeli
__ADS_1
tas saja bisa jadi serumit ini. Akhirnya dia
pasrah, karena akan percuma untuk
berusaha keluar dari toko ini sekarang.
Dia memutuskan menurut saja
menunggu manajer toko datang.
kisaran usia tiga puluhan mengenakan
baju yang sangat elegan menghampiri
mereka. Rachel segera memberitahu
manajernya bahwa mereka mencurigai
Gerald telah mencuri kartu black-gold.
Manajer toko memandang Gerald dengan
saksama, lalu tersenyum dan berkata, "
Maaf Tuan, jika Anda tidak keberatan,
boleh saya lihat kartu black-gold Anda?"
ujar manajer itu dengan sopan. Tentu dia
harus bersikap profesional sebagai
manajer toko ternama dan tidak boleh
menilai pengunjungnya hanya dari
tampilan luar saja.
Gerald tidak bisa melakukan apa-apa
selain menuruti manajer toko dan
menyerahkan kartu black-gold nya.
Manajer toko membawa mesin pembaca
khusus dan dengan lihai memasukkan
kartu itu ke slot.
Tuan, bisa Anda sebutkan nama
belakang dan nomor identitas Anda?"
tanya manajer toko dengan ramah.
"Sekarang mari kita lihat apa yang akan
dikatakannya!" Yuri berkata dengan
pengecekan kartu. Sesaat kemudian,
ekspresi terkejut tersirat di wajahnya
sebagai nasabah eksklusif, yang berarti
dia berasal dari keluarga yang sangat
"Namaku Gerald Crawford dan kakakku
Jessica Crawford", meskipun kakaknya
sudah menjadikan tanggal lahirnya
sebagai pin, tapi Gerald belum yakin atas
nama siapa kartu itu didaftarkan. Dia lalu
juga menyerahkan kartu identitasnya ke
manajer toko.
"Sekarang mari kita lihat apa yang akan
dikatakannya!" Yuri berkata dengan
senyum sinis dan nada penuh
kemenangan. Dia lalu mengeluarkan
ponselnya dari saku, bersiap menelpon
polisi jika benar kebohongan Gerald
terungkap
Manajer toko masih memproses
pengecekan kartu. Sesaat kemudian,
ekspresi terkejut tersirat di wajahnya
memang benar-benar pemilik sah kartu
black-gold itu. Gerald juga tercatat
sebagai nasabah eksklusif, yang berarti
dia berasal dari keluarga yang sangat
kaya dan terpandang. Dengan
berkeringat dingin, dalam hati wanita
paruh baya itu mengumpat, 'Sial! Rachel
sudah mempermalukanku di depan
pelanggan terhormat!'.
Wanita itu kemudian mengeluarkan
kartu dari slot, menghampiri Gerald dan
membungkukkan badan sebagai bentuk
permohonan maaf, "Tuan Crawford, saya
mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
Ini saya kembalikan kartu Anda."
Apa? Sekali lagi seluruh pengunjung
dibuat kaget.
Rachel yang berdiri di depan Gerald
dengan maksud menghalangi jalannya
tadi, kini merasa sangat malu, "Aaa..
Andaa... Anda yakin tidak salah cek, Bu?
Apa Tuan ini benar-benar pemilik kartu
itu?" Manajer toko tiba-tiba menampar
Rachel dengan keras. "Minggir
sekarang!"
Rachel menutup wajahnya dan dan
bergegas minggir.
Yuri dan Xavia masih terpaku tidak
percaya.
Sang manajer yakin mereka berdua
mengenal Gerald dan mereka juga yang
mencoba mempermalukannya.
Karenanya, dia berpikir mungkin dia
harus mengusir mereka dari toko Hermes
-nya segera. Wanita itu mendekati Yuri
dan Xavia lalu berkata, "Maaf Tuan dan
Nona, apa yang Anda berdua coba
buktikan? Kenapa kalian memaksa
karyawan saya mempermalukan
pengunjung VIP kami?"
Yuri menatap wanita itu dan bersikeras, "
Hei, justru aku berniat baik dengan
memberimu peringatan!"
"Kami menghargai niat baik Anda, Tuan.
Tetapi jika Anda tidak berniat membeli
__ADS_1
apapun disini, silakan tinggalkan toko
kami sekarang juga!" ujar manajer toko
dengan tajam dan dingin.
Wanita itu benar-benar nmengusir Yuri
dan Xavia!
Xavia menatap Yuri, berharap dia bisa
menyelamatkan mereka dari situasi
memalukan ini. Tapi sayangnya Yuri
tidak bisa berbuat apa-apa, keringat
dingin mengucur deras dari wajahnya.
Bahkan jika dia mengeluarkan uang
sepuluh ribu dolar untuk membeli tas,
tetap tidak akan ada apa-apanya
dibanding Gerald. Gerald benar-benar
pelanggan eksklusif, sial!
"Ayo, kita pergi!" Yuri menggertakkan
gigi menahan marah dan menarik Xavia
keluar meninggalkan toko.
Rachel yang masih berada disana segera
membungkukkan badan merasa bersalah.
"Maafkan saya. Saya benar-benar mohon
maaf, Tuan Crawford." Rachel ketakutan
dan sangat menyesal telah menilai
pelanggan tokonya hanya dari tampilan
luar.
Gerald tidak menghiraukannya lalu
beralih pada Wendy dan tersenyum,"
Terima kasih atas semuanya. Kau tidak
perlu membungkus tasnya karena aku
sedang buru-buru. Aku permisi." Gerald
mengambil tasnya dari meja kasir dan
segera keluar meninggalkan toko.
Ini kali pertama Gerald menang telak
perkara uang! Selama ini dia tidak
pernah merasakan menghabiskan uang
dalam jumlah besar sekaligus. Tetapi
sekarang dia benar-benar tidak perlu
pusing lagi.
Segera setelah keluar dari toko,
ponselnya berdering. Rupanya panggilan
dari Naomi. Gerald mengangkatnya dan
mendengar suara cemas Naomi dari
seberang sana, "Gerald, aku tidak peduli
apa yang orang lain pikirkan tentangmu.
Kau sahabatku! Kau harus datang ke
pestaku malam ini, semua teman
asramamu juga datang"
Gerald tersenyum kecil dan menjawab, "
Iya, tenang saja. Aku akan segera ke
sana."
"Jangan lupa berpenampilanlah yang
rapi, aku mau mengenalkanmu pada
seseorang.", lanjut Naomi bersemangat.
Gerald baru menyadari dia tidak
mungkin memberikan tas Hermesnya ke
Naomi tanpa dikemas. Dia lalu menuju
supermarket terdekat dan membeli
kantong kresek seharga dua puluh sen,
lalu memasukkan Hermes ke dalamnya.
Dengan menggunakan taksi, Gerald
segera menuju Restoran Jade.
Sementara itu di Restoran Jade, Naomi
menutup telponnya dan tersenyum pada
seorang gadis berambut panjang yang
duduk di sebelahnya. Gadis itu benar-
benar cantik bak bidadari.
yang sangat baik dan rajin. Aku akan
mengenalkanmu padanya!" Naomi
jeruknya ketika kemudian pintu restoran
terbuka..
"Alice, yang kutelpon baru saja adalah
Gerald, dia sahabat baikku. Dia orang
yang sangat baik dan rajin. Aku akan
sengaja mengundang Alice dan beberapa
teman asramanya. Naomi tahu benar
mengenalkanmu padanya!" Naomi
terdengar sangat bersemangat.
Sementara Alice yang diajak bicara
sedang asyik mendengarkan musik dari
earphone yang terpasang di telinganya.
Kakinya nmenghentak kecil mengikuti
irama musik.
Okay!" jawabnya.
Alice Bradford dan Naomi adalah sahabat
karib sejak kecil, hingga sampai
kuliahpun mereka berada di kampus
yang sama hanya beda fakultas. Naomi
sengaja mengundang Alice dan beberapa
teman asramanya. Naomi tahu benar
meskipun Alice adalah gadis yang sangat
cantik, tapi dia sudah menjomblo sejak
SMA dan sepertinya saat ini sedang
berusaha mencari pasangan.
Alice sedang membuka tutup botol jus
jeruknya ketika kemudian pintu restoran
terbuka..
__ADS_1