
Gerald menyadari apapun yang Xavia
katakan tentang foto itu adalah hanya
alasan untuk bertemu denganya.
Saat ini Gerald sama sekali tidak ingin
bertemu Xavia. Gerald masih belum bisa
melupakan rasa sakit hatinya, rasa sakit
yang diakibatkan oleh rasa cintanya yang
begitu besar ketika itu. Namun, Gerald
juga tidak dapat membohongi dirinya
sendiri bahwa di lubuk hatinya yang
terdalam masih tersimpan rasa untuk
Xavia. Mendengar nada putus asa dari
Xavia, Gerald tidak sampai hati
mendengarnya dan mendadak
menyetujui permintan Xavia untuk
bertemu.
Gerald beranjak untuk mencari foto-foto
yang selama ini dibiarkanya teronggok
begitu saja di lemarinya selama beberapa
waktu. Foto-foto kenangan Gerald dan
Xavia ketika mereka menghabiskan
waktu bersama di sebuah danau kecil
dekat kampus. Dalam foto itu, tampak
Xavia memeluknya dengan mesra
sementara dirinya pun tengah
merengkuh Xavia dengan kedua
tanganya dan senyum manis tersungging
dari bibirnya sambil kedua matanya
menatap mesra Xavia.
Namun situasinya sudah sangat berubah
sekarang ini, Gerald kembali merasakan
rasa sakit hatinya yang dalam.
Gerald teringat dengan seratus ribu dolar
yang dia ambil pagi tadi di bank.
Awalnya, Gerald berencana
menghabiskan uang tersebut untuk
menikmati hidup, membeli apapun yang
sebelumnya dia inginkan, tapi tidak bisa
dilakukan di masa lalu. Namun kemudian
Gerald menyadari bahwa yang
dilakukanya sangatlah naif.
Gerald menyadari bahwa untuk itu dia
Gerald menyauarn vanwa uuK Tu dia
tidak harus mengambil uang tunai. Dia
bisa bertransaksi menggunakan kartu-
kartu yang diberikan oleh saudara
perempuanya. Gerald tiba-tiba sadar
bahwa menyimpan uang tunai dalam
jumlah besar di asrama adalah bukan ide
yang baik. Bagaimana nanti dia bisa
menjelaskan, kalau sampai teman
sekamarnya mengetahui dia membawa
uang tunai sebanyak itu?
Selama bertahun-tahun, mereka adalah
teman-teman yang tulus dan setia
menemani si miskin Gerald. Gerald tidak
ingin tenman-temanya ini
meninggalkanya jika dia mengatakan
kebenarannya sekarang.
"Baiklah, aku akan turun menemui Xavia
sebelum aku mengembalikan seratus ribu
dolar ke rekeningku di bank." Gerald
tidak berhasil menemukan tas kertas
yang bagus. Sebagai gantinya, secara
serampangan Gerald mengambil kantong
plastik hitam yang biasa digunakan oleh
penghuni asrama untuk membuang
sampah dan lalu memasukan uang
seratus ribu dolar bersama foto-foto
kenanganya bersama Xavia di danau kecil
dekat kampus.
"Aku di sini, Gerald!" Xavia
melambaikan tanganya begitu dia
melihat Gerald berjalan kearahnya.
Tiba-tiba segala sesuatunya terasa
seperti kembali ketika meraka berdua
masih berpacaran. Bedanya, kali ini Xavia
yang merasa lebih tidak nyaman. Banyak
pertanyaan menggantung di benaknya.
Gerald telah membeli sebuah tas Hermes
seharga lima puluh lima ribu dollar hari
ini.
Lima puluh lima ribu dolar!
Butuh waktu berapa lama untuk seorang
biasa mengumpulkan uang sebanyak itu?
Sulit bagi Xavia untuk memahami
bagaimana bisa Gerald mendadak kaya
raya sejak putus dengannya, Xavia benar-
benar tidak habis pikir apa yang
sebenanya terjadi.
Itulah sebabnya dia sengaja
menggunakan foto-foto sebagai alasan
untuk bertemu Gerald.
"Ada apa?" Gerald masih marah ketika
dia tiba di danau sehingga dia tidak bisa
menampilkan sisi lembut seperti
biasanya ketika berhadapan dengan
Xavia. Sebaliknya, kali ini Gerald memilih
untuk bersikap dingin.
Xavia tidak tahan demi melihat kantong
plastik sampah berwarna hitam di tangan
Gerald.
"Ahh, kupikir kamu akan membawa
sesuatu ketika kamu menemuiku."
Xavia benar-benar merasa sangat kecewa.
Sebelumnya Xavia berangan-angan
bahwa Gerald akan membawakanya tas
Hermes senilai limapuluh lima ribu dolar
__ADS_1
sebagai alat untuk meluluhkan hatinya
sembari memohon agar dirinya mau
kembali menjadi pacar Gerald.
Di luar dugaan ternyata Gerald hanya
membawa tas sanmpah yang perlu untuk
segera dibuang begitu selesai bertemu
denganya.
Gerald mengambil foto-foto dari balik
kantong bajunya dan
memperlihatkannya kepada Xavia dan
berkata, " Ini Xavia, Setelah foto-foto ini
aku kembalikan, maka di antara kita
sudah tidak ada lagi hubungan sama
sekali."
Gerald sebenarnya berencana untuk
menyimpan foto-foto itu sebagai kenang
-kenangan, tapi kemudian dia merasa
bahwa itu sudah tidak ada gunanya lagi
untuk dilakukan!
Xavia merasa sangat tersinggung kali ini.
Dia merasa sangat marah dan dia
menghentakkan kakinya lalu memukul
dada Gerald. I
"Dasar bodoh! Kamu benar-benar
bodoh! Kamu pikir alasan aku
menemuimu hanya semata-mata
memintamu untuk mengembalikan foto-
foto itu?"
Gerald menampilkan ekspresi terkejut di
wajahnya.
"Kalau bukan itu alasannya, lalu kenapa
kamu meminta aku menemuimu?"
"Gerald, bagaimana aku bisa
membuatınu memahami kebenaranya?
Apakah kamu benar-benar berpikir
bahwa ada sesuatu antara aku dengan
Yuri?
Xavia melanjutkan, "Kamu benar-benar
bodoh, aku melakukan itu semua karena
aku sedang mengujimu!"
"Mengujiku?" Gerald bertanya sambil
tersenyunm pahit.
Xavia pergi ke hutan berduaan dengan
Yuri hanya semata untuk menguji
Gerald? Sepertinya lebih tepat dikatakan
bahwa itu adalah upaya Xavia untuk
menguji dirinya sendiri.
Gerald tidak ingin mengatakan apapun
lagi.
"Baiklah kalau begitu, persetan dengan
ujian itu. Saya hanya ingin
mengembalikan foto -foto ini dan kita
sebaiknya menjauhi satu sama lain mulai
sekarang juga, selamat tinggal!"
Gerald menggelengkan kepalanya
meninggalkan Xavia.
"Kamu, kamu....Gerald, stop! Kalau kamu
terus pergi meninggalkan aku, aku akan
lompat ke danau sekarang juga!"
Xavia benar-benar tidak berpikir bahwa
Gerald yang biasanya sangat penurut dan
sangat peduli denganya, bisa berlaku
sangat berbeda dan dingin kepadanya.
Kavia mengumpulkan seluruh
keberanianya untuk berdiri menghadap
danau, kali ini Gerald tidak terkejut
dengan aksi Xavia.
Gerald merasa bahwa Xavia hanya sedang
mencoba untuk menghentikannya,
sebaliknya Gerald memantapkan
langkahnya untuk meninggalkan tempat
itu.
Namun ketika Xavia semakin
membungkukkan badanya ke arah
danau, Gerald merasakan kelopak
matanya bergerak-gerak dan dia mulai
merasa khawatir.
Gerald berbalik dan berlari kearah Xavia,
segera memeluk tubuhnya supaya tidak
melompat ke danau.
Sambil berkaca-kaca Xavia berkata, "
Jangan coba -coba hentikan aku! Kalau
kamu tidak lagi percaya padaku, maka
lebih baik aku mati saja! Biarkan aku
mati!
Gerald menarik napas panjang. Dalam
hati, sejujurnya dia sudah tidak bisa lagi
mempercayai Xavia.
Terlebih setelah Gerald mendapatkan
seluruh cerita tentang alasan Xavia
mencampakkan dirinya dan berpaling
pada Nigel.
Meski begitu, ketika tadi Xavia
mengancam untuk melompat ke danau,
Gerald merasa bahwa kali ini Xavia
melakukannya dengan sungguh-
sungguh.
Gerald tidak dapat memungkiri bahwa
kalo ini hatinya tersentuh, lalu buru-
buru berkata," okay, okay, aku percaya
kamu."
Senyum lebar mengembang di bibir
Xavia, "Aku tahu itu, Gerald! Aku tahu
bahwa kamu masih mencintaiku.
Tahukah kamu kenapa aku tadi
melompat ke danau, itu bukan karena
kamu beli tas Hermes atau karena kamu
kaya raya sekarang, tapi semata-mata
__ADS_1
untuk membuktikan bahwa cintaku
kepadamu itu nyata!
Sejak semula dan seterusnya, aku
bukanlah seorang materialistis. Lagipula,
kalau aku ini seorang materialistis, maka
tidak mungkin kita bisa bersama selama
itu!Gerald hanya diam seribu bahasa.
Selanjutnya Xavia memandang Gerald
dengan tatapan menyelidik dan bertanya,
"Ngomong-ngomong, aku benar-benar
penasaran. Kok, bisa kamu mendadak
kaya raya? Bagaimana caranya kamu bisa
membeli tas seharga lima puluh lima ribu
dolar?
Xavia benar-benar tidak tahan untuk
melontarkan pertanyaan tentang tas itu.
Gerald sudah menduga bahwa Xavia akan
menanyakan hal ini.
Bagaimanapun, situasinya sudah berbeda
saat ini, dia bukan lagi Gerald yang harus
menceritakan semua hal kepada Xavia.
Tiba-tiba Gerald mendapat ide untuk
menguji Xavia.
"Oh, jadi begini, Aku menolong sorang8
anak perempuan yang hampir tertabrak
mobil beberapa hari yang lalu dan aku
tidak pernah menyangka bahwa anak
perempuan yang kutolong itu ternyata
anaknya konglomerat. Karena mereka
terburu-buru waktu itu, maka sebagai
rasa terima kasih mereka memberiku one
-off shopper's card. Mereka bilang kalau
kartu ini sangat bernilai dan diberikan
padaku karena mereka benar-benar ingin
berterima kasih kepadaku."
Bola mata Xavia seketika membelalak.
"Jadi artinya kartu Universal Global
Supreme Shooper's card itu hanya boleh
kamu pakai sekali saja?"
Supreme Shooper's card itu hanya boleh
kamu pakai sekali saja?"
Gerald mengangguk.
"Lalu, lalu.... di mana tas itu sekarang?
Kamu bisa menjualnya kembali dan
mendapat banyak uang!"
Xavia mulai merasa kecewa.
Xavia benar-benar berharap Gerald
menjadi kaya raya mendadak.
Setidaknya, dia masih punya tas Hermes
senilai lima puluh lima ribu dolar.
Gerald menjawab, "Aku berikan tas
Hermes itu kepada Naomi sebagai hadiah
ulang tahun."
"Apa? Xavia benar-benar terkejut. "
Kamu kasihkan begitu saja ke orang lain?
Kamu kasihkan ke orang tas senilai lima
puluh lima ribu dolar begitu saja? Jadi
artinya sekarang kamu sudah tidak
punya apa-apa lagi?"
"Xavia, sekarang aku benar-benar
percaya bahwa kamu bukanlah seorang
materialistis. Ternyata kamu benar-
benar mencintaiku. Sebaiknya kita..."
Gerald ingin memegang tangan Xavia
dan Xavia menepisnya.
"Pergi kamu! Untuk apa aku mencintai
seorang miskin sepertimu?"
Setelah mengetahui semuanya, Xavia
menampar Gerald dengan cukup keras.
"Sialan. Aku tidak percaya bahwa aku
telah menyia-nyiakan waktuku dan
hampir lompat ke danau hanya demi
orang miskin sepertimu! Ini benar-benar
konyol! Bodoh!
Xavia berteriak dan melotot memandang
Gerald derngan tatapan jijik.
Hahaha!"
Gerald benar-benar tidak tahan untuk
tidak tertawa melihat tingkat Xavia.
Tanpa disadari, Xavia benar- benar telah
menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
"Xavia, aku benar-benar kecewa padamu
kata Gerald sambil berlinang air mata.
Dulu, Gerald dan Xavia adalah pasangan
yang sangat serasi.
Sudahlah, aku tidak mau buang
waktuku lagi. Aku tidak peduli jika orang
miskin sepertimu kecewa padaku! Aku
memang tidak seharusnya membuang
waktuku dengan orang sepertimu. Orang
sepertimu memang sudah sepantasnya
jadi tukang sampah!"
waktuku dengan orang sepertimu. Orang
Untuk melampiaskan amarah dan
frustasinya, Xavia merenggut kantong
plastik sampah di tangan Gerald.
Dia bermaksud melempar kantong
sampah itu ke muka Gerald.
Kantong plastik sampah berwarna hitam
itu robek karena Xavia merenggutnya
dengan kasar.
Uang seratus ribu dolar berhamburan di
tanah.
Apa? Ini..."
Mata Xavia membelalak tak percaya
dengan apa yang di lihatnya, uang kertas
berwarna merah sejernak melayang di
udara lalu berhamburan di atas tanah.
__ADS_1