Pria Yang Tak Terlihat Kaya

Pria Yang Tak Terlihat Kaya
Bab 11


__ADS_3

Gerald menyadari apapun yang Xavia


katakan tentang foto itu adalah hanya


alasan untuk bertemu denganya.


Saat ini Gerald sama sekali tidak ingin


bertemu Xavia. Gerald masih belum bisa


melupakan rasa sakit hatinya, rasa sakit


yang diakibatkan oleh rasa cintanya yang


begitu besar ketika itu. Namun, Gerald


juga tidak dapat membohongi dirinya


sendiri bahwa di lubuk hatinya yang


terdalam masih tersimpan rasa untuk


Xavia. Mendengar nada putus asa dari


Xavia, Gerald tidak sampai hati


mendengarnya dan mendadak


menyetujui permintan Xavia untuk


bertemu.


Gerald beranjak untuk mencari foto-foto


yang selama ini dibiarkanya teronggok


begitu saja di lemarinya selama beberapa


waktu. Foto-foto kenangan Gerald dan


Xavia ketika mereka menghabiskan


waktu bersama di sebuah danau kecil


dekat kampus. Dalam foto itu, tampak


Xavia memeluknya dengan mesra


sementara dirinya pun tengah


merengkuh Xavia dengan kedua


tanganya dan senyum manis tersungging


dari bibirnya sambil kedua matanya


menatap mesra Xavia.


Namun situasinya sudah sangat berubah


sekarang ini, Gerald kembali merasakan


rasa sakit hatinya yang dalam.


Gerald teringat dengan seratus ribu dolar


yang dia ambil pagi tadi di bank.


Awalnya, Gerald berencana


menghabiskan uang tersebut untuk


menikmati hidup, membeli apapun yang


sebelumnya dia inginkan, tapi tidak bisa


dilakukan di masa lalu. Namun kemudian


Gerald menyadari bahwa yang


dilakukanya sangatlah naif.


Gerald menyadari bahwa untuk itu dia


Gerald menyauarn vanwa uuK Tu dia


tidak harus mengambil uang tunai. Dia


bisa bertransaksi menggunakan kartu-


kartu yang diberikan oleh saudara


perempuanya. Gerald tiba-tiba sadar


bahwa menyimpan uang tunai dalam


jumlah besar di asrama adalah bukan ide


yang baik. Bagaimana nanti dia bisa


menjelaskan, kalau sampai teman


sekamarnya mengetahui dia membawa


uang tunai sebanyak itu?


Selama bertahun-tahun, mereka adalah


teman-teman yang tulus dan setia


menemani si miskin Gerald. Gerald tidak


ingin tenman-temanya ini


meninggalkanya jika dia mengatakan


kebenarannya sekarang.


"Baiklah, aku akan turun menemui Xavia


sebelum aku mengembalikan seratus ribu


dolar ke rekeningku di bank." Gerald


tidak berhasil menemukan tas kertas


yang bagus. Sebagai gantinya, secara


serampangan Gerald mengambil kantong


plastik hitam yang biasa digunakan oleh


penghuni asrama untuk membuang


sampah dan lalu memasukan uang


seratus ribu dolar bersama foto-foto


kenanganya bersama Xavia di danau kecil


dekat kampus.


"Aku di sini, Gerald!" Xavia


melambaikan tanganya begitu dia


melihat Gerald berjalan kearahnya.


Tiba-tiba segala sesuatunya terasa


seperti kembali ketika meraka berdua


masih berpacaran. Bedanya, kali ini Xavia


yang merasa lebih tidak nyaman. Banyak


pertanyaan menggantung di benaknya.


Gerald telah membeli sebuah tas Hermes


seharga lima puluh lima ribu dollar hari


ini.


Lima puluh lima ribu dolar!


Butuh waktu berapa lama untuk seorang


biasa mengumpulkan uang sebanyak itu?


Sulit bagi Xavia untuk memahami


bagaimana bisa Gerald mendadak kaya


raya sejak putus dengannya, Xavia benar-


benar tidak habis pikir apa yang


sebenanya terjadi.


Itulah sebabnya dia sengaja


menggunakan foto-foto sebagai alasan


untuk bertemu Gerald.


"Ada apa?" Gerald masih marah ketika


dia tiba di danau sehingga dia tidak bisa


menampilkan sisi lembut seperti


biasanya ketika berhadapan dengan


Xavia. Sebaliknya, kali ini Gerald memilih


untuk bersikap dingin.


Xavia tidak tahan demi melihat kantong


plastik sampah berwarna hitam di tangan


Gerald.


"Ahh, kupikir kamu akan membawa


sesuatu ketika kamu menemuiku."


Xavia benar-benar merasa sangat kecewa.


Sebelumnya Xavia berangan-angan


bahwa Gerald akan membawakanya tas


Hermes senilai limapuluh lima ribu dolar

__ADS_1


sebagai alat untuk meluluhkan hatinya


sembari memohon agar dirinya mau


kembali menjadi pacar Gerald.


Di luar dugaan ternyata Gerald hanya


membawa tas sanmpah yang perlu untuk


segera dibuang begitu selesai bertemu


denganya.


Gerald mengambil foto-foto dari balik


kantong bajunya dan


memperlihatkannya kepada Xavia dan


berkata, " Ini Xavia, Setelah foto-foto ini


aku kembalikan, maka di antara kita


sudah tidak ada lagi hubungan sama


sekali."


Gerald sebenarnya berencana untuk


menyimpan foto-foto itu sebagai kenang


-kenangan, tapi kemudian dia merasa


bahwa itu sudah tidak ada gunanya lagi


untuk dilakukan!


Xavia merasa sangat tersinggung kali ini.


Dia merasa sangat marah dan dia


menghentakkan kakinya lalu memukul


dada Gerald. I


"Dasar bodoh! Kamu benar-benar


bodoh! Kamu pikir alasan aku


menemuimu hanya semata-mata


memintamu untuk mengembalikan foto-


foto itu?"


Gerald menampilkan ekspresi terkejut di


wajahnya.


"Kalau bukan itu alasannya, lalu kenapa


kamu meminta aku menemuimu?"


"Gerald, bagaimana aku bisa


membuatınu memahami kebenaranya?


Apakah kamu benar-benar berpikir


bahwa ada sesuatu antara aku dengan


Yuri?


Xavia melanjutkan, "Kamu benar-benar


bodoh, aku melakukan itu semua karena


aku sedang mengujimu!"


"Mengujiku?" Gerald bertanya sambil


tersenyunm pahit.


Xavia pergi ke hutan berduaan dengan


Yuri hanya semata untuk menguji


Gerald? Sepertinya lebih tepat dikatakan


bahwa itu adalah upaya Xavia untuk


menguji dirinya sendiri.


Gerald tidak ingin mengatakan apapun


lagi.


"Baiklah kalau begitu, persetan dengan


ujian itu. Saya hanya ingin


mengembalikan foto -foto ini dan kita


sebaiknya menjauhi satu sama lain mulai


sekarang juga, selamat tinggal!"


Gerald menggelengkan kepalanya


meninggalkan Xavia.


"Kamu, kamu....Gerald, stop! Kalau kamu


terus pergi meninggalkan aku, aku akan


lompat ke danau sekarang juga!"


Xavia benar-benar tidak berpikir bahwa


Gerald yang biasanya sangat penurut dan


sangat peduli denganya, bisa berlaku


sangat berbeda dan dingin kepadanya.


Kavia mengumpulkan seluruh


keberanianya untuk berdiri menghadap


danau, kali ini Gerald tidak terkejut


dengan aksi Xavia.


Gerald merasa bahwa Xavia hanya sedang


mencoba untuk menghentikannya,


sebaliknya Gerald memantapkan


langkahnya untuk meninggalkan tempat


itu.


Namun ketika Xavia semakin


membungkukkan badanya ke arah


danau, Gerald merasakan kelopak


matanya bergerak-gerak dan dia mulai


merasa khawatir.


Gerald berbalik dan berlari kearah Xavia,


segera memeluk tubuhnya supaya tidak


melompat ke danau.


Sambil berkaca-kaca Xavia berkata, "


Jangan coba -coba hentikan aku! Kalau


kamu tidak lagi percaya padaku, maka


lebih baik aku mati saja! Biarkan aku


mati!


Gerald menarik napas panjang. Dalam


hati, sejujurnya dia sudah tidak bisa lagi


mempercayai Xavia.


Terlebih setelah Gerald mendapatkan


seluruh cerita tentang alasan Xavia


mencampakkan dirinya dan berpaling


pada Nigel.


Meski begitu, ketika tadi Xavia


mengancam untuk melompat ke danau,


Gerald merasa bahwa kali ini Xavia


melakukannya dengan sungguh-


sungguh.


Gerald tidak dapat memungkiri bahwa


kalo ini hatinya tersentuh, lalu buru-


buru berkata," okay, okay, aku percaya


kamu."


Senyum lebar mengembang di bibir


Xavia, "Aku tahu itu, Gerald! Aku tahu


bahwa kamu masih mencintaiku.


Tahukah kamu kenapa aku tadi


melompat ke danau, itu bukan karena


kamu beli tas Hermes atau karena kamu


kaya raya sekarang, tapi semata-mata

__ADS_1


untuk membuktikan bahwa cintaku


kepadamu itu nyata!


Sejak semula dan seterusnya, aku


bukanlah seorang materialistis. Lagipula,


kalau aku ini seorang materialistis, maka


tidak mungkin kita bisa bersama selama


itu!Gerald hanya diam seribu bahasa.


Selanjutnya Xavia memandang Gerald


dengan tatapan menyelidik dan bertanya,


"Ngomong-ngomong, aku benar-benar


penasaran. Kok, bisa kamu mendadak


kaya raya? Bagaimana caranya kamu bisa


membeli tas seharga lima puluh lima ribu


dolar?


Xavia benar-benar tidak tahan untuk


melontarkan pertanyaan tentang tas itu.


Gerald sudah menduga bahwa Xavia akan


menanyakan hal ini.


Bagaimanapun, situasinya sudah berbeda


saat ini, dia bukan lagi Gerald yang harus


menceritakan semua hal kepada Xavia.


Tiba-tiba Gerald mendapat ide untuk


menguji Xavia.


"Oh, jadi begini, Aku menolong sorang8


anak perempuan yang hampir tertabrak


mobil beberapa hari yang lalu dan aku


tidak pernah menyangka bahwa anak


perempuan yang kutolong itu ternyata


anaknya konglomerat. Karena mereka


terburu-buru waktu itu, maka sebagai


rasa terima kasih mereka memberiku one


-off shopper's card. Mereka bilang kalau


kartu ini sangat bernilai dan diberikan


padaku karena mereka benar-benar ingin


berterima kasih kepadaku."


Bola mata Xavia seketika membelalak.


"Jadi artinya kartu Universal Global


Supreme Shooper's card itu hanya boleh


kamu pakai sekali saja?"


Supreme Shooper's card itu hanya boleh


kamu pakai sekali saja?"


Gerald mengangguk.


"Lalu, lalu.... di mana tas itu sekarang?


Kamu bisa menjualnya kembali dan


mendapat banyak uang!"


Xavia mulai merasa kecewa.


Xavia benar-benar berharap Gerald


menjadi kaya raya mendadak.


Setidaknya, dia masih punya tas Hermes


senilai lima puluh lima ribu dolar.


Gerald menjawab, "Aku berikan tas


Hermes itu kepada Naomi sebagai hadiah


ulang tahun."


"Apa? Xavia benar-benar terkejut. "


Kamu kasihkan begitu saja ke orang lain?


Kamu kasihkan ke orang tas senilai lima


puluh lima ribu dolar begitu saja? Jadi


artinya sekarang kamu sudah tidak


punya apa-apa lagi?"


"Xavia, sekarang aku benar-benar


percaya bahwa kamu bukanlah seorang


materialistis. Ternyata kamu benar-


benar mencintaiku. Sebaiknya kita..."


Gerald ingin memegang tangan Xavia


dan Xavia menepisnya.


"Pergi kamu! Untuk apa aku mencintai


seorang miskin sepertimu?"


Setelah mengetahui semuanya, Xavia


menampar Gerald dengan cukup keras.


"Sialan. Aku tidak percaya bahwa aku


telah menyia-nyiakan waktuku dan


hampir lompat ke danau hanya demi


orang miskin sepertimu! Ini benar-benar


konyol! Bodoh!


Xavia berteriak dan melotot memandang


Gerald derngan tatapan jijik.


Hahaha!"


Gerald benar-benar tidak tahan untuk


tidak tertawa melihat tingkat Xavia.


Tanpa disadari, Xavia benar- benar telah


menunjukkan dirinya yang sebenarnya.


"Xavia, aku benar-benar kecewa padamu


kata Gerald sambil berlinang air mata.


Dulu, Gerald dan Xavia adalah pasangan


yang sangat serasi.


Sudahlah, aku tidak mau buang


waktuku lagi. Aku tidak peduli jika orang


miskin sepertimu kecewa padaku! Aku


memang tidak seharusnya membuang


waktuku dengan orang sepertimu. Orang


sepertimu memang sudah sepantasnya


jadi tukang sampah!"


waktuku dengan orang sepertimu. Orang


Untuk melampiaskan amarah dan


frustasinya, Xavia merenggut kantong


plastik sampah di tangan Gerald.


Dia bermaksud melempar kantong


sampah itu ke muka Gerald.


Kantong plastik sampah berwarna hitam


itu robek karena Xavia merenggutnya


dengan kasar.


Uang seratus ribu dolar berhamburan di


tanah.


Apa? Ini..."


Mata Xavia membelalak tak percaya


dengan apa yang di lihatnya, uang kertas


berwarna merah sejernak melayang di


udara lalu berhamburan di atas tanah.

__ADS_1


__ADS_2