
Setibanya di asrama, Alice dan tenman-
temannya belum juga bisa meredakan
perasaan tidak nyaman atas banyak
sekali kejadian mengejutkan yang baru
mereka alami.
Andai Gerald memenangi lotre senilai
ratusan ribu dolar, mungkin situasinya
akan lebih mudah untuk mereka pahami.
Gerald tidak hanya mampu membeli
sebuah tas mewah edisi terbatas, tapi
juga mampu mentraktir mereka semua di
tempat makan makan mewah dengan
biaya fantastis.
Ditambah lagi soal lukisan, bagaimana
mungkin Gerald dengan begitu
mudahnya mampu mempengaruhi Zack
untuk tidak mempermasalahkan
kejadian itu.
Aneh banget, kan?
"Alice, menurutmu apa yang sebenarnya
sedang terjadi?
Alice duduk di atas tempat tiduur
mendengarkan Jacelyn yang sedang
bicara sambil tangannya sibuk
membersihkan sisa-sisa make up di
wajahnya.
Sejak tadi kening Alice berkerut pertanda
sedang berpikir keras.
"Aku juga bingung. Apa mungkin kita
yang terlalu berlebihan menganalisis
situasinya? Bukankah tadi Hayley
menelpon Harper untuk mencari tahu?
Sepertinya Zack melakukan itu semua
semata-mata karena ingin membalas
budi pada Gerald karena sudah
menyelamatkan nyawa anak
perempuanya!"
Soal lukisam, kurasa Zackhanya
mencari alasan agar Gerald tidak merasa
malu, bagaimanapun hutang budi Zack
pada Gerald memang bukan hal yang
sepele."
Kemungkinan-kemungkinan itu
membuat Alice merasa jauh lebih baik.
"Sepertinya itu lebih masuk akal. Aku
tidak bisa bayangkan bahwa Gerald itu
ternyata orang kaya! Membayangkannya
saja aku merasa pengen mati!" ujar
Jacelyn sambil menghela napas panjang.
"Apa? Mestinya kamu memanggil dia
Tuan Gerald, dong
Mendengar itu, mereka kompak tertawa-
tawa.
"Kalau dia bisa membujuk Tuan Lyle
Tuan! Setidaknya masa depanku akan
untuk memberiku pekerjaan di
perusahaannya, aku tidak keberatan
untuk memanggilnya dengan sebutan
Tuan! Setidaknya masa depanku akan
lebih terjamin dan aku sanggup
melakukan apapun untuk itu, apalagi
cuma memanggil Tuan Gerald!"
"Gerald sangatlah beruntung. Aku tidak
menyangka Tuan Lyle mermaafkan soal
lukisan itu, padahal dia sudah melakukan
banyak hal dan semua itu sudah lebih
dari cukup untuk membayar hutang
budinya pada Gerald."
Para gadis cantik itu masih terus saja
bergosip.
Alice bertambah lega mendengarkan
yang dikatakan teman-temannya. Entah
mengapa dia semakin tenang kalau
Gerald tetap menderita.
Sebuah perasaan yang aneh.
Sementara itu, Gerald sudah melupakan
semuanya..
Sesampainya di asrama, Gerald dan
teman-temannya langsung tertidur
karena lelah beraktivitas di luar seharian.
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk
kuliah seperti biasanya.
Gerald melihat Harper dan teman-
temanya sibuk membubuhkan nama
__ADS_1
mereka di atas selembar cek.
Ternyata sudah waktunya untuk
membayar kuliah, Gerald sadar setelah
melihat percakapan di WA.
"Gerald, apa kamu masih ada uang untuk
bayar kuliah? Atau kamu harus
menunggu dua minggu lagi setelah
Subsidimu cair?"
Awalnya Harper bermaksud
menyarankan Gerald meminta Tuan Lyle
untuk membayarkan biaya kuliahnya.
Tetapi Harper mengurungkan niatnya
setelah mengingat soal lukisan yang
terjadi semalam.
Harper mengkhawatirkan Gerald yang
kembali menjadi miskin hari ini.
Gerald tersenyum dan berkata, "Jangan
kuatir. Aku masih punya sedikit uang di
tabungan dan mestinya cukup untuk
bayar kuliah. Ngomong-ngomong aku
akan menyusul nanti karena aku harus
ambil uang dulu ke bank!"
Harper tahu bahwa Gerald tidak
berbohong. Gerald mungkin sengaja
menyisakan sedikit uang di tabungan
untuk bayar kuliah. Mengetahui hal itu
Harper merasa lega.
Gerald berada di bank di depan kampus.
Saya mau menarik uang seribu lima
ratus dolar!" Gerald menjawab
pertanyaan petugas bank sambil
menyerahlkan buku tabunganya.
Teller di bank terkejut.
Setelah mengecek tabungan Gerald, dia
memandang Gerald dan buku tabungan
yang ada di tangannya bergantian.
Teller itupun bertanya, "Mengapa kamu
membuat banyak sekali perubahan
dengan tabunganmu? Apa yang terjadi?"
"Ada apa dengan tabunganku?"
Giliran Gerald yang terkejut sekarang.
Ditilik dari penampilannya, Gerald sama
seperti kebanyakan mahasiswa lainnya
tabungannya.
Itu sebabnya sejak awal petugas itu
melayani Gerald dengan gaya tidak
sabaran dan sedikit kurang sopan.
Teller itu menyadari bahwa hanya
nasabah utama di Bank itu yang dapat
membuat perubahan sebanyak itu.
Petugas itu menjelaskan, "Ya, ada
perubahan besar pada tabunganmu.
Sekarang minimal pengambilan tunai
untuk tabunganmu adalah tiga puluh
ribu dolar! Kamu tidak bisa lagi menarik
seribu lima ratus dolar saja!"
Petugas bank itu kembali mengamati
Gerald dari ujung rambut sampai ujung
kaki.
Sama sekali tidak ada tanda- tanda yang
menunjukkan bahwa mahasiswa di
hadapannya itu adalah seorang kaya raya.
Gerald tahu siapa orangnya yang telah
mengubah tabunganya.
tabunganku?
menunjukkan vamva maasiswa u
hadapannya itu adalah seorang kaya raya.
Siapa yang mengubah pengaturan
tabunganku?
Gerald tahu siapa orangnya yang telah
mengubah tabunganya.
Tidak salah lagi.
Tidak ada seorang pun yang dapat
melakukannya, kecuali Jessica, saudara
perempuannya.
Gerald sulit memahami jalan pikiran
saudara perempuannya itu. Gerald
bukanlah tipe seorang yang boros,
kenapa Jessica mengatur batas minimal
penarikan uang cash dari tabungannya
sebanyak itu? Sepertinya dia ingin supaya
Gerald mengeluarkan ponsel dan mulai
melakukan panggilan.
Gerald mengubah gaya hidupnya seperti
__ADS_1
layaknya anak orang kaya!
Seseorang yang dia hubungi segera
mengangkat teleponnya.
"Jessica, apa maksudmu mengubah
pengaturan batas minimal pengambilan
di tabunganku?"
"Aku memang sengaja mengubahnya
karena aku tahu bagaimana
kehidupanmu selamna ini. Aku ingin kamu
mengubahnya dan mulai membiasakan
diri hidup seperti layaknya anak seorang
kaya raya. Aku ingin perlahan kamu
beradaptasi dengan status barumu agar
kamu bisa menjadi seorang yang bisa
diandalkan di keluarga kita!"
Gerald tercengang.
"Ngomong-ngomong aku juga
berencana menelponmu. Karena kamu
yang menelponku duluan, ya sudah
sekalian aku mau bilang kalau aku juga
melakukan satu hal lagi selain mengubah
minimal pengambilan tunai di kartu
tabunganmu. Kamu masih ingat kan
dengan kartu Universal Global Supreme
Shopper's yang aku kasih ke kamu?"
"Aku menaruh satu setengah juta dolar di
kartu itu. Nah, aku sudah mengatur batas
akhir penggunaan kartu itu adalah bulan
ini. Kalau kamu tidak menghabiskanya
maka semua uang yang aku taruh di
kartu itu akan hilang begitu saja!"
"Apa?"
Gerald terbelakak saking kagetnya.
Keterlaluan!
Benar-benar kejam!.
Jessica memaksanya untuk bergaya hidup
layaknya seorang kaya raya.
"Aku harap kamu segera menyesuaikan
diri dengan status barumu secepat
mungkin. Kalau tidak, orang tua kita dan
aku akan terus sibuk memikirkan
bagaimana cara mengeluarkan kamu dari
bayang-bayang kemiskinan.
Jessica menutup telepon segera setelah
mengatakan itu semua.
"Hei, ada apa? Kamu jadi ambil uang
atau tidak? Jangan buat kami terus
menunggu dan membuang waktu
percuma karena ulahmu?
Tanpa sadar, antrian mengular di
belakang Gerald. Setidaknya ada lima
atau enam orang mahasiswa yang sedang
menunggu antrean mengambil uang.
Seseorang yang menegur Gerald dengan
intonasi menahan marah adalah seorang
mahasiswa berpenampilan rapi,
mengantre ditemani oleh pacarnya yang
cantik.
Hari itu adalah hari terakhir untuk
melakukan pembayaran kuliah senmester.
Maka tidak heran, banyak mahasiswa
yang mengantri untuk mengambil uang
untuk keperluan yang sama yaitu
membayar kuliah.
Mahasiswa yang menegur Gerald tadi
mengira pastilah Gerald sedang
menelepon keluarganya untuk meminta
uang karena ternyata di tabungannya
sudah tidak ada uang lagi. Dia menduga
seperti itu karena melihat penampilan
Gerald yang biasa saja.
"Oh, jadi kamu sudah berhasil meminta
mereka untuk mengirim uang untukmu?
Kamu sadar nggak sih ulahmu ini bikin
kita semua telat masuk kelas karena
terlalu lama antre di sini?"
Pacar mahasiswa yang menegur Gerald
itu juga mnemandang Gerald dengan
kesal, tangannya melingkar pada lengan
pacarnya selama menunggu antrean.
"Baiklah, aku akan ambil uang sesuai
batas minimal pengambilan."
Melihat banyak orang antre di
belakangnya, Gerald segera mengatakan
__ADS_1
keputusannya kepada teller.