
Tanpa disadari, Gerald menyapu kaki
seorang gadis bernama Mila.
Mila mengenakan sepatu berwarna putih
bersih untuk kaki indah dan betisnya
yang menawan. Gadis itu sangat antusias
mengikuti pembicaran Victor tentang
mobilnya. Sama seperti Gerald, seluruh
perhatian gadis itu sedang tertuju pada
Victor.
Tanpa disadari, tangan Gerald
menggerakkan sapu kotornya keatas
sepatu gadis itu, seketika sepatu putih
gadis itu tersaput debu dari sapu kotor
yang dipegang Gerald.
Gadis itu berteriak begitu menyadari
yang sedang teriadi.
yang sedang berada di dalam auditorium
saat itu.
Ada apa, Mila?"
Whitney mendekat ke arah Mila dan
bertanya dengan ekspresi penuh
perhatian.
Victor juga berlari kecil ke arah Mila.
"Uhmm.nggak apa-apa, aku baik-baik
saja. Nggak ada masalah, kok!'
Mila menyelipkan helai rambut ke
telinganya lalu membungkuk dan
mencoba membersihkan debu di atas
sepatu putihnya dengan beberapa lembar
tisu basah.
Alih-alih jadi bersih, yang dilakukan
Mila malah membuat sepatunya semakin
kotor.
Mila sangat terobsesi dengan kebersihan,
wajahnya cemberut ketika menyadari
sepatunya menjadi kian kotor.
"Gerald, apa yang sudah kamu lakukan
sampai sepatu Mila jadi kotor begitu?"
Whitney bertanya dengan mata melotot,
Victor tidak mau ketinggalan dan ikut
nimbrung memarahi Gerald.
"Brengsek, dasar orang miskin!
Sadarkah kamu berapa harga sepatu
Mila? Kamu tidak akan pernah mampu
membelinya!"
Victor maju beberapa langkah dan
meraih kerah baju Gerald dengan kasar.
"Jangan, hentikan, bukan dia yang
melakukannya!"
Menyadari Victor akan memukul Gerald,
Mila melompat dan berusaha
mendamaikan.
Diam-diam ternyata sudah cukup lama
Mila menaruh perhatian terhadap Gerald.
Di mata Mila, Gerald adalah pribadi yang
berbeda dengan pria lain pada umumnya.
Dari penampilanya, Mila bisa menebak
bahwa Gerald bukan berasal dari
kalangan keluarga kaya.
Itulah alasan Victor dan teman-temanya
selalu merundung Gerald.
Anehnya, meskipun sering dirundung
dan direndahkan, Gerald sama sekali
tidak terlihat seperti seorang yang
inferior. Mila dapat merasakan hal itu
dari tatapan mata Gerald. Gerald benar-
benar berbeda dari pria kebanyakan, rasa
percaya dirinya sama sekali tidak
terpengaruh oleh kemiskinannya.
Gerald selalu menampakkan sikap
rendah hati dan wajahnya memancarkan
ketulusan.
Meskipun sedang kesal karena sepatunya
yang kotor, namun Mila tidak ingin
sesuatu hal buruk terjadi pada Gerald
karenanya.
Mila memilih untuk membela Gerald
ketika dia menyadari bahwa Victor akan
memukul Gerald.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Mila!
Setidaknya kita harus memberi si miskin
ini pelajaran, mintalah dia untuk
mengganti sepatumu!" Victor berkata
tajam.
Mila adalah mahasiswi dari jurusan
Penyiaran dan Media dan bukan dari
jurusan Bahasa.
Mila berteman dengan Whitney sejak
mereka nmasih kecil. Hari itu dia sengaja
datang ke auditorium sekadar untuk
menyapa Whitney, sahabatnya.
Victor cukup menyukai Whitney, tapi dia
jauh lebih tertarik dengan sahabatnya,
yaitu Mila.
__ADS_1
"Oh, tidak perlu! Aku pikir kita tidak
perlu meminta Gerald untuk mengganti
sepatuku. Solusinya mudah saja, aku bisa
kembali ke asrama dan mengganti sepatu
kotorku dengan sepatu lainya!" Buru-
buru Mila mencegan.
Mila mengangguk samar kepada Gerald.
Oke, kamu beruntung hari ini!" Victor
berkata sambil memandang sinis kepada
Gerald. Dalam hati, Victor merasa senang
karena merasa telah bertindak bak
pahlawan di hadapan para gadis cantik.
Melihat Mila hendak beranjak dari
ruangan itu, Victor buru-buru melakukan
pendekatan.
Ehm..Mila, ngomong-ngomong
bagaimana kalau kita pergi makan
bareng nanti setelah kamu selesai ganti
sepatu? Kalian semua pastinya capek
setelah latihan. Aku traktir kalian semua
makan di Orchard Garden, deh!"
"Wow! Orchard Garden? Aku dengar
salad buah dan steaknya enak tapi
katanya sih mahal banget makan di
sana!"
Bro Victor, aku mau ikut!"
Ajakan Victor kepada Mila untuk makan
di Orchard Garden membuat gadis-gadis
itu menjadi bersemangat.
"Ok, baiklah!" seru Victor sambil
mengatupkan kedua tangannya.
Whitney meraih tangan Mila dan
berbisik, "Buruan, deh, ke asrama ganti
sepatu, kami semua menunggumu!"
Entahlah, tapi Gerald dapat merasakan
bahwa sepertinya Mila tidak tertarik
dengan ajakan Victor.
Mila menyadari bahwa teman-temanya
sangat tertarik untuk makan bersama
Victor. Mila masih merasa tidak nyaman
telah menjadi penyebab keributan yang
terjadi antara Victor dengan Gerald.
Namun begitu Mila tidak dapat menolak
ajakan Victor kali ini.
Mila mengangguk samar.
Okay, kita akan pergi pakai mobilku!
Aku tunggu, ya!"
Victor sangat senang karena strateginya
Victor sempat melirik Gerald sekilas
sebelum pergi meninggalkan auditorium.
Whitney berbalik dan memandang Gerald
seraya berkata," Apa yang kamu lihat,
Gerald? Apa kamu pikir bahwa kamu juga
ikut diundang makan siang bareng kami
semua? Dengarkan, ya, aku masih belum
bisa memastikan soal subsidimu!
Sebaiknya kamu tetap melanjutkan
tugasmu dan pastikan auditorium ini
benar-benar bersih! Kalau tidak, aku
akan memberimu pelajaran nanti kalau
aku sudah kembali!
Gerald bergeming dan terus saja diam
menghadapi hinaan Whitney dan Victor.
Gerald menahan amarah di dalam
hatinya.
Kali ini Gerald mencoba bersikap realistis
karena dia menyadari bahwa dirinya
tidak sepadan untuk beradu fisik dengan
Bukanlah pilihan yang bijaksana untuk
menantang adu fisik dengan Victor.
"Ayolah, Mila! Ayo kita nikmati
kesempatan naik mobil baru Victor tipe
Audi A6, lho!"
Puas memelototi dan menghina Gerald,
Whitney mendorong Mila untuk bergegas
meninggalkan auditorium.
Satu persatu mereka beranjak
meninggalkan auditorium.
Tidak mungkin semua gadis itu pergi
dengan mobil Victor berbarengan karena
pasti tidak akan muat kapasitasnya,
Gerald penasaran nanti pengaturanya.
Pikiran itu mendadak menyelinap
kedalam benak Gerald begitu dia selesai
membersihkan auditorium.
Apa aku perlu punya mobil juga?
Benak Gerald masih dipenuhi pertanyaann
seputar mobil.
Hari sudah siang ketika Gerald berhasil
menyelesaikan tugasnya membersihkan
auditorium.
Terdengar ponsel Gerald berdering.
Rupanya Harper yang sedang berada di
asrama menelponya.
__ADS_1
Gerald, apa kamu sudah selesai bersih-
bersih?
Gerald menggangguk. "Sudah."
"Apa Whitney sudah gila? Kami tadi
berdiskusi dan kesimpulannya kalau dia
sampai berani menolak aplikasi
subsidimu, maka kami akan membawa
masalah ini ke rektor
Gerald kembali merasakan hatinya
hangat, "Terima kasih sudah mau peduli
denganku"
"Gerald, kalau kamu tidak ada acara, ayo
makan siang bersama!"
Harper sekonyong-konyong
mengundang Gerald untuk makan siang
bersama, namun beberapa saat kemudian
nada suara Harper mendadak berubah.
Nada suara Harper menunjukkan kalau
dia tengah tersipu malu.
Sebagai seorang sahabat dekat, kalau ada
sesuatu hal yang janggal dengan Harper
maka Gerald akan segera tahu. Harper
biasanya sangat lugas dalam berkata-
kata, tumben hari ini dia menjadi agak
malu-malu?
"Apakah akan ada orang lain yang ikut
kita makan siang bareng hari ini?" Gerald
sengaja bertanya untuk menggoda
Harper.
"Bingo! Gerald, kamu masih ingat
dengan Hayley, gadis yang datang
bersama Alice di acara pesta ulang tahun
Naomi tadi malam?"
Seluruh teman sekamar Alice hadir di
acara ulang tahun Naomi tadi malam.
Gerald menerawang dan samar-samar
mengingat Hayley, seorang gadis
berambut pendek, imut dan mungil.
Meski tidak berbicara sepatah kata pun,
malam itu Harley kerap mengerlingkan
matanya pada Harper.
Ya, Aku ingat. Kenapa? Jadi kamu
mengajaknya kencan?" Gerald bertanya
dan wajahnya menunjukkan ekspresi
terkejut.
"Jadi begini, aku tadi bertemu Hayley
waktu mau balik ke asrama setelah
selesai kuliah. Rupanya dia kehilangan
ponselnya di kantin dan aku menawarkan
diri untuk membantu mencari ponselnya
itu. Kamu tahu kan, aku cukup akrab
dengan orang-orang yang bekerja di
kantin. Nah, aku minta tolong mereka
untuk mengecek kamera CCTV kantin,
lalu kami berhasil menemukan ponselnya
yang hilang!"
"Aku rasa ini takdir karena sejak
pertemuan semalam aku terus
memikirkanya. Makanya aku mencoba
mengumpulkan keberanian untuk
mengajaknya makan siang bareng
denganku dan teman-teman. Hayley
langsung setuju!"
Di ujung sambungan telpon, Harper
sedang berbunga-bunga.
Gerald ikut merasakan kebahagiaan yang
tengah dirasakan Harper.
Entah mengapa, namun Gerald tidak
ingin pergi bareng Alice dan teman-
temanya.
Gerald tidak tahan dengan cara mereka
menarik perhatian dengan kerlingan
matanya.
"Aku ikut senang, Saudaraku! Aku
doakan yang terbaik untukmu! Tapi
maaf, sepertinya aku belum bisa ikut
makan siang ini karena aku tidak mau
jadi obat nyamuk!" Gerald menjawab
sambil tertawa.
"Jangan gitu, dong! Bisa-bisanya kamu
menolak undanganku, Gerald? Semua
teman kita sudah setuju untuk datang.
Naomi juga akan ikutan! Sepertinya dia
ingin mengenalkan seseorang yang
sangat penting kepadamu hari ini. Kalau
kamu tidak ikutan, aku jamin kamu
bakalan menyesal!
ingin mengenalkan seseorang yang
sangat penting kepadamu hari ini. Kalau
Nada bicara Harper terdengar serius kali
ini.
"Seseorang yang sangat penting?"
Gerald bergumam, "Sialan. Apa artinya
Alice juga akan ikut makan siang8
__ADS_1
bareng?"