Pria Yang Tak Terlihat Kaya

Pria Yang Tak Terlihat Kaya
Bab 16


__ADS_3

Tanpa disadari, Gerald menyapu kaki


seorang gadis bernama Mila.


Mila mengenakan sepatu berwarna putih


bersih untuk kaki indah dan betisnya


yang menawan. Gadis itu sangat antusias


mengikuti pembicaran Victor tentang


mobilnya. Sama seperti Gerald, seluruh


perhatian gadis itu sedang tertuju pada


Victor.


Tanpa disadari, tangan Gerald


menggerakkan sapu kotornya keatas


sepatu gadis itu, seketika sepatu putih


gadis itu tersaput debu dari sapu kotor


yang dipegang Gerald.


Gadis itu berteriak begitu menyadari


yang sedang teriadi.


yang sedang berada di dalam auditorium


saat itu.


Ada apa, Mila?"


Whitney mendekat ke arah Mila dan


bertanya dengan ekspresi penuh


perhatian.


Victor juga berlari kecil ke arah Mila.


"Uhmm.nggak apa-apa, aku baik-baik


saja. Nggak ada masalah, kok!'


Mila menyelipkan helai rambut ke


telinganya lalu membungkuk dan


mencoba membersihkan debu di atas


sepatu putihnya dengan beberapa lembar


tisu basah.


Alih-alih jadi bersih, yang dilakukan


Mila malah membuat sepatunya semakin


kotor.


Mila sangat terobsesi dengan kebersihan,


wajahnya cemberut ketika menyadari


sepatunya menjadi kian kotor.


"Gerald, apa yang sudah kamu lakukan


sampai sepatu Mila jadi kotor begitu?"


Whitney bertanya dengan mata melotot,


Victor tidak mau ketinggalan dan ikut


nimbrung memarahi Gerald.


"Brengsek, dasar orang miskin!


Sadarkah kamu berapa harga sepatu


Mila? Kamu tidak akan pernah mampu


membelinya!"


Victor maju beberapa langkah dan


meraih kerah baju Gerald dengan kasar.


"Jangan, hentikan, bukan dia yang


melakukannya!"


Menyadari Victor akan memukul Gerald,


Mila melompat dan berusaha


mendamaikan.


Diam-diam ternyata sudah cukup lama


Mila menaruh perhatian terhadap Gerald.


Di mata Mila, Gerald adalah pribadi yang


berbeda dengan pria lain pada umumnya.


Dari penampilanya, Mila bisa menebak


bahwa Gerald bukan berasal dari


kalangan keluarga kaya.


Itulah alasan Victor dan teman-temanya


selalu merundung Gerald.


Anehnya, meskipun sering dirundung


dan direndahkan, Gerald sama sekali


tidak terlihat seperti seorang yang


inferior. Mila dapat merasakan hal itu


dari tatapan mata Gerald. Gerald benar-


benar berbeda dari pria kebanyakan, rasa


percaya dirinya sama sekali tidak


terpengaruh oleh kemiskinannya.


Gerald selalu menampakkan sikap


rendah hati dan wajahnya memancarkan


ketulusan.


Meskipun sedang kesal karena sepatunya


yang kotor, namun Mila tidak ingin


sesuatu hal buruk terjadi pada Gerald


karenanya.


Mila memilih untuk membela Gerald


ketika dia menyadari bahwa Victor akan


memukul Gerald.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Mila!


Setidaknya kita harus memberi si miskin


ini pelajaran, mintalah dia untuk


mengganti sepatumu!" Victor berkata


tajam.


Mila adalah mahasiswi dari jurusan


Penyiaran dan Media dan bukan dari


jurusan Bahasa.


Mila berteman dengan Whitney sejak


mereka nmasih kecil. Hari itu dia sengaja


datang ke auditorium sekadar untuk


menyapa Whitney, sahabatnya.


Victor cukup menyukai Whitney, tapi dia


jauh lebih tertarik dengan sahabatnya,


yaitu Mila.

__ADS_1


"Oh, tidak perlu! Aku pikir kita tidak


perlu meminta Gerald untuk mengganti


sepatuku. Solusinya mudah saja, aku bisa


kembali ke asrama dan mengganti sepatu


kotorku dengan sepatu lainya!" Buru-


buru Mila mencegan.


Mila mengangguk samar kepada Gerald.


Oke, kamu beruntung hari ini!" Victor


berkata sambil memandang sinis kepada


Gerald. Dalam hati, Victor merasa senang


karena merasa telah bertindak bak


pahlawan di hadapan para gadis cantik.


Melihat Mila hendak beranjak dari


ruangan itu, Victor buru-buru melakukan


pendekatan.


Ehm..Mila, ngomong-ngomong


bagaimana kalau kita pergi makan


bareng nanti setelah kamu selesai ganti


sepatu? Kalian semua pastinya capek


setelah latihan. Aku traktir kalian semua


makan di Orchard Garden, deh!"


"Wow! Orchard Garden? Aku dengar


salad buah dan steaknya enak tapi


katanya sih mahal banget makan di


sana!"


Bro Victor, aku mau ikut!"


Ajakan Victor kepada Mila untuk makan


di Orchard Garden membuat gadis-gadis


itu menjadi bersemangat.


"Ok, baiklah!" seru Victor sambil


mengatupkan kedua tangannya.


Whitney meraih tangan Mila dan


berbisik, "Buruan, deh, ke asrama ganti


sepatu, kami semua menunggumu!"


Entahlah, tapi Gerald dapat merasakan


bahwa sepertinya Mila tidak tertarik


dengan ajakan Victor.


Mila menyadari bahwa teman-temanya


sangat tertarik untuk makan bersama


Victor. Mila masih merasa tidak nyaman


telah menjadi penyebab keributan yang


terjadi antara Victor dengan Gerald.


Namun begitu Mila tidak dapat menolak


ajakan Victor kali ini.


Mila mengangguk samar.


Okay, kita akan pergi pakai mobilku!


Aku tunggu, ya!"


Victor sangat senang karena strateginya


Victor sempat melirik Gerald sekilas


sebelum pergi meninggalkan auditorium.


Whitney berbalik dan memandang Gerald


seraya berkata," Apa yang kamu lihat,


Gerald? Apa kamu pikir bahwa kamu juga


ikut diundang makan siang bareng kami


semua? Dengarkan, ya, aku masih belum


bisa memastikan soal subsidimu!


Sebaiknya kamu tetap melanjutkan


tugasmu dan pastikan auditorium ini


benar-benar bersih! Kalau tidak, aku


akan memberimu pelajaran nanti kalau


aku sudah kembali!


Gerald bergeming dan terus saja diam


menghadapi hinaan Whitney dan Victor.


Gerald menahan amarah di dalam


hatinya.


Kali ini Gerald mencoba bersikap realistis


karena dia menyadari bahwa dirinya


tidak sepadan untuk beradu fisik dengan


Bukanlah pilihan yang bijaksana untuk


menantang adu fisik dengan Victor.


"Ayolah, Mila! Ayo kita nikmati


kesempatan naik mobil baru Victor tipe


Audi A6, lho!"


Puas memelototi dan menghina Gerald,


Whitney mendorong Mila untuk bergegas


meninggalkan auditorium.


Satu persatu mereka beranjak


meninggalkan auditorium.


Tidak mungkin semua gadis itu pergi


dengan mobil Victor berbarengan karena


pasti tidak akan muat kapasitasnya,


Gerald penasaran nanti pengaturanya.


Pikiran itu mendadak menyelinap


kedalam benak Gerald begitu dia selesai


membersihkan auditorium.


Apa aku perlu punya mobil juga?


Benak Gerald masih dipenuhi pertanyaann


seputar mobil.


Hari sudah siang ketika Gerald berhasil


menyelesaikan tugasnya membersihkan


auditorium.


Terdengar ponsel Gerald berdering.


Rupanya Harper yang sedang berada di


asrama menelponya.

__ADS_1


Gerald, apa kamu sudah selesai bersih-


bersih?


Gerald menggangguk. "Sudah."


"Apa Whitney sudah gila? Kami tadi


berdiskusi dan kesimpulannya kalau dia


sampai berani menolak aplikasi


subsidimu, maka kami akan membawa


masalah ini ke rektor


Gerald kembali merasakan hatinya


hangat, "Terima kasih sudah mau peduli


denganku"


"Gerald, kalau kamu tidak ada acara, ayo


makan siang bersama!"


Harper sekonyong-konyong


mengundang Gerald untuk makan siang


bersama, namun beberapa saat kemudian


nada suara Harper mendadak berubah.


Nada suara Harper menunjukkan kalau


dia tengah tersipu malu.


Sebagai seorang sahabat dekat, kalau ada


sesuatu hal yang janggal dengan Harper


maka Gerald akan segera tahu. Harper


biasanya sangat lugas dalam berkata-


kata, tumben hari ini dia menjadi agak


malu-malu?


"Apakah akan ada orang lain yang ikut


kita makan siang bareng hari ini?" Gerald


sengaja bertanya untuk menggoda


Harper.


"Bingo! Gerald, kamu masih ingat


dengan Hayley, gadis yang datang


bersama Alice di acara pesta ulang tahun


Naomi tadi malam?"


Seluruh teman sekamar Alice hadir di


acara ulang tahun Naomi tadi malam.


Gerald menerawang dan samar-samar


mengingat Hayley, seorang gadis


berambut pendek, imut dan mungil.


Meski tidak berbicara sepatah kata pun,


malam itu Harley kerap mengerlingkan


matanya pada Harper.


Ya, Aku ingat. Kenapa? Jadi kamu


mengajaknya kencan?" Gerald bertanya


dan wajahnya menunjukkan ekspresi


terkejut.


"Jadi begini, aku tadi bertemu Hayley


waktu mau balik ke asrama setelah


selesai kuliah. Rupanya dia kehilangan


ponselnya di kantin dan aku menawarkan


diri untuk membantu mencari ponselnya


itu. Kamu tahu kan, aku cukup akrab


dengan orang-orang yang bekerja di


kantin. Nah, aku minta tolong mereka


untuk mengecek kamera CCTV kantin,


lalu kami berhasil menemukan ponselnya


yang hilang!"


"Aku rasa ini takdir karena sejak


pertemuan semalam aku terus


memikirkanya. Makanya aku mencoba


mengumpulkan keberanian untuk


mengajaknya makan siang bareng


denganku dan teman-teman. Hayley


langsung setuju!"


Di ujung sambungan telpon, Harper


sedang berbunga-bunga.


Gerald ikut merasakan kebahagiaan yang


tengah dirasakan Harper.


Entah mengapa, namun Gerald tidak


ingin pergi bareng Alice dan teman-


temanya.


Gerald tidak tahan dengan cara mereka


menarik perhatian dengan kerlingan


matanya.


"Aku ikut senang, Saudaraku! Aku


doakan yang terbaik untukmu! Tapi


maaf, sepertinya aku belum bisa ikut


makan siang ini karena aku tidak mau


jadi obat nyamuk!" Gerald menjawab


sambil tertawa.


"Jangan gitu, dong! Bisa-bisanya kamu


menolak undanganku, Gerald? Semua


teman kita sudah setuju untuk datang.


Naomi juga akan ikutan! Sepertinya dia


ingin mengenalkan seseorang yang


sangat penting kepadamu hari ini. Kalau


kamu tidak ikutan, aku jamin kamu


bakalan menyesal!


ingin mengenalkan seseorang yang


sangat penting kepadamu hari ini. Kalau


Nada bicara Harper terdengar serius kali


ini.


"Seseorang yang sangat penting?"


Gerald bergumam, "Sialan. Apa artinya


Alice juga akan ikut makan siang8

__ADS_1


bareng?"


__ADS_2