
Harper yakin Gerald orang jujur, walau
kadang agak berlebihan.
Harper tahu bahwa tidak mungkin Gerald
akan terus berbohong setelah para gadis
itu berlalu. Tetapi mereka benar-benar
sulit mempercayai apa kata-kata Gerald
kali ini.
Masak iya Gerald mampu mengajak
mereka semua pergi ke Wayfair Mountain
Entertainment?
Mustahil banget, kan?
Gerald tersenyum mendengar pertanyaan
Harper.
melanjutkan makan di sini?"
Seorang pramusaji cantik bertanya
dengan sopan dan hati-hati.
Harper akan segera mengetahui
Normal Mode of Universal Copy. Please try
again or use the Scanner Mode.
kebenarannya!
"Permisi, apakah Anda masih mau
Seorang pramusaji cantik bertanya
dengan sopan dan hati-hati.
Meski sudah mencoba bertutur kata
sopan, tetap saja pramusaji itu tidak
berhasil menyembunyikan sikap
merendahkan di dalam hatinya.
Pramusaji itu dapat menerka siapa di
antara mereka yang akan membayar
tagihan.
Sejak tadi pramusají itu memperhatikan
yang terjadi dan dia melihat bagaimana
Quinton dan Harold merenggut semua
gadis cantik yang semula datang bersama
mereka.
Beberapa orang pengunjung lain tak
urung memandang Gerald, Harper dan
teman-temanya sambil tertawa tertahan.
Mereka seolah sedang kerampokan pacar
di hadapan publik.
Maka dari itu pramusaji cantik tadi
menghampiri dan bertanya apakah
mereka masih mau melanjutkan makan
di situ.
Tidak, tolong bungkuskan saja
semuanya supaya bisa kami bawa ke
Wayfair Mountain Entertainment dan
nanti bisa kami makan di sana!"
Pramusaji itu memandang Gerald dengan
tatapan menghina dan Gerald dapat
merasakanya.
Gerald tidak tega membiarkan Harper
melanjutkan makannya di tempat itu.
Tetapi Gerald juga merasa tidak enak
untuk meninggalkan semua makanan
yang sudah terlanjur dipesan begitu saja.
Pramusaji cantik itu dan pengunjung di
sekitar mereka hampir saja meledak
tertawa mendengar kata-kata Gerald.
Apa kamu ini tolol?"
"Kamu pikir kamu itu siapa? Jadi kamnu
membungkus makanan dari restoran ini
untuk makan malam di Wayfair
Mountain Entertainment?"
"Apa dia tidak tahu di Wayfair Mountain
Entertainment juga bisa order makanan?
Hahaha..."
"Sepertinya mereka ingin
menyelamatkan harga diri karena pacar
mereka sudah pergi bersama dua orang
parlente tadi. Hahaha. Sepertinya
mahasiswa sekarang sudah kehilangan
urat malunya. Mereka sudah tidak punya
harga diri lagi."
Orang-orang terus saja mengejek mereka.
Harper menundukkan kepalanya
menahan rasa malu yang tak tertahankan.
Pramusaji itu menyapu mereka semua
dengan matanya dan tatapanya berhenti
pada Gerald, "Baiklah, boleh aku tahu
siapa yang akan membayar semua
tagihanya?"
"Aku, aku akan membayar semuanya,
Harper buru-buru menengahi.
Total harga makanan yang mereka pesan
kurang lebih delapan ratus dolar.
Angka itu setara dengan 80% biaya hidup
Harper untuk sebulan.
Gerald meraih plastik pembungkus yang
dipegang pramusaji dan mulai
__ADS_1
mengemasi sendiri makanan di meja.
Meski semua pengunjung mengejek dan
mengolok-ngolok mereka, namun Gerald
tetap cuek.
"Sob. Sob."
Perhatian mereka semua teralihkan
dengan hadirnya tiga mobil mewah yang
tiba-tiba.
Ketiga mobil mewah itu berhenti dan
parkir tepat di depan restoran.
"Wow! Ada 3 Rolls-Royce Phantoms!" 1
"Gila? Mobil siapa, ya? Satu mobil aja
harganya mencapai hampir satu
setengah juta dolar!"
"OMG! Lihat tuh plat mobilnya!"
Plat nomor ketiga mobil mewah itu
berakhiran 689. Untuk mengurus plat
nomor khusus senacam itu biayanya
sudah ratusan dolar sendiri!
Semua mata pengunjung restoran dan
pramusaji tertuju pada mobil mewah
yang tarparkir di depan.
Para pramusaji mengantisipasi jika
pemilik mobil mewah itu hendak makan
di restoran, mereka seolah ingin
berlomba untuk memberikan layanan
terbaik.
Para pramusaji merapikan baju mereka
dan bergegas menuju pintu masuk.
Mereka harap-harap cemas menanti
sang pemilik mobil turun dan makan
Tiga orang pria berbadan tegap turun
dari mobil. Ketiganya mengenakan jas
dan kacamata hitam serta alat
komunikasi canggih serupa headset
melingkari kepala mereka. Mereka
terlihat seperti layaknya bodyguard yang
digambarkan di film-film holywood.
Susana mendadak berubah hening.
Tuan, ada yang bisa saya...
Pramusaji cantik itu segera menyapa
Ketiga pria itu tidak memedulikan sapaan
pramusaji dan langsung menemui Gerald
yang sedang sibuk menmbungkus
makanan.
Tuan Crawford!"
Gerald seraya membungkuk hormat.
"Apa? Tuan Crawford?"
"Kenapa bodyguard itu memanggil si
pria bodoh itu Tuan Crawford?"
Semua orang terkejut dibuatnya.
Tidak terkecuali Harper dan teman-
temanya.
Apa yang sedang terjadi?
Benarkah Gerald sekeren itu?
Gerald telah selesai membungkus semua
"Bro, ayo semua ke mobil dan kita
menuju vila sekarang."
Tuan Crawford, izinkan kami untuk
membawa makananya."
Bodyguard mengambil alih bungkusan
makanan dari tangan Gerald.
Harper dan teman-temanya mengikuti
Gerald keluar dari restoran, mereka
merasa seperti sedang bermimpi.
Tuan Crawford, selamat jalan..."
Wajah pramusaji cantik itu pun pucat
pasi ketika dia menyapa Gerald penuuh
hormat kali ini, Gerald hanya
mengangguk.
Gerald merasa risih, dia tidak terbiasa
menjadi pusat perhatian orang.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan
meluncur menuju Vila dimaksud.
Harper sangat penasaran dan menuntut
penjelasan Gerald.
"Gerald, sebenarnya...apa yang sedang
terjadi?"
Gerald belum ingin menceritakan
semuanya sekarang. Seraya tersenyum,
Gerald berkata," Saudaraku Harper, aku
akan menceritakan semuanya kepadamu
nanti. Kita ini sudah seperti saudara, jadi
apapun yang terjadi padamu otomatis
menjadi urusanku. Aku akan memastikan
bahwa kamu tidak akan kehilangan muka
hari ini!"
Harper mengangguk dan berhenti
bertanya.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba
__ADS_1
di Vila.
Para bodyguard hendak mernjalankan
tugas untuk mengajak teman-teman
Gerald berkeliling dan memastikan
mereka semua bisa menikmati suasana
dan makanan di Wayfair Mountain
Gerald menyadari bahwa teman-
temannya kurang bisa menikmati
suasana dengan kehadiran tiga orang
bodyguard di sekeliling mereka.
Gerald juga merasakan hal yang sama.
Maka ketika sampai di pintu masuk,
Gerald meminta para bodyguard untuk
menurunkan mereka dan mempersilakan
mereka untuk beristirahat, bebas tugas
untuk sementara waktu.
"Gila! Gerald, kamu hebat sekali! Sulit
dipercaya bahwa kita benar-benar bisa
masuk ke dalam vila hari ini!"
Benjamin sangat bahagia dapat
melangkahkan kakinya masuk ke dalam
Vila.
Tenang saja, aku kenal dengan bos
tempat ini! Jadi, apa yang ingin kalian
lakukan sekarang? Kalian bilang aja gak
usah malu-malu!"
lakukan sekarang! kanan Diang aa gak
Gerald berkata seraya tersenyum.
Ahh! Gerald, apakah boss yang kamu
maksud itu orang yang sama dengan
yang memberimu shopper's card waktu
lalu?"
"Gimana ya, bisa dibilang ada
hubunganya lah..."
Gerald tidak sedang berbohong karena
kartu itu diberikan oleh Jessica, saudara
perempuanya dan dia juga yang
mengenalkan dia dengan Zack.
Harper mengangguk paham.
Mereka sibuk memikirkan yang ingin
mereka lakukan di tempat itu sekarang.
Vila itu sangat luas, keseluruhan
bangunannya menutup sebagian
pemandangan gunung di kejauhan.
Meski pemandangan di luar Vila sangat
indah, tapi tidak ada hal menarik yang
bisa dilakukan diluar sana.
Sumber air panas dan area seputar
tempat makan adalah pusat dari hiburan
yang ditawarkan di villa itu.
Karena Gerald sudah cukup familiar
dengan tempat itu, maka dia berujar, "
Baiklah, ayo kita masuk, makan dan
menikmati air panas di dalam."
"Emm, Gerald. Aku baca di internet
bahwa kita mesti bayar kalau mau masukk
dan menikmati air panas di dalam, benar
kan?" Benjamin bertanya penasaran
Benjamin sudah merasa senang bahkan
jika mereka tidak bisa masuk ke dalam
vila.
Andai bisa masuk, maka itu seperti bonus.
"Jangan khawatir soal itu!"
Gerald tersenyum. Vila ini milik saudara
perempuannya, Jessica, jadi biar
bagaimana pun Gerald ikut memiliki
tempat itu.
Sekarang semua sudah merasa sedikit
rileks.
Mereka melintasi jembatan antik yang
menghubungkan antara bagian Iuar
dengan bagian dalam villa.
Gerald dan teman-temanya bertemu
Alice dan teman-temannya tepat ketika
mereka melangkahkan kaki masuk ke
dalam villa.
Para gadis itu sedang asyik berswafoto.
Hei, lihat! Itu Gerald dan teman-
temannya! Kok, bisa mereka masuk ke
tempat ini, gimana caranya?" Jacelyn
sedikit berteriak karena terkejut melihat
Gerald dan teman-temanya berjalan
memasuki Vila.
Alice sedang asyik mengobrol dengan
Quinton. Alice terkesiap mendengar kata-
kata Jacelyn. Dia mengernyitkan kening,
memutar tubuhnya dan melihat Gerald
dan teman-temanya.
"Aku yakin banget itu mereka."
"Bagaimana caranya mereka bisa masuk
__ADS_1
ke tempat ini?"