Pria Yang Tak Terlihat Kaya

Pria Yang Tak Terlihat Kaya
Bab 20


__ADS_3

Gila! Apa mungkin mereka masuk ke


sini secara diam-diam?"


Harold melontarkan tuduhannya.


Harold memandang hina kepada Gerald


dan rombongannya.


Benak para gadis itu juga dipenuhi


pertanyaan yang sama dengan Harold.


Mustahil banget, kan? Wayfair Mountain


Entertainment bukan tempat sembarang!


Tidak mungkin sembarangan orang bisa


masuk ketempat seperti ini!


Bahkan orang sekaya dan sekeren


Quinton pun masih harus menelpon


ayahnya dan ayahnya masih harus


akses untuk masuk, hanya terbatas di


area luar Wayfair Mountain


menelpon orang lain lagi untuk bisa.


mevdapatRanfakseshasik kereipat îni.


Normial Mode of Universal Copy. Please try


again or use the Scanner Mode.


Kalaupun mereka berhasil mendapatkan


menelpon orang lain lagi untuk bisa


mendapatkan akses masuk ke tempat ini.


Kalaupun mereka berhasil mendapatkan


Entertainment.


"Ya, ampun! Kalau mereka masuk ke sini


secara diam-diam pasti nanti bakal ada


kejadian memalukan!"


"Kalau nanti petugas keamanan


menyadari hal ini lalu mereka


diinterogasi dan ketahuan kalau mereka


ada hubungan dengan kita, apa kita akan


diusir juga? Duh, nggak kebayang, deh,


malunya!"


Para gadis itu menjadi gelisah, saling


bergumam menggerutu dan memandang


jijik kepada Gerald.


"Harper, bagaimana caranya kamu


masuk ke sini?"


Hayley tidak ingin berspekulasi sendiri.


Didorong oleh rasa penasaran dan


khawatir terhadap Harper, Hayley


menghampiri Harper dan bertanya pelan.


"Kami masuk lewat pintu depan!" Gerald


mewakili Harper menjawab pertanyaan


Hayley.


Harper mengangguk mengiyakan.


Hahaha. Pintu masuk? Mustahil! Apa


mungkin petugas jaga di pintu depan


buta sehingga kalian dibiarkan masuk?"


Jacelyn yang sejak tadi menggaruk


kepalanya karena bingung berteriak


kepada Gerald.


Jacelyn bersumpah akan menampar


muka Gerald, kalau sampai terjadi dia


diusir keluar dari tempat itu karena ulah


Gerald.


Sepuluh tamparan keras!


Alice juga khawatir membayangkan yang


akan terjadi jika Gerald ketahuan masuk


ketempat itu secara diam-diam. Alice


memaksa dirinya menghampiri Gerald


untuk menuntut penjelasan dengan raut


muka bersungguh-sungguh.


"Gerald, aku harap kamu mau jujur


sekarang. Kalau benar kamu masuk ke


sini secara diam-diam sebaiknya kamu


jujur saja supaya kami bisa minta


Quinton untuk mencari solusinya."


"Benar! Jangan sampai hal buruk


menimpa kita semua!" Quinton


menegaskan.


Quinton membatin, "Kenapa teman-


teman Alice kok aneh banget


kelakuanya?"


Hmm..."


Gerald diam saja mendengarkan omelan


dan teriakan mereka yang bertubi-tubi.


Dia merasa putus asa. Apa lagi yang bisa


dan teriakan mereka yang bertubi-tubi.


Dia merasa putus asa. Apa lagi yang bisa


dia katakan, sejak awal dia sudah bilang


kalau tadi masuk lewat pintu depan dan


kenyataanya memang seperti itu.


Apa lagi yang mereka ingin dengar


darinya? Bahwa tadi mereka masuk lewat


lubang angin?


Aku sudah bicara jujur. Kalau mau, ayo


ikut aku ke dalam dan kita bisa bersenang


-senang bersama. Kita bisa makan,


mandi air panas dan menikmati semua


fasilitas yang ada."


Gerald nmenawarkan semua itu semata-


mata karena dia ingin menyenangkan


Naomi.


Cara mereka menatap seolah mewakili


pikiran mereka yang menganggap Gerald


sebagai seorang idiot. Naomi merasa


prihatin, khawatir hal buruk akan terjadi


"Apa kamu bilang? Kamu mau membawa


kami semua masuk ke dalam vila? Sadar


diri dong, kamu pikir kamu itu siapa?


Coba ngaca, deh! Kamu sadar Inggak


kalau tempat ini dijaga oleh para


bodyguard?" Jacelyn bertanya dengan


marah.


"Benar! Quinton aja kesulitan untuk


membawa kami semua masuk ke dalam


Vila, apalagi kamu?"


Kembali para gadis itu mengomel dengan


sesamanya.


"Sekarang kita berempat belas. Andai


kita masuk semuanya, untuk bayar tiket


masuk saja perlu setidaknya duapuluh


ribu dolar, belum termasuk makan, Iho.


Nah, kalau kita makan di dalam,


setidaknya butuh tigapuluh sampai


empat puluh ribu dolar! Akan jauh lebih


mudah bagiku untuk mengatur


semuanya andai jumlah orangnya lebih


sedikit, sekarang agak sulit karena


rombongan kita terlalu besar."


Quinton berbicara sambil memandang


Gerald dan tersenyum sinis.


Hati Alice berdesir ketika mendengar


Quinton mengatakan bahwa dia telah


memikirkan segala sesuatunya. Alice


memandang putus asa kepada Gerald dan


berkata," Sudahlah, lupakan saja.


Sebaiknya kita pergi saja sekarang dan


kembali lagi kapan-kapan daripada nanti


kita ikut menanggung malu kalau sampai


mereka ketahuan!"


"Tidak! Kenapa kita harus pergi hanya


karena si miskin ini?"


"Betul! Alice, kenapa kita harus pergi?


Akhirnya kita sampai di sini dan aku


masih ingin melihat-lihat tempat ini!"


Para gadis itu memandang marah kepada


Sebenarnya Alice sedang menyindir


dengar maksud agar Gerald dan


rombongan segera pergi dari tempat itu.


Baiklah, Gerald tersemyum pahit,


menggelengkan kepalanya dan berkata,"

__ADS_1


Terserah kamu saja, kalau mau ikut, ayo!


Tapi kalau tidak mau, ya aku nggak


maksa."


Sekarang Gerald berkata pada Naomi, "


Naomi, kamu percaya sama aku? Kalau


kamu percaya, ayo ikut aku masuk ke


dalam villa."


Naomi menggertakkan giginya dan


mengangguk.


Gerald lalu memimpin rombonganya


melewati jembatan antik menuju ke


bagian dalam Vila.


"Hahahal Kita lihat saja! Tidak lama lagi


Gerald akan diusir keluar! Semoga saja


kita tidak disangkutpautkan


dengannya!" Jacelyn berkata sambil


pandanganya terus mengikuti Gerald dan


rombongan.


"Gerald itu benar-benar sudah putus


urat malunya!"


Quinton berdiri disamping mereka dan


tidak sabar menanti yang akan terjadi.


Namun yang terjadi kemudian membuat


mereka terbelalak tidak percaya dengan


yang sedang mereka lihat. Mereka yakin


sekali bahwa Gerald akan ditendang


keluar, kenyataanya Gerald bebas


melenggang masuk ke dalam Vila.


Bahkan para bodyguard yang sedang


berjaga nampak membungkuk hormat


"Ada apa ini, apa yang sebenarnya


sedang terjadi?" tanya Quinton


keheranan.


Kedua tangan Jacelyn menutup mulutnya


yang terngaga karena kaget dengan yang


dilihatnya.


Tadinya dia mengira Gerald akan


dipukuli oleh para petugas, tapi nyatanya


Gerald dan rombongan melenggang


dengan santai masuk kedalam Vila.


Sulit dijelaskan yang sedang berkecamuk


di benak para gadis cantik itu sekarang


Mereka kesulitan mencerna yang sedang


terjadi. Raut muka mereka menunjukkan


ekpresi bingung, kaget dan tak percaya.


Andai Alice tidak menyaksikan dengan


mata kepalanya sendiri, maka sulit bagi


Alice untuk percaya bahwa semua yang


dilihatnya itu nyata.


Di mata Alice, Gerald adalah seorang


miskin yang tidak ada apa-apanya. Dia


menyadari bahwa Naomi selalu berusaha


menjodohkan dirinya dengan Gerald.


Namun ketika Alice mengetahui bahwa


Gerald membelikan Naomi tas Hermes,


maka penilaian Alice terhadap Gerald


langsung jatuh karena dia mengira


bahwa tas Hermes itu pasti palsu. Alice


menyimpulkan bahwa Gerald adalah


orang miskin yang membosankan.


Dan barusan dia menyaksikan sendiri


Gerald dengan santainya melenggang


masuk ke Wayfair Mountain


Bahkan sulit bagi seorang Quinton untuk


masuk ke dalam Villa membawa


"Alice, apa yang harus kita lakukan


sekarang?" Jacelyn bertanya sambil


matanya lekat memandang Gerald dan


rombongan.


Alice memandang Quinton dan Harold


yang juga tengah berdiri di dekat meraka,


pandangan Alice menyiratkan


pertanyaan kepada mereka berdua


Alice optimistis bahwa Ayah Quinton bisa


membantu mereka semua masuk ke


dalam villa. Alice yakin bahwa Ayah


Quinton pastilah seorang yang


berpengaruh karena terbukti mampu


bernegosiasi dengan Flynn dari Emperor


Karaoker Bar. Jadi semestinya mudah


saja bagi ayah Quinton mengupayakan


mereka semua masuk villa!


Wajah Quinton menjadi jelek seketika.


Rasanya seperti mendapatkan dua


tamparan sekaligus dari Gerald.


Quinton tertantang untuk membawa para


gadis cantik itu masuk ke dalam villa, dia


tidak terima bahwa dirinya dikalahkan


begitu saja oleh Gerald.


Apa yang harus dia lakukan?


Quinton segera menelpon kembali


ayahnya. Quinton tidak mau


mempermalukan dirinya di hadapan


Alice. Dia juga tidak ingin Alice


memandang rendah dirinya. Buru-buru


Quinton meraih ponsel dan menceritakan


semua yang terjadi kepada ayahnya


melalui sambungan telepon.


Ayah Quinton tidak bisa mentolerir


bahwa anak laki-lakinya dijatuhkan oleh


orang lain dalam hal uang. Tidak berbeda


dengan anaknya, ayah Quinton sangat


peduli dengan reputasi.


Maka ayah Quinton melakukan apapun


yang mungkin untuk memastikan


Quinton bisa masuk Villa bersama


rombongan para gadis cantik.


Bahkan ayah Quinton memberikan ekstra


duapuluh ribu dolar demi menjaga agar


anak laki-lakinya tidak kehilangan muka.


Bankan ayan Qumor memoermar ESua


duapuluh ribu dolar demi menjaga agar


Bagi ayah Quinton, tidak mengapa jika


harus kehilangan banyak uang asalkan


tidak kehilangan muka!


"Hahaha! Kabar baik! Ayo Alice, aku akan


villa," Quinton berkata sambil


menyeringai.


"Okay! Kamu keren, Quinton! Aku masih


bertanya-tanya kenapa si miskin itu


harus bersaing denganmu?"


Jacelyn dan teman-temannya juga


memuji Quinton.


Biaya tiket masuknya seratus limapulu


dolar per orang, itu belum termasuk


fasilitas air panas, makan, dan layanan


lainya.


Total biaya tiket masuk untuk mereka


berdelapan adalah dua belas ribu dolar.


"Gerald mungkin mampu membayar


rombonganya masuk, tapi kurasa dia


sudah tidak punya uang lagi untuk


membayar yang lainya. Palingan mereka


hanya akan berkeliling melihat-lihat!


Aku masih sanggup membayar untuk kita


semua main bowling!"


Quinton dan Harold saling mengedipkan


mata seolah saling meyakinkan bahwa


dua belas ribu dolar yang baru saja


mereka habiskan itu sepadan.


Mereka tidak menyesali dua belas ribu


dolar yang telah mereka habiskan hanya


untuk bisa masuk kedalam villa.


Bowling adalah permainan termurah di

__ADS_1


dalam villa. Setidaknya Quinton sudah


memastikan bahwa itu lebih murah


dibanding biaya untuk makan di tempat


itu.


Mereka semua mengikuti Quinton masuk


ke dalam villa.


Bagian dalam Mountain Entertainment


sangat berbeda dengan bagian luarnya.


Mereka merasa seolah sedang masuk


kedalam dunia baru yang sama sekali


berbeda.


Mereka merasa seolah sedang berada di


surga. Tidaklah mengherankan jika


banyak orang kaya dan berpengaruh dari


daerah lain yang datang kesitu.


Alice takjub ketika kakinya melangkah ke


area dalam Vila, tapi kemudian dia bisa


menguasai dirinya kembali.


"Ah! Guys, lihat! Apa itu?"


Jacelyn yang sedang menyapukan kuas


make up ke wajahnya untuk persiapan


selfie, terhenyak melihat sebuah tempat


yang sangat elegan di atas mata air yang


indah dengan air terjun di depannya.


Tampak beberapa orang sedang


menikmati hidangan di tempat itu.


Tempat itu dikelilingi oleh kabut air yang


membentuk efek terlihat seperti sebentuk


pelangi sedang mengitari mereka yang


sedang berada di atas sana.


Semua memandang ke tempat orang-


orang yang sedang makan di sana.


Mereka terlihat seperti sedang


menikmati hidangan di atas hamparan


awan.


Pemandangan yang sangat mengesankan.


Alice merasa iri terhadap mereka yang


sedang menikmati hidangan di atas sana


dan dia membayangkan andai dirinya


bisa mengalami hal serupa.


"Apakah itu yang disebut dengan


Paviliun Micro Dining? Tidak salah lagi


itu memang paviliun Micro Dining yang


terkenal itu!" Quinton berkata dengan


nada iri.


"Quinton, berapa biaya untuk masuk dan


makan di Paviliun Micro Dining? Dari


namanya aja terdengar sangat unik. Pasti


sangat mahal, ya?


Jacelyn berkata sambil memandang


teman-temanya.


Sangat mahal katamu? Ini tuh lebih


daripada itu. Untuk masuk ke paviliun


micro dining saja empat puluh lima ribu


dolar, belum termasuk harga


makanannya!"


Semua tercengang mendengarnya.


Empat puluh lima ribu dolar hanya untuk


tiket masuknya sajaf


Gila!


Tentu saja Quinton yang paling tau


tentang segala sesuatu di villa itu


dibanding yang lainya.


Satu hal lagi, meski kalian punya uang


untuk tiket masuk dan membeli


makanan, belum tentu kalian bisa makan


di situ karena hanya orang tertentu yang


boleh makan di situ. Intinya hanya


mereka yang kaya raya dan berpengaruh


yang mampu makan di situ."


Alice kehilangan kata-kata mendengar


semua informasi itu.


Hei! Lihat di sana! Alice, Quinton, coba


perhatikan, deh! Kenapa aku merasa


orang-orang itu terlihat seperti Gerald


dan rombongannya?"


Setelah memperhatikan dengan saksama


selama beberapa saat, Jacelyn merasa ada


yang salah dengan penglihatannya.


Hayley mengangguk dan berkata, "Kamu


benar! Aku bisa pastikan kalau itu


Harper!"


Alice, Quinton dan Harold tersentak


ketika mencoba melihat dengan lebih jeli


orang-orang yang sedang menikmati


hidangan di paviliun Micro Dining.


orang-orang yang sedang menikmati


hidangan di paviliun Micro Dining.


Tidak salah lagi, ternyata mereka adalah


Gerald dan rombonganya.


"Mustahil!"


Alice tidak percaya dengan


penglihatannya sendiri. Bagaimana


caranya si miskin itu mampu berada di


tempat seperti itu?


Benar-benar mustahil!


Kriiiing


Ponsel Alice berdering


Ternyata Naomi yang menelpon.


"Alice, kok lama banget? Makanan sudah


tersaji semuanya, nih! Aku bisa


melihatmu dari ini! Ayo sini,


pemandangannya bagus banget ho dari


sini. Ayo, dong gabung sama kami di


sini?"


Alice melihat Naomi sedang berdiri di


paviliun Micro Dining dan memberi


isyarat kepadanya untuk segera ke atas!


"OMG, tidak salah lagi, itu benar-benar


Gerald, Naomi dan rombonganya. Ya,


ampun!"


Jacelyn nmenelan ludah, benar-benar sulit


dipercaya.


Ekspresi wajah Quinton dan Harold


seketika berubah dan sepertinya mereka


tidak akan bisa menegakkan kepalanya


lagi.


"Alice, ayo kita ke atas!"


Jacelyn tidak tahan untuk segera naik!


Orang kaya dan bangsawan yang ada di


sana memandang mereka dengan


tatapan iri.


Jacelyn merasa sangat lega.


Alice menggigit bibirnya dan berkata, "


Oke, ayo kita ke atas!"


Alice akan meminta Gerald untuk


menjelaskan semuanya, bagaimana


semua hal ini bisa terjadi. Karena kalau


tidak dia tidak akan bisa tidur nanti


malam karena dihantui rasa penasaran!


Harold mulai ragu dan menjadi gugup, "


Bro Quinton, sepertinya kita sudah salah


duga. Si miskin itu ternyata seorang yang


luar biasa. Aku pikir sebaiknya kita segera


pergi dari tempat ini, tidak ada gunanya


lagi bersaing dengan dia."


Harold merasa takut karena tidak pernah


menyangka bahwa Gerald ternyata


sangat berpengaruh.


Quinton mendengus dan berkata dingin, "


Sialan! Kenapa kamu harus takut


padanya? Aku tidak percaya si miskin itu


benar-benar berpengaruh. Ayo kita ke


atas! Kita harus cari tahu jawabanya!"

__ADS_1


__ADS_2