
Gila! Apa mungkin mereka masuk ke
sini secara diam-diam?"
Harold melontarkan tuduhannya.
Harold memandang hina kepada Gerald
dan rombongannya.
Benak para gadis itu juga dipenuhi
pertanyaan yang sama dengan Harold.
Mustahil banget, kan? Wayfair Mountain
Entertainment bukan tempat sembarang!
Tidak mungkin sembarangan orang bisa
masuk ketempat seperti ini!
Bahkan orang sekaya dan sekeren
Quinton pun masih harus menelpon
ayahnya dan ayahnya masih harus
akses untuk masuk, hanya terbatas di
area luar Wayfair Mountain
menelpon orang lain lagi untuk bisa.
mevdapatRanfakseshasik kereipat îni.
Normial Mode of Universal Copy. Please try
again or use the Scanner Mode.
Kalaupun mereka berhasil mendapatkan
menelpon orang lain lagi untuk bisa
mendapatkan akses masuk ke tempat ini.
Kalaupun mereka berhasil mendapatkan
Entertainment.
"Ya, ampun! Kalau mereka masuk ke sini
secara diam-diam pasti nanti bakal ada
kejadian memalukan!"
"Kalau nanti petugas keamanan
menyadari hal ini lalu mereka
diinterogasi dan ketahuan kalau mereka
ada hubungan dengan kita, apa kita akan
diusir juga? Duh, nggak kebayang, deh,
malunya!"
Para gadis itu menjadi gelisah, saling
bergumam menggerutu dan memandang
jijik kepada Gerald.
"Harper, bagaimana caranya kamu
masuk ke sini?"
Hayley tidak ingin berspekulasi sendiri.
Didorong oleh rasa penasaran dan
khawatir terhadap Harper, Hayley
menghampiri Harper dan bertanya pelan.
"Kami masuk lewat pintu depan!" Gerald
mewakili Harper menjawab pertanyaan
Hayley.
Harper mengangguk mengiyakan.
Hahaha. Pintu masuk? Mustahil! Apa
mungkin petugas jaga di pintu depan
buta sehingga kalian dibiarkan masuk?"
Jacelyn yang sejak tadi menggaruk
kepalanya karena bingung berteriak
kepada Gerald.
Jacelyn bersumpah akan menampar
muka Gerald, kalau sampai terjadi dia
diusir keluar dari tempat itu karena ulah
Gerald.
Sepuluh tamparan keras!
Alice juga khawatir membayangkan yang
akan terjadi jika Gerald ketahuan masuk
ketempat itu secara diam-diam. Alice
memaksa dirinya menghampiri Gerald
untuk menuntut penjelasan dengan raut
muka bersungguh-sungguh.
"Gerald, aku harap kamu mau jujur
sekarang. Kalau benar kamu masuk ke
sini secara diam-diam sebaiknya kamu
jujur saja supaya kami bisa minta
Quinton untuk mencari solusinya."
"Benar! Jangan sampai hal buruk
menimpa kita semua!" Quinton
menegaskan.
Quinton membatin, "Kenapa teman-
teman Alice kok aneh banget
kelakuanya?"
Hmm..."
Gerald diam saja mendengarkan omelan
dan teriakan mereka yang bertubi-tubi.
Dia merasa putus asa. Apa lagi yang bisa
dan teriakan mereka yang bertubi-tubi.
Dia merasa putus asa. Apa lagi yang bisa
dia katakan, sejak awal dia sudah bilang
kalau tadi masuk lewat pintu depan dan
kenyataanya memang seperti itu.
Apa lagi yang mereka ingin dengar
darinya? Bahwa tadi mereka masuk lewat
lubang angin?
Aku sudah bicara jujur. Kalau mau, ayo
ikut aku ke dalam dan kita bisa bersenang
-senang bersama. Kita bisa makan,
mandi air panas dan menikmati semua
fasilitas yang ada."
Gerald nmenawarkan semua itu semata-
mata karena dia ingin menyenangkan
Naomi.
Cara mereka menatap seolah mewakili
pikiran mereka yang menganggap Gerald
sebagai seorang idiot. Naomi merasa
prihatin, khawatir hal buruk akan terjadi
"Apa kamu bilang? Kamu mau membawa
kami semua masuk ke dalam vila? Sadar
diri dong, kamu pikir kamu itu siapa?
Coba ngaca, deh! Kamu sadar Inggak
kalau tempat ini dijaga oleh para
bodyguard?" Jacelyn bertanya dengan
marah.
"Benar! Quinton aja kesulitan untuk
membawa kami semua masuk ke dalam
Vila, apalagi kamu?"
Kembali para gadis itu mengomel dengan
sesamanya.
"Sekarang kita berempat belas. Andai
kita masuk semuanya, untuk bayar tiket
masuk saja perlu setidaknya duapuluh
ribu dolar, belum termasuk makan, Iho.
Nah, kalau kita makan di dalam,
setidaknya butuh tigapuluh sampai
empat puluh ribu dolar! Akan jauh lebih
mudah bagiku untuk mengatur
semuanya andai jumlah orangnya lebih
sedikit, sekarang agak sulit karena
rombongan kita terlalu besar."
Quinton berbicara sambil memandang
Gerald dan tersenyum sinis.
Hati Alice berdesir ketika mendengar
Quinton mengatakan bahwa dia telah
memikirkan segala sesuatunya. Alice
memandang putus asa kepada Gerald dan
berkata," Sudahlah, lupakan saja.
Sebaiknya kita pergi saja sekarang dan
kembali lagi kapan-kapan daripada nanti
kita ikut menanggung malu kalau sampai
mereka ketahuan!"
"Tidak! Kenapa kita harus pergi hanya
karena si miskin ini?"
"Betul! Alice, kenapa kita harus pergi?
Akhirnya kita sampai di sini dan aku
masih ingin melihat-lihat tempat ini!"
Para gadis itu memandang marah kepada
Sebenarnya Alice sedang menyindir
dengar maksud agar Gerald dan
rombongan segera pergi dari tempat itu.
Baiklah, Gerald tersemyum pahit,
menggelengkan kepalanya dan berkata,"
__ADS_1
Terserah kamu saja, kalau mau ikut, ayo!
Tapi kalau tidak mau, ya aku nggak
maksa."
Sekarang Gerald berkata pada Naomi, "
Naomi, kamu percaya sama aku? Kalau
kamu percaya, ayo ikut aku masuk ke
dalam villa."
Naomi menggertakkan giginya dan
mengangguk.
Gerald lalu memimpin rombonganya
melewati jembatan antik menuju ke
bagian dalam Vila.
"Hahahal Kita lihat saja! Tidak lama lagi
Gerald akan diusir keluar! Semoga saja
kita tidak disangkutpautkan
dengannya!" Jacelyn berkata sambil
pandanganya terus mengikuti Gerald dan
rombongan.
"Gerald itu benar-benar sudah putus
urat malunya!"
Quinton berdiri disamping mereka dan
tidak sabar menanti yang akan terjadi.
Namun yang terjadi kemudian membuat
mereka terbelalak tidak percaya dengan
yang sedang mereka lihat. Mereka yakin
sekali bahwa Gerald akan ditendang
keluar, kenyataanya Gerald bebas
melenggang masuk ke dalam Vila.
Bahkan para bodyguard yang sedang
berjaga nampak membungkuk hormat
"Ada apa ini, apa yang sebenarnya
sedang terjadi?" tanya Quinton
keheranan.
Kedua tangan Jacelyn menutup mulutnya
yang terngaga karena kaget dengan yang
dilihatnya.
Tadinya dia mengira Gerald akan
dipukuli oleh para petugas, tapi nyatanya
Gerald dan rombongan melenggang
dengan santai masuk kedalam Vila.
Sulit dijelaskan yang sedang berkecamuk
di benak para gadis cantik itu sekarang
Mereka kesulitan mencerna yang sedang
terjadi. Raut muka mereka menunjukkan
ekpresi bingung, kaget dan tak percaya.
Andai Alice tidak menyaksikan dengan
mata kepalanya sendiri, maka sulit bagi
Alice untuk percaya bahwa semua yang
dilihatnya itu nyata.
Di mata Alice, Gerald adalah seorang
miskin yang tidak ada apa-apanya. Dia
menyadari bahwa Naomi selalu berusaha
menjodohkan dirinya dengan Gerald.
Namun ketika Alice mengetahui bahwa
Gerald membelikan Naomi tas Hermes,
maka penilaian Alice terhadap Gerald
langsung jatuh karena dia mengira
bahwa tas Hermes itu pasti palsu. Alice
menyimpulkan bahwa Gerald adalah
orang miskin yang membosankan.
Dan barusan dia menyaksikan sendiri
Gerald dengan santainya melenggang
masuk ke Wayfair Mountain
Bahkan sulit bagi seorang Quinton untuk
masuk ke dalam Villa membawa
"Alice, apa yang harus kita lakukan
sekarang?" Jacelyn bertanya sambil
matanya lekat memandang Gerald dan
rombongan.
Alice memandang Quinton dan Harold
yang juga tengah berdiri di dekat meraka,
pandangan Alice menyiratkan
pertanyaan kepada mereka berdua
Alice optimistis bahwa Ayah Quinton bisa
membantu mereka semua masuk ke
dalam villa. Alice yakin bahwa Ayah
Quinton pastilah seorang yang
berpengaruh karena terbukti mampu
bernegosiasi dengan Flynn dari Emperor
Karaoker Bar. Jadi semestinya mudah
saja bagi ayah Quinton mengupayakan
mereka semua masuk villa!
Wajah Quinton menjadi jelek seketika.
Rasanya seperti mendapatkan dua
tamparan sekaligus dari Gerald.
Quinton tertantang untuk membawa para
gadis cantik itu masuk ke dalam villa, dia
tidak terima bahwa dirinya dikalahkan
begitu saja oleh Gerald.
Apa yang harus dia lakukan?
Quinton segera menelpon kembali
ayahnya. Quinton tidak mau
mempermalukan dirinya di hadapan
Alice. Dia juga tidak ingin Alice
memandang rendah dirinya. Buru-buru
Quinton meraih ponsel dan menceritakan
semua yang terjadi kepada ayahnya
melalui sambungan telepon.
Ayah Quinton tidak bisa mentolerir
bahwa anak laki-lakinya dijatuhkan oleh
orang lain dalam hal uang. Tidak berbeda
dengan anaknya, ayah Quinton sangat
peduli dengan reputasi.
Maka ayah Quinton melakukan apapun
yang mungkin untuk memastikan
Quinton bisa masuk Villa bersama
rombongan para gadis cantik.
Bahkan ayah Quinton memberikan ekstra
duapuluh ribu dolar demi menjaga agar
anak laki-lakinya tidak kehilangan muka.
Bankan ayan Qumor memoermar ESua
duapuluh ribu dolar demi menjaga agar
Bagi ayah Quinton, tidak mengapa jika
harus kehilangan banyak uang asalkan
tidak kehilangan muka!
"Hahaha! Kabar baik! Ayo Alice, aku akan
villa," Quinton berkata sambil
menyeringai.
"Okay! Kamu keren, Quinton! Aku masih
bertanya-tanya kenapa si miskin itu
harus bersaing denganmu?"
Jacelyn dan teman-temannya juga
memuji Quinton.
Biaya tiket masuknya seratus limapulu
dolar per orang, itu belum termasuk
fasilitas air panas, makan, dan layanan
lainya.
Total biaya tiket masuk untuk mereka
berdelapan adalah dua belas ribu dolar.
"Gerald mungkin mampu membayar
rombonganya masuk, tapi kurasa dia
sudah tidak punya uang lagi untuk
membayar yang lainya. Palingan mereka
hanya akan berkeliling melihat-lihat!
Aku masih sanggup membayar untuk kita
semua main bowling!"
Quinton dan Harold saling mengedipkan
mata seolah saling meyakinkan bahwa
dua belas ribu dolar yang baru saja
mereka habiskan itu sepadan.
Mereka tidak menyesali dua belas ribu
dolar yang telah mereka habiskan hanya
untuk bisa masuk kedalam villa.
Bowling adalah permainan termurah di
__ADS_1
dalam villa. Setidaknya Quinton sudah
memastikan bahwa itu lebih murah
dibanding biaya untuk makan di tempat
itu.
Mereka semua mengikuti Quinton masuk
ke dalam villa.
Bagian dalam Mountain Entertainment
sangat berbeda dengan bagian luarnya.
Mereka merasa seolah sedang masuk
kedalam dunia baru yang sama sekali
berbeda.
Mereka merasa seolah sedang berada di
surga. Tidaklah mengherankan jika
banyak orang kaya dan berpengaruh dari
daerah lain yang datang kesitu.
Alice takjub ketika kakinya melangkah ke
area dalam Vila, tapi kemudian dia bisa
menguasai dirinya kembali.
"Ah! Guys, lihat! Apa itu?"
Jacelyn yang sedang menyapukan kuas
make up ke wajahnya untuk persiapan
selfie, terhenyak melihat sebuah tempat
yang sangat elegan di atas mata air yang
indah dengan air terjun di depannya.
Tampak beberapa orang sedang
menikmati hidangan di tempat itu.
Tempat itu dikelilingi oleh kabut air yang
membentuk efek terlihat seperti sebentuk
pelangi sedang mengitari mereka yang
sedang berada di atas sana.
Semua memandang ke tempat orang-
orang yang sedang makan di sana.
Mereka terlihat seperti sedang
menikmati hidangan di atas hamparan
awan.
Pemandangan yang sangat mengesankan.
Alice merasa iri terhadap mereka yang
sedang menikmati hidangan di atas sana
dan dia membayangkan andai dirinya
bisa mengalami hal serupa.
"Apakah itu yang disebut dengan
Paviliun Micro Dining? Tidak salah lagi
itu memang paviliun Micro Dining yang
terkenal itu!" Quinton berkata dengan
nada iri.
"Quinton, berapa biaya untuk masuk dan
makan di Paviliun Micro Dining? Dari
namanya aja terdengar sangat unik. Pasti
sangat mahal, ya?
Jacelyn berkata sambil memandang
teman-temanya.
Sangat mahal katamu? Ini tuh lebih
daripada itu. Untuk masuk ke paviliun
micro dining saja empat puluh lima ribu
dolar, belum termasuk harga
makanannya!"
Semua tercengang mendengarnya.
Empat puluh lima ribu dolar hanya untuk
tiket masuknya sajaf
Gila!
Tentu saja Quinton yang paling tau
tentang segala sesuatu di villa itu
dibanding yang lainya.
Satu hal lagi, meski kalian punya uang
untuk tiket masuk dan membeli
makanan, belum tentu kalian bisa makan
di situ karena hanya orang tertentu yang
boleh makan di situ. Intinya hanya
mereka yang kaya raya dan berpengaruh
yang mampu makan di situ."
Alice kehilangan kata-kata mendengar
semua informasi itu.
Hei! Lihat di sana! Alice, Quinton, coba
perhatikan, deh! Kenapa aku merasa
orang-orang itu terlihat seperti Gerald
dan rombongannya?"
Setelah memperhatikan dengan saksama
selama beberapa saat, Jacelyn merasa ada
yang salah dengan penglihatannya.
Hayley mengangguk dan berkata, "Kamu
benar! Aku bisa pastikan kalau itu
Harper!"
Alice, Quinton dan Harold tersentak
ketika mencoba melihat dengan lebih jeli
orang-orang yang sedang menikmati
hidangan di paviliun Micro Dining.
orang-orang yang sedang menikmati
hidangan di paviliun Micro Dining.
Tidak salah lagi, ternyata mereka adalah
Gerald dan rombonganya.
"Mustahil!"
Alice tidak percaya dengan
penglihatannya sendiri. Bagaimana
caranya si miskin itu mampu berada di
tempat seperti itu?
Benar-benar mustahil!
Kriiiing
Ponsel Alice berdering
Ternyata Naomi yang menelpon.
"Alice, kok lama banget? Makanan sudah
tersaji semuanya, nih! Aku bisa
melihatmu dari ini! Ayo sini,
pemandangannya bagus banget ho dari
sini. Ayo, dong gabung sama kami di
sini?"
Alice melihat Naomi sedang berdiri di
paviliun Micro Dining dan memberi
isyarat kepadanya untuk segera ke atas!
"OMG, tidak salah lagi, itu benar-benar
Gerald, Naomi dan rombonganya. Ya,
ampun!"
Jacelyn nmenelan ludah, benar-benar sulit
dipercaya.
Ekspresi wajah Quinton dan Harold
seketika berubah dan sepertinya mereka
tidak akan bisa menegakkan kepalanya
lagi.
"Alice, ayo kita ke atas!"
Jacelyn tidak tahan untuk segera naik!
Orang kaya dan bangsawan yang ada di
sana memandang mereka dengan
tatapan iri.
Jacelyn merasa sangat lega.
Alice menggigit bibirnya dan berkata, "
Oke, ayo kita ke atas!"
Alice akan meminta Gerald untuk
menjelaskan semuanya, bagaimana
semua hal ini bisa terjadi. Karena kalau
tidak dia tidak akan bisa tidur nanti
malam karena dihantui rasa penasaran!
Harold mulai ragu dan menjadi gugup, "
Bro Quinton, sepertinya kita sudah salah
duga. Si miskin itu ternyata seorang yang
luar biasa. Aku pikir sebaiknya kita segera
pergi dari tempat ini, tidak ada gunanya
lagi bersaing dengan dia."
Harold merasa takut karena tidak pernah
menyangka bahwa Gerald ternyata
sangat berpengaruh.
Quinton mendengus dan berkata dingin, "
Sialan! Kenapa kamu harus takut
padanya? Aku tidak percaya si miskin itu
benar-benar berpengaruh. Ayo kita ke
atas! Kita harus cari tahu jawabanya!"
__ADS_1