Pria Yang Tak Terlihat Kaya

Pria Yang Tak Terlihat Kaya
Bab 24


__ADS_3

Gerald hanya ingin urusannya segera


beres, dia menarik uang lalu segera pergi


masuk kelas.


Gerald memutuskan untuk menarik tiga


puluh ribu dolar sesuai batas minimal


penarikan.


Gerald segera menyebutkan jumlah uang


yang ingin dia tarik kepada teller.


Teller sempat ragu dengan angka yang


disebut Gerald, tetapi dia tetap


memasukkan angka yang diminta dan


ternyata transaksinya disetujui dan


berhasil!


Perempuan itu terbelalak memandang


layar komputernya.


Tiga puluh ribu dolar!


OMG, ternyata mahasiswa ini sangat


kaya!


Tuan, transaksi Anda berhasil!


Teller itu merapikan rambutnya lalu


berdiri untuk menunjukkan


penghormatannya pada Gerald.


Dia mengambil bundelan uang tunai dan


memasukkanya satu per satu ke mesin


penghitung uang.


Buzz buzz...


Terdengar suara mesin penghitung uang


bekerja.


Mahasiswa yang sedang mengantre


terpaku di tempatnya masing-masing.


Mulut mahasiswa yang tadi menegur


Gerald dan juga pacarnya ternganga


lebar, saking lebarnya sampai muat


untuk dimasuki dua buah telur rebus


sekaligus.


Mereka tadi mengolok-olok karena


mengira Gerald tidak punya cukup uang


di tabungannya!


Ternyata Gerald punya uang bahkan


banyak sekali!


Mahasiswi yang kebetulan ada di sekitar


tempat itu mulai mencari perhatian


Gerald.


Tatapan mata mereka seolah berkata,


Hai, Ganteng, lihat aku, dong! Kenalan,


yuk!


Gerald menggosok hidungnya tersipu


malu.


Sesaat kemudian Gerald sadar ternyata


dia tidak punya apapun untuk membawa


uang sebanyak itu dan tidak mungkin


membawa tiga puluh ribu dolar dengan


kedua tanganya.


Gerald memandang sekeliling lalu


meraih sebuah kantong plastik hitam


yang teronggok di tempat sampah di


depan teller.


Kebetulan kantong plastiknya masih baru


karena memang baru saja diganti.


Gerald mengambil kantong plastik


sampah berwarna hitam itu dan


menaruhnya di atas meja teller.


Anda...Anda mau pakai ini?'


Teller wanita itu tentu saja kaget.


Apakah semua orang kaya memang aneh?


Ya!"


Gerald menjawab singkat. Dia segera


mengemasi uangnya dan memasukkanya


ke kantong plastik sampah berwarna


hitam, mengambil ID card dan buku

__ADS_1


tabunganya lalu segera berlalu dari


kantor bank


"Huh, dasar! Kamu tadi mengolok-


ngolok mahasiswa itu! Ternyata uangnya


banyak banget, sedangkan kamu


setengahnya aja belum tentu punya?"


Begitu Gerald berlalu, semua orang mulai


membicarakan dirinya.


Mahasisi yang sedari tadi


menggandeng lengan pacarnya dan


dengan setia menemani di antrean kini


memandang pacarnya dengan kesal dan


memukul dada pacarnya itu.


Tidak terima dengan kemarahan


pacarnya, mahasiwa itu sekilas


memandang punggung Gerald yang


sedang berlalu meninggalkan tempat itu


dan menjawab marah, "Salah sendiri!


Orang kaya kok berpakaian seperti itu?"


Meski sudah berlari-lari menuju kelas,


tetap aja Gerald terlambat karena terlaluu


lama di bank.


"Laporan!


Gerald sampai di pintu masuk kelasnya.


Cassandra McGregor, seorang wali kelas


yang terlihat masih muda dan cantik


memandang Gerald.


"Hahaha. Aku pikir kamu takut masuk


kelas karena kamu tidak punya uang


untuk bayar kuliah!"


Mata Cassandra tertuju pada kantong


plastik sampah berwarna hitam yang di


pegang Gerald dan berkata, "Oh jadi


kamu tadi memulung sampah buat


ngumpulin uang untuk bayar kuliah?"


"Hahaha..."


tertawa terbahak-bahak.


Gerald diam saja.


Gerald sudah terbiasa menghadapi wali


kelasnya yang selalu bersikap membeda-


bedakan antara mahasiswa miskin dan


kaya.


Percuma melayani orang seperti itu!


Hanya Danny and Yuri yang selalu


dilayani dengan sangat baik oleh


Cassandra karena mereka berdua adalah


mahasiswa kaya di kelas tersebut.


Mereka juga kerap pergi bareng sepulang


kuliah.


Meskipun Danny sering bolos kuliah dan


sering tidak ikut ujian, tetapi nilainya


tetap saja bagus.


Bahkan dia tidak perlu minta izin kalau


tidak masuk kelas.


Sebaliknya, kalau sehari saja Gerald tidak


masuk kelas tanpa izin, Cassandra


mengancam akan mengusirnya. Agak


berlebihan memang, tetapi memang


kenyataanya seperti itu.


"OK, kurasa kamu masih menunggu


subsidimu cair untuk membayar kuliah


semester ini, kan? Aku belum dapat info


apapun dari Whitneys soal ini. Aku


ingatkan sekali lagi, batas waktu untuk


membayar uang kuliah semester ini


adalah akhir bulan! Kalau kamu tidak


sanggup membayar, maka aku tidak akan


ragu mengusir kamu keluar dari kampus


ini!"


ini!

__ADS_1


Cassandra memandang sinis pada Gerald


dan melanjutkan ucapannya, "Baiklah,


ambil kantong plastik sampahmu dan


duduk ke bangkumu! Dasar memalukan!


Cassandra paham situasi Gerald.


Meski diperlakukan sedemikian, Gerald


tidak pernah marah.


"Hmph!"


Danny, Blondie dan para mahasiswa


lainya tertawa terbahak-bahak.


Ekspresi wajah Gerald berubah dan


berkata, "Wali Kelas, siap bilang aku


akan menunda pembayaran uang


kuliahku sampai akhir bulan? Aku mau


bayar kuliahku sekarang"


"Apa? Yang benar saja kamu akan


membayar kuliah hari ini?"


Cassandra kaget.


Xavia yang duduk di bangku bagian


tengah, memandang dingin pada Gerald.


"Gerald, tolong jangan lagi melakukan


hal yang sama dengan waktu lalu! Aku


dan teman-temanmu tidak sanggup


kalau harus menghitung recehan


sebanyak itu!"


Cassandra menampilkan ekspresi


keberatan. Semester lalu Gerald


memberinya kejutan dengan sekantong


recehan untuk membayar uang kuliahnya.


Kebetulan semester kemarin Gerald tidak


mendapatkan subsidi dari kampus, maka


dia mengumpulkan seluruh recehan yang


dia kumpulkan dari hasil kerja paruh


waktu yang dilakukannya untuk


membayar kuliah. Semester lalu,


kejadian itu membuat gempar seisi


kampus.


Apa iya ada mahasiswa yang segitu


miskinnya di kampus mereka?


Cassandra khawatir Gerald akan


mengulang kembali yang dia lakukan


pada semester sebelumnya dan membuat


dirinya malu untuk kedua kalinya!


"Tbu Wali Kelas, kurasa kita akan lembur


lagi, nih! Kasihan banget tanganku ini


harusnya bisa dipakai untuk makan dan


main games, eh malah mau dipakai


ngitung uang recehan!"


Danny, Blondie dan mahasiswa lainnya


maju sambil mengelus tangan kanan


mereka seolah kasihan karena harus


menghitung sekantong recehan dari


Gerald untuk membayar uang kuliahnya.


Mereka sengaja melakukan hal itu untuk


merendahkan dan mengolok-olok Gerald.


Seketika wajah Xavia menjadi merah


padam menahan malu karena bagaimana


pun dia adalah mantan pacarnya Gerald.


"Hahaha. Baiklah. Kalau itu mau kalian,


silakan saja hitung uangku pelan-pelan


dan jangan pernah berhenti sebelum


kalian selesai menghitung semuanya!"


Ada sedikit kemarahan yang nampak di


raut muka Gerald ketika mengatakan itu.


Gerald menaruh kantong plastik sampah


berwarna hitam di depan kelas.


Wow!


Kantong plastik sampah berwarna hitam


itu jatuh dan isinya berhamburan di


depan kelas...

__ADS_1


__ADS_2