Pria Yang Tak Terlihat Kaya

Pria Yang Tak Terlihat Kaya
Bab 15


__ADS_3

Gerald memutar tubuhnya ke arah suara


gadis yang memanggilnya.


Gerald melihat seorang gadis berparas


cukup cantik. Tubuhnya yang jangkung


dibalut celana denim ketat dan kaus


pendek, ditambah dengan sepatu hak


tinggi yang membuatnya lebih serasi.


Gadis itu membelakanginya sekarang.


Gadis itu menyembunyikan kedua


tanganya di belakang pinggulnya, kedua


matanya melotot memandang Gerald


dengan tatapan muak.


"Gerald, apakah menurutinu wajar ketika


kamu menggantungkan hidupmu dari


subsidi kampus padahal kamu mampu


membeli barang mewah senilai


limapuluh lima ribu dolar untukmu


sendiri? Dengarkan, mulai tahun depan,


kamu akan dikeluarkan dari daftar


penerima subsidi!" seru gadis itu kepada


Gerald dengan sikap dingin.


"Whitney, Gerald mendapatkan uang itu


sebagai hadiah atas upayanya


menyelamatkan hidup seorang anak


perempuan! Orang tua anak perempuan


itu memberinya shopper's card sebagai


ungkapan terima kasih atas kebaikanya


itu. Mengapa kamu berpikir untuk


mencabut subsidi Gerald? Jangan


mentang-mentang kamu presiden


perkumpulan mahasiswa lalu bisa


membuat keputusan semaumu!"


Presiden perkumpulan mahasiswa


memeloloti Harper dengan ekspresi


dingin diwajahnya tanpa mengatakan


sepatah kata pun.


"Apa urusanya dengan kamu? Harusnya


kamu tahu bahwa Gerald mendapatkan


subsidi itu atas rekomendasi dari


perkumpulan mahasiswa? Alasanku


memperjuangkan agar Gerald


mendapatkan subsidi adalah karena aku


tahu dia membutuhkanya! Namun dia


justru membeli sebuah tas Hermes senilai


limapuluh lima ribu dolar untuk dirinya


sendiri! Masak kamu tidak dengar kabar


yang beredar di seantero kampus hari


ini?"


"Apa yang kamu lakukan itu benar-benar


menyalahi ketentuan perkumpulan


mahasiswa! Tindakanmu ini dengan


sendirinya mencabut hakmu untuk


mendapatkan subsidi!"


Whitney melirik Gerald dengan tatapann


jijik. Semua orang kini pasti telah


mengetahui cerita tentang tas Hermes


dari tayangan langsung Felicity yang


mereka tonton semalam.


Whitney adalah sosok yang cukup


disegani, selain menjabat sebagai


Whitney juga dikenal sebagai salah satu


mahasiswi kesayangan rektor di kampus.


Whitney jenkins memiliki latar belakang


keluarga terpandang dan dikenal karena


sepak terjangnya di di kampus selama


ini. Whitney mampu menangani berbagai


masalah yang pelik sekali pun dengan


sangat baik. Itulah sebabnya dia diangkat


sebagai presiden perkumpulan


mahasiswa. Whitney mampu menangani


berbagai persoalan bahkan di hampir


semua jurusan di kampus.


Hampir seluruh dosen dari semua


jurusan mengenalnya.


Whitney memiliki karakter khas yang


dimiliki oleh kebanyakan pemimpin,


yaitu memandang sebelah mata kepada


orang tidak punya uang dan kuasa seperti


Gerald.


Sejujurnya, Whitney harus mengakui


bahwa selama ini Gerald cukup patuh dan


rajin melakukan apapun yang dia minta


kepada Gerald untuk dilakukan. Itulah


alasan mengapa Whitney selalu


mendukung agar Gerald mendapat


subsidi setiap tahun.


Sementara mahasiswa miskin lainnya


yang tidak mau melakukan pekerjaann


untuk Whitney maka mereka tidak


direkomendasikan untuk mendapatkan


subsidi dari kampus.


Sikap semena-mena inilah yang


membuat Harper membenci Whitney.


Gerald, mengapa kamu diam saja?"


Whitney bertanya kepada Gerald masih


sambil melotot.


Gerald mengernyit. Sejujurnya dia tidak


lagi perlu bergantung pada subsidi dari


perkumpulan mahasiswa.


Gerald bisa mengerti alasan Whitney


meremehkanya, bisa dibilang subsidi


yang dia peroleh selama ini adalah berkat


usaha Whitney.


Gerald bertanya, "Apa yang kamu


inginkan dariku?"


Baiklah kalau begitu. Karena kamu yang


bertanya, maka aku janji untuk


memastikan agar kamu bisa terus


mendapatkan subsidi itu, asalkan kamnu


mau melakukan sesuatu untukku. Kalau


kamu bisa melakukan tugasmu dengan


baik, aku akan memaafkan tindakanmu


yang sudah mencemarkan reputasi


perkumpulan mahasiwa!"


Whitney merujuk pada fakta bahwa

__ADS_1


semua orang sedang menertawakan


Gerald dan menganggapnya bodoh


karena menggunakan shopper's card


untuk membeli sebuah tas.


Tanpa disadari kebencian menyelinap di


hati Whitney karena benaknya tidak


berhenti memikirkan kejadian itu.


Bagaimana bisa seorang miskin itu


sangat beruntung? Bisa-bisanya


seseorang memberinya kartu Universal


Global Supreme Shopper's begitu saja?


Lebih gila lagi, Gerald memberikan tas


Hermes senilai lima puluh lima ribu dolar


kepada seseorang sebagai kado ulang


tahun!


Lima puluh lima ribu dolar!


Andai saja Gerald memberikan tas itu


kepadanya, tentu Whitney akan merasa


senang sekali.


Gerald masih terus saja diam dan tidak


menanggapi Whitney sama sekali! Maka,


Whitney bermaksud untuk memberi


Gerald pelajaran dengan menggunakan


subsidi itu sebagai alat.


Itu bodoh!


"Apa sebenarnya maumu?" Gerald


bertanya dengan ekspresi datar saja di


wajahnya.


"Aku punya permintaan sederhana.


Perkumpulan mahasiswa akan


menyelenggarakan acara besar minggu


depan dan kami butuh seseorang untuk


bersih-bersih tempat acara. Nah, aku


ingin kamu bersih-besih auditorium!


Kalau kamu mau melakukannya, maka


aku akan tetap membantumu untuk bisa


mendapatkan subsidi tahun depan! Nah,


tunggu apa lagi, Gerald. Saranku kamu


tidak usah masuk kelas hari ini. Aku


sudah siapkan surat izin untukmu!" kata


Whitney sambil melemparkan surat palsu


tidak usah masuk kelas harim. Aku


sudah siapkan surat izin untukmu!" kata


itu ke Gerald.


Whitney memutar tubuhnya dan berlalu


meninggalkan suara hak sepatu


tingginya yang beradu dengan lantai.


Sialan, dasar wanita tukang rundung!


Harper tidak tahan lagi dan mengumpat


dengan keras.


Teman sekamar Gerald lainya, Benjamin


tak urung merasa sangat marah.


"Jangan khawatir, Gerald. Aku pikir


kamu tidak perlu membersihkan


auditorium. Kamu sendiri tahu kan


seberapa besar auditorium itu? Nggak


mungkin lah seorang Gerald mampu


membersihkanya sendiri? Sudahlah, ayo


masuk kelas saja."


dengan lembut.


"Lalu apa yang akan terjadi dengan


subsidi Gerald?"


Teman-teman sekamar Gerald merasa


sedikit resah.


Setelah berpikir sejanak, akhirnya Harper


bertepuk tangan:


Baiklah, bagaimana kalau kita


membantu Gerald membersihkan


auditorium? Kalau kita kompak dan


bersama-sama membersihkan


auditorium pasti akan selesai dengan


cepat."


Setuju! Ide bagus!"


Teman-teman sekamar Gerald


menganEguk serempak.


Gerald merasakan hatinya hangat.


Gerald kenmbali merasa optimis dengan


kehidupannya di kampus ini meskipun


Gerald kembali merasa optimis dengan


kehidupannya di kampus ini meskipun


sudah mengalami banyak sekali


penghinaan selama tiga tahun terakhir.


Kehadiran teman-teman yang bisa


menerima keadaanya yang miskin sangat


berarti untuk Gerald.


Mereka selayaknya saudara yang tulus


dan selalu menginginkan yang terbaik


untuk Gerald.


Gerald tidak rela teman-temannya ikut


merasakan hukumannya.


Sejujurnya, Gerald ingin berterus terang


kepada teman-temanya bahwa dia


sebenarnya anak seorang kaya raya.


Namun Gerald terpaksa mengurungkan


niatnya karena khawatir akan kehilangan


persahabatannya dengan mereka jika dia


mengatakan yang sebenarnya.


Gerald merasa bahwa persahabatan


adalah kekayaan yang sesungguhnya dan


dia tidak ingin kehilangan itu!


"Sudahlah. Aku akan bersihkan


auditorium itu sendiri. Lagipula ini bukan


kali pertama aku harus membersihkan


auditorium itu sendiri. Satu hal lagi di


antara kalian tidak ada yang sehebat dan


seterampil aku untuk bersih-bersih, jadi


bantuan kalian tidak akan banyak


berarti!"


Setelah menimbang-nimbang, Gerald


memutuskan untuk menunda dulu


pembukaan identitasnya.


Gerald menahan diri untuk sementara


waktu.


Gerald menuju auditorium seorang diri.


"Gerald, kenapa lama banget baru ke

__ADS_1


sini? Apa kamu pikir sekarang kamu


sudah hebat karena bisa membeli tas


mahal?"


Begitu Gerald menapakkan kakinya


masuk ke auditorium, Whitney langsung


menyambut dengan ejekan.


"Hahaha!"


Semua orang yang sedang gladi di


auditorium itu sontak tertawa terbahak-


bahak mendengar kata-kata ejekan yang


dilontarkan Whitney.


Mereka sibuk mempersiapkan diri untuk


pertunjukan mereka minggu depan.


Whitney sengaja meminta seluruh tim


penampil dari setiap jurusan untuk


melakukan gladi diauditorium itu.


"Jangan begitu, dong! Biar


bagaimanapun dia mampu membeli tas


seharga limapuluh lima ribu dolar!


Dibanding dia kita ini nggak ada apa-


apanya?'


"Yup, hati-hati kalau bicara, Bu


Presiden! Jangan sampai nanti Gerald


beneran jadi pria kaya dan berkuasa lalu


melempar segepok uang ke mukamu!"


Para wanita di ruangan berpandangan


lalu memandang Gerald dan tertawa


terpingkal-pingkal.


Sebaliknya, para pria memandang Gerald


dengan tatapan iri.


Mereka merasa iri dengan


keberuntungan Gerald.


Mereka membayangkan andai bisa


membeli tas seharga limapuluh lima ribu


dolar, maka mereka akan memilih untuk


memberikannya kepada presiden


Gerald berlagak tuli dan sama sekali tidak


ingin menanggapi cemoohan mereka.


Gerald mengambil sapu dan bersiap


untuk mulai membersihkan ruangan.


"Minggir! Apa kamu beneran merasa


seperti pria kaya dan berkuasa


sekarang?"


Seorang pria jangkung dan kekar


mendorong Gerald kesamping dengan


kasar.


Gerald nyaris terjatuh karenanya.


Tentu saja Gerald tahu pria ini. Namanya


Victor Wright dan dia adalah wakil


presiden perkumpulan mahasiswa daan


juga kapten tim basket kampus.


Orang tua Victor dikenal sebagai


pedagang yang sukses dan kaya.


Victor termasuk orang yang punya andil


atas semua penderitaan dan penghinaan


yang dialami Gerald selama tiga tahun


kehidupanya di kampus.


Victor! Ngapain kamu di sini?"


Whitney terkejut dengan kemunculan


Victor yang tiba-tiba dan buru-buru


menyapanya dengan riang gembira.


Victor termasuk tipe pria yang disukai


Whitney. Selain tinggi, ganteng dan kaya,


Victor juga seorang pemain basket yang


andal.


Victor adalah karakter pria idaman para


wanita.


Para wanita yang sedang latihan di


ruangan itu tersipu memandang Victor.


"Oh! Aku ke sini sekarang karena tadi


pagi aku keluar rumah lebih awal ke


tempat modifikasi mobil," Victor


menjawab sambil menyesap


minumannya.


Mobil? Apa? Jadi kamu punya mobil,


Victor?"


Beberapa gadis tercengang


Hahaha. Ya, aku beli mobil tipe Audi A6,


lumayan seru, sih!" Victor menjelaskan


sambil tertawa bang8a.


Wow!"


Para gadis semakin tercengang.


Tanpa sadar Whitney mendekat ke arah


Victor.


"Mobilmu lokal atau impor?"


Sebenarnya tidak masalah apakah mobil


itu lokal atau impor karena mobil Audi A6


adalah tipe mobil yang bertenaga.


Impor, dong! Ayahku beli lewat


temanya makanya bisa dapat seratus ribu


dolar lebih murah dari harga normalnya!


Hahaha!" Victor tersenyum bangga. 1


Kali ini Whitney menunjukkan ekspresi


aneh pada wajahnya.


Gerald yang sedang sibuk menyapu


lantai, tidak tahan untuk tidak


menguping pembicaraan mereka


terutama ketika mereka bicara tentang


mobil.


Adalah impian Gerald sejak lama untuk


bisa punya mobil sendiri.


Gerald tidak peduli soal merek dan jenisS


mobilnya, yang penting mobil beneran


dan bisa jalan!


Mengapa ini menjadi impiannya? Karena


di masa sebelumnya, Gerald tidak


mungkin mampu beli mobil.


Makanya Gerald penasaran dan terus


mencuri dengar pembicaraan mereka.


Seluruh perhatian Gerald tertuju pada


pembicaraan mereka.


Tanpa disadari Gerald menyapu kaki


seorang gadis yang tengah duduk di


mimbar.


"Ahh!"

__ADS_1


Gerald baru sadar setelah mendengar


gadis itu berteriak keras.


__ADS_2