Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 1 [Prolog]


__ADS_3

Pagi itu terik.


Seorang pria berumur sekitar pertengahan dua puluh tahun itu tengah menyusuri sebuah gang sempit.


Latar belakang di sekitarnya terlihat sangat kontras dengan penampilannya. Surai berwarna abu-abu natural pendek diterpa angin semilir yang semakin menyebabkan potongan-potongan rambut yang sedikit ikal itu menjadi tambah berantakan. Paras wajahnya yang sangat tampan disertai bulu panjang nan halus menghiasi mata berwarna biru laut yang menghipnotis di balik kacamata hitamnya.


Sementara hidungnya berbentuk indah yang mancung dan jika ditelusuri ke bawah, seseorang akan menemukan bibir tipis berwarna merah marun yang mengundang hasrat. Ditambah pula kulit putih pucat telah menambah pesona tubuh jangkungnya yang dibalut jaket hitam.


Namun, sorot matanya yang tajam layaknya binatang buas yang sangat kelaparan menghancurkan keinginan banyak orang yang ingin datang untuk merayunya ke kamar hotel.


Setiap langkah yang diambil pria tersebut terpantul keras dalam tempat tertutup itu. Barang rongsokan, makanan busuk bahkan muntahan entah dari mulut siapa, dan hewan-hewan kecil yang kotor penuh bakteri berserakan di sepanjang gang tanpa habis.


Bau yang sangat menusuk memenuhi gang sempit tersebut, tetapi ekspresi wajah pria itu tidak berubah sedikit pun. Entah karena sudah terbiasa menghirup udara tak bersih seperti ini atau fungsi hidungnya tidak bekerja dengan baik.


Sekitar sepuluh menit sudah berlalu, langkah pria itu terhenti. Pandangannya menyapu ke segala arah sebelum berdiam di tong sampah besar yang tampak belum pernah dibersihkan sejak beberapa tahun yang lalu. Satu per satu sampah dilempar begitu saja ke tong itu hingga beberapa kelihatan akan terjatuh dari luapannya.


Seseorang yang menemukan tong sampah itu pasti tidak tahan melirik untuk kedua kalinya dan akan segera meninggalkan tong sampah yang terlihat suram di pojokkan. Namun jika diteliti secara detail, seseorang akan menemukan samar-samar tanda panah putih kecil di pinggiran tong sampah. Tempat tersebut cukup sulit untuk ditemukan jika mata seseorang tidak jeli.


Tatapan mata pria itu menajam seiring ia perlahan mendekati tong sampah tersebut. Ia kemudian berjongkok agar memudahkan pencariannya.


Tangannya yang dibalut dengan sarung tangan hitam mengusap pelan tanda panah putih itu. Lantas serbuk-serbuk putih mulai berjatuhan dan sebagian mengotori sarung tangan. Jari-jari panjangnya saling menempel untuk menginspeksi lebih lanjut serbuk putihnya. Diciumnya pula bau serbuk tersebut yang mengeluarkan semerbak aroma mint khas untuk memastikannya lebih jelas.


Kapur milik Cain. Tandanya tidak lama digambar.


Pandangan pria itu kembali tertuju pada tanda panah putih kecil dan melihat arah panahnya tertuju pada belakang tong sampah. Pria itu lalu berdiri, memeriksa sejenak bahwa di sekitarnya tidak ada pengawasan, dan mengamati tong sampah itu.


Satu detik kemudian, tong sampah itu mendadak bergeser dengan sendirinya sehingga bagian belakang tong tersebut kini menghadap ke pria itu.

__ADS_1


Segera tatapannya terarah pada lakban yang ditempel asal-asalan. Kemungkinan besar peletakkan tersebut memiliki tujuan untuk menutupi robekkan tubuh tong sampah terlihat dari ujungnya yang gagal dijangkau oleh sang lakban.


Pada akhirnya, ekspresi pria itu berganti dengan rasa puas. Ia tak segan-segan menarik lakban itu dengan gerakan cepat, tetapi tidak sedikit pun merusak lakbannya.


Di balik lakban itu, ditemukan sebuah kertas lipat kecil, sementara robekkan tubuh tong sampah yang diantisipasi tidak muncul di baliknya seolah menjadi halusinasi seseorang saja.


Pria itu mengambil kertas itu, membuka, dan membacanya sekilas.


[Ocean Blue. Lumens. TGT Jl. HS, green 2. 415]


Setelah mencerna isi dari kertas, ia membakarnya dengan korek api elektrik yang dibawanya. Tidak lupa ia kembali memasang lakban seperti keadaan semula.


Setelah menyelesaikan misinya, pria itu berbalik dan berjalan keluar dari gang sempit dengan santai.


Sementara residu sisa kertas itu yang berceceran di atas aspal hilang secara misterius di detik berikutnya.


 ---


Tiga orang tengah berdiri sembari menunjuk satu sama lain dengan jarinya. Mulut mereka tak henti terbuka, tidak mau kalah dalam perdebatan panas yang sedang berlangsung saat itu.


"Apa maksudmu mau menghentikan eksperimen Nomor 000? Asal kamu tahu saja, eksperimen ini sangat berharga dan berguna sekali setelah berhasil. Kamu nggak bisa seenaknya menyuruh ketua untuk menarik dana penelitiannya!" Salah seorang dengan jubah putih menggertak. Ia memukul meja dengan kedua tangan, melampiaskan kekesalannya.


"Omong kosong. Siapa yang tidak tahu kalau eksperimen Nomor 000 cuma jurang yang melahap banyak uang tanpa membuahkan hasil. Kalau kamu mau membuktikannya, mana hasilnya?!" Pria paruh baya dengan perut buncit pun mendengus. Ia menatap lawannya dengan sinis, memandangnya rendah.


Pemuda di sampingnya yang terlihat sebagai asisten pria buncit itu ikut bersuara dalam nada sombong.


"Benar! Eksperimenmu itu cuma buang-buang waktu saja! Daripada penelitian sampah tentang time travel yang mustahil, lebih baik ketua mendukung ajuan laporan rencana penelitian Pak Otto. Sudah jelas proposal tim kami sangat menarik dan membutuhkan waktu yang tidak lama untuk menelitinya." Asisten itu memalingkan muka dan bertatapan dengan ketua yang disebutnya.

__ADS_1


Pria buncit yang bernama Otto ikut memandang ketua, menunggu keputusan yang akan diambil.


Ketua yang dimaksud adalah seorang pria lanjut usia. Ia duduk di ujung meja panjang, mendengarkan setiap argumen dari bawahannya tanpa berselera. Rambutnya yang sudah mulai keputihan memperkuat aura wibawanya layaknya seorang dewa di posisi tinggi yang jauh dari jangkauan manusia. Jari-jemarinya mengetuk-ngetuk pelan pada sandaran tangan kursi secara berirama.


"Sebutkan satu alasan mengapa aku harus tetap memberikan jumlah dana yang sama untuk penelitianmu, Azkar." Suara penuh karisma itu lantang terucap di ruang rapat.


Azkar, peneliti yang sedari tadi berusaha membela eksperimen Nomor 000 miliknya, menjadi kaku ketika namanya disebutkan.


"Ketua, eksperimen Nomor 000 adalah peninggalan dari mendiang Pak Walter. Penelitannya sudah dimulai sejak 20 tahun yang lalu dan sebentar lagi pasti akan berhasil setelah bertahun-tahun lamanya. Eksperimen Nomor 000 juga memilik manfaat yang jauh melampaui eksperimen-eksperimen lainnya, dan tentunya hasilnya akan membawa organisasi ini selangkah lebih maju menuju 'Dia'!" Mata Azkar tampak bersinar dengan sedikit kegilaan dan raut wajahnya mirip seorang fanatik.


Otto langsung mencibir dan mengomentari, "Sudah 20 tahun tapi penelitiannya belum muncul titik terang juga."


"Karena eksperimen Nomor 000 ini berbeda! Nggak bisa dibandingin dengan penelitian-penelitian kalian yang tidak berkelas!" sanggah Azkar tidak terima.


"Apa maksudmu penelitian tidak berkelas? Kamu pikir kamu yang paling mulia--"


"Stop." Sang ketua berbicara. Seketika reduplah adu mulut antara Otto dan Azkar, begitu pula dengan bisikkan anggota lain yang menjadi penonton.


"Proposal tim Otto sudah ditinjau dan dapat memasuki tahap pelaksanaan setelah dana terkumpul," ucap sang ketua. Otto dan asistennya lantas gembira, diikuti matanya yang ikut berbinar-binar.


"Untuk masalah dana eksperimen Nomor 000," sang ketua memandang lurus pada Azkar, "dana akan ditarik jika kamu tidak mendapatkan hasil dalam kurun waktu tiga bulan."


Azkar mengepalkan tangannya sekeras mungkin, ingin menolak permintaan sang ketua. Namun siapa yang berani untuk tidak menyetujui setiap perkataan ketuanya?


"Baik, rapat telah selesai. Segera bubar dan jangan membuang waktu." Sang ketua bangkit berdiri. "Moore, panggilkan the witch untuk pergi ke ruangan saya."


"Baik, Pak." Moore segera ikut berdiri dan melaksanakan perintah sang ketua.

__ADS_1


Sang ketua membuka pintu dan memandang sejenak koridor kosong yang terbentang di penglihatannya.


Ia berpikir, sudah saatnya operasi the witch dilaksanakan setelah sekian lama menunggu sosok yang dinantikannya.


__ADS_2