
Alves sengaja melepaskan kendali yang menahan beban lift. Seketika tubuhnya tertarik ke bawah akibat gaya gravitasi. Namun bukannya Alves bersikap panik atau bersiap menghadapi yang akan datang, sebuah senyuman licik terlukis pada wajahnya.
Mutan berbentuk bola itu cepat sekali menarik kembali batang-batangnya yang tertancap melebar pada dinding logam lift. Bola itu berusaha melawan arus tekanan dengan terbang melayang ke atas dan keluar dari lift seperti jalur yang diambilnya untuk menyusup masuk ke dalam lift.
Saat itu Alves menjentikkan jarinya.
"Kau pikir kau bisa lari?"
Lantas mutan bola itu kehilangan tenaga dan tumbang menghantam lantai. Suara hentakan lantang tersingkap. Mutan bola itu terkejut sesaat sebelum menyalurkan semua energinya untuk menumpas kekuatan Alves yang mengekangnya agar berdiam di tempat.
Di saat yang bersamaan Alves semakin memperbesar kekuatan yang dikeluarkannya. Mutan bola itu dan Alves saling beradu kekuatan. Yang satu mati-matian menekan yang lain sampai hancur. Yang lain berjuang melawan sergapan musuhnya.
Seakan konfrontasi itu berlangsung beberapa menit. Waktu yang begitu lama dan menguras banyak tenaga. Ternyata hanya terjadi selama beberapa detik saat lift sudah mendekati dasar tanah.
Mutan bola itu berusaha menyerang dengan mengeluarkan dan melancarkan batang-batang beruncing tajam pada tubuh Alves.
Alves berguling ke samping untuk menghindar dari serangan mutan. Tangannya dengan cekatan memungut pistol yang sempat terlempar tidak jauh darinya dan mengarahkannya pada mutan bola itu.
Dor!
Sebuah tembakan terdengar nyaring. Sayangnya dalam kondisi lift gelap, tembakan Alves meleset dan hanya mengenai salah satu batang si mutan. Buru-buru Alves kembali menembak beberapa kali, tetapi pendengarannya yang tajam mendeteksi si mutan bola bisa berpindah cepat dan menyerangnya pada saat yang bersamaan.
Beberapa kali ia rasa tembakannya mengenai batang si mutan bola itu lagi. Sementara satu dua luka mulai bermunculan pada permukaan kulitnya ketika batang itu menggoresnya.
"Persetan dengan kegelapan ini. Ugh, semoga Eliot tidak akan marah jika aku menggunakan kekuatanku melebih batas yang telah ditentukannya," gumam Alves sebelum ia membuang pistol tak berpeluru itu.
Ia lalu menarik napas panjang dan mengulurkan telapak tangannya. Seketika oksigen di sekitarnya tertarik dan terkumpul menjadi suatu bola transparan. Bola oksigen itu diarahkannya tepat meninju si mutan bola.
Sekali lagi si mutan bola itu tertekan pada lantai. Tubuh mutan yang sebelumnya terasa sekeras baja, kini perlahan muncul retakan yang kian lama menjalar.
Sedetik kemudian bola angin itu menembus dan menghancurkan si mutan hingga menjadi kepingan daging lunak bercampur kulit keriput melapisinya.
Kala Alves menyadari mutan bola itu sudah hancur lewat deteksi kemampuannya, ia segera menempelkan tangannya kembali pada dinding lift dan sertamerta menghentikan laju lift yang hanya beberapa meter lagi menyentuh dasar tanah dan ambruk.
__ADS_1
Krak!
Alves memaksa membuka pintu lift semakin lebar. Ia cepat-cepat mengisi ulang peluru pistolnya dan menyematkannya pada pinggangnya, menyampirkan tas ransel, serta meraih tas biolanya di tangan.
Alves pun keluar dari lift dan sampai di koridor lantai satu yang sepi dengan lampu remang-remang. Ia pun meraba-raba dinding dan menekan saklar lampu.
Lantas cahaya terang-benderang memenuhi lantai satu dan akhirnya Alves dapat melihat lebih jelas mengenai mutan yang menyerangnya. Ia memang telah sepintas melihat mutan bola itu ketika Joy keluar di lantai tiga, tapi ia belum mengamati kondisi mutan bola yang sekiranya telah mati.
Kakinya menapak masuk kembali ke dalam lift dan berusaha untuk tidak menghalangi cahaya yang masuk untuk menyinari isi dalam kotak logam itu.
Perlahan Alves menghela napas.
Bodohnya aku tidak membawa senter. Padahal senter adalah salah satu benda paling esensial untuk dibawa dalam perjalanan.
Alves memegang keningnya yang berdenyut.
Lelaki itu lalu berjongkok dan memeriksa mutan yang menyerangnya. Mutan berbentuk bola yang dapat mengeluarkan serangan maut dengan mengeluarkan batang-batangnya yang tajam, kini berubah menjadi seonggok daging yang terlihat menjijikan.
Dahinya mengernyit.
Alves bangkit berdiri. Ia sekali lagi mengumpulkan sisa tubuh mutan bola itu dengan kemampuannya dan meremasnya hingga menjadi kepingan-kepingan sangat kecil. Baru ia berbalik dan segera mencari keberadaan Joy.
Tanpa menyadari terdapat butir-butir air yang keluar dari kepingan sangat kecil itu, berkumpul menjadi satu, dan bergerak lari keluar dari atap lift.
Suara langkah kakinya terdengar cukup kencang di tengah keadaan lantai satu yang lengang.
Tap, tap, tap.
Alves teringat dengan adegan menegangkan ketika mutan hijau sebelumnya menghiasi malam dengan derapan kaki berat yang terasa menyeramkan.
Apalagi mengingat ia sendirian di koridor lantai satu, Alves pikir segmen ini sering dimunculkan pada film horor di mana protagonisnya menjelajahi apartemen yang sepi dalam hanyutnya tengah malam. Kemudian muncul sesosok hantu tak berwajah yang mengagetkan sang protagonis dari belakang.
Saat itu juga telinga tajam Alves menangkap suara langkah kaki selain miliknya.
__ADS_1
Lantas Alves hampir terperanjat di tempat seraya merinding akibat imajinasinya yang terlalu liar. Beberapa detik setelahnya, Alves tersadar dan mengambil senjata dalam genggamannya.
Tubuhnya berbalik dan bersiap menghadapi siapapun yang mendekatinya sekarang.
Dari persimpangan jalan, terlihat sebuah topi satpam hitam menongol keluar.
Tubuh gesit Joy entah sudah berapa kali menghindar dari serangan batang hijau berduri yang tak kunjung selesai ingin menusuknya. Beruntung tubuhnya kecil yang memungkinkannya untuk bergerak cepat.
Batang hijau berduri itu melancarkan serangan secepat kilat. Akibatnya, Joy susah mencari celah untuk menembakkan pistol pada tanaman lincah itu. Belum lagi, Joy kurang yakin senjatanya bisa membunuh mutan tanaman itu, atau paling tidak melumpuhkan gerakan batang yang menyerangnya.
Untuk pertama kalinya sejak lulus dari pelatihan organisasi, Joy merasa lemah di hadapan mutan tanaman itu. Memang kemampuannya tidak destruktif dan cuma bertindak menjadi orang yang membantu dari belakang. Tetapi Joy sudah menjalani latihan militer intensif dan tentunya memiliki kemampuan bela diri yang memadai.
Merasa sebal akan kekurangannya yang tampak jelas pada detik itu, Joy memaksa meloncat dan menembakkan pistol ke batang tersebut.
Dor!
Joy menarik pelatuk beberapa kali. Beberapa meleset dan hanya satu peluru yang mengenai batang itu.
Lantas batang berduri hijau itu mengeluarkan kemurkaannya karena rasa sakit dan mengencangkan tubuhnya. Batang itu terbentang dan dilontarkan ke arah tubuh Joy. Menghantamnya hingga Joy terlempar ke belakang. Punggungnya bertubrukan kuat dengan tembok keras. Darah segar pun langsung mengalir dari mulutnya.
Joy meringis kesakitan sejenak, tetapi kembali fokus pada batang berduri hijau yang menyerangnya. Batang itu masih menggoyang-goyangkan tubuhnya yang terdapat bekas bolongan gosong di sekitarnya.
Melihat kesempatan emas untuk melarikan diri, Joy memaksa mengangkat tubuhnya ketika matanya melirik pada alat pemadam kebakaran dalam kotak kaca di sampingnya.
Ide muncul di otak Joy. Segera saja Joy menembakkan pistol pada kotak kaca. Ketika kaca itu retak dan hancur berjatuhan, Joy mengambil tabung di dalamnya dan langsung mengarahkan pada batang itu.
Mutan itu, si batang hijau berduri, terpikat atensinya ketika Joy memecahkan kotak kaca. Batang itu pun mengambil ancang-ancang dan melesat ke arah Joy, bersiap mencabik-cabik tubuh mungil mangsanya.
Detik itu Joy menyemprotkan isi dari tabung pemadam kebakaran yang langsung menghentikan serangan batang itu selama beberapa saat sekaligus meminimalisir area penglihatannya.
Tabung itu lalu dicampakkan ke lantai, sementara Joy berlari sekuat tenaga ke arah pintu darurat. Tangannya akhirnya berhasil meraih kenop pintu yang kemudian dibukanya. Kedua kaki Joy tidak berhenti menuruni tangga hingga mencapai lantai satu, tempat pertemuan yang dijanjikan Alves.
__ADS_1
Jantung Joy berdetak cepat dan napasnya terdengar terengah-engah.
Ia hanya berharap agar Gege-nya tidak mengomelinya karena sudah membawa turun mutan tanaman yang berbahaya itu.