
Pagi-pagi buta Alves sudah 'menyeret' Joy untuk pergi mengunjungi Venice Bakery. Alasannya adalah jika mereka tidak pergi lebih awal, strawberry cheesecake yang dinantikan keduanya akan habis stok terlebih dahulu sebelum mereka bahkan masuk ke dalam antrian pembeli.
Pasalnya kue jenis ini sangatlah tenar di kalangan publik dan telah diakui massa akan rasa autentik yang lembut dan lezat, serta tak tertandingi dengan cheesecake buatan toko lain. Maka tak habis-habisnya sejumlah turis selalu berdatangan dan meramaikan toko kue tersebut tiap harinya.
Joy memasang muka masam sepanjang perjalanan. Ia masih ingin terlelap dalam tidur manisnya, tetapi harus dibangunkan secara paksa oleh Gege barunya yang sangat otoriter, dan mungkin terlihat sedikit obsesif ... dengan strawberry cheesecake.
Ketika pikiran Joy sampai pada tahap itu, cepat-cepat ia tepis jauh-jauh dari otaknya. Karena mana mungkin Alves-ge benar-benar obsesif dengan sepiring strawberry cheesecake, bukan?
Joy segera menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi akan pikiran tak jelas, sementara Alves hanya melirik anak itu dari ujung matanya dengan kebingungan.
Dia kenapa? Apa gara-gara kurang tidur menurunkan IQ-nya?
Alves menaruh perhatian pada Joy selama beberapa detik, sebelum atensinya buru-buru teralihkan pada gedung Venice Bakery yang terlihat dari kejauhan. Tanpa sadar langkah kakinya dipercepat. Namun Alves tersadar di detik berikutnya untuk menutupi kegirangannya dan kembali melambankan kecepatannya.
Ketika dua manusia awam itu akhirnya memasuki Venice Bakery, mereka terkesiap hampir dengan mulut ternganga.
Desain toko minimalis yang elegan disertai penataan furnitur secara rapi dan unik. Dekorasi menghiasi tiap sudut toko tanpa terasa ramai dan etalase yang dipenuhi berbagai macam kue yang menggiurkan dan memikat tiap pengunjung untuk membelinya.
Alves dan Joy lekas mengantri. Beruntungnya antrian saat ini masih berukuran pendek, dan mereka tidak lama kemudian disambut oleh pegawai kasir.
"Selamat pagi, dear guest. Jenis kue apa yang mau dibeli? Apakah Anda membutuhkan rekomendasi dari saya?"
Alves langsung menggeleng. "Saya mau beli strawberry cheesecake. Apakah ada minimal pembelian?"
__ADS_1
"Ya. Sayangnya toko kami membatasi satu orang hanya bisa membeli satu jenis kue ini dikarenakan tingkat popularitasnya. Apa tidak masalah? Mungkin Anda bisa membeli jenis kue lain, seperti red velvet cake ini," ucap si pegawai.
"Tidak perlu. Dua strawberry cheesecake langsung makan di sini. Terima kasih." Tanpa berlama-lama Alves menyodorkan uang pada kasir. Pegawai pun menyiapkan pesanan tersebut, memberikannya pada Alves, dan lelaki itu membawanya ke meja di pojokkan dengan Joy yang mengekor di belakangnya penuh semangat.
Ketika keduanya duduk pada kursi masing-masing, dua potong kue pun dilahap habis. Alves yang selalu menjaga tata krama saat makan, menyantapnya perlahan seolah memperlakukan kue itu sebagai harta berharga satu-satunya yang tidak akan dijumpainya lagi.
Sementara di hadapannya, Joy tak ambil pusing dengan menikmati tiap gigitan yang meledak di dalam mulutnya hingga tak sampai lima menit berlalu, anak kecil itu sudah mengelus perut mungilnya seakan menonjol.
"Ge, apakah kita tidak bisa membeli kue ini lagi?"
Alves mengangkat kepala dari piringnya dan memandang Joy. Ia paham apa yang ingin disampaikan anak itu dari pertanyaannya yang mengecoh.
"Pilih dan beli kue semaumu." Usai berkata demikian, Alves meletakkan sejumlah uang kertas di atas meja. Joy melompat girang dari kursinya dan meraih uang tersebut. "Tunggu aku, Ge!" Dan anak itu sudah berlari ke depan etalase kaca.
Alves lalu mengalihkan pandangannya pada kue di piringnya yang hanya tersisa dua kali suap. Ia menatapnya sembari termenung. Beberapa detik selanjutnya, lelaki itu menghela napas panjang. Dihabiskannya segera potongan kue tersebut, dan tak lama ia bergabung dengan Joy untuk membeli jenis kue lainnya.
Keduanya kini menaiki bus yang mengantar mereka pada tujuan berikutnya, yaitu Taman Elysium.
Menjelang siang hari, taman tersebut tetap dipenuhi pengunjung. Sebab banyak varietas tumbuhan dari yang paling umum hingga beberapa tanaman yang langka dikultivasi pada taman perlindungan flora khusus itu.
Sepanjang mencuci mata dengan pemandangan mengagumkan yang bercampur macam warna indah, Joy sungguh-sungguh melihat satu per satu tanaman yang tersedia dan membaca seluruh deskripsi yang ditemukannya. Jika terdapat sejarah terkait tanaman tertentu yang membuatnya penasaran, Joy melontarkan pertanyaan pada Alves.
"Ge, mengapa bunga ini dinamakan Moon Shadow?"
__ADS_1
"Karena Vincensius, orang yang pertama kali menemukan bunga ini melihat bayang-bayang menari dari kejauhan. Saat itu hari sudah gelap dan cahaya yang dipantulkan dari bulan adalah satu-satunya sumber penglihatan Vincensius. Dan ketika ia mendekati bayangan itu, ternyata adalah sekumpulan bunga yang tampak bersinar indah di bawah bulan."
"Hmm, kalau yang ini?" Joy menunjuk pada varietas bunga di sebelah. Bunga itu tampak sederhana. Sekuntum bunga berukuran sedang dengan kelopak yang saling menempel. Mungkin hal yang patut diperhatikan adalah kombinasi warna yang menakjubkan, yakni perpaduan warna hijau dan biru ditemani highlight putih di tengahnya.
Mengingatkannya pada rasa familiar dan nostalgia yang tidak dapat digambarkan.
Alves menarik tatapannya sebelum terhipnotis lebih lanjut oleh bunga itu. Ia kembali berbicara pada Joy.
"Namanya Cyan Memoriam. Bunga ini menjadi simbol lambang Keluarga Martin di Kekaisaran Indiana. Meski tampilan dan bentuk yang kurang memunculkan kekhasan, tetapi pemimpin pertama Keluarga Martin terpikat oleh aura elegan dan menyegarkan yang bertentangan tetapi melebur dalam keadaan harmonis," jelas Alves melangkahkan kakinya pada area berikutnya.
Joy menguntitnya dari belakang, tidak menyadari perubahan yang terjadi pada Alves. "Kalau tidak salah, Ketua Eliot pernah menyebutkan bunga itu adalah bunga favorit, Gege?"
"Bukan. Eliot pernah memergokiku membeli bunga itu sekali untuk keperluan kerja dan menyangka itu bunga favoritku tanpa alasan," respon Alves melambaikan tangannya. Implikasinya adalah agar Joy tidak perlu bertanya lebih lanjut. Joy menerima sinyalnya dan kembali membungkam mulutnya meski ia sedikit kebingungan.
Mereka lalu menjalani aktivitas berikutnya dengan normal. Walau tak dipungkiri atmosfer yang menyelimuti keduanya mengalami sedikit perubahan sehingga Joy tidak banyak berbicara setelahnya.
Alves dan Joy makan siang di restoran kecil, melewati beberapa toko, menyusuri Sungai Eden, dan menikmati pemandangan yang mempesona di tengah angin sepoi-sepoi.
Sore hari itu, sekitar Sungai Eden cukup sepi.
Di bawah matahari terbenam dilatarbelakangi cakrawala oranye pekat, Joy memandang figur Alves yang tampak sunyi dari belakang. Pantulan sinar samar-samar menyoroti setengah wajah lelaki itu. Dengan air sungai yang mengalir tenang di samping didampingi beberapa pohon asri yang bertengger di sepanjangnya, Joy pikir ia sedang mengapresiasi pajangan lukisan yang bernilai jutaan.
"Ge, let's go home?"
__ADS_1
"Hmm."
Setelah hampir seharian penuh keduanya menghabiskan energi di luar, malamnya mereka sudah tiba di ruang apartemen. Di mana Alves menemukan sebuah paket tergeletak di depan pintu apartemennya.