Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 17 [Dua Situasi Berbeda]


__ADS_3

"Ugh...!" Tak sempat menghindar, tubuh Alves dengan ringannya terlempar ke ujung koridor, jauh dari lobi utama. Akibat hentakan yang kuat itu, pegangan Alves pada pedangnya harus terlepas dan membanting tembok hingga jatuh tergeletak tepat di sebelah kaki Lu Feng.


Sejak mutan tanaman itu merongsok masuk dengan menghancurkan tembok itu menjadi kepingan material, insting Lu Feng sudah bekerja dan mendorongnya untuk cepat-cepat lari menghindari reruntuhan yang akan menimpanya serta serangan maut dari mutan tanaman tersebut.


Namun karena terburu-buru, tanpa sadar Lu Feng berlari ke arah ujung koridor meninggalkan teman-temannya di lobi utama. Napasnya terengah-engah saat mencapai lokasi tujuannya ketika ia menyadari Alves terhempas melintang dari belakang sampai di depannya. Lu Feng spontan mengejar dan menangkap tubuh Alves yang berada di udara. Telapak tangan kanannya menutupi bagian belakang kepala Alves.


Keduanya pun berguling selama beberapa saat sampai punggung Lu Feng menabrak tembok. Lantas suara ringisan keluar dari mulut Lu Feng disusul dengan omelan singkatnya.


"Hah ... kenapa aku harus menyelamatkan orang sombong sepertimu. Aduh, tulang punggungku retak kayaknya---AKKHHH!"


Alves menodongkan sikunya pada bagian perut Lu Feng. Lu Feng pun kembali meringis kesakitan dan melepaskan tangannya yang mengurung tubuh Alves. Cepat-cepat Alves beranjak berdiri dan berlari mengambil pedangnya yang terletak jauh dari posisinya, tanpa melirik sedikit pun ke belakang untuk melihat Lu Feng.


"Sialan. Lagi-lagi aku menyelamatkan orang yang tidak tahu berterimakasih," gerutu Lu Feng memegangi perutnya yang berdenyut nyeri. Ia lalu bangkit dan mengusap pakaiannya yang kotor terkena debu.


"Kamu. Cepat ke sini," perintah Alves akhirnya berbalik menghadap Lu Feng.


"Hei, bisakah kamu bersikap sopan sedikit? Aku ini lebih tua darimu," ujar Lu Feng meski kakinya tetap berjalan menghampiri Alves.


Alves mencibir.


Oh, terus aku harus panggil kamu kakek gitu?


Seolah bisa membaca pikiran Alves, Lu Feng segera memalingkan kepalanya dan memberikan tatapan peringatan. "Jangan panggil aku dengan sebutan yang ada di otakmu itu," tukasnya.


Alves mengabaikan ocehan Lu Feng dan memilih untuk berfokus pada rintangan yang ada di hadapannya.


Reruntuhan material dan benda-benda lainnya saling tertimbuk sehingga membentuk tembok tak beraturan yang menghalangi jalur antara koridor dengan lobi utama. Puing-puing tersebut menimpa satu sama lain dan tampak rentan ambruk ketika akan menggesernya untuk membuat celah menuju lobi utama.


"Hmm, kelihatannya agak sulit untuk pergi ke lobi utama. Apa kamu bisa pakai pedang itu buat menyingkirkan ini?" Lu Feng menunjuk ke arah reruntuhan tersebut.


"Pedangku akan tumpul," jawab Alves pendek.


Lu Feng kembali memperhatikan reruntuhan itu, merenung sejenak, lalu mengacak-acakan rambutnya dengan satu tangan. "Argh! Terus gimana? Mereka yang ada di seberang sana pasti harus menghadapi mutan besar itu dan tidak mungkin mereka bisa menghentikannya!" cetusnya mulai khawatir.


"Diam saja dan cepat kerja." Alves telah bergerak ke bagian kiri bawah reruntuhan dan berusaha membuka celah di antaranya sehati-hati mungkin. Tangannya yang dilapisi sarung tangan hitam menyapu serpihan-serpihan kecil material tersebut.


"Tsk." Lu Feng mendecakkan lidahnya, namun akhirnya tetap berjongkok di samping Alves dan mulai menggali di antara puing-puing tersebut.


"Apa kamu yakin kita bisa keluar dari sini? Kelihatannya bakal lama sekali dan saat kita keluar dari rongsokkan ini, sudah telat pastinya. Apa mending aku tendang saja? Walaupun bakal banyak yang berjatuhan, tapi paling tidak jalannya bisa kebuka lebih cepat, kan? Efisien dan---ugh!!!"


Alves kembali menyikut bagian kiri perut orang dengan mulut berisik itu.

__ADS_1


Sudah lama sekali Alves tidak bertemu dengan orang yang benar-benar menyebalkan seperti Lu Feng. Sehingga ketika Alves mendengar Lu Feng tak henti-hentinya mengomel hal yang tidak berguna, Alves menyadari bahwa ambang kesabarannya yang panjang tidak diperuntukkan untuk manusia spesial bernama Lu Feng.


Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ingin sekali Alves menjahit mulut Lu Feng agar berhenti berbicara.


"Kau. Diam." Alves melemparkan tatapan tajam menyeramkan pada Lu Feng, berupaya agar lelaki itu sadar diri untuk membungkam mulutnya. Namun sebagai gantinya, Lu Feng hanya terkekeh pelan.


"Pftt! Kau seperti kucing garong yang pernah kupelihara sejak kecil. Ah, kalau dipikir-pikir lagi, kamu mirip adik perempuanku kalau sedang marah," ujar Lu Feng.


Keduanya kemudian sibuk berdebat dan menaruh atensinya pada rintangan di hadapannya, tanpa menyadari tetes-tetes air berjatuhan perlahan dari plafon.


Sementara di sisi lobi utama, Joy memegang dan mengusap kepalanya yang tertimpa reruntuhan material. Ia mengeluh pelan sembari mengerjapkan matanya beberapa kali karena debu-debu yang beterbangan.


Joy lalu mengedarkan pandangannya pada sekeliling hingga fokusnya mendarat pada tubuh kucing yang tertimpa gundukkan material yang berat. Setengah badannya menuju kepala tertutup oleh puing-puing, namun Joy masih bisa melihat bangkai itu bersimbah darah sampai membentuk genangan kecil di sekitarnya.


Setelah dirinya dikuras energinya dari berhadapan dengan beberapa mutan yang membahayakan nyawanya serta kekuatan fisiknya yang kurang memadai untuk berlari ke sana kemari sejak awal, Joy merasa ingin muntah melihat darah segar dan bau menyengat yang terurai dari bangkai mutan kucing itu.


Mukanya mulai memucat ketika sebuah tangan melingkar pada tubuh kecilnya dan mengangkatnya.


"Anna! Cepat lari!" Laki-laki berkacamata itu berteriak keras memperingati gadis bernama Anna yang menghampiri Joy.


Ketika Anna melarikan diri dengan menggendong Joy dalam pelukannya, salah satu batang hijau berduri menerjang tempat Joy berbaring sebelumnya. Akibat gertakan yang keras, kaki Anna kehilangan pijakan yang kuat dan mereka berdua harus jatuh berguling ke arah tembok.


"Xu Zhaoyang!" Tang Jingyi, wanita dingin itu, segera balas berteriak pada lelaki berkacamata. Tang Jingyi mengeluarkan belati dari tas selempangnya. Sepasang kakinya menyentak keras dari lantai dan bergerak secepat mungkin ke arah batang hijau berduri yang menyerang Anna dan Joy. Tangannya mengayunkan senjata tajamnya pada batang itu dan menebasnya dengan kencang.


Sepotong batang itu terputus dan jatuh ke lantai. Di saat yang bersamaan, mutan tanaman itu seakan menerima kejutan yang kuat sehingga batang-batang tersebut sekali lagi bergoyang hebat dan menghantam sekitarnya secara sembarang.


Tang Jingyi dengan lihai menghindari serangan mutan tanaman itu. Beberapa kali ia mencoba memotong lagi batang-batang yang menyerangnya dengan belati, meski gerakan batang itu yang terlalu memberontak menyulitkannya untuk menggoresnya secara akurat.


Ketika Tang Jingyi larut dalam pertarungannya dengan mutan tanaman itu, Xu Zhaoyang memanfaatkan kesempatan itu untuk membantu Anna dan Joy menyingkir ke tempat yang lebih aman.


"Anna, kau tidak apa-apa?" Xu Zhaoyang memasang wajah khawatir dan buru-buru mengecek luka-luka kecil di sekujur tubuh Anna. Tampaknya ia merasa panik, namun kekhawatirannya benar-benar tulus ditujukan pada Anna.


"Aku baik-baik saja. Sekarang kita harus cepat pergi berlindung." Suara Anna terdengar penuh urgensi.


Anna lalu berpaling pada Joy. "Kamu tidak terluka, kan? Apa kamu bisa berdiri?" tanya Anna mencemaskan Joy.


Joy pun menggeleng kemudian menganggukkan kepalanya. "Terima kasih," ucapnya selagi berdiri lalu merapikan pakaiannya.


"Hei, anak kecil. Apa kamu tahu ada tempat persembunyian yang aman di sini?" tanya Xu Zhaoyang dengan nada memerintah.


Joy mendengus pelan melihat sikap lelaki itu yang tidak menghargai kehadirannya, namun tetap menjawab. "Kalau tidak salah ada bunker bawah tanah dekat sini," ungkap Joy mulai berlari mencari-cari posisi bunker tersebut.

__ADS_1


"Zhaoyang, kamu jangan berbicara dengan intonasi seperti itu," bisik Anna. Meski suara Anna sangat kecil, Joy sebagai manusia dengan kemampuan psychic mempunyai pendengaran yang lebih tajam daripada manusia normal sehingga mau tidak mau Joy terpaksa menguping pembicaraan dua orang asing di belakangnya.


"Tapi karena dia, kamu harus terluka lagi. Padahal kakimu saja tidak lama ini pincang gara-gara mutan kucing itu. Terus kamu masih mau nyelametin orang lain!" Xu Zhaoyang merengut kesal. Suaranya sengaja diperbesar agar Joy mendengarnya dari kejauhan.


Joy memutar bola matanya dan memutuskan untuk bergegas mencari bunker bawah tanah itu daripada mempermasalahkan pertengkarang dengan orang-orang asing. Ia berlari dengan lincah ke sana kemari, tapi tak kunjung menemukan tempat yang tepat.


Apalagi setelah mengamati Tang Jingyi yang masih berupaya menangkas tiap serangan bertubi-tubi dari mutan tanaman besar itu, Joy semakin cemas dan berusaha mengingat kembali gambar denah apartemen lantai satu yang hanya dilihatnya sekilas beberapa hari yang lalu. Ia terus berpikir keras, ketika suara jeritan keras sontak mengejutkannya.


"Tang-jie!" Anna menjerit panik kala batang hijau berduri itu menerjang lengan Tang Jingyi hingga terdengar suara retakan tulang yang keras.


Tubuh Tang Jingyi pun terlempar beberapa meter dan genggamannya pada belatinya terlepas. Tang Jingyi sendiri menggigit bibirnya sampai berdarah untuk menahan rasa sakit pada tangan kanannya.


Baru saja Tang Jingyi mencoba menopang tubuhnya untuk duduk dari posisi berbaringnya, kerumunan batang-batang hijau berduri itu bergerak ke atas dan bersiap melancarkan pukulan keras pada Tang Jingyi.


Mata Tang Jingyi membulat, dan ekspresi wajahnya kaku bersiap menerima ajalnya.


"Tiarap!" Seseorang berteriak lantang.


Mendengar perintah tersebut, tubuh Tang Jingyi refleks mematuhinya dan kembali dalam posisi berbaring.


Tiba-tiba sebuah gulungan api menyerbu batang-batang hijau berduri yang berkumpul di atas Tang Jingyi, melahap mereka hingga terbakar gosong dan sisanya terjatuh berserakkan.


"Cepat, ikuti aku!" Pemilik suara yang mengeluarkan kekuatan api itu kembali membentak.


Tak berlama-lama lagi, Joy, Anna, dan Xu Zhaoyang mengikuti figur yang memerintahnya menuju ruangan di dalam kiri. Cepat-cepat figur itu yang seorang remaja lelaki menendang beberapa boks yang mengganggu jalannya. Di bawah boks-boks itu, sebuah pintu besi berdebu terlihat. Remaja laki-laki itu segera membuka pintunya dengan sekuat tenaga dan meloncat masuk ke dalam. Disusul oleh tiga orang di belakangnya.


Sementara Tang Jingyi sedikit tertatih-tatih mengambil belatinya yang jatuh. Tangan kirinya menopang lengan kanannya yang terluka barusan sembari berlari ke arah bunker bawah tanah yang ditunjukkan remaja laki-laki itu.


Ketika pintu besi itu tertutup, suara reruntuhan dan guncangan keras dari mutan tanaman itu mereda dalam kesunyian dalam bunker bawah tanah.


Yang terdengar hanyalah suara napas memburu yang tak karuan, diimbangi dengan tatapan waspada antara satu sama lain.


"Siapa kamu?" Suara dingin tak bersahabat milik Tang Jingyi memecah keheningan.


"Ah, salam kenal. Aku Hao Zixin, mahasiswa semester dua dari Lumens University. Omong-omong yang tadi itu apa, ya? Baru pertama kali aku lihat tanaman bisa tumbuh sebesar itu dan menyeramkan sekali," tutur remaja laki-laki itu terdengar riang.


Keadaan kembali senyap sesaat.


Belum sempat Hao Zixin bertanya apakah ada yang salah dengan ucapannya, Tang Jingyi menggertak.


"Bagaimana kamu bisa mengeluarkan api sebesar itu tanpa pemantik ataupun korek api?"

__ADS_1


Jantung Joy saat itu hampir berhenti berdetak.


__ADS_2